LongCut logo

Emas yang "Liar" dan Gejala Perubahan Dunia yang Brutal

By Ferry Irwandi

Summary

Topics Covered

  • Emas yang Bergerak Seperti Aset Spekulatif Tanda Sistem Kehilangan Pijakannya
  • Emas Bukan Sekadar Komoditas, Dia Refleksi Kepercayaan Manusia
  • Nixon Hentikan Konversi Dollar ke Emas dan Ubah Sejarah Perekonomian
  • Emas Liar Bukan Masalahnya, Tapi Dunianya yang Berubah
  • Empat Lapisan Perubahan Era yang Menuju Dunia Lebih Brutal

Full Transcript

Awal Januari emas menyentuh angka 5.400.

Seminggu kemudian jatuh ke angka 4.600.

Februari dia menyentuh angka 5.600.

Terus ambruk ke angka 4.300 di bulan Maret. Dan di bulan April emas mulai

Maret. Dan di bulan April emas mulai merangka naik ke angka 4.600. Dan per

video ini dibuat emas ada di angka 4.850.

Dan itu semua terjadi dalam waktu yang singkat dan instan, Teman-teman. Dan

yang sedang kita omong ini emas. Yes.

Emas bukan kaleng-kaleng.

Aset kelas yang selama ribuan tahun peradaban umat manusia dipercaya punya kemampuan menyimpan nilai terbaik sepanjang masa, sekarang liarnya udah kayak mim koin atau saham gorengan saja.

Harga emas sempat ambruk.

Harga emas dunia yang saat ini terus berangkak naik.

Harga emas dunia turun signifikan.

Pemirsa, harga emas batangan loga mulia naik.

Harga emas turun karena investor kompak mengambil keuntungan setelah mencapai rekor tertinggi.

Dan dari apa yang gua riset, pelajari dan pahami teman-teman. fluktuasi ini

enggak biasa, volatilitas ini enggak biasa, dan keadaan ini enggak biasa. Dan

lebih dari sekedar enggak biasa ini mungkin merupakan sebuah gejala atas sebuah perubahan besar dalam hidup kita

semua. Dunia sedang berubah secara

semua. Dunia sedang berubah secara ekstrem dan kita semua harus siap menghadapinya.

How could with us?

Oke, Teman-teman. Ini mungkin adalah salah satu konten dengan proses paling panjang dan serius yang pernah gua buat ya. Dan gua yakin akan menimbulkan

ya. Dan gua yakin akan menimbulkan banyak diskusi dan mungkin juga perdebatan, ya. Tapi gua ngerasa gua

perdebatan, ya. Tapi gua ngerasa gua perlu untuk menyampaikan semua hal yang gua riset, gua kaji, gua dalami kepada teman-teman semua. Dan gua yakin ini

teman-teman semua. Dan gua yakin ini enggak 100% benar. Dan kalau kalian sudah dengar penjelasannya sampai habis, gua malah berharap gua salah untuk hal ini. Tapi ya kayak pernah gua bilang

ini. Tapi ya kayak pernah gua bilang teman-teman ya, kalau lu menempuh jalan akademisi gitu, lu menempuh jalan quote and quote kebenaran, ya lu mungkin akan menemukan beberapa kesalahan tapi lu

enggak boleh bohong. Nah, itu yang coba gua lakukan gitu. Selanjutnya gua mau sampaikan ke teman-teman semua kayak yang gua jelasin di awal tadi, kita semua itu harus bisa melihat naik turun harga emas yang enggak normal beberapa

bulan terakhir. Ini sebagai sinyal atau

bulan terakhir. Ini sebagai sinyal atau sebuah perubahan besar dalam politik, ekonomi, dan peradaban umat manusia hari ini. Pemantiknya datang dari

ini. Pemantiknya datang dari boomer-boomer gila yang terobsesi dengan hal yang enggak masuk akal. Mereka yang

rakus dan tamak, dan mereka yang enggak peduli dengan seberapa banyak orang yang menderita karena ulah mereka.

Yang perlu teman-teman ketahui selama puluhan tahun atau bahkan ratusan tahun ya, dunia itu hidup dalam ilusi stabilitas. Orang-orang merasa inflasi

stabilitas. Orang-orang merasa inflasi bisa diprediksi, suku bunga bisa diatur, perang ada tapi tetap jauh, dan sistem keuangan yang ada atau existing sekarang itu udah solid. Orang kerja, orang

nabung, orang berinvestasi percaya bahwa masa depan walaupun enggak pasti masih bisa ditebak arahnya. Nah, sekarang

pelan-pelan kawan-kawan semua fondasi itu mulai retak gitu.

Dan keretakan ini punya gejala. Salah

satu gejala yang bisa kita lihat datang dari volatilitas harga emas. Karena emas

yang selama ribuan tahun ini dianggap diam dan stabil ya, sekarang bergeraknya kayak aset spekulatif. Naik tajam, turun dalam, naik lagi. Ya kan? Buat orang

awam ini mungkin kelihatan kayak fluktuasi harga biasa. Tapi kalau lu lihat lebih dalam lagi ini bukan sekedar naik turun, Teman-teman. Ini adalah

sebuah pertanda bahwa sistem yang selama ini jadi tempat kita berdiri mulai kehilangan pijakannya. Karena sebenarnya

kehilangan pijakannya. Karena sebenarnya yang perlu kita pahami bersama emas itu bukan cuma komoditas, dia itu refleksi kepercayaan. Ketika orang percaya sama

kepercayaan. Ketika orang percaya sama sistem mata uang, bank, negara, apapun ya namanya mereka enggak butuh emas.

Tapi ketika kepercayaan itu mulai goyang, emas jadi tempat terakhir orang buat lari. Masalahnya adalah sekarang

buat lari. Masalahnya adalah sekarang orang itu bukan cuman lari kawan-kawan semua, tapi semua orang lari dalam waktu yang hampir bersamaan.

Menarik kan? Nah, sebelum kita lanjut, gua ceritain dan jelasin dulu ke kawan-kawan semua apa sih sebenarnya emas itu dan bagaimana kisahnya ada di

bumi yang kita cintai ini gitu.

Logam magis yang datang dari luar angkasa. Itu yang gua deskripsikan

angkasa. Itu yang gua deskripsikan tentang emas. Dan gua tidak sedang

tentang emas. Dan gua tidak sedang berlebihan, Teman-teman. Karena dasarnya

berlebihan, Teman-teman. Karena dasarnya yang perlu kalian semua tahu adalah emas itu bukan barang yang dilahirkan oleh bumi ini.

Dia datang dari luar angkasa, Teman-teman. Dalam fisika unsur berat

Teman-teman. Dalam fisika unsur berat kayak emas itu cuma bisa terbentuk di kondisi ekstrem. Dan kondisi ekstremnya

kondisi ekstrem. Dan kondisi ekstremnya bukan level gunung meletus atau inti bumi atau gempa, enggak. Tapi kejadian

kosmik kayak tabrakan bintang neutron atau supernova. Karena lu butuh energi

atau supernova. Karena lu butuh energi yang gila untuk menciptakan emas.

Tekanan dan neutron fluxnya itu harus tinggi banget sampai atom-atom yang ada itu bisa nangkap neutron dan jadi elemen berat termasuk emas. Atom-atom ringan

itu benar-benar ditembak sama neutron bertubi-tubi sampai jadi elemen super berat. Dan event ini disebut sebagai

berat. Dan event ini disebut sebagai Kilonova. Dari satu kejadian aja,

Kilonova. Dari satu kejadian aja, Kawan-kawan, bisa menghasilkan emas dalam jumlah yang jauh lebih besar dari seluruh emas yang ada di bumi sekarang.

Artinya apa? Artinya emas yang di ada di bumi ini bukan diproduksi lokal. Dia

adalah residu dari peristiwa kosmik sebelum tata surya kita terbentuk. Nah,

kemudian waktu bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu ya, pecahan tadi masuk bumi. Cuma yang jadi masalahnya adalah karena emas itu danse banget teman-teman, dia tenggelam ke inti bumi pas planet masih cair. Jadi

hampir semua emas periode pertama nih ya kan penggeraknya e perintisnya emas yang masuk ke bumi awal itu sekarang ada ada jauh di dalam kor bumi. Bukan di

permukaan bukan yang kita tamat sekarang. Nah, beberapa masa setelahnya

sekarang. Nah, beberapa masa setelahnya barulah ketika bumi mulai dingin keraknya terbentuk ada fase yang disebut LED heavy bombardment. Inti bumi kita itu dihajar asteroid dan meteor dalam

jumlah yang besar. Meteor-meteor ini

bawa logam-logam berat termasuk salah satunya emas. Dari mana datangnya? Ya,

satunya emas. Dari mana datangnya? Ya,

dari luar angkasa. Karena bumi saat itu sudah mulai punya kerak yang padat, emas yang datang dari meteor ini enggak tenggelam lagi ke inti. Dia nyangkut di

lapisan atas bumi dan akhirnya jadi sumber emas yang kita tambang sekarang.

Selanjutnya butuh ratusan juta bahkan miliaran tahun proses geologi ketika mengolah si emas ini dari mulai aktivitas vulkanik, pergerakan lempektonik, fluida panasnya melarut dan

memindahkan beberapa emas sampai akhirnya emas-emas itu terkonsentrasi di lokasi tertentu. Misalnya mengendap di

lokasi tertentu. Misalnya mengendap di sungai, deposit hidrothermal. Dan ketika

semuanya sudah terkonsentrasi di tempat-tempat yang gua sebutin tadi, barulah di titik ini manusia bisa menemukan apa yang namanya emas. Nah,

setelah manusia menemukannya, apa yang dilakukan? Ya, ditambang.

dilakukan? Ya, ditambang.

Oke. Di tahap paling awal peradaban kita tuh ya, manusia hidup dalam sistem barter, Teman-teman. Tentu kita semua

barter, Teman-teman. Tentu kita semua sudah pernah dengar ini ya, tukar gandum dengan daging, alat dengan pakaian, masalahnya itu kan enggak efisien.

Karena lu harus nemuin orang yang kebutuhannya persis sama kayak yang lu cari, gitu. Nah, di titik ini manusia

cari, gitu. Nah, di titik ini manusia mulai butuh tuh sesuatu yang bisa jadi perantara nilai. Masuklah emas ini, ya

perantara nilai. Masuklah emas ini, ya kan? Kenapa emas? Karena secara fisik

kan? Kenapa emas? Karena secara fisik emas itu nyaris perfect, sempurna gitu untuk jadi alat penyimpan nilai. Dia

langka tapi enggak terlalu langka sampai lu enggak bisa temukin. Dia enggak

berkar, enggak rusak, enggak berubah bentuk, mudah dibentuk tapi enggak gampang hancur. Dan yang paling penting

gampang hancur. Dan yang paling penting atraktif, berkilau, ya kan. Nah, sekitar

600 sebelum Masehi di wilayah Lidia, manusia mulai mencetak koin emas pertama. Dan ini jadi turning point yang

pertama. Dan ini jadi turning point yang besar, Teman-teman. Kenapa ini penting?

besar, Teman-teman. Kenapa ini penting?

Karena emas berubah dari sekedar benda berharga jadi alat transaksi yang terstandarisasi.

Jadi, lu enggak perlu timbang lagi emas tiap transaksi. Dan ini diperlakukan

tiap transaksi. Dan ini diperlakukan hampir di seluruh negara dan kerajaan.

Dan akhirnya trust pun muncul bukan dari individu, tapi dari otoritas. Nah, di

era kekasaran Romawi emas itu jadi backbond ekonomi gitu. Koin-koin yang

mereka ciptakan itu dipakai lintas wilayah yang luas. Dan dari sinilah awal sistem moneter itu mulai terbentuk walaupun bentuknya jauh lebih sederhana dan tradisional gitu dibandingkan dengan

sistem modern sekarang gitu. Di dunia

Islam muncullah dinar emas, di Eropa ada florin dan duchat gitu dan semuanya berbasis emas. Dari sanalah emas

berbasis emas. Dari sanalah emas berkembang menjadi bahasa universal untuk nilai gitu. Kita masuk lagi ke abad 19. Dunia mulai lebih modern ya

abad 19. Dunia mulai lebih modern ya kan. Perdagangan antar negara meningkat,

kan. Perdagangan antar negara meningkat, industri berkembang. Masalahnya gimana

industri berkembang. Masalahnya gimana caranya semua negara ini punya sistem yang nilainya stabil? Jawabannya apalagi

kalau bukan gold standar. Di sistem ini mata uang suatu negara itu dijamin oleh emas. Jadi kalau lu pegang uang kertas

emas. Jadi kalau lu pegang uang kertas gitu ya secara teori kan lu bisa tukar tuh negara kayak UK gitu ya, Britania Raya itu mulai jadi pionir teman-teman lalu diikuti oleh banyak negara lain.

Nah, secara ekonomi ini sangat powerful karena jumlah uang yang beredar artinya dibatasi sama jumlah emas yang ada.

Artinya apa? Artinya inflasi relatif terkendali. Pemerintah enggak bisa

terkendali. Pemerintah enggak bisa seenaknya ngemperin uang karena acuannya harus emas. Tapi di sinilah problem baru

harus emas. Tapi di sinilah problem baru mulai muncul lagi. Ketika perang dunia 1 meledak, negara butuh dana besar. Gold

standar jadi masalah. Kenapa? Karena

pemerintah butuh fleksibilitas untuk mencetak uang demi perang yang mereka lakukan. Tapi ini enggak bisa dilakukan

lakukan. Tapi ini enggak bisa dilakukan sebebas itu karena dikunci sama gold standar ini, ya kan? Akhirnya banyak

negara mulai meninggalkan sistem tersebut. Puncaknya di era Great

tersebut. Puncaknya di era Great Depression, ekonomi runtuh, pengangguran masif. Dan di Amerika Serikat, Franklin

masif. Dan di Amerika Serikat, Franklin dan Rosevel bahkan melarang warganya menyimpan emas pribadi lewat kebijakan 1933. Karena menurut dia negara butuh

1933. Karena menurut dia negara butuh kontrol penuh nih atas emas. Dari

sinilah kelihatan satu hal, Teman-teman.

Emas itu stabil, tapi sistem ekonomi manusia enggak selalu bisa mengikuti keterbatasan yang ada pada emas. Nah,

setelah Perang Dunia Kedua, dunia coba tuh mulai untuk ng-research sistem keuangan yang berjalan lewat perjanjian namanya Brighton Woods. Dan sistemnya

itu unik, Teman-teman. Dolar Amerika

Serikat itu jadi pusat. Dolar dijamin

emas. Sementara negara lain itu mengikat mata uangnya ke dolar. Jadi emas masih jadi foldasi. Tapi enggak langsung. Ini

jadi foldasi. Tapi enggak langsung. Ini

yang bikin Amerika Serikat secara cepat itu jadi super power di finansial global. Nah, tahun 1971 atau

finansial global. Nah, tahun 1971 atau stak flasi mulai terjadi, Richard Nixon bikin keputusan yang akhirnya mengubah sejarah perekonomian saat ini. Dia

berhentiinlah konferensi dolar ke emas tadi, gitu. Artinya untuk pertama

tadi, gitu. Artinya untuk pertama kalinya dalam sejarah modern uang tidak lagi didukung oleh emas. Apakah setelah

yang dilakukan Nixon itu kepercayaan masyarakat kepada emas berkurang atau runtuh atau jadi barang busuk aja itu?

Ya tidak.

Yang berubah adalah perannya. Setelah

itu, Mas dianggap sebagai save, tempat aman buat lu nyimpan nilai yang lu punya gitu. Karena sifat dasarnya kan enggak

gitu. Karena sifat dasarnya kan enggak berubah ya. Dia tetap langka, enggak

berubah ya. Dia tetap langka, enggak bisa dicetak dan enggak tergantung sama kebijakan pemerintah independen gitu ya kan. Makanya setiap ada krisis entah itu

kan. Makanya setiap ada krisis entah itu 2008 entah itu pandemi harga emas cenderung naik selama ini gitu karena yang kita lihat dan kita pantau bahkan bank sentral dunia itu masih simpan emas

sebagai cadangan dan itu berdampi.

Nah, ketika goyang gaji harga emas naik turun kemarin terjadi segitu ekstremnya, tentu buat yang paham ini enggak bisa dianggap sebagai fenomena yang biasa karena ini mendadakan bahwa ada sesuatu yang enggak biasa yang terjadi di dunia

ini.

Oke, Teman-teman. Ada dua hal yang harus kalian pahami soal 2026. Pertama,

ketegangan politik. Kedua, fregmentasi

finansial. Nah, dalam makroekonomi yang teman-teman pahami adalah resiko geopolitik itu relevan buat harga headset dan stabilitas finansial. Karena

banyak uang panas sekarang digunakan untuk pembiayaan di emergency market.

Ini artinya kerentanan sebuah negara pada shock global itu jadi semakin meningkat. Makanya sekarang gua bisa

meningkat. Makanya sekarang gua bisa bilang ya, sebuah negara itu di momen ini, di keadaan ini wajib hukumnya untuk memperkuat institusi, membangun cadangan divisa dan menjaka undang negara mereka tetap stabil dan terkendali.

Dan saking ekstremnya keadaan sekarang, kedua hal itu akhirnya membuat emas yang dulu begitu stabil, begitu mantap, ya kan? Menjadi sangat liar gitu. Waktu gua

kan? Menjadi sangat liar gitu. Waktu gua

coba untuk lakukan riset, gua coba untuk pelajari, gua melakukan olah dari tahun '96 sampai 2026 dengan beberapa pendekatan rumus dan metode ya.

yang mana kalau gua jelaskan di sini atau gua coret di papan tulis itu bakal jadi rumit sekali. Gua akan jelaskan secara simpel di sini supaya teman-teman semua bisa paham apapun background latar belakang dan usia kalian. Ya gini gua

mulai dari hal yang simpel aja. Yang

perlu lu semua harus ketahui adalah volatilitas emas itu dari tahun yang gua sebutin tadi ya 96 sampai 2026 normalnya itu sekitar 10 sampai 15%. Tapi hari ini

lu bisa ngelihat itu tembus 30 sampai 50% dalam jangka yang relatif pendek gitu. Dan yang lebih gila,

gitu. Dan yang lebih gila, volatilitasnya itu nempel lama gitu, Teman-teman. Resistance. Artinya apa?

Teman-teman. Resistance. Artinya apa?

Artinya ada perubahan besar permanen yang sedang terjadi di dunia tempat kita tinggal sekarang. Nah, kalau kita

tinggal sekarang. Nah, kalau kita breakdown secara ekonomi, volatilitas ekstrem ini biasanya muncul ketika ada dislokasi besar antara ekspektasi dan realitas, Kawan-kawan. Dunia lagi berada

realitas, Kawan-kawan. Dunia lagi berada di titik di mana inflasi belum sepenuhnya terkendali. Suku hubungan

sepenuhnya terkendali. Suku hubungan global masih tinggi atau setidaknya tidak turun secepat yang diharapkan oleh orang-orang dan likuiditas mulai ditarik perlahan dari sistem. Dan di saat yang sama, kawan-kawan, banyak negara besar

lagi butuh uang dalam jumlah yang besar buat nutup defisit, buat biayain perang, sekedar menjaga stabilitas sosial. Di

titik ini yang namanya uang jadi mahal, Kawan-kawan. Udahlah mahal, resikonya

Kawan-kawan. Udahlah mahal, resikonya juga naik. Dan emas di posisi ini jadi

juga naik. Dan emas di posisi ini jadi refleksi konflik itu sendiri. Karena

emas hari ini ketika dia naik, penyebab naiknya karena orang takut, tapi dia juga bisa jatuh karena orang butuh likuiditas. Makalah terjadi

likuiditas. Makalah terjadi tarik-menarik yang enggak biasa, Teman-teman, antara survival dan proteksi. Kalau lu lihat pola yang tadi

proteksi. Kalau lu lihat pola yang tadi gua sebutin, 5.400 turun ke 4.600 naik 5.600 turun 4.300 lalu naik lagi. Ini

kan kayak apa ya? Kayak sebuah pola yang kita semua sudah pahami bersama kan, panik, driven, market gitu. Naiknya

bukan karena optimisme, karena ketakutan. Turunnya bukan karena

ketakutan. Turunnya bukan karena fundamentalnya baik, tapi karena orang kepepet jual. Terlebih lagi semakin

kepepet jual. Terlebih lagi semakin zaman ini berkembang, emas itu sekarang makin sensitif dengan suku bunga, makin sensitif dengan geraknya dolar, makin liquid. Kalau suku bunganya makin

liquid. Kalau suku bunganya makin unpredictable, dolarnya makin enggak ketebak, akses emasnya makin gampang, ya semua karakteristik yang ribuan tahun orang pahamin tentang emas ini makin berubah.

Dan ini semua yang membuat volatilitas itu terjadi. Dan lu kan harus tahu emas

itu terjadi. Dan lu kan harus tahu emas itu kan enggak menghasilkan yil apapun ya. Beda kalau lu ngomongin saham

ya. Beda kalau lu ngomongin saham ataupun obligasi di kawan-kawan ya. Lu

bayangin emas itu biasanya hubungannya cenderung bertolak belakang dengan naik turunnya harga dolar. Lah kalau dolarnya aja udah enggak stabil gitu ya, kayak gimana kita ngomongin emas ya? Ya kan?

Dan inilah yang membuat semua volatilitas itu terjadi. Dan yang kita khawatirin harusnya bukan emas per se tapi dunia tempat kita tinggal sekarang.

Apakah keadaan yang mirip pernah terjadi? Ya pernah. Polanya hampir sama.

terjadi? Ya pernah. Polanya hampir sama.

Bedanya enggak seekstrem sekarang aja udah stak flasi 70-an misalnya. Ini

terjadi sebelum krisis meledak, Teman-teman. Semua orang mulai ngerasa

Teman-teman. Semua orang mulai ngerasa ada yang salah tapi belum tahu salahnya di mana. Dan itu yang hampir mirip

di mana. Dan itu yang hampir mirip terjadi sekarang. Nah, sekarang kita

terjadi sekarang. Nah, sekarang kita geser perspektifnya dari politik. Dunia

itu lagi masuk era fragmentasi gitu.

Orang dulu ketika mendengar globalisasi kan senang gitu ya. Karena dengan

globalisasi bikin aliran barang, uang, dan energi relatif stabil gitu. Sekarang

kayak gimana supply chain dipolitisasi gitu. Energi dijadikan senjata.

gitu. Energi dijadikan senjata.

Perdagangan enggak lagi netral. Yang

namanya konflik geopolitik bukan cuma perang fisik, tapi juga perang ekonomi.

Dan dalam situasi kayak gini, emas jadi simbol distrust kan. Ketika negara mulai enggak percaya satu sama lain, ketika mata uang mulai dipertanyakan, ketika sistem finansial dianggap terlalu rentan terhadap keputusan politik, orang balik

ke sesuatu yang tidak bisa dicetak. Maka

yang ketika lonjakan emas itu terjadi, ini bukan soal ekonomi semata, Teman-teman. Tapi soal trust tadi. Dan

Teman-teman. Tapi soal trust tadi. Dan

ketika trust tadi mulai goyah, volatilitas itu jadi lebih liar karena semua orang bereaksi berdasarkan persepsi.

Nah, sekarang masuk lagi ke bagian yang paling penting. Psikologi. Bagian yang

paling penting. Psikologi. Bagian yang

paling sering diremehkan padahal sebenarnya sangat menentukkan.

Kawan-kawan, kita tuh perlu ingat pasar itu bukan mesin nasional, Bos. Dia

kumpulan manusia dengan emosi bias dan ketakutan. Kan dalam kondisi normal bias

ketakutan. Kan dalam kondisi normal bias itu bisa dirredam dengan stabilitas, Kawan-kawan. Tapi dalam kondisi seperti

Kawan-kawan. Tapi dalam kondisi seperti sekarang, ya bias itu diperkuat gitu.

Itulah yang anehnya. Dan ini ada namanya nih, namanya behavior. Ketika harga

naik, orang takut ketinggalan. Ketika

harga turun, orang takut rugi. Dan

dua-duanya didorong sama fear. fear of

missing out dan fear of collapse gitu.

Apa enggak kumbu gitu kan. Dan ini

bahaya. Kenapa bahaya? Karena ini bikin harga bergerak bukan lagi berdasarkan nilai intristik teman-teman, tapi berdasarkan narasi yang lagi dominan di kepala kolektifnya manusia. Hari ini

narasinya krisis, besok dikateri lusa, ketakutan sistemik gitu kan. Ini terjadi

di seluruh dunia grafiknya jadi liar banget. Dan kalau gua boleh tarik lebih

banget. Dan kalau gua boleh tarik lebih dalam ya, volatilitas hari ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa dunia lagi masuk dalam fase transisi gitu. Dan

setiap fase transisi dalam sejarah selalu brutal buat sebagian orang. Dan

ini terjadi bukan pertama kalinya. Waktu

sistem Brighton Wus runtuh, waktu krisis minyak terjadi 70-an, waktu krisis finansial 2008, semua diawali oleh gejala yang mirip. Volatilitas

meningkat, korelasi aset berubah, dan selfaven mulai behaving unpredic unpredictably.

Artinya apa? Artinya kita lagi bergerak dari satu rezim ekonomi ke rezim yang lain.

Masalahnya kawan-kawan di fase kayak gini yang paling rentan itu bukan mereka yang punya institusi besar, perusahaan besar, lembaga besar. Bukan. Bukan juga

untuk mereka yang punya buffer, bukan juga untuk mereka yang punya akses informasi atau mereka yang punya alat lindung nilai. Bukan. Yang paling rentan

lindung nilai. Bukan. Yang paling rentan itu masyarakat biasa di seluruh dunia ini. Kenapa? Karena mereka masuk pasar

ini. Kenapa? Karena mereka masuk pasar dengan informasi yang tertinggal, dengan emosi yang lebih dominan, dan dengan kapasitas finansial yang lebih terbatas.

Orang beli saat hype, panik saat turun, dan akhirnya jadi liquidity provider buat pemain besar. Bahasa yang lebih kasarnya ya tumbal, Bos. Martir gitu.

Struktural problem ini ketika sistem berubah cepat, adaptasi itu jadi mahal.

dan yang enggak bisa adaptasi ya punah meninggal tertinggal gitu yang dan yang jadi pertanyaan sekarang bukan lagi soal emas bakal naik atau turun tapi dunia ini lagi berubah ke arah mana dan kita

sedang berada di posisi mana.

Nah kalau lu lihat secara jernih ya kawan-kawan, ada beberapa hal yang bisa kita tarik nih. Pertama volatilitas emas yang ekstrem ini adalah sinyal ketidakpastian global yang meningkat.

Bukan sekedar fenomena pasar biasa. Gua

tekankan lagi bukan sekedar fenomena pasar biasa. Kedua, safe heaven tidak

pasar biasa. Kedua, safe heaven tidak lagi jadi sepenuhnya safe, apalagi kita bicara jangka pendek ya, karena tekanan likuiditas dan perubahan investor.

Ketiga, dunia sedang bergerak menuju fase di mana kepercayaan terhadap sistem baik finansial maupun politik itu sedang diuji. Keempat, dalam fase seperti ini

diuji. Keempat, dalam fase seperti ini yang namanya distribusi resiko jadi enggak merata, Kawan-kawan. Ada banyak

yang diuntukkan, lebih banyak lagi yang dirugikan. Lalu apa yang bisa kita

dirugikan. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ya, pertama, lu harus berhenti

lakukan? Ya, pertama, lu harus berhenti melihat emas atau aset apapun sebagai jawaban tunggal. Diversifikasi itu bukan

jawaban tunggal. Diversifikasi itu bukan lagi narasi gimik atau jargon, Kawan-kawan, tapi kebutuhan. Karena

dalam kondisi yang penuh dengan ketidakseimbangan ini, ketidakpastian ini, satu aset bisa jadi pelindung, tapi di saat yang bersamaan jadi sumber

resiko. Kedua, lu harus mulai memahami

resiko. Kedua, lu harus mulai memahami likuiditas itu apa gitu. Karena banyak

orang yang fokus ke return tapi lupa bahwa dalam krisis yang paling penting itu kemampuan bertahan, Teman-teman. Dan

di kondisi kayak gitu yang namanya cash atau aset yang liquid itu seringkiali lebih berharga daripada potensi keuntungan dan lu harus bisa menempatkan diri lu dengan benar di saat seperti ini. Ketiga, lu harus update cara lu

ini. Ketiga, lu harus update cara lu mikir.

Lu harus ngerti kenapa harga bergerak, bukan cuma ke mana dia bergerak. Karena

di era kayak gini ya, Teman-teman, narasi itu bisa berubah lebih cepat daripada fundamental. Lu bayangin

daripada fundamental. Lu bayangin seorang YouTuber dalam 1 minggu dia bisa bikin tiga narasi yang berbeda. Amerika

Serikat pasti menghabisi Iran. Amerika

Serikat berdamai. Amerika Serikat

menyerang Iran lagi. Dan orang tetap nonton gitu dalam 1 bulan dia bisa bilang Amerika Serikat mustahil untuk nyerang Iran di dan orang masih tetap nonton gitu. Nah, segitu cepat narasi

nonton gitu. Nah, segitu cepat narasi itu berubah dan segitu kecil tanggung jawab pembuat narasi ini. Makanya kita

enggak bisa ngatur mereka membuat narasi seperti apa karena tetap selalu ada yang makan. Ya, yang bisa lu atur ya kayak

makan. Ya, yang bisa lu atur ya kayak gimana lu merespon narasi-narasi tersebut. Makanya perlu ada upgrade

tersebut. Makanya perlu ada upgrade dalam kepala lu. Dan yang terakhir, lu harus sadar bahwa dunia ke depan mungkin kemungkinan besar akan lebih volatile, lebih fragmented, dan lebih kompetitif.

Kalau dulu kita nganggap stabilitas itu adalah hal yang normal, mungkin justru ke depannya nanti itu sebuah anomali, Teman-teman. Jadi, kalau hari ini lu

Teman-teman. Jadi, kalau hari ini lu lihat emas itu liar, mungkin problemnya bukan di emas. Mungkin emasnya enggak berubah. Mungkin dunia yang lu tinggalin

berubah. Mungkin dunia yang lu tinggalin udah kehilangan bentuk lamanya.

Nah, pertanyaannya kalau ini fase transisi mau ke mana arah perubahan dunia ini?

Oke, gua jawab dengan jujur dan dingin gitu ya. Menurut gua, menurut apa yang

gitu ya. Menurut gua, menurut apa yang gua pahami dan pelajari, kita sekarang itu bukan dalam transisi fase siklus ekonomi biasa gitu. Ini lebih dekat kepada transisi era. Artinya bukan cuma

naik turun ekonomi aja, Teman-teman, tapi cara dunia bekerja lagi menuju bentuk terbarunya gitu. Bentuk

terbarunya seperti apa? Ya, nanti akan kita rasakan sendiri. Dan ini arah besarnya kelihatan dari beberapa layer yang saling menumpuk. Pertama, kita lagi bergerak ke dunia yang sangat liquid dan dunia yang lebih ketat dan mahal. Coba

kita throw back ke tahun 2008 ya.

Setelah era panjang kuantitatif sejak krisis 2008 sampai pandemi, uang itu enggak lagi, Kawan-kawan. Cost of

capital itu naik dan ini ngubah segalanya. Bisnis yang dulu hidup dari

segalanya. Bisnis yang dulu hidup dari bakar duit gitu, dari investment, angel investor itu mulai kecekik gitu. Negara

yang terbiasa defisit besar mulai ketarik realitas fiskalnya dan investor itu sekarang jauh lebih selektif. Lu

enggak percaya? Lu tanya aja para penyedia jasa, lu tanya aja para influencer, lu tanya aja para pemain media, gitu. Seberapa sulit mendapatkan

media, gitu. Seberapa sulit mendapatkan endorsement sekarang, seberapa sulit mendapatkan brand sekarang? Karena ya

itu tadi dunia berubah dan faktornya kompleks sekali. Dan di fase ini ya gua

kompleks sekali. Dan di fase ini ya gua bisa bilang efisiensi itu balik lagi jadi raja. Kedua, globalisasi yang dulu

jadi raja. Kedua, globalisasi yang dulu jadi fondasi pertumbuhan lagi retak, kawan-kawan. Kalau dulu kan logikanya

kawan-kawan. Kalau dulu kan logikanya sederhana ya, Teman-teman. Lu misalnya

punya perusahaan besar gitu ya, perusahaan teknologi gitu, lu butuh produksi, lu carilah negara yang bisa memprovide lu biaya yang paling murah dari mulai biaya pekerja sampai operasionalnya. Terus setelah produk lu

operasionalnya. Terus setelah produk lu jadi, lu jual ke pasar global. Terus

semua untung investor senang ya yang paling menderita ya pekerjanya dan lain sebagainya. Tapi sekarang enggak

sebagainya. Tapi sekarang enggak sesederhana itu. Ada perang dagang, ada

sesederhana itu. Ada perang dagang, ada resoring friendsoring bahkan decoupling antar blok besar. kita bisa

lihat dunia mulai kebagi dalam kluster-kluster tertentu ya kan dan ini semua akhirnya menyebabkan biaya naik supply chain lebih pendek dan enggak efisien akhirnya setelah itu semua terjadi inflasi itu udah jadi barangnya

lebih struktural bukan lagi fase atau sementara gitu. Ketiga, kita lagi geser

sementara gitu. Ketiga, kita lagi geser dari sistem yang berbasis trust ke sistem yang lebih berbasis kontrol. Dulu

sistem keuangan global itu fundamentalnya berjalan karena kepercayaan ke dolar, ke institusi, ke stabilitas geopolitik dan lain sebagainya. Sekarang yang namanya terasi

sebagainya. Sekarang yang namanya terasi itu mulai terkikis. negara mulai bangun sistem pembayaran sendiri, mulai akumulasi emas, mulai cari alternatif dari dominasi mata uang tertentu.

Artinya apa? Artinya bukan berarti langsung dolar itu runtuh ya, tapi dominasi tunggal mulai digeser jadi lebih multipolar gitu ya. Lu lihat aja yang terjadi di Cina, Iran, Rusia dan lain sebagainya gitu. Transaksi harus

yuan lah dan lain sebagainya. Keempat

ini yang orang yang sering enggak sadar nih. Kita lagi masuk ke fase di mana

nih. Kita lagi masuk ke fase di mana negara balik jadi pemain utama gitu.

Karena beberapa dekade terakhir narasi pasar yang dominan. Sekarang negara

balik masuk ke ranah yang lebih agresif, subsidi industri, proteksi, intervensi energi, bahkan kontrol teknologi. Ini

bikin dunia lebih politis, kawan-kawan.

Dan pasar jadi lebih sulit diprediksi karena keputusan ekonomi enggak lagi murni ekonomi, ya kan?

Kalian tahulah apa yang gua maksud. Nah,

semua perubahan itu ketemu di satu titik, ketidakpastian struktural. Dan

dari situ sistem jadi liar banget karena dia enggak lagi mencerminkan semua konflik itu sekaligus. Dia naik karena orang takut, tapi dia juga jatuh karena sistem lama belum benar-benar mati. Jadi

likuiditas itu masih jadi raja sekarang.

Kalau ditarik lebih jauh menurut gua kita lagi menuju dunia lebih mahal untuk hidup, lebih volatile untuk berinvestasi, dan lebih terfragmentasi secara geopolitik. Dan terakhir jelas

secara geopolitik. Dan terakhir jelas lebih kompetitif secara ekonomi. Dan

buat masyarakat ya masyarakat biasa seperti saya ini ya, seperti teman-teman mungkin ya, implikasinya bisa gede banget kawan-kawan. kemarin lu bisa

banget kawan-kawan. kemarin lu bisa survive dengan jadi rata-rata jadi biasa aja gitu di dunia yang akan bergerak nanti yang namanya marginova errornya makin kecil kan salah posisi dikit lu bisa terlempar bisa mati gitu makanya

yang namanya emas tadi jadi semacam alarm bukan karena dia spesial tapi karena dia paling sensitif terhadap perubahan er teman-teman dan volatilitas ini menunjukkan semuanya gitu pertanyaan sekarang ini bukan lagi soal ini akan

jadi krisis atau enggak tapi lu siap atau enggak lalu kapan ini bisa terjadi enggak enggak akan ada yang bisa mastiin benar-benar full terjadi itu enggak ada tentu enggak akan langsung terjadi dalam satu bulan bulan 2 bulan dan bisa jadi

terjadi beberapa tahun kemudian tapi kemungkinan berubah ke arah yang dari tadi kita bahas hari per hari.

Balik lagi kayak di awal ya teman-teman.

Gua rasa konten ini akan menimbulkan banyak sekali diskusi dan perdebatan.

Tapi enggak masalah dan justru bagus dan gua orang yang paling berharap bahwa apa yang gua lihat dan proyeksikan dari tadi itu adalah sebuah kekeliruan, sebuah kesalahan.

Karena ketika gua membuat kota ini, gua coba untuk seobjektif mungkin, senetral mungkin, dan sepuritan mungkin gitu tanpa ada kepentingan atau keinginan

apapun. Dan semoga ini bisa jadi manfaat

apapun. Dan semoga ini bisa jadi manfaat bagi semua orang. Itu aja dari gua.

Sampai jumpa di konten selanjutnya. See

ya. Yeah.

Loading...

Loading video analysis...