FREE COURSE - Personal Branding & Digital Product Dari 0 ke 1 Miliar Pertama
By Rama Satya
Summary
Topics Covered
- Personal Branding Isn't for Everyone
- Ideas Trump Editing in Content Hierarchy
- Value Drives Sustainable Virality
- Mastery Requires Passion and Skill
- Authority Creators Monetize Info Products
Full Transcript
Hari ini adalah hari keberuntungan lo karena gue akan share full course gue yang berhasil membawa productivity boy dari 0 ke 150.000 followers hanya dalam 1 seteng bulan dan juga membawa gue dari
0 ke 1 miliar pertama gue dengan productivity boy lewat digital products 3 tahun lalu. Buat lo yang belum kenal, nama gue Rama, founder of value creator dan high ticket coaching pioneer di Indonesia. Gue ngebantu established
Indonesia. Gue ngebantu established creators, infopreneurs, dan service based business owners untuk ng-scale bisnis mereka ke multiple ratusan juta per bulan lewat Value Creator Client Acquisition System. Lu bisa lihat
Acquisition System. Lu bisa lihat sendiri orang-orang yang udah berhasil gua bantu selama 3 tahun belakang ini.
Nah, sekarang buat lo yang baru mau mulai ngonten, bikin personal branding, atau bahkan digital product, gue enggak mau matain semangat lo dan bikin lu enggak bisa belajar cuman karena lo belum punya modal uangnya. Justru gua
pengin bantu lo. Gunain ilmu yang akan lo dapetin dari free course ini yang durasinya 7 jam. 7 jam, Bro. gua kasih
gratis. Gunain ini seoptimal mungkin karena kesempatan enggak datang dua kali. Dan jujur untuk nyiapin KS ini
kali. Dan jujur untuk nyiapin KS ini secara gratis, gue dan tim gue itu tuh ngeluangin banyak banget waktu dan tenaga untuk mempersiapkan ini. Jadi,
buat lo yang mendapatkan manfaat dari KS ini, permintaan gua cuman satu, tolong bantu share course ini ke orang-orang yang lo rasa akan membutuhkan KS ini supaya gak cuman lo dan gak cuman gue yang berkembang, tapi semua orang bisa berkembang juga. So, with that said,
berkembang juga. So, with that said, enough of the intro. Grab some pen and paper and we'll get into the masterclass.
Oke, so welcome to this video. Di video
kali ini kita bakal ngebahas gimana caranya kita bisa membangun personal branding kita. Karena kalau misalnya
branding kita. Karena kalau misalnya kita ngomongin personal branding ya dan atau apapun itu, itu pasti menyesuaikan dengan tren industri yang sedang ada.
Dan kita tahu sendiri belakangan ini content creation, personal branding, bikin digital product itu tuh lagi onise banget. Nah, oleh karena itu pasti ada
banget. Nah, oleh karena itu pasti ada banyak banget perubahan-perubahan yang itu tuh benar-benar berjalan dengan sangat cepat. Tapi enggak cuman
sangat cepat. Tapi enggak cuman membangun personal branding doang.
Karena banyak banget orang di luar sana itu tuh ngebahas personal branding gimana cara dapetin views, dapetin followers tapi mentok ya sampai sana. Jadi kayak cuma oke gimana
sampai sana. Jadi kayak cuma oke gimana lu dapat 100.000 views? Dapat 100.000
followers. Nah, tapi pertanyaan gua ketika lu udah mendapatkan views itu, lu udah mendapatkan followers itu, lu mau pakai buat apa?
Next step-nya gimana? Nah, itu yang sering banget orang missing. Nah,
makanya kita mau ngebahas end to end nih, full strateginya ketika lu membangun ketika lu mau membangun personal branding itu tuh gimana. Nah,
disclaimer dulu sebelum kita lanjut ke topiknya, I'm very excited karena today ini kita come back ya, guys ya. Setelah
kita udah vakum beberapa bulan dan channel ini tuh rasanya udah existan, kita mau fokus di YouTube lagi. Kita mau
seriusin di YouTube lagi. So, thank you kalau lo udah nonton dan lo subscriber lama. Very happy to see you. Karena
lama. Very happy to see you. Karena
sebelumnya kita tuh udah sempat aktif juga ya ngonten di Value Creator ya, di Value Creator channel. Jadi, lu bisa ngelihat kita udah sempat upload tiga video nih. Mungkin bisa diinsert di sini
video nih. Mungkin bisa diinsert di sini ya. Nah, jadi itu tipe videonya gimana
ya. Nah, jadi itu tipe videonya gimana ya? Ngomong kayak gini aja, unscripted.
ya? Ngomong kayak gini aja, unscripted.
Benar-benar enggak pakai script. Kalau
misal lu lihat, gua juga enggak baca script atau apapun. Itu cuma ada pointers doang dan gua benar-benar full ngomong ke kamera dan ada tim gua di sini ada Helmi sama ada Aril. Jadi
di sini kita sifatnya ngobrol-ngobrol santai aja gitu ya. Kalau misalnya gua salah pun kita enggak tetap rolling ya, Guys.
Betul.
Jadi kayak udah ya udah enggak dicut gitu. Benar-benar raw aja pure value. Di
gitu. Benar-benar raw aja pure value. Di
sini kita enggak mau ada hyper yang jedar-jeder.
ged gitu kan kita gak mau ada hyper edit yang gimana banget ya it's just pure and raw value aja kita mau share di sini jadi kalau misal gua belibet pun gua salah pun ya rolling aja oke so that's
how we drill and let's get to the video alri so gimana cara kita bisa membangun personal branding pertama-tama poin pertama yang gua mau highlight adalah kita harus tahu dulu
kalau misal personal branding itu bukan buat semua orang itu yang gua mau highlight dulu karena lu sering enggak sih dengar konten kayak Kalau lu enggak mulai present branding tahun ini, lu rugi nih. Ya kan? Dan lu
sering ngelihat enggak sih ada orang kayak stop jadi orang yang sok misterius. Karena kalau misalnya lu sok
misterius. Karena kalau misalnya lu sok misterius kayak lu tuh lu tuh kayak lu tuh kayak ee apa ya melewatkan kesempatan yang sangat bagus gitu.
Sejujurnya gua setuju enggak setuju.
Kenapa setujunya? Karena emang oke ya personal branding tuh bisa ngasih kita leverage.
It's really good gitu loh.
Buat bikin kita tuh punya competitive edge, buat bikin kita punya unique edge dibandingkan orang yang enggak melakukan itu. Benar. Tapi yang gua mau highlight
itu. Benar. Tapi yang gua mau highlight di sini enggak semua orang bisa kayak gitu.
Kreator-kreator yang lu suka itu paling top berapa persen? 1%, 0.1% atau mungkin 0.01%.
Kalau misalnya semua orang bikin personal branding, ya udah enggak ada yang unik dong dengan personal branding.
Benar enggak sih?
Betul.
Orang yang bilang kayak gitu menurut gua mereka ujungnya cuma jualan kelas gitu loh. Pasti mereka
loh. Pasti mereka duar gitu kan. Enggak, maksudnya enggak ada salnya juga, tapi ya gua mau kita berpikir lebih dalam lagi dengan ini gitu loh. Jadi person brand itu enggak
gitu loh. Jadi person brand itu enggak buat semua orang. Kenapa gua bilang kayak begitu? It's quite a strong
kayak begitu? It's quite a strong statement. Benar ya?
statement. Benar ya?
Jadi gua bilang person brand enggak semua orang, enggak buat semua orang.
Wah, gila ini orang ngomongnya bold statement banget. Gua punya alasan
statement banget. Gua punya alasan kenapa gua ngomong gitu gitu ya. Nah,
kenapa gua ngomong gitu? Karena gua
percaya untuk lu bisa punya personal branding yang bagus, orang mau nengok ke lu dan orang mau sustain follow el.
kita tuh harus punya tiga konsep ini.
Kira kita harus punya tiga ibaratnya bekal inilah pilar ini gitu ya di dalam diri kita. Yang pertama itu value. Yang
diri kita. Yang pertama itu value. Yang
kedua itu karisma, yang ketiga itu positioning. Itu kita harus punya.
positioning. Itu kita harus punya.
Kalau misalnya kita enggak punya ketiga ini, susah buat gede gitu loh. Gede bisa
enggak? Bisa. Tapi lu seberapa sering lihat orang gede 1 bulan, bulan depannya habis lagi. Enggak enggak kedengaran
habis lagi. Enggak enggak kedengaran lagi. Nah, itu susah tuh. Kalau kita mau
lagi. Nah, itu susah tuh. Kalau kita mau sustain gimana kita mau menjadikan ini karir gimana? Kita harus tahu gitu loh
karir gimana? Kita harus tahu gitu loh value yang kita punya apa, karisma yang membedakan kita dengan orang lain apa, dan positioning kita apa. Nah, gua kasih
contoh value, charisma and positioning.
Gimana cara kita menemukannya? Gimana
cara kita mengembangkannya? Pertama-tama
value dulu. At the end of the day, apapun itu yang kita lakukan di social media, it's basically a transaction of value. Benar enggak?
value. Benar enggak?
Betul. Ketika kita ngasih orang value, mereka akan memberikan kita waktu mereka. Mereka akan memberikan kita
mereka. Mereka akan memberikan kita engagement mereka. Mereka akan
engagement mereka. Mereka akan memberikan kita mungkin juga uang mereka.
Ya, value. It's all transaction of value.
value. It's all transaction of value.
Benar kan? Itulah makanya kenapa nama agency kita, nama akademi kita tuh value creator.
Udah itu aja gitu loh. That's the
biggest apa ya konsep yang perlu kita punya. bekal terbesar kita ketika kita
punya. bekal terbesar kita ketika kita mau ngonten ngasih value gitu loh.
Karena kalau misalnya kita enggak punya value ibaratnya kita tuh kayak emas tapi karatan. Kebayang enggak sih maksud gua?
karatan. Kebayang enggak sih maksud gua?
Kelihatannya bagus tapi kalau udah kena air sedikit atau kena barang apapun itu sedikit kena debu gitu lama-lama karatan gitu.
Emang Mas bisa karatan enggak bisa.
Bisa enggak sih?
Enggak bisa emas yang bohongan.
Oh iya itu itu maksud gua gitu loh. Emas-emasan.
emas yang emas-emasan gitu loh. Atau
enggak misal lu beli kalung, ada enggak nih?
Misalnya kalung kayak begini, ini bukan masih ini apa nih namanya ya? Silver lah
ya. Kalung yang kayak gini kalau misalnya lu beli kalung yang enggak murni gitu kan itu pasti bisa karatan kan. I.
kan. I.
Nah, pertanyaannya seberapa murni kalung ini? Itu tuh seberapa kentel value yang
ini? Itu tuh seberapa kentel value yang kita punya ibaratnya.
Hmm.
Karena zaman sekarang itu tuh gampang banget buat viral.
Viral enggak pakai value itu gampang.
Benar enggak? Lu tinggal bugil aja di kamera. Lu tinggal bagi-bagi iPhone aja,
kamera. Lu tinggal bagi-bagi iPhone aja, bagi-bagi duit lu. Tinggal mandi lumpur aja. Benar enggak? Jual kesedihan aja ya
aja. Benar enggak? Jual kesedihan aja ya kan? Kena musibah ya kan? Terus habis
kan? Kena musibah ya kan? Terus habis
jualan kelas laku kayak gitu. Benar
enggak?
Wow.
Sering terjadi maksud gua yang kayak gitu dan orang pada kemakan ya kan.
Nah jadi viral itu gampang tapi kita viral karena apa? Itu dulu.
apa? Itu dulu.
viral karena value. That's the key.
Kalau misalnya kita bisa viral karena value, nah itu baru tuh menurut gua jago baru tuh penting, gitu. Nah, jadi at the end kita tuh harus tahu value yang kita mau kasih apa. Tentunya kalau bisa harusnya positif
ya. Positif dalam bentuk apa? Paling
ya. Positif dalam bentuk apa? Paling
gampang gini, dalam bentuk edukasi atau enggak entertainment atau enggak keduanya. Sesimpel itu aja. Jadi bukan
keduanya. Sesimpel itu aja. Jadi bukan
berarti value itu harusnya full edukasi kasih info kayak gini gitu. Enggak,
enggak juga gitu loh.
Tapi kita harus bisa gimana ketika kita memberikan konten, kita membuat konten, orang nonton konten kita, setidaknya hari mereka atau momen mereka ketika mereka setelah menonton konten itu, they
got something itu aja. And that is something positive. It value. That's a
something positive. It value. That's a
transaction of value there, gitu loh. Entah itu bisa membuat mereka
gitu loh. Entah itu bisa membuat mereka lebih pintar, lebih terhibur, atau apapun itu. Itu dulu. Kita punya enggak
apapun itu. Itu dulu. Kita punya enggak value yang positif?
Kalau enggak bisa viral, enggak bisa.
Tapi kita bisa aja viral karena hal yang buruk atau enggak kita bisa enggak sustain. Sesimpel itu aja. Kalau
sustain. Sesimpel itu aja. Kalau
misalnya value-nya itu enggak kuat, ibaratnya kayak tadi kalung tapi karatan gitu loh. Itu value. Nah, next.
gitu loh. Itu value. Nah, next.
Charisma.
Enggak semua orang bisa punya karisma yang optimal gitu loh.
He.
Cara nge-hack karisma gampang. Pakai
baju yang bagus, mandi.
Mandi, pakai parfum yang bagus, gitu loh ya. Kenapa itu bisa membantu kita?
ya. Kenapa itu bisa membantu kita?
Karena grooming kita tuh sangat sangat benar-benar impactful ke gimana orang nge-perceive kita. At the end of the
nge-perceive kita. At the end of the day, personal branding is perception engineering. Nah,
engineering. Nah, bisa jadi short content nih. Personal
branding is perception engineering.
Kenapa? Karena persepsi orang terhadap kitalah itulah personal branding kita.
Dan itu kan bisa kita craft. Craft-nya
gimana? Cara kita berbicara, cara kita berpakaian, ya kan?
I cara kita jalan, cara kita berdiri.
komunikasi komunikasi kita ya kan terus wangi dari badan kita itu semua bisa di-hack.
Kenapa? Karena persepsi itu bergantungan kepada lima indra kita. Penglihatan
kita, pendengaran kita, penciuman kita, pengecap kita, sama perasa kita.
Sesimpel itu, gitu loh. Dan kalau misal di online kita bisa nge-hack itu lewat dua cara, penglihatan dan pendengaran.
Sesimpel itu. Jadi, kita bisa nge-optimize itu. Nah, tapi lu pernah
nge-optimize itu. Nah, tapi lu pernah enggak sih ngelihat orang bajunya belel? He.
bajunya belel? He.
Pakai celana pendek, pakai sendal jepit, tapi pas dia masuk ruangan kayak ada auranya gitu loh.
Bob Bob Sadino Milioner.
Kenapa lu ngomong Bobsadino sih? Jadi
pokoknya ya mungkin gampangnya engkok-engkok BCA prioritas lah gitu loh.
H kayak siapa tuh?
K ko BCA prioritas misalnya gitu kan.
Nah, kenapa orang kayak begitu? Karena
itu lari dari confidence mereka.
He.
Nah, confidence itu datangnya dari mana?
dari kompetensi mereka yang mereka punya. Kompetensi mereka, skill mereka
punya. Kompetensi mereka, skill mereka datangnya dari apa? Dari value lagi gitu loh.
Makanya value gua kaitin nomor satu.
Ketika lu punya value pasti lu akan bisa mendapatkan karisma juga karena niat lu baik gitu loh. Kita akan bisa memberikan orang hal yang positif juga. Nah, itu
karisma tuh. Bisa nge-hacknya lewat apa grooming bisa. Tapi kalau misal lu mau
grooming bisa. Tapi kalau misal lu mau lebih next level lagi, take care of your body. Baju bisa dibeli, parfum bisa
body. Baju bisa dibeli, parfum bisa dibeli, musik bisa kita pilih, ya kan?
Tapi badan kita enggak bisa dibeli loh.
Seberapa sehat badan kita dan seberapa sixpack badan kita itu enggak bisa dibeli. Ketika kita bisa punya badan
dibeli. Ketika kita bisa punya badan yang bagus itu pasti orang langsung respect setidaknya this guy got discipline.
Karena the measure of a man or the measure of a of a successful person is their perseverance and their discipline.
Itu menurut gua. Seberapa kuat el menghadapi tantangan dan seberapa disiplin lu. Itu itu menumbuh itu
disiplin lu. Itu itu menumbuh itu menimbulkan karisma menurut gua. Nah,
yang ketiga, positioning.
Semua orang itu tuh punya backgroundnya masing-masing dan punya solusinya masing-masing dan punya masalah masing-masing. He.
masing-masing. He.
Ada orang bisa menjadi CEO tapi background-nya beda. Ada satu dari anak
background-nya beda. Ada satu dari anak orang kaya, satu dari yang misalnya perintis gitu loh, punya cerita masing-masing. Jadi
relate-nya masing-masing. Yang satu akan ngebawa masa yang lebih relate sama yang dari anak orang kaya tapi mau merintis sendiri. Yang satu lagi pengin ngebawa e
sendiri. Yang satu lagi pengin ngebawa e cerita dari gimana lu dari Rex to Riches gitu loh.
Itu beda tuh psikologinya gitu. Nah, itu
sering banget. Jadi, just be yourself.
Karena kita di dunia ini itu tuh akan menarik orang yang similar dengan kita menurut gua. Jadi, just be authentic.
menurut gua. Jadi, just be authentic.
Ketika lu menjadi diri lu sendiri dan lu enggak menjadi orang lain, itu akan bisa menjadi bekal yang sangat luar biasa ketika nanti kita ingin memulai personal branding kita. Karena authenticity itu
branding kita. Karena authenticity itu gitu.
ketika kita authentic ya kita seapa adanya gitu loh. Karena personal
branding it's like a it's not ini bukan branding kalau misalnya gua boleh minjam kata dari teman gua Yasa ya Singgi. Jadi dia
bilang personal branding itu tuh bukan kayak branding. Kalau branding tuh
kayak branding. Kalau branding tuh kanvas kosong yang lu bisa isi. Tapi
kalau personal branding lu udah hidup nih belasan tahun, puluhan tahun, 20, 30 tahun. Lu mau kosongin enggak bisa kan
tahun. Lu mau kosongin enggak bisa kan lu udah ada memori dari lu sebelumnya udah kebawa. Cuma tinggal dari kanvas
udah kebawa. Cuma tinggal dari kanvas yang sudah terisi ini lu mau tonjolin yang mana gitu loh.
Nah, jadi itu positioning lu juga. Lu
memposisikan diri lu, cerita lu gimana gitu.
Bukan logo, bukan logo, bukan warna, bukan font ya. Branding tuh
ya. Nah, jadi kita memposisikan diri kita gimana? Ketika kita memposisikan
kita gimana? Ketika kita memposisikan diri kita sebagai diri kita apa adanya, orang pasti akan ngrek kok yang sefrekuensi. Intinya gitu aja. Jadi
sefrekuensi. Intinya gitu aja. Jadi
kalau misalnya kita mau punya personal branding yang bagus harus punya tiga aspek tadi. Value-nya harus ada,
aspek tadi. Value-nya harus ada, cardismanya harus ada, sama positioningnya harus ngenak gitu. Nah,
itu poin pertama. Poin pertamanya udah panjang banget ya. Tapi di sini kita all out ya. Gua mau ngebuka dapur
out ya. Gua mau ngebuka dapur terbuka-terbukanya dan ke depannya video kita juga akan lebih banyak kayak gini ya, Hell real ya. Nah, jadi akan lebih banyak kayak gini juga harapannya lu enjoy. Oke, supaya apa yang lu dapat
enjoy. Oke, supaya apa yang lu dapat full nih, enggak setengah-setengah. Gua
enggak mau bikin video part 1, part 2, part 3 enggak. Jadi full dalam satu video lu langsung dapat semua apa yang ada di isi kepala gua dan tim productivity boy and value creator gitu.
Oke, so itu poin nomor satu tadi ya.
Jadi personal branding itu enggak buat semua orang. Nah, poin nomor dua gua mau
semua orang. Nah, poin nomor dua gua mau lanjut yaitu kita harus menguasai namanya scope of mastery.
Kalau misalnya lo udah ngikut eh value creator pasti udah ngerti banget ya kan value creator ya dari dulu ya kita udah ngajarin orang ini banyak banget scope of myy jadi essentially gua
percaya ketika kita ingin memulai person branding kita, kita harus memulai dari apa yang kita suka plus jago.
Harus suka plus jago. Enggak bisa salah satunya aja. Enggak bisa suka plus suka
satunya aja. Enggak bisa suka plus suka dan jago. Enggak bisa suka atau jago.
dan jago. Enggak bisa suka atau jago.
Enggak bisa. Lu cuman suka doang atau lu cuman jago doang? Enggak bisa. Let me
tell you why. Kenapa? Karena gini, kalau lu suka doang dan lu enggak jago, ya lu akan kalah sama kompetitor lu. Benar
enggak?
Iya.
Akan ada orang yang jago, yang suka, yang benar-benar mendalami itu banget sampai akhirnya dia jadi top of the game. Lu akan kalah sama skill dia,
game. Lu akan kalah sama skill dia, gitu.
He simpel enggak sih?
Iya. He
kan kita Apple to Apple nih comparisonnya sekarang misalnya kita ngebahas video editing A sama Bagusan video editingnya B ya B lebih jago lah gampang kan gua mendingan ngikutin dia kalau gua mau belajar belajar dari dia. Benar enggak
sih?
He. Heeh.
Sesimpel itu harus suka plus jago.
Karena kalau suka doang akan kalah sama kompetitor kita yang lebih jago. Nah
kalau misalnya kita cuma jago doang kita enggak suka. Menurut gua kalau misalnya
enggak suka. Menurut gua kalau misalnya kita ngomong yang penting mah kita jago aja. Kalau
kita enggak suka, enggak apa-apa yang penting makes money. Itu mah menurut gua agak sedikit naif sih. Menurut gua
pribadi ini opini pribadi. Orang lain
mungkin bisa punya opini sendiri ya enggak masalah. Ini my personal opini
enggak masalah. Ini my personal opini yang suka-suka gua dong mau berpikir seperti apa. Kenapa gua bilang kayak
seperti apa. Kenapa gua bilang kayak gitu? Karena hidup itu enggak selalu
gitu? Karena hidup itu enggak selalu indah Bro.
Enggak selalu indah. Kalau lu lagi di atas ya bagus lu. Udah tuh ya kan ngeruk duit. Iya.
duit. Iya.
Kalau ada duitnya bagus ngeruk duit.
Tapi kalau hidup lu lagi di bawah, mati lu. Mati lu. Benar. Benar enggak?
mati lu. Mati lu. Benar. Benar enggak?
Iya.
Dan kita semua tahu personal branding is a business of momentum.
Hm.
Lu bisa aja tahun ini naik, Bro. Tapi
ketika tahun depan lu udah ada orang yang lebih muda dari lo, lebih pintar dari lo, lebih jago dari lo, lebih ganteng atau cantik dari lu, lu turun gitu loh. Dan ketika lu lagi turun dan
gitu loh. Dan ketika lu lagi turun dan lo enggak suka apa yang lo lakuin, depresi lu gitu loh. Kebayang enggak sih maksud gua?
Iya. Enggak cuman soal content creation, enggak cuman soal personal branding, apapun itu gitu. Pada akhirnya yang membuat kita stay dan punya harapan untuk hidup dan bahagia setiap hari itu
apa? Meaning dalam hidup kita. Benar
apa? Meaning dalam hidup kita. Benar
enggak sih?
Betul.
Kalau misalnya kita enggak punya makna dalam hidup kita yang kita taruh di pekerjaan kita, ya lu ya dapat duit.
Tapi emangnya hidup nih cuma buat nyari duit?
Ada capeknya?
Ada capeknya.
Ketika lu udah financial freedom, gimana? Lu mau ngapain? Kalau duit udah
gimana? Lu mau ngapain? Kalau duit udah bukan jadi masalah ya bisa aja sih orang mau nyari duit terus terus terus tapi ya to be honest ya I'm just not that of guy sih ada mungkin orang-orang yang seperti itu.
Tapi ya gua enggak seperti itulah. Jadi
itu harus suka plus jago ya harus keduanya. Karena kalau misalnya kita
keduanya. Karena kalau misalnya kita cuma jago doang ketika hidup lagi benar-benar menghantam kita, bensin kita habis. Gampang banget buat nyerahnya.
habis. Gampang banget buat nyerahnya.
Orang kadang-kadang yang kita suka plus jago aja suka mau nyerah. Benar enggak
lu?
Betul. Benar. Apalagi lu udah e jago tapi gak suka lu uh habis tuh gitu kan.
Nah, which brings me to my next point di mana scope of mastery ini adalah formula buat kita bisa menentukan nich kita.
Nah, tapi kan sekarang orang pada bilang nih enggak usah fokus ke nich. Just be
yourself. Just just Iya kan udah lu apa adanya gitu kan.
Kalau lu artis bisa menurut gua orang yang bilang lu enggak butuh nich itu adalah apa ya kalau bisa bilang
nanti lu harus kasih lihat screenshotnya Denk buk ini tapi bahkan Denko aja bilang tuh kita butuh nich cuy karena dia bilang you are the niche kalau dia bilang you are the niche kita
adalah nich kita sendiri kita itu kan terbuat dari beberapa aspek dalam kehidupan kita aspek dalam kehidupan kita itu adalah nich-nya apa? Spirituality,
nich-nya apa? Spirituality, productivity, content creation itu kan misalnya gua gitu kan. Itu nich gua.
Tapi kalau misalnya lu cuman ngasil daily life lu bisa seberapa menarik aja kehidupan lu gitu loh. Kalau lu kayak Daniel Den sih oke gitu.
H kalau kehidupan lu cuman tiap hari kerja gitu ya macet-macetan bisa sih. Karena banyak loh orang bikin
bisa sih. Karena banyak loh orang bikin video gitu kan.
Jadi relate bisa juga gitu ya. Jadi
bikin video gini nih, bangun tidur jam 5.00, masak sarapan buat suami sama eh buat dia sama istri, ya kan. Habis itu
jam 08. Berangkat kerja, jam 09.00 kerja, jam 12.00 makan, ya kan. Habis
itu jam 12.00 makan, habis itu jam .00
balik, habis itu nge-gym lah atau misalnya spend time sampai jam 08.00, jam 08.00 siap-siap tidur, jam 10.
Tidur, gitu loh. Ada aja yang kayak gitu, tapi seberapa banyak yang bisa kayak gitu?
That's the advantage of first mover menurut gua.
Kalau misalnya lu jadi orang kedua, ke-10, ke 100 yang ngelakuin itu, apakah laku?
Kalau kita enggak punya aspek pertama yang tadi gua bilang value, charisma, sama positioning.
At the end semua balik ke situ aja.
Itu gua harus kasih nama ya, value, karisma, sama positioning. Itu bagus
loh.
Apa ya? The trior. Nantilah kita pikirin yang namanya ya. Nah, jadi itu menurut gua kita kalau misalnya mau mulai baiknya sih menentukan scope of myy kita. Yes.
Enggak menaruh diri kita dalam satu bok itu bagus.
Gua enggak cum gua kan enggak bilang juga ketika lu mau emm ketika lu mau ngonten harus fokus ke ngomongin satu topik aja kan gua enggak bilang gitu.
Benar enggak?
Bahkan gua aja ngebahas banyak productivity boy aja gua namanya productivity tapi gua ngebahas personal branding nih gitu loh maksudnya. Iya,
tapi harus ada yang menjadi pegangan kita. Kita tuh paling kuat di mana? Itu
kita. Kita tuh paling kuat di mana? Itu
aja. Karena kalau kita manusia enggak punya pegangan, lu ngomongin apa? Benar
enggak sih?
Itu sih maksud gua. Jadi bukan bukan berarti lu harus ee stick ke satu nish, mulai ke banyak nich. Enggak. Lu
ngomongin banyak boleh, ngomongin satu juga boleh, tapi harus yang penting punya satu pegangan yang benar-benar lu paling jago. Nah, itu scope of mastery
paling jago. Nah, itu scope of mastery lo. Itulah yang akan membedakan el
lo. Itulah yang akan membedakan el dengan orang lain menurut gua. Nah, kita
lanjut ke yang ketiga ya. Ini udah
berapa menit nih? Udah berapa menit nih?
Mau 20.
Wah gila. Gak apa-apa ya? Kita lanjut
aja ya. Jadi gas ya. Yang penting kita benar-benar bisa ngasih the biggest amount of value di sini. Alright. Nah,
ketika kita lanjut nomor 3 ini gua mau ngebahas yang namanya scale of command. Nah, ini
konsep dari value creator juga ya.
Ketika kita memulai kita tuh harus tahu scale of command kita.
Kita tuh mau jadi kreator kayak apa.
Nah, ini yang tadi gua bilang the end goal-nya tuh kita akan nge-craft. Kita
tuh mau jadi kreator kayak gimana.
penting banget karena end goal-nya kita mau apa? Cara untuk menuju itu
mau apa? Cara untuk menuju itu beda-beda. Kebayang enggak?
beda-beda. Kebayang enggak?
Nah, jadi ini mungkin nanti Helmi bisa tolong masukin diagram skill of command kita ya. Nah, jadi skill of command itu
kita ya. Nah, jadi skill of command itu adalah spektrum yang terdiri dari closeness sama authority. Ingat ya, ini spektrum. Jadi,
authority. Ingat ya, ini spektrum. Jadi,
lu bisa di tengah-tengah bisa lebih ke kiri atau bisa lebih ke kanan. Bukan
dikotomi, bukan lo A atau lo B, bukan spektrum ini ya. Closeness sama
authority. Closeness itu apa? Closeness
itu biasanya adalah content kreator yang sifatnya edukasi.
Eh sori kebalik. Closes itu adalah content kreator yang sifatnya lifestyle ya.
Endorse endorse endorse misalnya. Nah, jadi sifatnya
endorse misalnya. Nah, jadi sifatnya lifestyle. Maksudnya gimana? Karena dia
lifestyle. Maksudnya gimana? Karena dia
sifatnya lifestyle, menunjukkan keseharian dia, menunjukkan aktivitas dia, kita jadi merasa dekat sama dia.
Benar enggak?
Berasa jadi kayak teman. Makanya mereka
tuh memposisikannya tuh kayak gua nih teman loh dan lu bisa relate loh sama gua. Benar enggak?
gua. Benar enggak?
Makanya seringki yang menjadi jalur untuk memonetisasi kreator-kreator yang sifatnya lifestyle ini adalah endorsement. H
endorsement. H karena endorsement itu sangat rely on trust sama rely on relatability lu kalau udah trust lu udah relate
gampang tuh ketemu tuh karena kayak teman saling pakai Iya barang-barang benar iya kan misalnya lu ke kantor lu
bawa ee tumbler corksle corksle misalnya terus ih lucu ya lucu ya lucu ya bulan depan teman lu beli juga benar enggak kayak gitu loh i beli Stanle iya atau enggak misalnya Stanley gitu gitu kan ya. Apapun itulah ya, siapa
yang mau endorse kita terserah nanti kita masukin ya. Nah, gitu itu closeness.
Di sisi satu lagi ada authority.
Authority itu kebalikannya yang sifatnya kreator itu edukasi. Kenapa gua bilang authority? Karena seringkiali kalau
authority? Karena seringkiali kalau orang closens itu menempatkan dirinya tuh kayak sejajar, kayak teman. Ini tuh
authority tuh yang kreator edukasi tuh sedikit berbeda. Mereka menepatkan diri
sedikit berbeda. Mereka menepatkan diri mereka tuh sedikit di atas. Tapi
bukannya sok-sok mau jadi di atas, tapi emang karena sifat konten mereka tuh seperti itu.
H jadi menempatkan diri mereka tuh sedikit di atas. Maksudnya gimana? Karena kita
di atas. Maksudnya gimana? Karena kita
kan mengedukasi ya content creator edukasi mengedukasi dan ketika kita mengedukasi akan ada authority yang timbul di sana.
Mereka mereka akan memandang kita, mereka akan melihat kita, "This guy knows this girl know something." Gitu
loh. Gua bisa nih belajar dari dia gitu.
Itulah sifat content creator yang authority yang biasanya bergerak dari sifat edukasi konten-kontennya gitu.
Nah, cara monetiznya beda.
Seringkiali kalau kita ngedukasi, edukasi itu kita transfer of apa?
Value, knowledge dan in information.
Formation.
Karena kita transfer information, makanya seringkiali yang digunakan oleh kreator-kreator yang sifatnya edukasi ini, authority ini untuk monetize adalah lewat info products.
Info products itu apa? Information
products yang biasanya kita kenal sebagai digital products. Bisa juga term yang lebih populer belakangan ini, yaitu misalnya e-book lah, online course lah, bootcamp lah, coaching lah, webinar lah,
lah yang kayak gitu-gitu ya. Nah, jadi
itu adalah info products. Kenapa info
products? Karena kita menjual informasi.
Itulah yang kita udah lakuin juga ya di productivity boy dan di value creator.
Dan we made our big e of revenue ya dari info product itu gitu. Jadi kalau
misalnya lu mau belajar tentang itu ya I recommend dengerin HP akhir karena nanti kita banyak spill hal-hal yang kayak gitu juga ya. Nah, jadi memonetize dari info produk. Kenapa? Karena wih dia
info produk. Kenapa? Karena wih dia ngerti sesuatu nih. Kalau gua belajar dari dia kayaknya gua bisa belajar sesuatu yang lebih banyak gitu loh.
Ibaratnya konten gratis valuable apalagi konten berbayarnya gitu loh.
Betul.
Nah, kurang lebih kayak gitu. Nah, itu
adalah cara memonetizasi yang berbeda.
Nah, tergantung nih kita mau di mana. Di
segi closeness, authority, eh di segi closeness yang sifatnya lifestyle atau di segi authority yang sifatnya edukasi.
Kita tentuin kalau kreator edukasi seringkiali mungkin monetiznya lebih ke digital product. ke info product. Kalau
digital product. ke info product. Kalau
misalnya kita kreator yang sifatnya closeness lebih sering itu tuh lifestyle tuh monetiz-nya lewat endorsements karena brand lebih gampang buat percaya.
Gua kasih konteks misalnya ada brand skincare nih mau nge-endorse orang, mau nge-endorse orang buat make sure produk mereka laku gitu ya. Mereka bakal ajak closeness atau authority?
Closeness dong. Kenapa? Karena kalau
misalnya barang ini direkomenin sama temannya, teman-teman ini bakal kena.
Benar ya?
Iya. bakal lebih gampang buat dipersuit kayak tadi contoh yang corksle tadi.
Tapi kalau misalnya brand skincare ini mau bikin kelas cara formulasi skinc mengedukasi bahwa skincare ini tuh itu adalah punya zat yang paling e baru dan
paling bisa efektivitasnya ampuh, lu bakal ngundang siapa? Yang closes
atau authority?
Authority.
Authority. Kenapa? Karena mereka
mengedukasi, mereka punya power itu, gitu loh ya. Nah, jadi kita tinggal pilih kita mau ada yang di mana. Kalau
misalnya kita mau di tengah-tengah itu perfect ya, itu udah paling bagus, posisi paling enak, sweet spot. Kenapa?
Karena kita bisa dapat dua-duanya. Tapi
enggak sebanyak orang bisa kayak gitu.
Enggak sebanyak orang bisa kayak gitu.
Kadang-kadang mereka either di kiri doang atau di kanan doang atau di tengah-tengah, tapi lebih melipir ke mana?
Kalau lu bisa di tengah-tengah banget, coba deh. Jago sih kalau lu bisa gitu.
coba deh. Jago sih kalau lu bisa gitu.
Itu skill of command ya. Jadi ada
authority, ada closeness. Nah, sekarang
kita lanjut ke poin keempat, yaitu hierarchy of content.
Hierarchy of content maksudnya apa? Ini
gua membagi menjadi empat ya. Jadi kalau
misalnya kita ngomongin konten sering kali itu kita bagi jadi empat aspek ya.
Ada video editing, ada scriptwriting, ada hook sama ada ide. Benar ya?
Iya betul.
Kalau misalnya kita lagi bikin konten.
Nah sekarang pertanyaan gua di antara keempat ini. Gua mau nanya ke Helmi sama
keempat ini. Gua mau nanya ke Helmi sama ke Aril ya tim gua ya. video editing,
script writing, hook, sama idea. Paling
penting yang mana?
Idea.
Idea.
Iya, karena mereka udah tahu. Coba gua
tanya ke orang awam, salah nanya gua.
Mereka udah tahu. Tapi seringkiali
mungkin orang akan mikir hook atau enggak orang akan mikir video editing. Kenapa video editing? Karena
editing. Kenapa video editing? Karena
paling kelihatan. Benar ya?
Paling kelihatan. Wah, ini videonya jedar-jeder nih. Wah, hyper edit nih.
jedar-jeder nih. Wah, hyper edit nih.
Wah, bagus nih kualitasnya, kameranya bagus nih. Full frame nih. Lensanya R3
bagus nih. Full frame nih. Lensanya R3
juta nih, yang kayak gitu loh. Kelihatan
quality-nya langsung. atau enggak orang bakal mikir hook karena orang udah pintar. Oh, 3 detik pertama tuh paling
pintar. Oh, 3 detik pertama tuh paling krusial. Kalau misalnya orang swipe
krusial. Kalau misalnya orang swipe retention-nya enggak ada, algoritman jelek. Nah, bisa juga.
jelek. Nah, bisa juga.
Tapi menurut gua yang paling penting tuh idenya. Kenapa? Karena kalau konten kita
idenya. Kenapa? Karena kalau konten kita enggak idea market fit sama aja hilang.
Contoh, video kita bagus tapi orang enggak relate, percuma enggak?
He.
Orang enggak bakal nonton. Atau misalnya
video kita hook-nya bagus tapi orang enggak butuh. enggak
enggak butuh. enggak butuh mereka bakal tetap coba misalnya contoh ada produk bagus lu tahu nih produk ini bisa ngilangin jerawat
testimoninya banyak nih produk ini bisa ngilangin jerawat teman-teman lu pada pakai 10 orang yang pakai 9 orang berhasil jerawatnya hilang h lu disuruh beli tapi lu enggak jerawat lu bakal beli enggak enggak
buat apa benar enggak sih maksud gua iya karena lu enggak butuh enggak ada idea market fit-nya di sana hook-nya bagus kontennya bagus tapi kalau Kalau misal orang enggak butuh,
percuma bounce dia nge-scroll, nge-skip.
Maka yang paling penting di antara semuanya adalah idenya. Menurut gua
ketika kita bikin konter, mikir ketika kita membuat konten tentang ide ini bisa membantu orang enggak? Bisa ada
value-nya lagi enggak ke orang? Kalau
misalnya ada penting dah, udah itu pasti udah clear, viral lah setidaknya gitu loh.
Makanya hierarkinya begini. Yang paling
penting tuh ide, hook, script, sama video. Ini kalau misalnya kita lihat nih
video. Ini kalau misalnya kita lihat nih agak sedikit unik ya. Padahal yang
paling kelihatan tuh videonya dulu loh.
Habis videonya kelihatan, scriptnya loh yang kelihatan. Habis itu hook-nya loh.
yang kelihatan. Habis itu hook-nya loh.
Habis itu baru idenya. Tapi yang paling penting justru kebalik ya.
Iya.
Nah, ini yang s yang seringkali orang sering kemis. Jadi itu penting banget
sering kemis. Jadi itu penting banget buat kita. Hierarchy of content. Oke.
buat kita. Hierarchy of content. Oke.
Nah, yang kelima ya gua pengen e ini adalah advisor advisor basic. I
actually really hate this advice tapi menurut gua ini penting buat gua instill ke teman-teman. Apalagi yang baru mau
ke teman-teman. Apalagi yang baru mau mulai karena ini gini, judul dari video ini adalah cara mulai, benar ya.
H I.
Jadi gua ngomongnya di sini yang basic dulu nih. Benar kan?
dulu nih. Benar kan?
Ini basic dulu. Nanti mungkin kita akan bisa bikin video lagi lebih intermediate atau lebih advance bisa.
Tapi ini intinya dengan video ini gua mau membantu orang-orang yang baru mulai.
Jadi kalau lu dari nol udah lu enggak usah beli course ini aja lu nonton gitu loh maksudnya.
Iya.
Kalau dari nol ini penting banget ngonten ngonten aja.
Karena kalau misalnya kita mikirin oh harus begini, harus begitu.
Lu bakal overthinking sampai akhir lu enggak ngonten-ngonten selama 1 tahun. H
kayak siapa?
Banyak ya. kayak Helmi gitu ya. Ya, ini
ya. kayak Helmi gitu ya. Ya, ini
orangnya ada nih. Contohnya lu bakal overthinking dan lu enggak akan ngonten-ngonten. Terus
ngonten-ngonten. Terus lu enggak usah bikin video pertama lu video paling perfect. Enggak.
Lu si gini aja rekam. Hai nih gua challenge lu ya. Kalau misalnya lu mau ngonten, lu nonton video ini, gua challenge lu. Hai gue kasih tahu nama lu
challenge lu. Hai gue kasih tahu nama lu misalnya. Hai, nama gue Rama dan ini
misalnya. Hai, nama gue Rama dan ini adalah video pertama yang gua mau buat di sosial media gua. Ini adalah video personal banding pertama gua dan gua di-challenge oleh Rama untuk ngupload video ini supaya gua gak punya limiting belief. Kalau misalnya gua mau ngonten
belief. Kalau misalnya gua mau ngonten semuanya harus bagus. Jadi ini adalah langkah pertama gua untuk ngonten. Wish
me luck, guys. Udah lu upload itu aja ke IG lu, ke TikTok lu, ke YouTube lu.
Hashhag hashtag apa?
Hashproadby challeng. Prodadby challenge. Apapun
challeng. Prodadby challenge. Apapun
lah, tag gua aja kalau misalnya lu bikin video itu. Gua akan support lu beneran
video itu. Gua akan support lu beneran ya. Karena gini, most likely video
ya. Karena gini, most likely video pertama lu enggak akan viral gitu loh.
Belum tentu. Bukannya enggak akan ya, belum tentu viral kemungkinannya. 200
views-nya mungkin di bawah 1000 ya, Guys.
200 view-nya mungkin 100 bisa jadi di bawah 100 gitu loh.
Tapi yang penting el mulai karena yang paling susah ya nih gua kasih contoh deh ini kita ngomongin productivity sedikit karena mau bagaimanapun username gua productivity ya jadi gua kaitin ke
productivity sedikit.
Ketika kita lagi malas kerja, lagi malas nugas, lagi malas apapun itu, sebenarnya tuh bukan malasnya itu loh yang bikin susah, bukan tugasnya itu loh yang susah, bukan
kerjaannya itu loh yang berat, bukan, tapi momentum untuk mulainya ngumpulin niatnya itu loh h yang paling susah threshold energi terbesarnya tuh di situ. Dikumpulin
niatnya dan akhirnya ngelakuin itu yang paling susah. Bukan tugasnya berat,
paling susah. Bukan tugasnya berat, enggak gitu. Bukan ngonten yang susah,
enggak gitu. Bukan ngonten yang susah, ngumpulin niatnya dan keberaniannya itu yang paling susah.
Ketika lu bisa melampaui itu, momentum datang dan winners are the ones that are favored by the momentum, gitu. Nah, jadi
menurut gua udah mulai aja karena ketika lu mau mulai, udah lu mulai momentumnya datang dan lu jangan stop.
Coba aja terus.
Jangan sampai lu baru ngonten 10 konten nyerah. Aduh, kok ini enggak works? Ya
nyerah. Aduh, kok ini enggak works? Ya
dimaki lu sama orang yang udah e ngonten 1000 konten ya kan?
Iya. 100 konten lah. Kalau misalnya
masih enggak viral, kita review apa yang terjadi. Ini
beneran. Jangan jangan gini, jangan cuman konten 100 konten terus isinya jelek semua, sampah semua ya. Enggak
gitu juga gitu. Setiap konten kalau enggak works ya lu review apa yang perlu diperbaiki.
I karena yang paling penting untuk content creator dalam fase-fase awal mereka adalah fase testing.
Layaknya apapun itu. Lu mau nge-ads kek, lu mau bikin bisnis kek, itu ada testingnya, fase testingnya. Teral
error.
Iya, tral errornya lu tuh bayar tuh paling besar tuh waktu duit lu, energi lu tuh fokus lu tuh di sana. Testing
untuk mencari apa? Mencari yang mana yang works. Ketika lu udah nemu konten
yang works. Ketika lu udah nemu konten yang works, lu abuse itu sampai lu enggak bisa press lagi baru lu lanjut ke format baru. PR orang di awal-awal
format baru. PR orang di awal-awal disuruh bikin banyak konten buat apa?
Bukan buat konsisten, bukan buat buat nemuin winning content itu doang.
Ketika lu udah ketemu, abuse sampai akhirnya udah enggak bisa dipress lagi, move on ke next content. Kenapa? Karena
orang tuh suka dengan value yang yang lu kasih di sana. Benar enggak?
I.
Nah, makanya pentingnya adalah kita harus menentukan apa yang kita mau kontenin dari awal di scope of myy tadi.
Karena seringkiali kalau misalnya kita asal ngonten, kita asal ngonten, kita maunya viralnya jadi orang kayak gimana, tapi k kita karena kita enggak nentuin, kita malah viral karena apa? Hal yang
beda itu bahaya juga. Kebayang enggak?
Iya. He.
Maunya viral karena A eh tapi malah viralnya karena B karena asal ngonten gitu loh.
Kejadian di teman kita.
Nah, kejadian di teman kita itu saya dulu gitu kan. Kalau misalnya lu mau lihat buktinya itu ada akun gue yang dulu di Seser Masati ya begitu makanya gua bikin akun baru Productivity Boy ya
kayak gitu. Nah, jadi itulah ngonten
kayak gitu. Nah, jadi itulah ngonten aja. Sama terakhir gua mau share ini
aja. Sama terakhir gua mau share ini balik lagi ya. Ini buat teman-teman yang baru mulai ini full strateginya ketika lu baru mulai.
Kalau misalnya lu ngerasa ini terlalu general, terlalu ini, karena ini buat orang yang baru mau mulai. Kalau
misalnya lu tertarik nih lu udah intermediate atau lu advance, coba deh komen. Ee lu mau strategi yang lebih
komen. Ee lu mau strategi yang lebih intermediate atau advance, nanti kita bikinin ya guys ya. Nah, jadi ini karena keywight-nya baru memulai ini sifatnya lebih ke beginner sama general ya. Jadi kalau misalnya lu mau yang
ya. Jadi kalau misalnya lu mau yang lebih advance, komen nanti ee komen mau ya komen mau ya walaupun enggak ada autom mission karena ini YouTube ya eh komen mau nanti kita bakal lihat
seberapa banyak minatnya kita bakal bikinin e next level-nya gitu ya. Jadi
kalau misalnya lu baru beginner ya ini yang lu perlu lakuin. Dan yang terakhir ya ini masih menyambung ke poin nomor 5 tadi ngonten aja ya. Poin nomor 6 gua adalah harus ngerti yang namanya the
deep. Ini konten yang kita sempat bahas
deep. Ini konten yang kita sempat bahas juga ya sebelumnya the. Jadi fase kita ketika kita ingin sukses itu tuh begini guys grafiknya ya. Nanti di-insert ya.
Jadi kita akan mulai. Ketika kita mulai akan ada beginners luck. Wah gua merasa paling jago. Ya kan? Kalau misalnya kita
paling jago. Ya kan? Kalau misalnya kita nge-gym aja ada new be gains, benar enggak?
Gampang banget buat dapat ototnya.
Kenapa? Karena baru pertama kali terstimulasi.
Ketika udah mulai eh susah malah turun ya kan?
Malah balik ke posisi awal atau bahkan lebih buruk dari awal. Itu masuk ke yang namanya Valley of the Spear.
Seringkiali orang nyerah di situ. H.
Oh, this doesn't work for me. Ini
kayaknya gua enggak bisa. Coba hal yang baru aja deh. Shiny object syndrome kan.
kita harusnya udah progresnya segini balik lagi ke A lagi. Udah segini balik lagi ke A lagi. Udah segini balik lagi ke A lagi. Padahal kalau kita lanjutin kalau starting line tadi kita di sini
dan value of kita di sini dan ketika kita lanjutin lama-lama tuh bisa naik melebihi loh dan eksponensial loh. It's
just a game of seberapa lama kita stay in the game melakukan hal yang sama.
Karena seringkiali orang tuh gagal.
Kenapa? Mereka quit terlalu awal aja.
Benar ya?
Karena mereka quit terlalu awal aja. You
cannot lose if you don't stop doing it if you don't quit. Benar gak sih?
Jadi it's just a matter of improving yourself dan benar-benar improve your craft aja ketika nanti itu selalu terjadi. You cannot lose. You cannot
terjadi. You cannot lose. You cannot
lose. Setidaknya walaupun mungkin lu enggak jadi terbaik atau apa, lu enggak akan di posisi yang sama seperti lo dulu. Itu aja. Ya, jadi menurut gua itu
dulu. Itu aja. Ya, jadi menurut gua itu sih kalau misalnya mau beginner, itu sih menurut gua yang paling penting ya. Karena kita harus tahu dulu sebagai
ya. Karena kita harus tahu dulu sebagai beginner arah kita mau ke mana dan memulai. Kata kuncinya kalau misalnya
memulai. Kata kuncinya kalau misalnya gua bisa merangkum 6 poin yang gua sampaiin dari tadi udah berapa menit nih? 30
nih? 30 30 menitan ini. 35 menit ini kalau gua rangkum menjadi dua aspek doang lu harus tahu lu mau ke mana dan lu mulai aja itu doang. Iya benar ya.
doang. Iya benar ya.
He.
Lu harus tahu dulu lu mau ke mana gitu.
Maunya apa. Kalau lu enggak tahu lu bakal keseret sama arus.
He.
Kalau arusnya lagi bagus, trennya lagi bagus. Kalau arus tergelek, lu enggak
bagus. Kalau arus tergelek, lu enggak tahu mau ke mana, lu ngikut arus ke arah yang jelek gitu loh.
H lu perlu tahu lu mau ke mana dan mulai aja. Ya, kalau lu punya itu, bekal itu
aja. Ya, kalau lu punya itu, bekal itu lu punya aman deh. Setidaknya you're
starting on the right path.
Sebelum kita masuk ke teknis bikin konten, ngomongin growth, algoritma, monetisasi atau jualan dari konten, ada satu hal wajib yang gua perlu lo untuk pahami dulu. Dan ini bukan soal skill,
pahami dulu. Dan ini bukan soal skill, ini soal cara berpikir sebagai contonent kreator dan kreator prer. Karena
kebanyakan orang di luar sana mereka tuh gagal bukan karena mereka gak bisa bikin konten. Mereka gagal karena dari awal
konten. Mereka gagal karena dari awal mereka tuh main di game yang salah tanpa sadar. Mereka kejar views tapi enggak
sadar. Mereka kejar views tapi enggak ngerti positioning. Mereka kejar viral
ngerti positioning. Mereka kejar viral tapi enggak ngerti value. Mereka bikin
konten tiap hari tapi enggak ngerti sebenarnya mereka tuh lagi membangun apa. Dan akibatnya apa? Capek, burn out,
apa. Dan akibatnya apa? Capek, burn out, konten naik turun, audience enggak jelas, dan bahkan sampai enggak bisa akhirnya monetize dan pusing sendiri.
Makanya untuk segmen awal-awal ini penting banget untuk kita drill foundation-nya. Karena tanpa foundasi
foundation-nya. Karena tanpa foundasi ini akan bahaya banget. Walaupun lu jago bikin konten, tapi kalau lu gak ngerti foundation-nya, lu akan bisa melaju jauh tapi ke arah yang salah. Dan itu bahaya banget. So, with that said, tanpa
banget. So, with that said, tanpa panjang lebar, let's get into the foundations.
Oke, so hierarchy of creators. This
video is gonna be very important.
Apalagi kalau misalnya kita pengen long term ya di industri content creating ini. Menurut gua kita harus paham konsep
ini. Menurut gua kita harus paham konsep ini supaya kita enggak kemakan nih sama tren-tren, enggak kemakan sama momentum-momentum yang sesaat doang dan kita bisa sustain yang lama. Kita harus
paham yang namanya hierarchy of creators. That's why we're gonna discuss
creators. That's why we're gonna discuss this right now. Ok. So, creator hier hard di sini kita sebutnya ada C1, C2, C3. Bedanya apa? Kita mulai dari yang
C3. Bedanya apa? Kita mulai dari yang paling bawah dulu. C1 itu ibaratnya gini nih. These are the type of people are
nih. These are the type of people are the type of creators yang disukain karena kontennya. Ya, jadi orang follow
karena kontennya. Ya, jadi orang follow kita karena kontennya. Why do people follow you because of your content? Lot
of reasons. First, lo ganteng, lo cantik bisa. Dua, eh hook lu bagus. Tiga, ide
bisa. Dua, eh hook lu bagus. Tiga, ide
lu market fit sama konten. Eh, sori
konten konten lu market fit. Jadi
maksudnya ide yang lu sampaikan di kontennya itu tuh orang butuhkan. Itulah
kenapa mereka membutuhkan ide eh membutuhkan jawaban dari konten lo dan mereka akhirnya nonton ya. Atau bisa juga karena visual editing
ya. Atau bisa juga karena visual editing lu bagus atau bisa karena scripting lu menarik atau misalnya karena style lu oke gitu ya. So people like you because of your content.
Masalahnya kalau misalnya kita cuman sampai di titik ini doang, what if ada orang yang bikin konten lebih bagus dari kita.
angkap ya misalnya kita jago e ngedit dan orang follow kita karena editan kita bagus nih. What if ada orang yang lebih
bagus nih. What if ada orang yang lebih jago ngedit dari kita?
Apakah audience kita akan pindah ke orang tersebut? Most likely yes. Contoh,
orang tersebut? Most likely yes. Contoh,
kalau misalnya orang follow kita karena kita ganteng atau cantik, by the time ada orang yang yang lebih muda, yang lebih ganteng, yang lebih cantik dari kita, yang ngebahas topik yang sama. Apa
yang akan terjadi?
orang akan pergi ke sana gitu ya. Jadi
itu adalah kas terbawah nih dari creator harkey yaitu orang suka kita karena konten kita. Next, orang suka kita
konten kita. Next, orang suka kita karena message kita, karena value kita.
Contoh kalau misalnya di value creator kita punya misi ya, yaitu kita mau bikin value driven content go viral more than drama di Indonesia. Jadi kan seringkiali kita tahu kalau misalnya orang Indo tuh
suka konten-konten yang sifatnya receh, entertainment, prank-prank, enggak jelas gitu ya, bagi-bagi, giveaway gitu ya.
Kita mau bikin konten-konten, kita punya misi, kita punya mimpi di mana kita pengin bikin konten-konten edukasi yang bervalue itu tuh lebih viral dari konten-konten yang kayak gitu. Nah,
kalau misalnya orang selaras pemikirannya idealismenya dan ideologinya selaras dengan ini, pasti mereka akan suka kita karena message kita. We wanan to make value driven
kita. We wanan to make value driven content go viral. Nah, ketika orang bisa struk sama itu ya. Nah, jadi orang udah di level 2 ini nih, C2 ini.
Oke, people like you because of your message ya. Nah, yang terakhir adalah
message ya. Nah, yang terakhir adalah people like you because of you. Ini udah
paling susah. Ini udah paling susah. Ya,
kalau ditanya RAM cara ini gimana?
Sorry, menurut gua eh gua belum bisa jawab dengan tepat karena menurut gua aja ya ini analisis pribadi ya. Self
analisis. Balik lagi self analisis penting kan?
Analisis gua pribadi aja menurut gua productivity boy value creator tuh masih di C2 nih pelan-pelan ke C3. Jadi kita
masih di tengah-tengah sini atau bahkan di C2 kita belum nyampai sini. Jadi gua
enggak bisa kasih tahu oh caranya gimana nih gitu ya. Ya maksud gua, gua punya hipotesis punya tapi exactly gimana gua belum bisa share karena menurut gua gua aja masih di sini gitu kan. Nah tapi gua kasih contoh orang-orang yang udah
nyampai C3 ini siapa menurut gua contohnya adalah Titra. Kenapa? Karena
gini, Tintati Tira bikin bisnis. Dia kan
awalnya content creator beauty ya, beauty lifestyle ya, make up ya, skincare mungkin ya. Dia tiba-tiba bikin bisnis kan, dia bikin bisnis eh dua FnB
ya, satu sama suaminya kan ee bikin kayak apa sih? Yaki something like that gitu kan yang kayak Japanese gitu sama dia bikin matte coco ya kan. E coconut
shake laku nih FnB-nya. dia bikin lagi ya kan beauty brand beauty second date laku juga maksudnya apa ketika orang
udah mempunyai bisnis atau turunan ya turunan dari personal branding dia lintas industri FnB sama beauty kan beda ya tapi orang tetap bisa beli audiens
tetap suka dan tetap beli itu berarti orang sudah suka kita karena kita contoh misalnya gua bikin value creator nih bikin productivity Boy.
Terus suatu saat gua tiba-tiba bikin ee baju terus baju gua laku banget. Nah,
itu berarti gua udah di C3 karena orang suka gua karena gua. Jadi, gua jualan apapun laku. Ya. Nah, jadi sekarang
apapun laku. Ya. Nah, jadi sekarang pertanyaannya gimana kita bisa dari sini ke sini, dari sini ke sini gitu kan. Itu
langkah. Tapi memang paling biasanya orang tuh dari bawah pelan-pelan ke atas. Walaupun ada orang yang tiba-tiba
atas. Walaupun ada orang yang tiba-tiba langsung di atas, tapi seringkiali fasenya adalah orang jago ngonten dulu, jago bikin persepsi, habis itu jago ee bikin orang suka sama kita. Ya, jadi ini hierarki penting banget sih supaya kita
tahu kita ini ada di mana. Mungkin lo
bisa ngakses lo ada di mana. Dan
harusnya baiknya menurut gua sih aspirasinya ya udah kalau misalnya kita di bawah pelan-pelan kita bisa naik gitu.
Clues versus authority. First of all, shout out to Michael ya, Zen Boy. Karena
ini konsep tuh diciptain sama Mike ketika kita lagi brainstorming dan kita bawa ini ke banyak banget konten yang kita udah produce dan kita udah introduce konsep ini ke banyak banget
B2B clients, ke banyak banget personal brand clients, ke banyak banget coaching clients dan orang-orang sangat merasakan manfaat dari konsep ini. Banyak banget
yang tercerahkan dan karena menurut gua konsep ini cukup perfect juga. So, I'm
gonna share it to you guys right now.
Oke, closest versus authority. So val
creator we believe that creators operates in a spectrum. Jadi creator itu tuh bertindak berdasarkan spektrum. Nah
spektrum ini tuh ada dua ya. Jadi balik
lagi ini bukan dikotom spektrum ya. Jadi
bisa bergeser ya. Enggak A atau B bukan.
Ini spektrum jadi bisa bergeser. Yang di
kiri itu closeness yang di kanan tuh authority. Bedanya di mana? Gampangnya
authority. Bedanya di mana? Gampangnya
gini. Closeness itu adalah biasanya kreator-kreator yang lifestyle ya. kreator-kreator yang lifestyle. Jadi
ya. kreator-kreator yang lifestyle. Jadi
mereka menitik beratkan di kedekatan mereka dengan audiens mereka. Mereka bermain di sana. Ketika kita show our life kan kita
sana. Ketika kita show our life kan kita jadi menganggap, "Oh, ini cici gua nih, koko gua nih, kakak gua nih, ini dedek gua nih, nih bapak gua nih, emak gua nih." gitu loh ya kan? People will think
nih." gitu loh ya kan? People will think that they are close with us. They will
feel they are close with us karena kita menunjukkan keseharian kita. Kita pakai
brand apa? kita pakai skincare apa, kita mandi pakai sabun apa, kita naik mobil apa, kita makan di restoran apa. Nah,
kita jadi merasa dekat sama kreator tersebut. Nah, ini lifestyle tuh biasa
tersebut. Nah, ini lifestyle tuh biasa tuh mainnya di closeness. Nah, di sisi lain itu tuh ada yang namanya authority.
Authority ini biasa tuh tercipta ketika yang eh mengembangkan akun ini kreator edukasi ya. Kenapa? Karena ketika kita
edukasi ya. Kenapa? Karena ketika kita mengedukasi, tiga cara untuk bisa bla bla bla. Kalau misalnya kamu mau ini
bla bla. Kalau misalnya kamu mau ini pakai bla bla bla. Nah, itu maksudnya ini kan sifatnya edukasi ya. Nah, ketika
kita mengeducate people, when you educate people, positioning-nya enggak begini ya.
Positioning-nya enggak begini. Nih, gua
gedein nih, right?
Positioning-nya itu tuh enggak begini.
Ini kelihatan lagi. Ini gua lagi rekaman di kamar gua. So,
eh ini gua btw ini gua interm sedikit.
Gua lagi enggak di kantor. Ini di kamar gua. So this is actually where it all
gua. So this is actually where it all started. Productivity productivity boy
started. Productivity productivity boy was built in this desk. In this very desk ya and I don't know why. Seeing
this background just brings me a lot of memories back ya. Karena sekarang kita udah ada kantor udah ada kita bersbelas sekarang eh I started all of this alone in this bedroom in this desk. Ya you
might ya gua wibu guys ya. So don't mind that. Ok. In this desk alone gitu. So I
that. Ok. In this desk alone gitu. So I
want to talk about balik lagi ya.
Intermesanya cukup.
closest versus authority. Kalau misalnya
kita closest, most likely it's gna be like this. Ok,
like this. Ok, kreatornya sejajar sama audiensnya karena mereka merasa dekat. Tapi kalau
misal authority enggak kayak gitu.
Authority itu bakal begini nih, set kreatornya di sini. Kenapa? Karena orang
akan membandang kita di atas karena kita punya authority di sana. Ketika kita men mengedukasi orang, kita give people facts, kita teach people ya we give information, people will see us as a
panutan. Kurang lebih tuh kayak gitu
panutan. Kurang lebih tuh kayak gitu seratanya. Oke, people will see us as
seratanya. Oke, people will see us as panutan gitu loh. Jadi ada ada gap di sini which is not bad. Ada gap di sini.
Makanya orang tuh respect sama kita ada authority di sini gitu ya. So that's the difference between closest versus authority. Oke. Nah, jadi perbedaannya
authority. Oke. Nah, jadi perbedaannya tuh di tipe konten apa, di format konten apa yang kita berikan ke orang. Kalau
misalnya sifatnya lebih lifestyle, lebih entertainment, itu tuh biasanya ke sini.
Closeness. Kalau misalnya kita ngasih lebih ke edukasi biasanya lebih ke authority di sini ya yang muncul. Nah,
kenapa ini penting? Karena ini nanti monetization path-nya beda. Nanti kita
akan bahas path money. Tapi biasanya
kalau misal kayak begini, closeness itu tuh biasa lebih enak kita tap ininnya tuh di endorsements. Kenapa? Karena
kalau misalnya kita ngajak orang kita dekat sama mereka, mereka percaya enggak sama kita? Percaya. Engagementnya
sama kita? Percaya. Engagementnya
tinggi, brand demonen, ya. Repeat order.
Kalau misal authority seringkiali monetize lewat info products. Kenapa?
Karena orang percaya kita karena ilmu kita, karena expertise kita. kita
nge-share apa, orang percaya orang mau belajar dari kita. Jadi intinya di sini orang mau belajar dari kita. Makanya
kita jual info products. Gua kasih
konteks. Misalnya ada brand skincare nih, ada brand skincare dia mau bikin eh campaign buat jualan produk dia supaya lebih laku. Dia bakal ngajak orang yang
lebih laku. Dia bakal ngajak orang yang closest atau authority. Most likely dia bakal ngajak creator lifestyle yang ngebahas review skinc ya karena emang udah kebiasa udah kebentuk audiens-nya
di sana. Tapi kalau misalnya brand ini
di sana. Tapi kalau misalnya brand ini dia mau bikin workshop formulasi skincare, dia bakal ngajak yang mana?
Closes atau authority? Kemungkinan besar
dia kan ngajak creator yang authority, PhD dalam dermatologi. Nah, dia bakal ngajak dokter-dokter yang authority kontennya ya. Jadi bianya di sana. So,
kontennya ya. Jadi bianya di sana. So,
this will impact your monetization path juga nanti ke depannya gimana. Whether
you stick with closes or stick with authority, but you can be in the middle.
Hanya saja akan susah dan kontennya akan kesplit. Kalau misalnya lu di awal sih
kesplit. Kalau misalnya lu di awal sih gua saranin sih kita pilih salah satu dan kalau misalnya lu ikut course ini, lu ikut program ini, most likely kita akan ngarahnya ke sini, guys. Oke, so
that's scale of command and closes versus authority.
Alright, shark bite versus moskit bye.
This is a very central concept where value creator operate around it, gitu ya. Jadi, ini adalah konsep yang sangat
ya. Jadi, ini adalah konsep yang sangat penting di mana konten-konten value creator cara kita bergerak itu tuh berdasarkan konsep ini. Gua enggak bisa bilang ini 100% original karena sebenarnya ini tuh terinspirasi dari ee
perjalanan gua di 2000 berapa nih? 2019
ya. 2019 gua tuh ada ikut lomba startup di Hong Kong dan gua menang juara dua dan gua belajar ini di sana gitu. Oke,
gua gak usah jelasin secara panjang lebar ya how it happened, but ah ini sebenarnya ceritanya bagus banget sih.
Tapi let's see before next time langsung aja kita ke shark bite versus moskit bite. Intinya gini, di dunia startup itu
bite. Intinya gini, di dunia startup itu tuh ada term ya moskit byte versus shark bite. Dan ketika gua ingin menerapkan
bite. Dan ketika gua ingin menerapkan ini ke konten rasanya sangat bisa juga.
Oleh karena itu makanya gua nge repurpose, gua nge-redevelop konsep ini untuk dunia content creating, ya. Nah,
jadi ibaratnya gini, kalau misalnya kita digigit sama nyamuk sama kita digigit sama hiu, itu pasti efeknya beda. Betul?
Kalau misalnya kita digigit sama nyamuk, cuman ini doang yang terjadi. Kita cuman
bentol dan nyamuknya kita tepok, dia mati udah. Betul ya. Tapi kalau misalnya
mati udah. Betul ya. Tapi kalau misalnya kita digigit sama hiu, yang terjadi apa?
Tangan kita putus, Bos. Hiunya enggak
mati, kita yang mati, gitu ya. So,
that's the difference between shark bite and moskito bite. Gede banget
difference-nya. Nah, ketika kita menyambungkan konteks ini ke bisnis dan ke konten itu apa? Kalau misalnya kita ke bisnis seringkali begini, people say solve shark bite problems. Karena ketika
kita nge-solve masalah yang besar, kita akan direward dengan besar juga. Intinya
begitu. Nah, di konten sama ya, solve shark bite problems. But the thing is, different audience itu tuh punya problem yang, solusinya beda, kontennya juga beda. Nah, makanya kalau misalnya kita
beda. Nah, makanya kalau misalnya kita bikin tipe konten yang berbeda, ini akan menargetkan audiens yang berbeda juga.
Balik lagi begitu. Jadi dari sini ke sini, ke sini, ke sini, ini balik lagi ke sini nih ya. Audience kita beda, problemnya beda. Problemnya beda,
problemnya beda. Problemnya beda, solusinya beda, solusinya beda, konten yang harus kita kasih beda.
Audience yang sama aja kadang-kadang problemnya beda. Contoh, kita misalnya
problemnya beda. Contoh, kita misalnya mau nge-serve business owners ya, CEOCEO gitu. Kita mau bikin konten buat CEO.
gitu. Kita mau bikin konten buat CEO.
Ada beberapa CEO yang kesusahan buat ngomset ya. Jadi, buat nyari omset
ngomset ya. Jadi, buat nyari omset susah, dapat revenue susah. Ada beberapa
CEO yang nge-manage timnya susah, ngedelegate-nya susah. Ada beberapa CEO
ngedelegate-nya susah. Ada beberapa CEO yang kesusahan soal pajak, problemnya beda. Problemnya beda, solusinya udah
beda. Problemnya beda, solusinya udah beda-beda. Nah, oleh karena itu makanya
beda-beda. Nah, oleh karena itu makanya konten kita harus kita tailor sesuai dengan solusi yang kita mau berikan untuk audience yang kita inginkan. Nah,
ya masalahnya masalahnya cara untuk membuat konten Moskitobite sama Sharkbite ini beda tuh.
Ya, gua kasih contoh Moskitobite dulu.
Moskitobite itu intinya adalah gini, tipe-tipe konten yang kebanyakan orang tuh rasain. Sifatnya general banget.
tuh rasain. Sifatnya general banget.
Kenapa? Karena moskit tuh banyak ya.
Jadi ini ecek-ecek tapi bisa diterima sama banyak orang. Nah, gua kasih contoh dulu ya. Contoh cara grow dari nol ke
dulu ya. Contoh cara grow dari nol ke 1000 followers. Ini kalau misalnya kita
1000 followers. Ini kalau misalnya kita ngomongin konteks content creation ya.
Cara dapetin endorsement pertama cara bikin dan nentuin rate card.
Ini apa? Beginner problem banget ya.
Yang kalau misalnya disentil dikit hilang gitu loh problemnya. Kalau
misalnya kita shark by udah beda. Punya
50.000 followers tapi masih kerja itu 5.
W ini berat banget. Gua udah punya 50.000 followers nih. Tapi gua masih ketrap ke kerja kantoran ya. Gua enggak
mau ning kerja kantoran kok. Tapi masih
kerja kantoran ya. Kenapa? Oh karena gua udah jadi macro creator 100.000 followers tapi income-nya masih di bawah du digit per bulan. Wah big problem.
Followers gua 100.000 lebih. Kenapa
income gua di bawah R juta? Aneh tuh.
Kenapa bisa kayak begitu? Ya. Nah, itu
masalah besar. Gua udah begini tapi kok gua masih begini gitu loh. Gua udah
kerja keras tapi kok hasilnya enggak ada gitu loh. Income gede followers banyak
gitu loh. Income gede followers banyak tapi tipes karena kerja mulu. Nah, kayak
gitu juga bisa juga followers lu gede income lu gede tapi lu burn out. Ini
masalah besar. Ini shark bite yang di mana kalau misal ini enggak disegera diatasi kita enggak akan bisa hidup tenang. Sedangkan Moskito Bite kalau
tenang. Sedangkan Moskito Bite kalau misalnya begini-begini doang ecek-ecek ini permasalahannya gitu loh ya.
Kebayang ya. Nah, moral of the story kalau misalnya kita mau jualan kita laku dan ketika kita ingin membuat konten-konten yang sifat jualan, kita harus solve shark bite problems
ya. But there's a catch. Balik lagi. Ini
ya. But there's a catch. Balik lagi. Ini
gua nge-chat GPT nih atau ke pokoknya Ai lah ya. Gua nanya, "How many people in
lah ya. Gua nanya, "How many people in this world got into a shark accident?
Give me the data in percentage.
Jawabannya begini. Shark B cases itu tuh segini nih ya. 47 dibagi populasi orang berapa? Segini 100%-nya berapa? 0,005%.
berapa? Segini 100%-nya berapa? 0,005%.
Artinya apa? Artinya ya moskitobite cases itu tuh jauh lebih banyak daripada shark bite cases.
Meaning gampangnya gini gua analogi ini brilliant banget juga. If you want to grow, if you want to increase your followers, focus on moskito bite contents. Ya,
kalau lu mau nge-grow, fokus ke konten-konten kayak gini. Karena ini
bisa diterima sama semua orang.
Ini bisa diterima sama semua orang.
Followers, followers lu bisa gede. Tapi
hati-hati ketika lo jualan bisa jadi enggak laku. Karena ini enggak ngena
enggak laku. Karena ini enggak ngena painpnya. Ya, ini painp cuman yang lu
painpnya. Ya, ini painp cuman yang lu tinggal ditepok orang bodo amat. Jadi
kalau orang digigit pun juga orang bentol doang orang enggak masalah. Kalau
mereka enggak tahu caranya gimana, mereka enggak masalah. Ya, itu kalau misalnya kita mau nge-grow fokus ke Moskitobit. Kalau misalnya kita mau
Moskitobit. Kalau misalnya kita mau jualan fokus ke shark bite content, talk specifically to the pain points that people have. That's the difference. Nah,
people have. That's the difference. Nah,
makanya nih kenapa kayak gini ya?
Moskito byite itu banyak. Jadi kalau
misalnya kita mau nggow ya udah moskitobite aja. Kalau misalnya kita mau
moskitobite aja. Kalau misalnya kita mau ngejualan shark bait, tapi hati-hati kalau misalnya kita sudah tahu fakta ini, itu berarti kalau misalnya kita
fokus ke growth seringkiali mungkin kita akan mengkompromi sales kita. Kalau kita
fokus ke sales kita, seringkiali kita akan mengkompromi ke growth kita. Nah,
itulah kenapa di awal-awal di value creator mindset gua bilang, jangan takut sama konten yang views-nya rendah. Bisa
jadi kalau misalnya kita pakai konten yang shark byite, views-nya kemungkinan besar lebih rendah daripada konten yang moskit byitte. Kenapa enggak semua orang
moskit byitte. Kenapa enggak semua orang bisa menikmati itu? Kenapa? Karena udah
bottom of funnel ya, tofu mfu, bovu udah bottom of funnel. Ini udah bfu. Ketika orang
funnel. Ini udah bfu. Ketika orang
banyak enggak enggak terlalu banyak yang bisa menikmati itu, tapi di antara orang-orang yang di bottom ofel itu adalah orang-orang yang pengin beli.
Jadi enggak terlalu masalah juga. At the
end of the day, it's just choice. Kita
mau money atau mau virality. Ya, kita
pilih red pill or blue pill. Red pill
kita dapat banyak uang, shark bite content. varity kita dapat banyak
content. varity kita dapat banyak followers most kita buat content. Nah,
cuma tinggal kita pikirin mana aja yang menjadi prioritas kita. We can get both.
It's just a matter of which one is your priority. Oke, that's pretty much for
priority. Oke, that's pretty much for shark b ver mosk b. Use this when you wan to grow your content and use this when you wan to make some seals from your content.
Eternal markets ini adalah pasar yang enggak akan pernah hilang dari muka bumi ini sampai kapun itu kita hidup ggak akan pernah hilang. Right? So, what is
the bridge between our audiences heaven and their hell? Apa sih yang ada di antara surga mereka dan neraka audience
kita? Yaitu adalah eternal markets ini.
kita? Yaitu adalah eternal markets ini.
Health, wealth, relationship. Pertama
kali gua belajar soal Eternal Market ini, itu tuh datanya dari Russell Branson, yaitu founder dari Click Funels. Jadi kalau misalnya lo mau
Funels. Jadi kalau misalnya lo mau mendalami ini, lu mungkin bisa baca buku-buku dari Russell Branson. So, full
credit on this itu ke Russel Branson.
Oke. Nah, the atal markets adalah health, wealth, relationship. Jadi,
Russell tuh bilang kalau misalnya di dunia ini akan ada tiga market yang enggak akan pernah hilang. Makanya
namanya Eternal atau mungkin ada orang di luar sana nyebutnya Evergreen. Ya,
suka-suka mereka l mau namain apa. Gua
sih demennya bilangnya eternal markets yaitu health, kesehatan, wealth, yaitu kekayaan dan relationship hubungan. Jadi
manusia itu tuh pasti akan selalu mempunyai permasalahan ini. Kalau
misalnya enggak mereka enggak punya permasalahan ini, pasti mereka akan selalu mau lebih bagus dalam aspek-aspek ini, ya kan? Misalnya mereka enggak sakit, tapi mereka mau badannya bagus,
ya kan? Misalnya mereka enggak miskin
ya kan? Misalnya mereka enggak miskin nih, tapi mereka mau uang lebih banyak.
Betul. Misalnya mereka udah punya pacar, tapi mereka mau pacar lagi. Selingkuh
dia. Ya, itu bercanda ya. Enggak kayak
gitu ya. Tapi you get my point. Jadi
orang tuh akan selalu mau meningkatkan level mereka di aspek-aspek market-market ini. Right? So, kita akan
market-market ini. Right? So, kita akan balik lagi ke sudut pandang psikologi.
Nah, jadi kalau misalnya lu orang psikologi atau suka self development mungkin pernah melihat konsep satu ini yaitu hierarchy of needs yang bikin adalah Abraham Maslum. Nah, jadi
hierarchy of needs ini tuh apa? Ini tuh
adalah piramida di mana kalau misalnya kita bisa memenuhi masing-masing level ini, itu tuh kita akan bisa mengaktualisasi diri yang artinya kita bisa menjadi versi terbaik dari diri
kita. Nah, ini kita bisa bagi jadi dua,
kita. Nah, ini kita bisa bagi jadi dua, right? Kita bisa bagi jadi survival
right? Kita bisa bagi jadi survival needs sama transcendent needs. Survival
needs itu adalah needs atau kebutuhan kita yang kalau misalnya kita enggak bisa memenuhi kebutuhan ini, hidup kita akan terancam, kita enggak akan sejahtera hidupnya, gitu ya. Contohnya
apa? Physiological needs, ada air, water, food. Jadi kayak udara kita, kita
water, food. Jadi kayak udara kita, kita bisa dapat akses ke air atau enggak, kita bisa makan atau enggak, setiap hari kita punya rumah untuk tidur atau enggak gitu ya. Nah, jadi itu physiological
gitu ya. Nah, jadi itu physiological needs yang emang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk reproduksi dan hidup dengan baik. Habis itu ada safety needs,
baik. Habis itu ada safety needs, keamanan kita. Keamanan secara fisik,
keamanan kita. Keamanan secara fisik, keamanan secara tinggal di mana, keamanan secara pekerjaan, keamanan secara
kebutuhan kita untuk bersosialisasi gitu ya. So, next-nya ada love and belonging,
ya. So, next-nya ada love and belonging, yaitu pertemanan kita dengan orang lain, intimacy kita atau kedekatan kita dengan pasangan kita, dengan keluarga kita, dan lain-lain. Jadi, kita butuh koneksi
lain-lain. Jadi, kita butuh koneksi intinya. Nah, kalau misalnya kita enggak
intinya. Nah, kalau misalnya kita enggak punya tiga hal ini, itu berarti kehidupan kita enggak akan optimal, gitu. Bahkan bukannya optimal doang,
gitu. Bahkan bukannya optimal doang, tapi kehidupan kita terancam, gitu ya.
Nah, kalau misalnya kita sudah bisa memenuhi tiga ini baru kita bisa masuk yang namanya esteem, yaitu kepercayaan diri kita, respek kita ada. ya status
kita ada orang ngrecognize kita nih orang tuh melihat wah bahwa rama nih bisa bla bla bla. Nah, itu esteem tuh.
Jadi kemampuan kita, kekuatan kita itu akan bisa melompat menjadi kebebasan kita. Nah,
itu transcend the needs ya. Yang paling
atas itu adalah set actualization. Kalau
misalnya kita sudah mendapatkan ini semua, kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita. sepengetahuan gua belum ada orang di luar sana di Indo atau maupun di luar negeri yang mengconnect
hierarchy of needs ini dengan eternal markets. Jadi ini datang dari pemikiran
markets. Jadi ini datang dari pemikiran gua sendiri ya sepengetahuan gua sih sebegitu tapi kalau misalnya lo pernah melihat ini di tempat lain lemo karena ini gua kepikiran ini sendiri dan gua
cukup ya ingin share excitement gua bahwa wah kayaknya gua menemukan sesuatu atau I crack the code tentang sesuatu yang sangat penting di sini gitu ya.
Nah, perlu kita ketahui bahwa kalau misalnya kita baru mau mulai ngonten itu lebih baik kita fokus ke survival needs.
Kenapa? Karena balik lagi tanpa ini kita enggak akan bisa hidup. Betul ya? Jadi
orang pasti butuh konten-konten terkait survival needs. Uniknya survival needs
survival needs. Uniknya survival needs itu hubungannya itu ada banget loh sama etteral markets ya kan. Cuma tinggal
kita lihat ya. Nih dua ini mirip banget.
Health itu masuknya ke sini nih.
Aduh, wealth itu masuknya ke sini safety ya kan. Kita punya uang enggak untuk
ya kan. Kita punya uang enggak untuk bisa ngapa-ngapain. Terakhir,
bisa ngapa-ngapain. Terakhir, relationship. masuknya ke sini, love and
relationship. masuknya ke sini, love and belonging. Gila, ketika gua tahu ini,
belonging. Gila, ketika gua tahu ini, gua kaget, ternyata it's there. Emang
ini tuh enggak cuman sebatas ngonten-ngonten doang, tapi ada human nature-nya juga, ada psikologinya juga di balik ini. Jadi, kalau misalnya kita mau gampang untuk memulai, bahasnya yang ada di survival needs. Karena pasti
orang membutuhkan konten kita. Kalau
misalnya enggak viral, gimana, Bang?
Gitu kan. Mungkin orang ada yang nanya kayak gitu. Itu berarti konten kita yang
kayak gitu. Itu berarti konten kita yang jelek yang harus di-improve. Realitanya
itu kita enggak bisa menolak fakta. Ya,
orang tentunya butuh uang, orang tentunya butuh kesehatan, orang tentunya butuh hubungan. Tapi kalau misalnya kita
butuh hubungan. Tapi kalau misalnya kita ngomongin tentang itu dan orang enggak suka, bukan berarti marketnya enggak ada. Kitanya yang perlu memperbaiki
ada. Kitanya yang perlu memperbaiki konten kita, gitu. Nah, sekarang
pertanyaannya kalau misalnya nich kita transcendent needs nih, bukan survival needs, bisa enggak? Di luar health wealth relationship kan ada banyak ya.
Ada FnB, ada travel, ada productivity ya kan, ada yang lain-lain lah yang unik-unik. Nah, itu gimana? Bisa enggak
unik-unik. Nah, itu gimana? Bisa enggak
gitu, Kak? Transend needs
jawabannya tentu bisa gitu. Karena kalau
misalnya enggak productivity boy itu kan transcenden ya, productivity. Karena
gini, orang tuh enggak butuh produktif cuy kalau misalnya kita pikir secara jelas dibanding soalnya contohnya gini nih. Kita bandingin productivity sama
nih. Kita bandingin productivity sama eternal market tadi ya, health relationship. Kalau misalnya kita udah
relationship. Kalau misalnya kita udah produktif tapi kita enggak bisa em kalau misalnya kita produktif tapi kita berbaring di rumah sakit bakal happy
enggak? Enggak kan. Kalau misalnya kita
enggak? Enggak kan. Kalau misalnya kita produktif tapi kita sama keluarga di rumah ribut bakal happy. Enggak enggak.
Kalau misalnya kita produktif tapi kita enggak punya uang dompet kita kosong bakal happy. Enggak? Enggak. Jadi
tanpa eternal market kita atau survival kita terpenuhi, productivity yang enggak akan bisa mempunyai makanan yang bagus.
Tapi bisa enggak mendapatkan market? Bisa enggak membesarkan
market? Bisa enggak membesarkan followers dengan nich productivity?
Bisa. Karena kalau misalnya enggak, enggak mungkin productivity boy bisa segini. Bahkan sekarang pasti by the
segini. Bahkan sekarang pasti by the time lo ngelihat video ini pasti angkanya juga udah bertambah. Bisa
enggak Productivity Boy e mendapatkan income yang tetap dan bisa drive di market gitu. Walaupun trans jawabannya
market gitu. Walaupun trans jawabannya bisa karena kalau enggak enggak mungkin ada server play button di sana dan gak mungkin gua bisa ada di kantor gua ini di studio yang full gua buat ya dari
uang konten dari memonetisasi akun gua gitu loh. Jadi as simple as that
gitu loh. Jadi as simple as that jawabannya bisa atau enggak ya bisa.
Nah, jadi itu yang gua mau sampaiin.
Kalau misalnya lu adalah seseorang yang punya nih, trans jangan putus asa karena tetap bisa aja gimana kita ngemasnya aja nanti.
Dan kali ini kita bakal bahas soal scope of mastery dan eternal market. Tapi
sebelum itu, gua mau ngomongin satu hal yang sebetulnya berhubungan tapi mungkin kalian udah sampai bosan dan pernah dengar ini, yaitu adalah NIS. But bear
with me. Bahasan ini bakal jauh lebih dalam dan akan mempermudah kalian untuk menentukan ni kalian selanjutnya gimana dan apa market yang akan bisa kalian targetkan. NIS itu kan sebetulnya
targetkan. NIS itu kan sebetulnya sesimpel ngomongin tentang apa, ke siapa. Nah, hal ini bisa kita hubungkan
siapa. Nah, hal ini bisa kita hubungkan dengan mustlow hierarchy of needs di mana menurut dia ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu self actualization,
esteem, love and belonging, safety needs, and physiological needs. Nah, dua
kelima kebutuhan manusia ini dibagi menjadi dua, yaitu transcendent needs dan survival needs. Di mana transcendent needs ini sebetulnya tidak dibutuhkan sepenuhnya untuk orang bisa hidup dan
menjalankan kehidupannya sehari-hari.
Sedangkan survival needs kalau salah satu aja enggak ada, manusia itu enggak bisa hidup. Nah, kalau kita pengin bikin
bisa hidup. Nah, kalau kita pengin bikin konten menjadi content creator dengan nich yang jauh lebih gampang untuk night, pilih aja yang survival nit karena pasti jauh lebih gampang. Kita
tinggal membahas tentang wealth, health atau relationship. Bagaimana caranya
atau relationship. Bagaimana caranya jadi kaya, gimana caranya bisa sehat, gimana caranya bisa sixpack dengan mudah, gimana caranya bisa dapetin pacar dua tanpa ketahuan. Bercanda ya. Nah,
itu bakal selalu driving dan orang sampai kapanp tetap butuh. Nah, karena
ini ketiga ini adalah eternal market atau evergreennish yang menjadi kebutuhan dasar dari manusia. Sedangkan
gimana kalau misalnya transcendent needs bisa enggak sih transcenden needs itu naik? Tetap bisa. Contohnya gimana?
naik? Tetap bisa. Contohnya gimana?
Productivity boy. Productive itu kan sesuatu yang enggak dibutuhkan banget sama manusia. Karena orang yang punya
sama manusia. Karena orang yang punya duit tiap hari cuman having sex, makan itu tetap bisa hidup. Enggak, enggak
harus produktif. Tapi gimana caranya bisa productivity boy driving dan bisa masuk ke setiap market yang besar ini?
Yaitu dengan dihubungkan dengan survival needs. Semudah gimana caranya produktif
needs. Semudah gimana caranya produktif untuk menghasilkan uang lebih. Gimana
caranya produktif untuk bisa punya waktu untuk olahraga dan lebih sehat? Gimana
caranya produktif sehingga punya waktu lebih banyak untuk keluarga?
Dengan menghubungkan transcendent needs yang kita bahas dengan kebutuhan dari survival need manusia itu kita bisa masuk ke penetrasi ke market apa aja.
Nah, terus gimana kalau kita udah memilih NIS tapi kok rasanya udah banyak yang bikin?
Ya, sesimpel apa kata Panji Pergi Waksono? Sedikit lebih beda lebih baik
Waksono? Sedikit lebih beda lebih baik dari sedikit lebih baik. Don't be
better, be different. Karena setiap dari kita tuh punya quk-nya sendiri, punya kelebihan, kekurangan sendiri, dan kepribadian itulah yang menjadi justru menjadi hook bagi orang lain. Contohnya
adalah kalau kita nonton satu film ada Jason Stasham dan juga satu lagi ada The Rock, Dwayne Johnson. Dua-duanya tuh
sama-sama berotot. Dua-duanya sama-sama
aktor laga, dua-duanya sama-sama memerankan yang yah mirip-miriplah.
Dan dua-duanya sama-sama botak. Tapi ada
yang lebih suka nonton Jason Statam, ada yang lebih suka join Johnson. Karena
kedua-duanya punya kepribadian dan ciri khas yang berbeda. Nah, pada saat kita menentukan nich, kita enggak bisa cuman sekedar nich aja, tapi harus kita nising
down untuk menentukan subnish, subnich dan micron nich. Nah, nis sendiri adalah apa yang kita suka dan apa yang kita jago.
Subnis kepada siapa kita ingin berbicara, siapa yang mau kita bantu, posisi kita ada di mana? Sebagai guru,
sebagai teman, sebagai pembantu tukang ya sebagai orang yang mau membantu. Dan micronis ini problem
membantu. Dan micronis ini problem spesifik apa yang kita mau solve.
Contohnya dari productivity boy. NIS-nya
adalah productivity.
Subnich-nya adalah productivity untuk pekerja kantoran. Micronis-nya adalah
pekerja kantoran. Micronis-nya adalah productivity untuk pekerja kantoran yang ingin kerjaannya selesai lebih cepat dan bisa dapat work life balance yang optimal. Gunanya ke mana? Karena semua
optimal. Gunanya ke mana? Karena semua
ini bisa kita pakai dan turunkan untuk pembahasaan kita, pembawaan kita, penulisan kita, bahasan kita, semuanya itu turun dari ini. Nah, buat
teman-teman habis ini bakal ada worksheet yang bisa kalian isi di bawah.
Langsung aja download dan kita akan diskusi nantinya.
Alright, so in this video we're gonna talk about building your content pillar.
Nah, sebenarnya content pillar itu tuh apa? Jadi, basically content itu adalah
apa? Jadi, basically content itu adalah topik-topik konten yang kita bahas ya.
Jadi, topiknya what are the topics that we want to discuss ya. Dan ini kalau misalnya kita sudah tahu nich kita apa itu tuh akan jadi jauh lebih gampang buat kita tentuin ini ya. Karena udah
kebantu banget kalau misalnya kita udah udah tahu scope of mastery kita. Oke.
So, content pillar gua membagi ini menjadi tiga sebenarnya. Kenapa tiga?
Kenapa enggak satu? Kenapa enggak 10?
Ya. Nah, jadi gampangnya gini. Gua udah
ng ng belajar ya dari orang-orang Indo, orang-orang luar negeri. Gua udah
belajar dari course-kurse yang harganya 100.000 sampai R00 juta sekali bayar.
Gua tuh udah sering belajar ya. Jadi
spektrum gua tuh udah banyak banget. Dan
pada akhirnya gua menyimpulkan bahwa sweet spot-nya kalau misalnya kita mau bikin konten pilar itu tuh di 3 sampai li pilar. Jadi 3 sampai li topik.
li pilar. Jadi 3 sampai li topik.
Kenapa? Karena kalau misalnya satu doang pasti akan cepat kehabisin ide. Kalau
misalnya terlalu banyak jadi enggak spesifik. Kalau misalnya 3 sampai 5
spesifik. Kalau misalnya 3 sampai 5 sweet spot kurang lebih kayak gitu ya.
Nah, jadi sekarang gua bertanya lebih jauh lagi. Kalau misalnya kita perlu
jauh lagi. Kalau misalnya kita perlu pilih tiga sampai lima, itu topiknya harus apa aja? Apakah bebas atau ada framework-nya? Nah, makanya gua bikin
framework-nya? Nah, makanya gua bikin sih framework ini menurut gua alangkah baiknya kalau misalnya kita memilih konten pilar kita, gua sih stik ketiga ya, gua sih stik ketiga. Itu
framework-nya gimana? Cara memilih
topiknya apa. Oleh karena itu gua menemukan ya si formula ini ya. Jadi
kalau misalnya kita mau bikin konten pillar, gua saranin kita bisa ambilnya dari hal-hal yang kita bisa monetize, dari hal-hal yang complementary terhadap hal yang kita bisa monetize dan hal-hal yang membuat kita tuh excited buat
ngebahasnya. Karena inilah yang akan
ngebahasnya. Karena inilah yang akan membuat kita jadi sustain supaya kita enggak capek ngontennya. Ya, contohnya
gimana? Begini. So, for the monetizable nich, oke, so this is something that we should be good at and that we like.
Jadi, scope of mastery, suka sama jago ini apa yang kita suka sama jago? Ya
kan? Misalnya kita suka sama jago value creation. Kalau misalnya for example in
creation. Kalau misalnya for example in my case gitu ya. Oke. Yang paling gua suka dan jago value creation. Bikin
content creation sama digital product ini nih yang kita bahas sekarang ya kan.
Nah ini marketnya ada enggak? Ada juga
gede banget lagi on the rice. Makanya
gua ambil topik ini sebagai monetizable nich. Makanya gua ngomonginnya paling
nich. Makanya gua ngomonginnya paling banyak ya kan. Kalau misalnya kalian ikutin productivity boy semakin ke sini semakin jarang bahas productivity ya.
Nah habis itu sudah excitement niche juga. Excitement niche ini adalah hal
juga. Excitement niche ini adalah hal yang kita suka ya. Hal yang kita suka aja gitu. Kalau misalnya gua sukanya
aja gitu. Kalau misalnya gua sukanya apa? Productivity ya makanya namanya gua
apa? Productivity ya makanya namanya gua productivity boy ya. Jadi ini adalah hal yang kita suka bahas aja in general.
Nah, complementary nich ini adalah hal apa yang men-support ini dan ini? In my
case it's near science and psychology.
Kenapa? Karena kalau misalnya gua ngomongin psikologinya productivity sama psikologinya value creation itu tuh bakal mendongkrak argumen gua banget akan membuat gua unik gitu loh. Contoh
kapan lagi lu nemu orang yang ngekonnectin hierarchy of needs ke content creation ke etteral market ke every gear market terus ngekonnectin itu ke nich enggak
ada cuman di sini doang karena itu gue yang bikin sendiri gue yang conectin sendiri gitu loh. Nah itulah keunggulan gua gua bisa mengconnectin topik-topik ini. Nah, jadi our
ini. Nah, jadi our homework is that gimana cara kita bisa tahu monetizable nich kita apa, excit nich kita apa, sama complementary nich kita apa. So, this is how you understand
kita apa. So, this is how you understand and how you can find your content pillar supaya lo bisa nanti bikin kontennya sesuai topik-topik ini aja dan enggak lari-lari dari ini dan bisa saling
men-support satu sama lain.
Kalau misalnya lu pengin jadi seorang content creator atau creator yang memorable di mata audience lo dan enggak cuma di mata tapi di pikiran audience lo juga, you need to craft your perception because at the end of the day,
perception engineering is everything.
Audience lo ngebentuk persepsi tentang lo dalam hitungan detik. Bahkan sebelum
mereka sadar, mereka lagi ngelakuin itu.
And perception is not built by logic first, it's built by the senses. Manusia
itu tuh punya lima indra. Nah, oleh
karena itu di next training ini kita akan ngebahas gimana cara kita nge-priming your account perception supaya ketika orang pertama kali ngelihat akun lo dan mendapatkan first impression tentang lo ini nih selaras dengan apa yang lo pengin mereka
persepsikan. Ini bukan soal estetika
persepsikan. Ini bukan soal estetika doang, bukan masalah soal kamera atau gear yang paling mahal, tapi ini soal gimana cara kita ngomong, baju apa yang kita pakai. Kenapa pakai baju ini? Kita
kita pakai. Kenapa pakai baju ini? Kita
lagi sekarang lokasinya ada di mana? Dan
lagu apa aja yang lo pakai di konten lo?
warna apa aja yang lu pakai di konten lo. It's all about that. So, without
lo. It's all about that. So, without
further ado, let's deep dive into mastering your perception. Priming your
account punya perception it's key.
Makanya cara nge-prime-nya gimana. Kita
ngomong di sini ada five senses. Tadi
kita di productivity udah ngomong ya, lima senses ya. kita bawa lima sensus lagi karena gua suka banget sama five sens the thing is in social media sayangnya kalau offline bisa nih kita
memanipulate lima l sens mata kalian ada di lokasi ini, kita pakai baju ini ya kan musik tadi ada musik ya kan wangi ada wangi ada hujan kecium baunya ya kan
touch kalian megang ini kalian megang sofa kalian duduk kalian gimana ergonomisnya rasa nanti kalian akan e makan barusan chefnya datang it's gonna be a chef prepared meal
five senses. Masalahnya kalau online itu
five senses. Masalahnya kalau online itu enggak five senses, cuman two senses.
PR-nya gimana kita bisa memanipulasi dua indra ini dengan sangat optimal di online itu caranya kita mainnya di sana, kita nge-hacknya di sana, right? Kita
ngomongin visual dulu.
visual. It's all about our choices of these five things.
Our choice of words, our choice of attire, our choice of color, our choice of fonts, and our choice of surroundings. Let's break it down one by
surroundings. Let's break it down one by one. Ini contoh script dari konten kita
one. Ini contoh script dari konten kita yang tadi yang enggak viral itu ya dengan sengaja kita perhatiin low CTR adjust your automation. Kenapa
gua pakai low CTR bukan how many people click? Karena gua cuman mau ngomong sama
click? Karena gua cuman mau ngomong sama orang yang gak ngerti. CTR itu apa?
Karena kalau misalnya lu aja kagak ngerti itu CTR, lu udah enggak usah ngomong sama gua, lu belajarin sama orang lain aja yang ngajarin basic gitu.
L I want to talk to people yang ngerti ini tuh apa. Kalau lu nanya CTR apa, Bang? Sorry, belajar sama yang lain aja
Bang? Sorry, belajar sama yang lain aja deh bos gitu.
Kenapa kita ngomong landing page instead of website? It's two totally different
of website? It's two totally different things. Landing page is a landing page.
things. Landing page is a landing page.
Website is a website. If you don't know the difference between both, kita enggak tahu perbedaannya apa.
Belajar sama orang lain. Jangan sama.
Why do we use USD instead of rupiah?
Karena kalau misalnya orang yang eh punya uang mereka sudah mikir USD.
Kalau mereka enggak mikir USD mereka ngerti USD setidaknya gitu loh. Ah
R30.000 jir 30.000 kan segini. Ya
gitulah 500 juta yang kayak gitu.
Dan kita melabel, kita nge-call out creator founder. Inilah kenapa kita
creator founder. Inilah kenapa kita bilang we guys are creator founders, not content creator. Gua udah enggak ngomong
content creator. Gua udah enggak ngomong kita content creator jual produk digital enggak lagi gitu. We sell info gitu.
We're creator founders. We sell info.
Info tuh industrinya looknya. Agak jiji sih sebenarnya
looknya. Agak jiji sih sebenarnya ngelihat muka sendiri gitu. Tapi ya ini dibikinin tim gua. Jadi ya karena mereka sudah mendesain sangat bagus ya gua apresiasi lah ya.
Kenapa outfitnya begini? Kenapa
outfitnya black and white? Btw tadi Ar bilang itu bercanda jangan dipercaya gara-gara panda enggak gitu. Bukan
karena panda gitu outfitnya. Tapi why
black? Why? Ya color psychology juga black gives authority, white gives trust and purity. Contoh-contoh kayak gitu.
and purity. Contoh-contoh kayak gitu.
Jadi I want to be perceived dengan bagaimana I dress juga kan. Makanya ah
zaman sekarang apa sih yang color apa sih? personal color tuh laku banget.
sih? personal color tuh laku banget.
Kenapa tadi gua pakai biru buat yang awal-awal? Nah, itu ada alasannya juga.
awal-awal? Nah, itu ada alasannya juga.
Tinggal dipikirin sendiri. Tapi penting
banget cara kita cara kita berdandan tuh penting banget. Zaman dulu kita
penting banget. Zaman dulu kita bandingin nih. Ini kan sekarang nih set
bandingin nih. Ini kan sekarang nih set ya kan zaman dulu, Bro. Ini pakai kaos, Bro. Kaos yang waffel yang di TikTok
Bro. Kaos yang waffel yang di TikTok yang ngharga Rp100.000 itu loh.
Ini juga Rp50.000. Gua enggak bohong.
Ini Rp50.000 ini po. Gua beli di TikTok Shop.
Ini Zara lah. Okelah.
Ini R.000. You know what I mean?
Dan I try to shift my mindset. When I
shop for clothes, it's ok deh gua bayar mahal. Orang pun enggak tahu. Orang pun
mahal. Orang pun enggak tahu. Orang pun
gak tahu itu baju apa. Tapi kalau
misalnya kita tahu, "Wow, gua pakai baju R juta loh." Ngerti enggak sih? langsung
bus langsung it's here it's here it's here gua pakai baju R juta bos itu gaji lu eh itu itu misalnya gaji orang em 1 bulan misalnya kayak gitu loh different
perspective tuh yang kayak gitu langsung it's all about perception that's why this is how we dress this is how we present ourself warna penting juga ini
dipick ya sama designer kita Yuda.
Jujur ini sebenarnya ada gradasi tapi gara-gara TV-nya jadi ya ini kelihatan semua hitam doang gitu kan. Tapi ada
alasan kenapa kita cuman pakai monochrome. Ada alasan bukan karena
monochrome. Ada alasan bukan karena hidup kita enggak penuh warna bukan ya.
Ini juga kita cuman pakai satu font by the way. Kita cuman pakai manrope. Jadi
the way. Kita cuman pakai manrope. Jadi
all of this itu tuh pakai manrope. Ada
alasannya juga kenapa kita pakainya sunserif. Bukan kita pakai serif yang
sunserif. Bukan kita pakai serif yang kayak gitu-gitu.
Last thing perception equals to association.
Kita harus bisa mengasosiasikan diri kita dengan ideal customer profile kita punya hidup.
Kita tahu target customer kita tuh suka siapa. Kalau misalnya bisa lu beli tiket
siapa. Kalau misalnya bisa lu beli tiket masterm ke dia atau enggak lu ikut conference ke dia, lu foto bareng sama dia. Kebayang gak sih dam Ricky aja bisa
dia. Kebayang gak sih dam Ricky aja bisa ketemu si ini. Gua mauah belajar sama Ricky karena dia dia Ricky udah dekat sama ini. Kalau misalnya gua dekat sama
sama ini. Kalau misalnya gua dekat sama Ricky kayaknya gua bakal bisa dekat sama ini deh gitu loh. And that is the reason why beapa testimoni kita yang kita pilih adalah ini misalnya. Dan ada beberapa
yang lain juga yang lagi upcoming.
You guys know who this is? By the way, boleh sombong dikit ya? Sombong dikit
boleh.
Find me a guy that can coach someone yang went from 15.000 followers ke 2 juta followers in just two days. Eh,
berapa? 1 minggu ya.
in just 3 days. 15.000 followers ke 2 juta followers in just 3 days. If
somebody can beat that record, I'm gna pay I'm gna pay them and I'm gna learn from them. Gua ajari testimoni mereka.
from them. Gua ajari testimoni mereka.
Gak apa-apa deh.
Gua gak bilang, "It's all my credit, salsa did all the work.
It's her spotlight. Yang gua milih bantu Salsa tu adalah digital productnya."
Bahkan di meeting kita setelah dia viral, setelah 3 hari itu gua bilang ke Salsa, "Salsa, it's all you. I don't
take part in any of this sama sekali."
gitu. Terus dia bilang, "Ram, tapi kan cara belajar bikin konten viral kan gua belajar sama lu juga gitu."
Ya udahlah, mungkin dikit-dikit gua udah berpengaruh sedikit tapi yang gua bisa banggain dari 3 hari itu ketransfer ke bisnis dia, bukan bisnis yang lainnya.
dia kan punya bisnis jadi dewasa kan yang info produk yang buat e dysfunctional family dan segala macam itu langsung three digits first launch digits langsung that easy karena mainnya
volume tapi balik lagi gitu loh. Nah
makanya if we associate ourselves with these people murid gua kan banyak ya dulu kan gua gua kan bikin low tiket ya gua bikin low tiket murid gua kan 10.000 lebih ya.
Kenapa yang gua highlight yang ini ini nih? Kenapa yang gua highlight yang ini
nih? Kenapa yang gua highlight yang ini ini nih? Yang lain-lain gua enggak
ini nih? Yang lain-lain gua enggak highlight. Ada alasannya juga.
highlight. Ada alasannya juga.
Association kita dekat sama siapa itu kita diasosiasikan sebagai apa? Gua
belajar ini dari gua nge-handle klien politik. Sumpah di page dia, dia kok
politik. Sumpah di page dia, dia kok fotonya sama ini. Padahal setiap hari sama ini. Kok yang ini gak di ngerti
sama ini. Kok yang ini gak di ngerti enggak sih? Oh, ternyata lagi ada kasus
enggak sih? Oh, ternyata lagi ada kasus ini jadi teman. Ngerti enggak sih?
Enggak boleh muncul duya kayak gitu loh.
It's association. Dan gua belajar ini karena agency Jar. Gua belajar dari klien gua yang politician tadi gitu.
Kurang lebih kayak gitu. It's all about association. Makanya kita harus ngerti
association. Makanya kita harus ngerti visual kita gimana. Enggak cuman soal visual, tapi soal audio juga.
Kenapa dari tadi lagunya tuh ini?
Team song kita on repeat nih dari tadi.
This is my music of choice. This is my sound of choice. Story gua banyak banget lagunya ini juga. Karena when I want you to look at me and hear me, you associate
me with this type of bike. Very
important.
Jangan tiba-tiba ini besoknya Indonesia, besoknya Korea, besoknya Jepang, besoknya. Ngerti enggak sih? You have no
besoknya. Ngerti enggak sih? You have no branding.
Intonation penting juga, Mar, boleh enggak gua kasih input buat konten lu? Karena kemarin gua nonton
konten lu? Karena kemarin gua nonton konten Umar.
Umar ini kalau misalnya gua pasti kan nanti kan Umar kan juga ngobrol-ngobrol brainstorm kan. Kalau misalnya gua bisa
brainstorm kan. Kalau misalnya gua bisa ng-twak satu konten dari Umar, editingnya udah oke, visualnya udah oke, not bad. Yang paling penting intonation
not bad. Yang paling penting intonation sebenarnya.
Intonation plays a huge role.
the rise, the lows, the pauses like just now it plays a huge rule gitu.
Kalau misalnya kita ngomong datar dari awal sampai akhir, there is no abs and flow. People are not gna be interested juga. Why? Because
they cannot resonate in the first hand.
Bahkan AI aja kadang-kadang ngomongnya lebih bagus dari kita gitu loh. Hen tuh
lebih bagus loh. 11 laps lebih bagus dari kita. Like, bro, masa kalah sama
dari kita. Like, bro, masa kalah sama AI. Pantes laku eh creator laps.
AI. Pantes laku eh creator laps.
Damn. Tapi more importantly than e dan intonation is conviction.
Conviction is the most important thing.
Kalau misalnya gua bilang di sini ada yang ngerokok enggak?
Ihh, gila. Enggak ada. Yes, qualified.
People semua. Nice ya. Gila. E, gua juga enggak ngerokok. Tim gua juga sekarang
enggak ngerokok. Tim gua juga sekarang udah enggak ngerokok semua ya.
Iya, guaak ngerokok.
Iya, semua tim kereta enggak ada yang ngerokok kecuali pot. Mana pot
kecuali pot. Mana pot ngip.
Why people hate smoking so much?
Orang kalau misalnya ngerokok, ih nanti lu mati loh kalau ngerokok. Tapi have we ever think gula tuh juga bisa bikin lebih mati. Tapi tiap hari kita minum
lebih mati. Tapi tiap hari kita minum kopi susu golaren, kita minum boba, setiap hari kita makan mie banyak, orang enggak ngomong, "Lu entar ini." Ngerti
enggak sih? Tapi sekali kita ngerokok kita langsung dijudge.
Padahal datanya tuh kebalikannya tahu?
Smoking kills kan. Tapi tahu enggak kalau misalnya gula itu lebih membunuh kita 10 kali lipat lebih efektif daripada kita ngerokok.
Tapi kita kok malah lebih kor-karin stop ngerokok. Stop ngerokok sih bukannya
ngerokok. Stop ngerokok sih bukannya stop makan gula. Benar enggak?
Why?
Because all the facts I made just now actually made up. Gua cuman ngarang doang enggak sebenarnya.
Smoking kill. So don't smoke gitu kan maksudnya ya. Tapi gula juga memang gak bagus. Tapi gua cuman ngarang gula 10 kali lebih berbahaya dari smoky I'm just making it up. But maybe for one
second you believe me. Benar gak?
It's because of how I speak gitu loh.
Dari tadi kalau misalnya gua ngomong dengan penuh keraguan nih dari tadi nih productivity nih sampai sekarang gua ngomongin high ticket.
Kalau gua ragu, gua sia-sia nih dari Jambi, gua sia-sia nih dari e Surabaya, dari Sidoarja ke sini gitu loh. Jauh-jauh loh kalian.
What's the most important thing from all of this is this conviction of speech ini speak mean it gitu loh.
Don't give me that boring bullshit gitu loh yang kayak ngomongnya tuh kayak enggak ada auranya gitu loh. Kalau kata
agen alpha tuh ris dikitlah skibidi jangan skibidi gitu maksudnya.
That's the big difference. And ini tadi tadi I forgot who shared kayak Ana to.
We need to think about branding. Most
people, most agency, most coaches and most orang-orang yang ngaku ngajarin personal branding mereka gak ngerti ini, man. Mereka tuh fokus ke personal
man. Mereka tuh fokus ke personal awareness. That's what I call. You just
awareness. That's what I call. You just
make viral content, but you don't build a personal brand, bro. Gimana lu bisa bilang lu punya personal brand tapi grade 1 sampai grade 9 semuanya beda-beda. Fontnya beda, warnanya beda,
beda-beda. Fontnya beda, warnanya beda, cara ngomongnya beda, look-nya beda, topiknya beda, nichnya beda. That's not
branding. That's just awareness putting yourself out there. That's good. That's
not wrong. But that's not branding.
You're getting it wrong. Kalau misalnya
ketika lu ngelihat sebuah brand dan lu bisa eh rama banget nih, PR boy banget nih, VC banget, itu brand.
Zaman-zaman dulu, zaman-zaman dulu, zaman-zamannya Umar, Cela, Sarah, eh Fata, orang tuh pada bilang gini, "Ih, gila, script gua udah prot boy core banget." Kenapa? Karena dulu zaman dulu
banget." Kenapa? Karena dulu zaman dulu prot boy itu kita bikin script itu tuh negatif hook semua.
Coba Mike contohin negative hook gimana lu sebagai scriptwriter nih, ini gua I'm putting you on the spot. Ini enggak
discript sini Mike, lu punya 5 detik untuk mikir ke depan. pikirin contoh
dari negatif hook ini. Btw gua enggak rencanain jadi dia
ini. Btw gua enggak rencanain jadi dia ini benar-benar raw. Give me negative hook.
Oke, stop ikut seminar content creator sekarang juga karena masa depan kalian enggak akan terjamin.
Oke, negative hook. Give me a niche.
Ini kita enggak janjian ya. I will
create a negative hook for you. Give me
a niche.
Polit. Ah, jangan politik, Bro. Direkam masalahnya bro.
Bro. Direkam masalahnya bro.
Petsal pets boleh. Masalahnya takutnya
pets boleh. Masalahnya takutnya ditonton.
Eh, pets dulu ya. Pets dulu bar. Ea ya
pets. Nah, ini Andrew jagonya engak masal ini. Gua juga sempat bikinin
masal ini. Gua juga sempat bikinin Andrewnya stop kasih anabulu makan dry food. Kalau
lo enggak mau anabulu cepat mati.
Kebayang enggak AI?
Percuma lu belajar AI karena bentar lagi AI akan tergantikan sama hal baru ini.
Itu orang AI kan baru. Kenapa tiba-tiba
ada hal yang baru lagi gitu loh. Ini
yang baru lagi apa gitu.
Digital product is dead. Itu aja
steel proud boyor.
Ste boy. Jadi anak-anak VCA zaman dulu tuh udah ngerti banget ketika mereka bikin script negatif. Oke. Ini kan lu jago bangar. Ini PR Boy Core nih. Prot
jago bangar. Ini PR Boy Core nih. Prot
boy core. Udah Mik, thank you. Thank
you.
Jadi kita harus punya personal branding itu kita tuh mau diketahuin sebagai apa?
Don't just be a noise. Karena kalau
misalnya kita seperti ini, berapa banyak orang yang kalian ketemu di event atau gimana followersnya R juta nih, tapi mereka ke mall enggak ada yang tahu itu siapa.
That's personal awareness. That's not
personal.
Kalau misalnya lu udah sampai di modul ini, itu berarti kemungkinan besar lu mengalami problem yang sama dengan kreator dan creator perner lainnya. Lu
udah nge-post secara konsisten, tapi kok views-nya masih enggak ada ya? Boro-boro
followers, views-nya aja stuck terus.
Pokoknya lu udah coba semuanya. Pakai
hook yang lagi viral, pakai konsep yang lagi viral, pakai audio training, pakai hashtag, pakai apapun itu growth hack yang orang lain semua di luar sana suruh lu untuk lakuin posting di jam yang optimal lah dan segala macam, tapi masih
aja enggak ada hasil. Well, that makes a lot of sense because you're focusing on the wrong thing. But the question is, what is the right thing? Dan right thing itu akan kita bahas di master class
selanjutnya. Enjoy.
selanjutnya. Enjoy.
So, welcome to the next module, IG Roles Mastery. Di modul kali ini gua enggak
Mastery. Di modul kali ini gua enggak akan ngomongin tentang bagaimana sekedar nulis script dari awal sampai akhir. E,
gimana nyari konten viral atau gimana cara bikin konten jualan. Enggak. Tapi
gua akan lebih banyak berbicara tentang what's the logic behind making an IG RS that convert into our sales because in the end that's what we want right we
want to get a new leads from our content we want to get we want to nurture our audience as well from our content and we want to get sales from our content. So,
basically di sini eh kalian akan bisa ngerti bagaimana mulai pemik bagaimana logika dalam pemikiran untuk membuat
suatu IG reels atau video short form.
Oke, so the best content is not one that use viral hook or transition.
It's not about using high-end camera, not about has the best editing. It
ngaruh, itu penting juga karena balik lagi dengan banyaknya raw konten sekarang kualitas akan tetap membentuk vibe kita, akan tetap membedakan kita
dengan kreator lain.
Tapi the best content yang lebih penting adalah tiga hal ini. Understandable by
your audience. Gua di sini nge-bold your audience karena enggak harus dimengerti semua orang.
When we are talking about high ticket coaching, we are attracting a different ICP. We are attracting an specific ICP.
ICP. We are attracting an specific ICP.
Dan di sini yang penting adalah dream persona dari customer kita itu yang harus mengerti apa yang kita bicarakan.
Yang kedua, harus punya clear context.
apa yang kita buat harus memiliki konteks yang jelas dari awal dan orang harus mengerti konten itu tentang apa dalam sekali mendengar aja. Dan yang
ketiga punya clear intention. Intensi
yang jelas kita mau bikin konten ini tujuannya untuk apa. Enggak hanya
sekedar asal ada konten aja.
Eh, before we got into the module deeper, I want to touch a bit on how about AI.
AI can fashion your process give easier structure good for base structure based script especially when you have got eh
good prompt to write AI script tapi in the end AI script will never be 100% it will never be as good if you
yourself don't understand what makes a good content good content pada akhirnya script yang keluar dari E itu ya hanya base. Kalau kalian sendiri enggak ngerti
base. Kalau kalian sendiri enggak ngerti kenapa sebuah konten yang menarik itu bisa jadi menarik, poin apa aja yang membuat sebuah konten itu menarik, konten yang keluar dari AI itu enggak
akan sebagus itu.
kita di val creator punai. Tapi pada
akhirnya setelah itu personalisasi yang kita lakukan itulah yang membuat konten itu menjadi konten yang berkualitas untuk personal branding, konten yang berkualitas untuk menarik leads juga
konten yang berkualitas untuk menjadi eh branding kita di valrator. Oke, get rid of that. Let's go into the video. Oh,
of that. Let's go into the video. Oh,
before we got into the short video, short and long video sebetulnya logicnya enggak jauh berbeda. Jadi nanti di YouTube Mastery eh gua enggak akan
mengulang logik tentang menulis sebuah script video. Tapi yang membedakan
script video. Tapi yang membedakan adalah shorty video itu lebih concise.
Strong message-nya biasa hanya satu yang paling utama dan penggunaan kata-katanya harus jauh lebih efektif karena kita cuman punya waktu mungkin sekitar 90
detik maksimal 60 sampai 90 detik untuk menyampaikan one strong message ini dalam satu konten. Sedangkan kalau long video YouTube e casusnya YouTube yang
kita pakai, kita bisa mendapatkan kedalaman yang lebih di mana hasilnya juga kedekatan dan attachment lebih dari audiens kita. Selain itu, struktur
audiens kita. Selain itu, struktur penulisannya juga jauh lebih banyak, lebih macam-macam, dan lebih banyak ee room, lebih banyak ruangan untuk kita menambahkan insight atau cerita yang
kita buat. Jadi, eh dua-duanya ini punya
kita buat. Jadi, eh dua-duanya ini punya tujuan dan nicknake yang berbeda, tetapi pada akhirnya logik penulisannya itu sama.
So, what makes a good video is that it's understandable, clear context, and clear intention. Eh, kita akan pelajarin, kita
intention. Eh, kita akan pelajarin, kita akan bahas satu-satu.
First of all, understandable by real audience.
Basically, to to be a content that's understandable by your audience, you need to understand your audience. Then
we have talked about eh in the previous chapter eh customer Persona, idle customer Persona ICP for hidden forces, over market exercise yang eh mungkin
kalian harusnya udah nonton juga di chapter sebelumnya di face sebelumnya di mana gua bilang kalau misalnya ee kalian udah menggunakan ini, udah menerapkan ini, udah masukin ke chat GPT kalian
atau apapun yang kalian pakai, ini bisa menjadi base yang sangat memudahkan kalian untuk membuat script.
membuat konten apapun itu. Karena when
you understand your audience, understanding your audience is knowing about what to talk to them, what they can relate, what they can understand, and what do they want, and especially
what they don't understand juga. Itulah
yang gue bilang kenapa kalian harus berbicara ke ICP kalian. Yang penting
ICP kalian mengerti apa yang kalian bicarakan enggak harus orang lain.
Karena it's useless to talk about big pain biggest pain of a farmer when you're talking to a fisherman. Karena
ketika kalian membicarakan problem saya ini contoh yang cukup ekstrem aja.
Tapi misalnya kalian berbicara kepada eh let's say kalian mau menarget kita bicara soal fitness kalian target marketnya adalah orang yang eh baru
mulai fitness. maka language yang kalian
mulai fitness. maka language yang kalian gunakan itu enggak bisa eh isolation, enggak bisa berbicara tentang gerakan-gerakan yang rumit atau yang baru. Enggak bisa kita bicarakan
baru. Enggak bisa kita bicarakan gabungan antara mobility dan lain-lain.
Tapi karena orang yang baru mulai fitness enggak akan ngerti itu.
Sedangkan kalau target market kalian orang yang sudah ngerti fit, 4 tahun tapi mau eh buat dari composition, mau bentuk badan lebih spesifik lagi, bahasa yang digunakan tentu akan berbeda. Dan
ini makanya penting untuk bisa lebih mengerti audience kita.
Karena content is talking and understanding your audience will give you on how to talk to them, what to talk to them, and where is the best touch point when you want to talk about
something. This is the entry point to
something. This is the entry point to clear context. Karena selanjutnya kita
clear context. Karena selanjutnya kita juga akan bilang kalau konten yang bagus itu adalah konten yang punya clear context dari awal.
Clear context itu datang dari tiga di sini. Clear contex. Klik tex ini
sini. Clear contex. Klik tex ini maksudnya adalah ketika kalian nonton video 3 sampai 10 detik pertama itu kalian udah jelas video ini mau ngomongin apa. Oke. Nah, ini didapat
ngomongin apa. Oke. Nah, ini didapat dari apa aja? Yang pertama language yang tadi kita sudah sempat bahas juga pembahasan penggunaan kata intonasi style of speaking yang sesuai dengan
audience kita. Yang kedua, secara
audience kita. Yang kedua, secara structure. Structure yang digunakan ini
structure. Structure yang digunakan ini paling mendasar. Eh, VC juga hampir
paling mendasar. Eh, VC juga hampir selalu memakai struktur ini ketika membuat konten khususnya yang ada edukasi yang cukup panjang.
di hook-nya itu harus menjawab empat ini. What are we talking about? What are
ini. What are we talking about? What are
we questioning about? What is the goal of the content? Dan what's in it for me?
What's in it for me? Ini aturan dasar copywriting di mana ketika audiens membaca atau mendengar video kalian, dari hook-nya aja mereka udah tahu
what's in for me. Konten ini buat mereka gunanya apa, apa yang akan mereka dapetin. Itulah pentingnya kalian
dapetin. Itulah pentingnya kalian menggunakan dan memahami ini. Karena
dari for hidden forces ini adalah bahan untuk kalian menyelesaikan masalah mereka. What's me? Eh, it can help me
mereka. What's me? Eh, it can help me get to my dream. It can help me to avoid my fear. It can help me to solve my
my fear. It can help me to solve my frustration. It can help me to
frustration. It can help me to fasten my progress to what I want.
For hidden forces ini digunakan untuk bisa menunjukkan di hook what in for me.
Secara body eh masuk ke body ada bridging eh bisa menggunakan story journey menambahkan reset e bridging ke menuju jawaban yang kita mau kasih di
sini ee dan juga atau poin-poin yang kita mau tampilkan tiga e konten paling simpel aja. Tiga cara untuk bisa membuat
simpel aja. Tiga cara untuk bisa membuat konten viral ya di sini. body itu isinya adalah poin untuk cara membuat konten viralnya baru ke CTA. Apakah semua
konten harus ada CTA?
Sebetulnya harus, tapi enggak semuanya secara eksplisit. Kenapa? Karena ketika
secara eksplisit. Kenapa? Karena ketika
kita membuat konten, CTA itu akan men-drive engagement secara meningkatkan beberapa puluh persen.
Sedapi, kalau misalnya pun kita enggak tambahkan secara eksplisit misalnya, eksplisit itu yang gua maksud komen di bawah atau like atau share video ini itu eksplisit. Kalau enggak eksplisit
eksplisit. Kalau enggak eksplisit biasanya kita sudah mendapat menambahkan di cerita atau di e talking points kita hal-hal yang sebetulnya orang akan secara enggak langsung tertarik untuk
melakukan suatu engagement atau komen atau mengajak suatu diskusi. Jadi kita
enggak secara eksplisit meminta mereka melakukan sesuatu tapi udah tertrigger melakukan sesuatu gitu.
Nah, yang terakhir adalah following the logic of writing a video. Karena menulis
video beda sama kita nulis email, beda sama kita nulis newsletter, nulis tweet, em nulis artikel di LinkedIn itu beda.
Karena ketika menulis video, kita harus write to speak not to read. Karena yang
kita tulis ujungnya adalah apa yang akan kita baca. Kalau belum terbiasa untuk
kita baca. Kalau belum terbiasa untuk melakukan ini, lakukan proof reading.
Oke, setelah kalian nulis script-nya, baca ulang scriptnya. Kalau perlu rekam dan
ulang scriptnya. Kalau perlu rekam dan dengarkan kembali scriptnya karena itu akan membuat script ini akhirnya bisa semaksimal mungkin untuk dijadikan sebuah video yang akan kalian
rekam, bukan tulisan yang menjadi seperti artikel. Yang kedua, right with
seperti artikel. Yang kedua, right with the end of video in mind. Karena pada
akhirnya tulisan ini akan menjadi sebuah video. Pada saat menulis langsung coba
video. Pada saat menulis langsung coba bayangkan kalau tulisan ini dijadikan video, poin-poin apa aja yang perlu penggambaran, poin apa aja yang enggak perlu penggambaran dengan tulisan aja
cukup, poin apa aja yang sebetulnya enggak justru enggak perlu ditulis, tapi ada guidance untuk menambahkan sesuatu atau gambaran atau video apapun di dalam tulisan kalian ini karena akhirnya akan
jadi video. Dan ketika kalian berpikir
jadi video. Dan ketika kalian berpikir ini pada saat membuat tulisan atau script, ini akan memudahkan kalian banget, memudahkan editor juga dalam proses untuk membuat video. Sehingga
koherensi antara pemikiran kalian pada saat ingin membuat suatu video sampai jadi hasil akhirnya akan jauh lebih mirip.
Yang terakhir, continuity. Pada saat
membuat script, pastikan jangan muter-muter ee pembahasannya tetap satu dari arahnya. Ingat dari awal orang udah
dari arahnya. Ingat dari awal orang udah paham ini apa yang mereka apa yang dibicarakan apa yang dipertanyakan goal tujuannya apa. Stick to this. Kalau ada
tujuannya apa. Stick to this. Kalau ada
eh poin, kalau ada riset tambahan, kalau ada cerita tambahan yang sebetulnya kalau dihilangkan itu tetap poin utamanya orang bisa paham
dan goal utamanya tetap tercapai. Buang
aja tulisannya, buang aja riset tambahannya. Karena berarti riset
tambahannya. Karena berarti riset tambahan itu atau poin tambahan itu justru mengurangi value dari konten kalian, bukannya menambah clarity lagi.
Oke, last but not least is clear intention. Kalian ini bikin konten untuk
intention. Kalian ini bikin konten untuk apa?
Dapetin leads baru, nurture leads, dapetin leads untuk di sales atau apa.
Untuk audience di level mana? Tofu, movu
atau Bovu. Kalian harusnya udah menonton juga materi tentang TOfu, Movu, Bovu.
Tofu itu education untuk audience yang masih problem aware dan unware. Movu itu
case study and system untuk gimana mereka bekerja dengan kita. Yang isinya
adalah untuk audience yang solution unaware. Dan yang terakhir, Bovu ini
unaware. Dan yang terakhir, Bovu ini isinya sales dan testimonial.
Apakah semua konten ini bisa memakai struktur yang ada? Bisa. Karena pada
ujungnya kalian membuat konten Movu ataupun bow pun kalau misalnya enggak ada hook-nya, konteksnya enggak jelas dalam bentuk apapun ya, dalam bentuk tulisan, dalam
bentuk grafik atau dalam bentuk kalian omongin apapun itu kalau enggak jelas maka kontennya enggak akan optimal.
Karena tetap aja balik lagi kita bicara konten Movu, kita bicara konten bovu.
Kalau konten Movu dan BOF ini views-nya bisa Rp100.000 1000 qualified list-nya bakal lebih banyak daripada konten Movu dan BOFU yang views-nya 1.000.
Iya, kita nargetin qualified leads. Tapi
kalau kontennya aja enggak nyampai ke qualified lead kita, ya percuma kan.
Makanya tetap pakai struktur.
Dan jangan lupa ini ya, most of us will lead e will condong ke arah sini authority and
education.
Tapi dengan menambah karena ini personal kita bicara personal branding kita bicara attachment juga untuk mendekatkan orang biar mereka percaya ke kita. Eh,
tetap perhatikan ini kita membuat script itu mau leaning ke arah mana. Full
authority, full closeness, which is kemungkinan yang kecil, e lifestyle based atau kita mau nambahin sebagian dari closeness ke dalam content
authority kita. Intensi,
authority kita. Intensi, konteks, audience. Tiga hal ini kalian
konteks, audience. Tiga hal ini kalian perhatiin dan kalian paham betul-betul. dijamin
kontennya akan jauh lebih berkualitas.
Enggak usah pelajarin hook yang viral, enggak usah pelajarin eh struktur konten viral, enggak tahu, enggak usah bikin gimik-gimik, enggak usah pakai editing terlalu gimana. Ini aja kualitas konten
terlalu gimana. Ini aja kualitas konten kalian udah sangat jauh lebih bagus.
Karena script yang clear dan jelas konteksnya itu jauh lebih penting daripada editing yang dardoor segitunya.
Dan how to get better at this. Simply
write more and intentionally. Apa yang
setiap kali kalian mau bikin script, apa yang mau di-improve, apa yang mau dimasukin dari poin-poin yang ada di video ini, yang ada di modul ini.
Dan kalau butuh review, send it to your e private discord channel. Kita akan
bakal review di sana. Oke,
so untuk bikin lebih jelas lagi ada di sini ada tiga script dari video Proud Boy yang pernah di ada yang pernah dipost, ada yang enggak. Tapi ini dibuat
dengan struktur yang persis sama dengan yang gua tulis di atas. Oke. Eh, kita
bedah sedikit satu-satu.
Creator founder who sells low ticket.
This is the hook. Kalau lu adalah seorang content creator entrepreneur yang capai jualan eh produk Rp00.000-an tiap bulan launching produk digital baru, tapi income masih stuck di
situs-situ aja di Ses for you. Di sini
udah jelas siapa yang ditargetin. Di
sini udah jelas masalah apa yang mau diselesaikan.
Masuk ke bodynya.
Gua akan tambahin sedikit penjelasan di sini. Your posting selling grounding di
sini. Your posting selling grounding di sini adalah upsor sini adalah problem.
amplification.
Ini ada problem amplification-nya.
Lalu di sini the hard truth. The truth.
Karena lu terus jual produk murah bangun sampin kejar volume.
This is a solution that we are offering.
Nah, after the solution this is the proof.
Ini gua sedikit sensor. Kalau ada yang pernah lihat kontennya, you know who it is. Tapi kalau enggak, ya udah siapapun.
is. Tapi kalau enggak, ya udah siapapun.
Yang penting ini hanya sebagai contoh aja. Habis masuk ke proof di sini
aja. Habis masuk ke proof di sini conclusion sedikit baru CTA.
CTA-nya simpel aja, singkat, enggak usah terlalu banyak.
Yang kedua, marketing finalist bullshit. you will
get bad leads. The traditional marketing funnel is outdated especially for creator founders like us tofu muovu bovu. Kalau lu cuman ngikutin funel
bovu. Kalau lu cuman ngikutin funel tradisional ini, your screw. Di sini
kita nge melawan stigma umum soal Tomfu Movu Bovofu karena ya kita juga ajarin tofu Movu Bovu karena ini memang penting.
Tapi orang yang mendengar ini dan ngerti ini balik lagi pembahasaan ini kalau bukan ke audiens kita orang belum tentu relate karena mereka enggak akan ngerti
creator founders, enggak ngerti marketing funnel enggak ngerti tofu, Movu, Bovu itu apa. Dan orang gak bakal dengar. And that's ok.
dengar. And that's ok.
Kalau kita masuk ke sini orang yang mencoba meyakinkan enggak punya produk bahkan mereka enggak punya stak jualan produk murah audience nurin harga di sini ada relatability point
kita setting the ground buat mereka biar mereka tahu kalau kita paham kondisi mereka di sini instead my new funel system di sini mulai ada solution
Oh sorry the bridging to solution.
Lalu masuk ke ini points-nya steps solution three layers of day solution baru conclusion dan CTI lagi. Di sini
CTI agak panjang untuk menjelaskan apa yang akan mereka dapatin kalau ngelakuin apa yang kita minta.
Then the third script reputation game.
Sinaduknya trust me the social the social media game is actually a reputation game. Lu bisa punya
reputation game. Lu bisa punya followers, produk, fanel. Tapi kalau
nama lu kehilangan trust, everything collapse.
Banyak yang udah paham ini, tapi belum dijelaskan secara lebih jelas. Eh,
hook-nya enggak harus secara struktur kita bikin hook yang kayak balik lagi tadi gua bilang konten yang berkualitas, konten yang terbaik itu bukan soal pakai hook yang viral atau hook yang gimana
banget, tapi hook yang dimengerti sama audience kita. Oke, imagine this.
audience kita. Oke, imagine this.
Ini sama relatability point juga.
Kita ngasih faktanya gimana trut-nya di sini? People don't buy because of
di sini? People don't buy because of your content. Ini sebenarnya udah semi
your content. Ini sebenarnya udah semi conclusion.
Tapi kita bridging ke solution dari sini solution-nya solution and proof.
Oke, baru masuk ke sol e conclusion dari kontennya dan CTA lagi. Secara struktur sebetulnya semua sama yang beda cuma di body storytelling-nya berbeda-beda.
Ini yang kita bilang bikin konten pakai intensi dan pakai tujuan dengan konteks yang jelas untuk setiap ee videonya.
Alright. So, in the previous module, lu udah belajar gimana cara bikin IG reels yang valuable. Nah, sekarang missing
yang valuable. Nah, sekarang missing piece-nya ini percuma kita bisa bikin konten yang bagus tapi kita gak ngerti funeling. Kita gak ngerti tofu, kita gak
funeling. Kita gak ngerti tofu, kita gak ngerti Movu, kita enggak ngerti boofu.
Ini essential banget kalau misalnya kita mau bisa monetize akun kita. Karena
audience temperature itu tuh beda-beda.
Ketika kita cuman mau fokus untuk ngejar yang namanya views, ngejar namanya followers, kita main di top of funnel aja enggak masalah. Tapi kalau misalnya kita udah mau mulai untuk berjualan entah itu digital product, kita punya
jasa atau kita punya produk fisik atau apapun itu harus banget kita ngerti yang namanya MOV sama BOV. So with that said kita di modul ini akan ng-deep dive yang namanya tofu movu boofu. Kita semua
pahamin ya tofu movu bovu ya. Gini kalau
misalnya kita ngomain ke those bahkan bukan 10% bahkan not the top 1%. Actually how I see this? Kita kan sering banget ya
see this? Kita kan sering banget ya mikir mikir tuh begini nih. Kalau
misalnya kita ngomongin keuangan orang kan piramida kan orang kan sering bilang kan ini misalnya top 1% ya kan terus sisanya
99% nih ini kan top 1% s 99% I don't believe it's like that I believe this is the 99% I'm not a macroeconomist this is just
how I see things ya ini sudut pandang pribadi aja gituah meaning yang di sini ini tuh enggak ada sebenarnya So, we pick kita mau ngomong ke orang
yang sini atau ngomong ke orang yang sini. Masalahnya kalau kita jual low
sini. Masalahnya kalau kita jual low tiket, kita akan ngomong ke orang yang sini. Ketika kita ngomong ke orang yang
sini. Ketika kita ngomong ke orang yang sini, kita harus menyesuaikan persepsi kita ke orang yang sini. Cara ngomong
kita jadi kayak begitu. Cara berdandan
kita jadi ngomong kayak gitu. Kita jadi
perlu memperlihatkan sebuah persona yang mungkin kita enggak mau, tapi mereka suka. Jadi kita melakukan hal tersebut
suka. Jadi kita melakukan hal tersebut gitu loh.
You don't see a Ferrari parked outside because I don't have a Ferrari. But I
don't need a Ferrari to convince you guys to come here because you don't see my value from the Ferrari. Kebayang gak
sih? That's how the 1% things kan.
Basically, we don't think about the material needs.
Di sini ada banyak orang-orang yang jauh lebih sukses dari gua. Revenya lebih
tinggi dari gua. Itu gue yakin ada man di sini. Tapi kalian masih ke sini gitu
di sini. Tapi kalian masih ke sini gitu loh to learn together ya. Karena we
speak the same language di sini. And
orang yang di sini enggak mikin dream outcome yang gila-gila. Wah beli Ferrari R miliar pertama enggak. Ini orang-orang
di sini udah lewat R miliar gitu loh.
Ngerti enggak sih maksud gua?
Pilihannya kita mau ngomong ke orang sini atau ke orang sini? Nah, I choose to speak only to here. Tapi untuk kita ngomong ke sini ada strateginya. which
is this.
Makanya kita harus ngerti yang namanya tofu mofubov.
Kalau misalnya kita ngomin high ticket sama 1% itu tuh di sini mainnya Movu sama Boofu. Tapi kalau misalnya
kita ngomongin the top eh the bottom 99% itu mereka di sini semua boleh ini baru mau jelasin. Nah, jadi
gini contoh ini kan top of funnel ini middle of funnel ini bottom of funnel.
Fungsinya ini adalah awareness nih.
Ini awareness yang sinifu. Orang dari
enggak tahu kita jadi tahu kita.
Followers banyak tuh di Tofu nih di sini nih. Nah, Movu itu adalah orang
nih. Nah, Movu itu adalah orang interest sama desire ya. Ya, Guys.
Masuknya ke sini.
Ini ibaratnya kita panggilnya YTTA aja. Yang ini nih Movu YTTA aja.
YTTA aja. Yang ini nih Movu YTTA aja.
BOVU itu adalah orang yang beli, yang bisa beli produk kita. Nah, bedanya
di di mana? Bikin kontennya beda banget.
Kita mau nge-attract ini sama kita mau ngetrack ini tipe kontennya beda, semuanya beda. Contoh, kita bikin konten
semuanya beda. Contoh, kita bikin konten TO Mar, kita bikin konten TOfu. Tiga
tips produktif yang bisa bantu kamu kelarin kerjaan 8 jam hanya dalam 4 jam.
itu tofu tuh semua orang mau dari bisnisman, dari mahasiswa dari ibu rumah tangga dari orang yang kerja kantoran semua mau. Kenapa? Ke capture banyak
semua mau. Kenapa? Ke capture banyak banget.
Tapi masalahnya dengan konten TOVU ini yang sering tidak terjadi adalah ini.
They don't give us qualified leads. Mereka enggak ngasih
qualified leads. Mereka enggak ngasih kita qualified leads di sini karena sifatnya kontennya terlalu broad gitu.
Nah, itu untuk si Tofu. Makanya itulah
alasan kenapa most of my content itu tuh di sini. Nanti akan ada statistiknya
di sini. Nanti akan ada statistiknya juga. You will see views peractivity itu
juga. You will see views peractivity itu all time high low. Eh, all time low, tapi review ini lagi menuju all time high lagi gitu loh.
Karena we speak here. But kita lihat ane Movu sama Bovofu tuh di bawahnya Tofu ya, Guys. Awareness kan datangnya dari
ya, Guys. Awareness kan datangnya dari sini. Kebayang ya?
sini. Kebayang ya?
Ya, makanya kadang-kadang kalau mau diselipin ini bagus juga. Kenapa? Karena
it trickles down.
Orang dari sini akan turun ke bawah.
Bedanya kadang-kadang movu tuh jadi tofu. Kebayang enggak sih maksud gua
tofu. Kebayang enggak sih maksud gua Movu tuh jadi tofu most likely. Tapi
seringkiali orang tuh datang dari sini.
Nah, makanya kalau misalnya kita ngomongin ke sini, "We speak to the 99%." Tapi enggak apa-apa karena bisa
99%." Tapi enggak apa-apa karena bisa jadi di 99% itu tetap ada 1%-nya gitu loh. Jadi diselingin aja enggak apa-apa.
loh. Jadi diselingin aja enggak apa-apa.
Tapi kalau misalnya if I focus right now, this is my 8020. Jadi this is my 20% that gives me the 80 80% of results.
Itu tuh di Movus sama Bi. Kenapa? Karena
mainnya high ticket. Kebayangan
any question cukup ya? Boleh Ram
to know your thoughts. Ini hanya works di akun yang emang tofunya udah ada atau if the case the the account is still
zero and then they don't have any tofu kontennya itu akan sampai gak ke si sampai?
Oke. Kalau gua jadi kalau gua enggak bangun productivity boy productivity boy hilang gua bakal langsung mulai dari Movubovu kalau gua main high ticket ya.
Oke, lebih enak karena yang kebangun justru demografinya sama algoritmanya udah lebih bagus karena langsung e langsung high qualified prospek. Tapi yang bikin jadi proactiv itu bermasalah kenapa
makanya viewsnya tuh jelek banget jadi jomplang justru tuh bisa bertolak belakang tahu kalau gua mengedukasi kalian kalian bisa ngelihat Ram sekarang views lu aja jomplang mau ngomong apa ngapain lu ngomong di depan kita semua kan sekarang views lu lagi jelek gitu
loh ngerti enggak sih? Nah, jadi bisa bertolak belakang nih gua pakai strategi ini sebenarnya kalau misalnya gua mulai dari nol sebenarnya itu ideal. Jadi, it
grows along. Sebenarnya emang paling enak strategi gua. Gua tuh bikin akun baru sebenarnya paling enak. Gua mulai
dari nol lagi tapi gua mikir kalian semua follow gua di productivity boy. Ya
udah productivity boy aja langsung. Nah
gitu. Tapi jawabannya yes. It can work in a new account. Trafficnya dari mana?
Organic content sama ads content.
Yang penting lu ngerti kontennya bagus atau enggak. Itu dulu skill-nya harus
atau enggak. Itu dulu skill-nya harus ada. Ini konten bagus. Kalau misalnya lu
ada. Ini konten bagus. Kalau misalnya lu tahu ini bakal bisa nge-hit dan lu ngomong konten yang bisa ngadress painpoint ICP lu, ideal customer profile lu, busa aja. Berarti enggak ngaruh ke
waktunya, Ram. Maksudnya waktu yang
waktunya, Ram. Maksudnya waktu yang dibutuhkan untuk conversion itu enggak ngaruh ya antara akun yang udah Do you get what I mean?
I get what you mean. Ngaruh. Ngaruh.
Is it longer for new account?
Anything sebenarnya? Everything is about trust. The reason why you know how easy
trust. The reason why you know how easy it is to sell this this mastermind 2 hari sold out.
Why? Because I buil the trust over three years. Kebayang maksud gu.
years. Kebayang maksud gu.
Andrew ini semua warm prospect. Eh, ini
semua hot sama warm prospect. Tinggal
gua toel dikit percaya gitu loh. That's
the power of time gitu Rik. Tapi kalau
misalnya kita mulai dari nol bisa enggak? Bisa hanya lebih lama aja.
enggak? Bisa hanya lebih lama aja.
Kenapa? Karena edukasinya kita lakuin langsung.
Bukan sebelumnya. Kalau sebelumnya kan udah teredukasi, tapi kalau kita baru, kita jadi butuh waktu buat mengedukasi mereka aja. Gitu
aja sih. Anything else?
Ini good topic by the way. Thank you.
Enggak untuk semua orang.
You will need time for this to be honest.
You will need time. Tapi the thing is makanya bisa kita delegate, kita bisa bangun tim juga. customer
success, video editor, udah selesai. Kayaknya dua-dua itu cukup
udah selesai. Kayaknya dua-dua itu cukup deh kalau kita mau bangun high ticket bisnis. Jadi yang nanganin klien tim
bisnis. Jadi yang nanganin klien tim kita satu orang, kita muncul sesekali.
Nah, itu nanti high ticket tuh ada structur-nya juga. Apakah itu one ones
structur-nya juga. Apakah itu one ones group one on coaching, grup coaching beda juga. Umar sudah paham betul. Nah,
beda juga. Umar sudah paham betul. Nah,
itu tergantung nanti kita ngestrukturinnya gimana. Habis ini kan
ngestrukturinnya gimana. Habis ini kan ada personaliz session, kita bisa ngomong-ngomong lagi gitu. Tapi bukan
buat semua orang. Yes. Bukan buat semua orang.
Eh du itu apakah perlu ngalami fase yang itu fase dan for you dulu gitu bikin.
Nah itu yang gua lihat kan di VC gitu kan ya. Mungkin dari gua jawaban cepatnya enggak tapi karena gua ngalamin itu gua jadi bisa ngambil angle.
Kebayang gak? I freaking clos my agency yang all time high so that I can build this bu a good marketing material.
Rama agya. eh hit lebih dari 50.000 USD per month. Tapi dia nutup itu semua buat
per month. Tapi dia nutup itu semua buat ngebangunin yang baru. Wah, berarti ini next big opportunity yang lebih bagus dong daripada bisnis 50.000 USD per month gitu loh.
Tapi mungkin enggak kalau kita skip yang done for you apa emang harus sih sebenarnya?
Eh, enggak apa-apa diip. Kalau misalnya
gua bisa mulai gua skip langsung.
Ngapain gua agency?
Enggak ketawa tuh dia udah jing Ram lu ngapain bikin agency sih gitu kata El.
Tapi gini Jar, I wouldn't trade the experience. Gua belajar banget di
experience. Gua belajar banget di agency. Dan one thing ini kayaknya aku
agency. Dan one thing ini kayaknya aku pernah share ke Anda juga. The thing
that I'm most grateful about of the agency is the people I meet. Kalau gua
gak bikin agency kemarin, gua gak akan bisa ketemu sebanyak orang itu. Karena
literally kenapa gua close agency? Kayak
gua udah e gua udah e complete all the checklist deh of the ideal customer profile yang gua bisa serve. Gua udah
mulai serve dari content creator. Gua
udah mulai serve dari entrepreneur, founder, founder. Konglo udah,
founder, founder. Konglo udah, politician juga udah. Gua mau serve siapa lagi?
Kayaknya udah hit the ideal customer profile punya ceklist deh. Game over
deh. Yuk kita move ke yang lain gitu.
Simply. Karena itu kayak belajarnya udah cukup deh.
Itu berarti sebenarnya untuk dapetin terust kan di situ. Nah, kalau untuk yang kita mungkin enggak pakai agensi langsung itu terustnya gimana gitu. Kan kita
sebenarnya jualnya low low low low aja gitu. He.
gitu. He.
Dan gimana cara dapetin supaya terasa lebih tinggi di high ticket ini gitu.
Perception. Kita bahas sampai sini ya.
Oke, next material.
Oke, kita lanjut dulu ya, Guys.
Nah, it's a game of perception. Kenapa?
Karena kita udah enggak perlu main volume lagi. Satu sale high ticket itu
volume lagi. Satu sale high ticket itu tuh kayak 100 low ticket. Coba bayang
ya.
Satu high ticket itu 100 low ticket. We
100x your business with so much leverage. Kalian udah punya course-nya,
leverage. Kalian udah punya course-nya, tinggal kalian tambahin pendampingan.
Jadi, man gitu jadi gitu. More margins,
more peace. And we create leverage with this. This is the proof. Yang kayak gua
this. This is the proof. Yang kayak gua bilang, guys, tadi all time lu nih 6.000 2.000 3.000 5.000.
Banyak alasan. Satu, karena emang bovu banget. Movu-bofu banget. Alasan kedua,
banget. Movu-bofu banget. Alasan kedua,
karena bahasa Inggris semuanya full English. Why do I use English? Because I
English. Why do I use English? Because I
want to talk to people. Gini deh, orang yang bisa bayar R juta pasti orang yang bisa ngomong Inggris dong. Most likely
gitu loh.
Most likely enakin skill to US juga.
That's why I use English and that's why I use USD punya ini gitu loh.
Jadi satu karena emang movu, dua emang karena Inggris, ketiga emang karena su productivity bo udah 6 bulan kagak ngonten gitu karena gua ngurusin klien-klien yang lain kan. Jadi, gua
baru mulai ngonten lagi. Tapi balik
lagi, benar ya, ini semua dari high ticket sales ini nih.
Ini btw down payment, partial payments, eh semua down payments, partial payments. Ini dulu kita lihat ya. Bedain
payments. Ini dulu kita lihat ya. Bedain
ya. Ini views-nya nih beda nih.
5.000 nih tiketnya segini.
Yang dulu views-nya mm ya. Gue juga
ngerti cara bikin konten viral aja cuman gua udah enggak mau nge-viralin kok.
Jadi, it's intentional nonvirality. Apa
sih pokoknya gua secara intensi gua emang sengaja bikin enggak viral.
Kenapa? Karena main movubovu. Tapi kalau
mau bikin konten viral bisa tinggal gua bikin aja. Cara memanipulasi orang
bikin aja. Cara memanipulasi orang supaya mereka ngerti sih bikin konten-konten gue yang kayak dulu gitu loh. Iya, engak, Dru? Atau enggak gua
loh. Iya, engak, Dru? Atau enggak gua tinggal bikin konten lagi. Ini adalah
satu lagu yang bisa bikin kamu tertidur hanya dalam 1 menit viral. Itu fix fix 11 m, 4 m, 1 m, 1 m sealsnya begini.
Flow blueprint.
Malas banget, Men. Rp250.000.
Yes. Strukturnya punya struktur atau strateginya secara teruk enggak untuk tadi ya konten yang sama
ada.
Kita bahas sedikit ya.
Basically sebenarnya kalau misalnya tofu kita tuh balik lagi ke tadi kita ngejar awareness. Jadi kita bikin segeneral
awareness. Jadi kita bikin segeneral mungkin bikin painp. Nah gini kuncinya di sini
bikin painp. Nah gini kuncinya di sini painpnya besar solusinya gampang. Ini kalau boleh
solusinya gampang. Ini kalau boleh dicatat catat. Painpinnya besar
dicatat catat. Painpinnya besar solusinya gampang. Kalau misalnya movu
solusinya gampang. Kalau misalnya movu bovu apalagi bovu painpnya spesifik solusinya spesifik gitu. Itu doang
kebayang ya. Karena orang yang tofu mereka pengin masalah besar cepat-cepat selesai. Instant gratification tuh
selesai. Instant gratification tuh mainnya. Tapi kalau misalnya orang yang
mainnya. Tapi kalau misalnya orang yang e mainnya itu tuh udah e bfu, mereka bakal mau spesifik dan spesifik. Kenapa?
Karena mereka ee butuh cepat dan enggak mau ribet. Gua bayar mahal enggak
mau ribet. Gua bayar mahal enggak apa-apa, yang penting cepat gitu loh.
Karena gini, kita tiba-tiba atap bocor.
Atap bocor ada dua, ada dua solusi.
Lu nelepon orang suruh kelarin, bayar mahal enggak apa-apa atau enggak lu belajar kas orang yang enggak bisa datang kasih gua instruksinya gua urusin sendiri gitu. Enggak mungkin lu
sendiri gitu. Enggak mungkin lu beli-beli course Rp300.000, lu pelajarin dulu 11 jam itu udah keburu rembes nih rumah gitu loh. Kurang lebih gitu. Makai
specificity specificity.
Oke, so you guys have watched the mov breakdown video that's made by Rama. We
want to just add a little bit of more insight and little deep dive on the content creation on this Tofu Movu boofu. Jadi eh seperti
yang kita tahu tofu movu bovu ini untuk kedalaman dari audiens kita dan proses dan tujuan dari setiap konten yang kita buat itu akan berbeda. Nah, untuk di
tofu yang kita buat itu mostly adalah inside education atau lebih ke inside e ditambah dengan edukasi.
Jadi yang biasa yang ditargetkan adalah untuk audiens yang masih belum problem unaware dan problem aware tapi belum eh tapi belum punya awareness kalau ini ada
solusinya.
Nah, untuk MOVU itu contoh eh kita lebih ke arah case study system. Jadi mereka
udah solution aware tapi masih belum eh solution unaware dan belum tahu nih jadi untuk menyelesaikan ini proses untuk mendapatkan solusinya seperti apa. Nah
dan untuk kita sebagai yang menjual high tiket konten-konten paling banyak akan kita buat adalah di sini di Movu dan juga di Bovu. Nah, contohnya contohnya
konten Movu seperti apa? konten podcast
dengan klien untuk breakdown masalah dia. Eh, konten yang mungkin kalian
dia. Eh, konten yang mungkin kalian teman-teman juga pernah lihat ada di YouTube. Eh, kalau teman-teman pernah
YouTube. Eh, kalau teman-teman pernah lihat ada di YouTube eh Productivity Boy ini breakdown eh Hight road map ini.
Lalu ini, ini semua konten MOVU karena ini adalah untuk eh kita membuat konten untuk ngcase study bagaimana proses kita dengan klien. konten MOVU tujuannya
dengan klien. konten MOVU tujuannya adalah supaya klien, supaya calon klien ee calon leads kita ini tahu bagaimana rasanya, bagaimana prosesnya untuk
bekerja atau ee dilatih atau coaching atau mengikuti program kita. Sedangkan
yang terakhir ada konten bovu atau konten sales e testimonial untuk orang yang udah solution aware. Jadi
orang-orang ini udah paham eh calon klien kita ini udah paham kalau problem mereka ini apa dan ada solusinya apa aja listnya dan mereka yang mereka perlukan adalah yang mana yang harus mereka
percaya, yang mana yang harus mereka pilih. Nah, di sini jadinya kita harus
pilih. Nah, di sini jadinya kita harus buat ee lebih ke arah sales dan testimonial. Kenapa? Karena di sini
testimonial. Kenapa? Karena di sini mereka akan melihat orang-orang seperti apa yang menjadi klien kita dan sukses.
Jadi, apakah mereka ini bisa mereka ini bisa merasakan dan mereka bisa jadi meng-gouch apakah kita cocok untuk mengajar atau membantu mereka menyelesaikan masalah mereka atau
enggak. Di situlah konten Movu eh konten
enggak. Di situlah konten Movu eh konten bovu makanya itu lebih banyak ke arah sales dan testimonial.
E begitu aja tambahan singkat dari gua.
Good luck.
And for the next master class, this is one of my favorites. This is one of our value creators classic. It's idea
generation masterclass. Mungkin beberapa
dari kita pernah mengalami fase yang namanya creative breadth atau misalnya writers block atau creative blog dan segala macamnya. Itu normal banget buat
segala macamnya. Itu normal banget buat kita mengalami hal tersebut. Apalagi
kalau misalnya kita ngonten setiap hari.
Nah, sekarang pertanyaannya kalau misalnya kita udah kehabisan ide nih, gimana cara kita bisa menghasilkan ide yang unlimited? Gua punya metodenya dan
yang unlimited? Gua punya metodenya dan di sini kita bisa mengubah satu ide jadi del angle ID yang berbeda. And I'm very excited to share it to you. So, welcome
to Idea generation master class. Oke,
Teman-teman, let's get to the point.
Jadi, Teman-teman, hari ini kita bakal ngebahas soal idea generation angle twisting. Why this is important? Karena
twisting. Why this is important? Karena
the power of ideas itu teman-teman semua tahu ya. Jadi, kalau misalnya kita
tahu ya. Jadi, kalau misalnya kita tarik, kalau misalnya kita tarik konten itu kan konten kan ada the content output-nya. Terus yang mereka
content output-nya. Terus yang mereka lihat pertama-tama tuh apa? Video
editingnya. Sebelum video editing mereka lihat apanya? Script-nya ya kan kita
lihat apanya? Script-nya ya kan kita nulisnya gimana. Sebelum script apa
nulisnya gimana. Sebelum script apa hook-nya? Hook-nya bagus atau enggak?
hook-nya? Hook-nya bagus atau enggak?
Sebelum hook-nya ada idenya. Nah, jadi
sebenarnya idenya adalah proses pertama tapi paling krusial. Karena kalau
misalnya kita gua udah sering banget ngomongin teman-teman mau konten lu video editingnya sebagus apa, script writingnya sedewa apapun. Tapi kalau
misalnya idenya enggak market fit itu enggak akan bisa nge-generate the results that you want. Jadi, ID is actually very important in this case.
Nah, the power of winning idea itu tuh akan bisa ngebawa konten kita jadi winning content. Nah, ketika kita punya
winning content. Nah, ketika kita punya winning content, enaknya adalah kita bisa pakai terus. Jadi, ketika kita tahu nih kita lagi butuh ng-boost sesuatu yang penting, itu pasti akan naik views-nya, pasti akan viral dalam tanda
kutip. Contoh, kalau misalnya kita lagi
kutip. Contoh, kalau misalnya kita lagi ada promo atau kita lagi mau ng-launch kelas atau kita lagi mau ng-announce sesuatu yang penting, pasti kontennya akan naik. Kenapa? Karena itu winning
akan naik. Kenapa? Karena itu winning content. Nah, that's the part of winning
content. Nah, that's the part of winning idea. Dari winning idea bisa jadi
idea. Dari winning idea bisa jadi winning content. Makanya kalau misalnya
winning content. Makanya kalau misalnya eh teman-teman yang udah follow gue dari cukup lama pasti tahu kalau misalnya gua tuh beberapa kali suka pakai konten yang kayak gini nih. Hook-nya nih. Cara
memanipulasi bla bla bla ya pasti sering lihat ya. Pasti sering lihat. Kenapa?
lihat ya. Pasti sering lihat. Kenapa?
Karena itu udah winning. Jadi gua tahu kalau misalnya gua pakai konten itu gua kemarin testing guys. Kalian bisa cek di reels gua. Gua kemarin testing, gua
reels gua. Gua kemarin testing, gua pakai hook yang sama, enggak ada muka gue, cuman pakai full broll. Masih,
masih hampir 1 MV ya. Literally masih
hampir 1 MW diels. Jadi kan terbukti ya, jadi dari idenya udah bagus pasti hasilnya akan bagus. Nah, ketika ini terjadi ini tuh akan bisa ningkatin konten bank kita dengan sangat luar
biasa. Purpose-nya itu tadi ya buat make
biasa. Purpose-nya itu tadi ya buat make sure kalau misalnya kita ngupload itu pasti viral. Nah, sekarang pertanyaannya
pasti viral. Nah, sekarang pertanyaannya kalau misalnya kita udah punya konten kayak gitu, gimana cara kita ngwistnya supaya orang enggak bosan? Ya kan? Kalau
misalnya dia ngelihat cara memanipulasi, cara manipulasi terus terus terus terus terus orang juga capek jenuh. Akhirnya
dari yang tanya viral jadi enggak viral.
Nah, gimana cara kita nge-quis itu supaya bisa tetap viral terus gitu. Ada
tiga cara teman-teman. Ada tiga cara gua chat ya.
Yang pertama adalah reuploading. Yang
kedua adalah repurposing.
Yang ketiga adalah angle twisting. Kita
akan bahas masing-masing dikit-dikit.
Reuploading itu apa? reuploading itu
adalah ngebahas the exact same content, the same exact script. Tapi bedanya
jangan di-upload. Maksudnya reuploading
adalah konten dengan script yang sama, tapi diretake, diedit ulang supaya at least ini Pram enggak usah enggak usah di spotlight video gua. Eh, ya. Jadi,
Teman-teman, reuploading itu bukan konten yang udah ada kita download lagi, kita upload ulang. Enggak. Tapi konten
dengan script yang sama kita take ulang, kita edit ulang supaya at least kalau scriptnya sama tapi viben-nya beda itu most likely akan hit. That's what I'm doing with my content this week. Jadi
teman-teman nanti bisa ngelihat konten gua dari yang lama banget gua coba di purpose nih eh gua coba diupload pasti hasilnya sama pasti tetap viral gitu.
Satu reupload. Kedua adalah repurposing.
Repurposing itu adalah we taking the same content tapi kita beda. Contohnya
kita punya kita bikin jadi karusel.
Kita punya karusel, kita bikin jadi thread. Kita punya thread, kita bikin
thread. Kita punya thread, kita bikin jadi read caption. Tahu gak sih yang video yang kita sering bikin belakangan ini? Pada pada mirip ya video semua ya
ini? Pada pada mirip ya video semua ya yang kayak tak tak tak read caption.
Kita bisa bikin kayak gitu ya. Jadi
repurposing itu the same content kita kemasnya berbeda. Nah, that is for
kemasnya berbeda. Nah, that is for repurposing. Nah, yang terakhir which is
repurposing. Nah, yang terakhir which is angle twisting. This one is my favorite
angle twisting. This one is my favorite Teman-teman. Karena we literally can
Teman-teman. Karena we literally can twist one idea into eight different content. Oke, so I'm gna share to you
content. Oke, so I'm gna share to you what it looks like.
Nah, Teman-teman, aku bakal share ini juga ke Teman-teman semua. Ini aku
share-nya view only ya. Jadi, nanti
teman-teman bisa make a copy. Oke, ini
template-nya.
Nah Teman-teman let me show you something cool. This is
how we can twist one contents.
Jadi, Teman-teman, kalau misalnya kita ngomongin content creation yang kita bisa twak tu angle-nya.
Jadi, satu ide kita bisa bahas dari beberapa sudut pandang yang berbeda itu akan melahirkan konten yang jauh berbeda gitu loh. Contoh, kita go terus
gitu loh. Contoh, kita go terus satu-satu dulu ya. Angl-nya tuh ada apa aja?
Tamb punten minta tolong di zoom.
Oh, diperbesar. Yes.
Oke. Kelihatan kekecilan.
Ibu Bos minta dizoom. Baiklah kita zoom, guys. Oke. So, the first one actionable.
guys. Oke. So, the first one actionable.
Actionable itu adalah how to. Ini adalah
tipe-tipe konten gua. Tipe-tipe konten
Bandoro nih. Tipe-tipe kontennya Fata, tipe-tipe kontennya Putra gitu ya. Jadi
ini adalah how to actionable. cara bla
bla bla supaya bla bla bla kita tahu dream outcome-nya apa, cara melakukannya gimana ya kan atau enggak misalnya teman-teman pasti pernah lihat kayak tiga cara supaya bla bla bla. Nah, itu
how to itu actionable. Kenapa? Karena
setelah mereka nonton video ini mereka tahu apa yang harus mereka lakuin.
Itu angle pertama.
Angle kedua adalah inspirational.
Inspirational itu contohnya kayak gimana? Kayak kontennya Zia ya kan?
gimana? Kayak kontennya Zia ya kan?
Kayak kontennya Rohman.
Nah, itu inspirational gitu. Jadi, we
inspire people to take action based on our stories or personal experience atau lessons. Kita belajar apa, kita share.
lessons. Kita belajar apa, kita share.
Ini pembelajaran gua setelah bla bla bla bla. Hasilnya begini loh. Gimana kalau
bla. Hasilnya begini loh. Gimana kalau
misal lu yang lakuin? Nah, itu
inspirational tuh contohnya. Angle
kedua. Angle ketiga adalah analytical.
Pernah ngelihat orang bikin konten ngebahas brand enggak? Ya kan? Misalnya
analytical tuh kayak gini, belajar marketing dari subway, belajar marketing dari pizza H atau enggak misalnya cara bikin konten yang bagus dari Kabilim.
Kabil kan content creator TikTok yang tinggi banget ya views-nya eh followersnya. Atau enggak misalnya hal
followersnya. Atau enggak misalnya hal luar eh hal yang membuat Blackpink berbeda dari eh K-pop K-pop Girl Group lainnya gitu. something like that. Jadi
lainnya gitu. something like that. Jadi
kita menganalisa sesuatu yang sudah terjadi. Kenapa mereka bisa menjadi
terjadi. Kenapa mereka bisa menjadi seperti itu. Ini bisa people, bisa
seperti itu. Ini bisa people, bisa orang, bisa brand, bisa company, organisasi, dan lain-lain. Apapun yang
related ke nich kita. Atau enggak ini contohnya gini nih. Misalnya ini adalah teknik pernapasan Wimhoh. Nah, itu
konten gua pernah bahas tuh. Mungkin
teman-teman tahu Wimhoh. Jadi, Wimhof
itu kan Icem ya. Jadi, orang yang bisa Nah, ini juga eh Mike bilang copywriting IKEA. Nah, gitu tuh. Itu analytical.
IKEA. Nah, gitu tuh. Itu analytical.
Nah, di antara ini semua favorit gua ini teman-teman pasti tahu negative atau pain ya. Stopping people attention by
pain ya. Stopping people attention by leveraging negativity. Kita semua tahu
leveraging negativity. Kita semua tahu bahwa manusia itu tuh lebih ketrigger sama hal-hal yang negatif daripada hal yang positif. Kita tuh lebih gak suka
yang positif. Kita tuh lebih gak suka kehilangan sesuatu daripada kita bisa mendapatkan sesuatu. Triggernya beda,
mendapatkan sesuatu. Triggernya beda, fear of lossnya jauh lebih tinggi. Jadi,
yang kita bisa lakuin adalah kita ngebahas hal-hal dari segi aspek yang negatif.
Cara supaya kamu enggak insia.
Ini kita misalnya ngomong soal tidur ya.
Nih, ini ini gampang bangetnya aja lah ya teman-teman ya. Kamu enggak mau insopnia lakuin ini gitu kan. Positifnya
gimana? Kalau misalnya ini kan negatif, ini positif gimana mau tidurnya? Nah,
lakuin ini tinggal kita twist begini.
Ini hook yang berbeda, ide yang berbeda, Teman-teman. Tapi
Teman-teman. Tapi sama topiknya benar enggak tidur nyenyak. Yang satu ngebahas fear-nya
nyenyak. Yang satu ngebahas fear-nya supaya mereka insomnia. Yang nextnya
ngebahas dreamnya mau tidur nyenyak, tidur cepat gitu. So that's the difference. Positif itu adalah apa yang
difference. Positif itu adalah apa yang kita ingin dapatkan.
Nah, kalau misal opposite itu adalah hal yang kebalikan dari statusku. Misalnya
kita biasa makan pakai tangan tapi ada orang makan pakai kaki. What the heck gitu kan. Ini apa tiba-tiba orang makan
gitu kan. Ini apa tiba-tiba orang makan pakai kaki gitu kan. Nah itu different statusku. Kalau misalnya kita ngebahas
statusku. Kalau misalnya kita ngebahas kayak gitu pasti viral. Nah itulah salah satu alasan kenapa flow zone blueprint itu viral. Kita ngomongin time
itu viral. Kita ngomongin time management ya.
Contoh time management.
Stop belajar time management karena ini bullshit kalau kamu enggak tahu ini. Nah, ketika gue ngomong kayak
tahu ini. Nah, ketika gue ngomong kayak gini ini ads-nya performingnya gila banget sama organiknya performnya gila banget.
Kenapa? Karena ibaratnya fata apa sih?
Can really this dan bisa validasi ini productivity. Kalau misalnya kita
productivity. Kalau misalnya kita ngomong productivity hal pertama yang nyantol di kepala orang tu apa? Pasti
time management kan. Gimana cara kita bisa mengatur waktu. Ketika gua ngomong stop belajar time management ini bullshit. Gua tuh kayak nyari perang
bullshit. Gua tuh kayak nyari perang semua orang yang ada di industri productivity gitu kan. Jadi kenapa itu ngena banget? Karena opposite atau nama
ngena banget? Karena opposite atau nama lainnya contrari. Kita mengambil
lainnya contrari. Kita mengambil unpopular opinion. Nah ya. Jadi ini
unpopular opinion. Nah ya. Jadi ini
adalah unpopular opinion, Teman-teman, gitu. Misalnya Bandoro e ngomongin soal
gitu. Misalnya Bandoro e ngomongin soal anxiety gitu ya. Eh kan ada medikasi, let's say eh enggak tahu ya, ada enggak sih anti anxiety medication gitu kan.
Kan misalnya ada obat yang bisa nurunin anxiety anxiety kita entah ng-repress flat or flat atau apapun itulah I don't know for sure. Tapi pasti ada obat-obatan ini nih. Terus Banduro
bilang, "Jangan minum obat ini nih karena enggak guna dan buang-buang duit pasti viral ya kan orang biasa minum obat itu kok. Kenapa tiba-tiba gua lu nyuruh gua enggak minum obat itu." Nah
itu yang kayak gitu-gitu itu opposite contrari ya. Nah lalu kita lanjut ada
contrari ya. Nah lalu kita lanjut ada next. Next-nya itu adalah observation.
next. Next-nya itu adalah observation.
Observation itu adalah sesuatu yang kita observe dan kita ceritain ke audience dan itu bisa namain value
gitu. Nah, ada ada yang mau dicontohin
gitu. Nah, ada ada yang mau dicontohin enggak? Ini ini btw ini gua live ya
enggak? Ini ini btw ini gua live ya semua ya. Jadi ini apa yang ada di
semua ya. Jadi ini apa yang ada di kepala gua langsung gua tulis nih. Jadi
ada yang mau dibikinin konten enggak?
Langsung nih komen dong. Komen dong
komen. Ada yang mau dibikinin konten enggak? Gua bikinin
enggak? Gua bikinin mumpung live guys.
Ayo Sara ya. Finance ya. Kita mau
ngomongin apa Sara? Finance
apa ya? Berhemat misalkan.
Oke, misalnya finance atau hemat ternyata ini adalah rumus hemat.
Nah, kenapa kayak gini itu eh kita sebut observation? Kata kunci observation itu
observation? Kata kunci observation itu ada di mana, Teman-teman?
Coba deh yang membuat ini observation tuh ada di kata yang mana? Ada yang bisa tebak enggak? Yang membuat ini
tebak enggak? Yang membuat ini observation? Coba deh, apakah ternyata?
observation? Coba deh, apakah ternyata?
Apakah ini? Apakah adalah? Oke, kalau
Sara bilang ternyata ya, unfortunately salah Sara. Teman-teman, ada yang tahu
salah Sara. Teman-teman, ada yang tahu enggak ini bisa menjadi content observation karena keyword yang mana?
Apakah adalah rumus hemat yang bikin gue bisa nabung atau yang mana?
Fata bilang gue bisa nabung. Vine bilang
dalam 5 tahun.
Yes.
Sara sama Fatah benar. Karena ada kata apa? Ada kata gue.
apa? Ada kata gue.
Gue itu menandakan bahwa gue sudah melihat atau sudah merasakan ini. Jadi,
it comes from a personal experience.
When we talk from that lens, Teman-teman, ini menjadi konten yang personal dan observasional jatuh. Nah,
jadi kalau misalnya next time teman-teman mau bikin konten yang observational bisa pakai kayak gini gitu. Next kita bahas kita sor ini gua
gitu. Next kita bahas kita sor ini gua salah harusnya di sini A versus B. Nah,
ini salah satu gua juga. A versus B itu adalah misalnya nih kita ini ya yang paling gampang food lah. Let's say
contoh McD versus Burger King menang mana gitu kan. Let's say saham versus crypto kalau
kan. Let's say saham versus crypto kalau misalnya Sarah menang mana gitu kan.
Let's say kalau misalnya mic content writing versus copywriting lebih cuan yang mana gitu kan. Let's say kalau misalnya kalau misalnya Fata gitu ya.
lebih mending konsistensi atau intensitas gitu kan. Something like that gitu. Nah, jadi itu yang eh A versus B.
gitu. Nah, jadi itu yang eh A versus B.
Jadi kita harus tahu yang mana yang lebih bagus di antara kedua ini kita kasih alasannya. Nah, yang terakhir
kasih alasannya. Nah, yang terakhir teman-teman kalau misalnya Teman-teman lagi malas ini semua tuh butuh riset dan butuh mikir. Kalau misalnya teman-teman
butuh mikir. Kalau misalnya teman-teman lagi malas yang paling enak adalah ini.
List. List itu apa? List itu let's say ini productivity ya.
Paling enak tuh gini. Ini pasti bikinnya enggak nyampai 1 menit. Lima buku yang mengubah ya patah ya Zia ya. Jadi ini udah paling gampang di apapun bisa productivity bisa
aja bilang lima buku yang mengubah hidup gue gitu kan. Atau enggak kalau misalnya di keuangan lima e lima bisnismen yang mengubah sudut pandang gua terhadap uang gitu kan misalnya. Atau misalnya
Bandoro.
Em, gua mau ngomong lima breathing teknik, tapi enggak breathing teknik juga gitu. Misalnya lima fakta tentang
juga gitu. Misalnya lima fakta tentang anxiety yang harus kamu tahu. Apa yang
membuat ini list? Karena ada angkanya di sini ya. Jadi 4 5 7. Nah, biasanya kalau
sini ya. Jadi 4 5 7. Nah, biasanya kalau misalnya kita ngomongin list enaknya tuh 5 sampai 7 teman-teman gitu. So, that's
what we normally do here ya. ini gua
gua duplicate dulu supaya ini kita bisa hapus.
So, that's pretty much it for what I would like to share. Jadi, ini adalah yang bisa kita lakukan teman-teman untuk satu konten kita twist jadi delan konten yang berbeda. So, now I'm going to
yang berbeda. So, now I'm going to demonstrate satu topik nih. Tadi kan
cuman kita pecah-pecah nih topiknya. So,
give me a topic yang teman-teman mau bahas deh. Kalau misalnya mau missnya
bahas deh. Kalau misalnya mau missnya masing-masing juga boleh. Tapi chat aja topiknya mau apa nih? Nanti kita bahas satu topik kita tulis jadi angle yang berbeda-beda. Karena kan tadi
berbeda-beda. Karena kan tadi topik-topiknya beda-beda ya. Nah, ada
yang mau request enggak topik apa?
Kita langsung bikin live bi are improm to positive psychology.
Oke, Teman-teman ada yang tahu positif psychology enggak? By the way,
psychology enggak? By the way, V coba dong jelasin ke teman-teman dulu positif psychology apa?
Aduh. Jadi sebenarnya singkatnya itu adalah kalau yang ee psikologi pada umumnya yang terkenal itu kan psikologi
tradisional di mana ee psikologi itu terlihat untuk merubah atau menyehatkan orang-orang yang tanda kutip sakit gitu kan. Di mana kalau positif psychology
kan. Di mana kalau positif psychology itu adalah eh bro kita kan enggak semuanya sakit ya gitu. Eh, ini nanti akan jadi konten sih, tapi ya jadi contohnya kayak kalau orang-orang kalau
sakit ke dokter gitu, tapi kalau eh positive psychology itu lebih kayak oh ini vitamin-vitamin yang bisa lu e pakai. Jadi lu sebenarnya enggak enggak
pakai. Jadi lu sebenarnya enggak enggak sakit sih, tapi lu bisa menjadi diri lu yang lebih optimal lagi. Nah, positive
psychology itu lebih ke situ. Oke, sip.
Thanks, Vine. Eh, specifically about positive psychology kan cukup broad ya, I mean ya, karakter, strength lah, flow lah.
He.
Ada spesifik enggak yang kita mau bahas?
Em, well, sebenarnya sih kepikirannya pas awal-awal ini memang buat mengenalkan positive psychologinya aja sih. Emang
kayak jadi emang cukup broad, tapi karakter strength boleh ya. Karakter strength ya. Karakter
ya. Karakter strength ya. Karakter
strength itu apa coba?
Karakter strength itu adalah bahwa jadi kayak nge-quisin ya. Ini pasti
teman-teman tahu ya V ya.
Iya. Iya enggak apa-apa. Bagus.
eh character strength itu jadi ee bahwa setiap manusia itu ya gimana ya pada dasarnya punya 24 dasar kekuatan lah
yang maksudnya ini udah pakai riset dan lain-lain ee pakai latar belakang apapun dan lain-lain. Ini ada 24 kekuatan yang
dan lain-lain. Ini ada 24 kekuatan yang semua orang punya kok. Jadi ini tuh kayak misalkan kalau yang terkenal ee apa ya, MBTI atau apa gitu-gitu kan kayak orang oh manusia seperti apa dan
lain-lain. Nah, kalau karakter streng
lain-lain. Nah, kalau karakter streng ini semua orang nih punya nih 24 kekuatannya. Jadi bukan yang kayak ee oh
kekuatannya. Jadi bukan yang kayak ee oh berarti nomor 24 tuh yang paling eh lu jadi enggak punya gitu karena itu di 24 enggak kayak kita punya semuanya. Dan ya
sebenarnya lebih baik kalau kita ee memperhatikan seluruh 24-nya ya karena berguna semuanya gitu. Kayak pemain bola kalau
semuanya gitu. Kayak pemain bola kalau Kak SW suka ngomong ya. Main bola kan yang cadangan juga dilatih ya gitu.
Ibaratnya kayak strah ya. Jadi kekuatan
ya kita ngebahas itu.
Oke sip. Actionable-nya nih kita ngg ya.
Jadi topik karakter str kita coba twist jadi delan topik yang berbeda ya. Kalau
misalnya actionable paling gampang gini cara misalnya something like this we can do it cara menjadi versi terbaik dari diri kamu. Kenapa? Karena kita nglist down
kamu. Kenapa? Karena kita nglist down how we can become the best version of ourself gitu ya. Nahiral
based on inspiring people gitu kan.
Eh, oh sor ini alasan kenapa something like this. Eh, Vine, ini adalah alasan kenapa Michael Jordan
misalnya menjadi atlet paling dikagumi sepanjang masa. Karena ada misalnya dia
sepanjang masa. Karena ada misalnya dia relynya on his character strength gitu, bukan his weakness gitu kan. Something.
Nah analytical.
Oke, analytical. Let's say
company.
H ini gua asal aja ya. H
menerapkan satu misalnya ini kita ganti deh ada tua ya misalnya TikTok menerapkan satu heksikologi Ini yang membuat mereka jadi perusahaan nomor satu di 2024.
Something like that. Ini btw datanya ngasal ya.
H negative pain. Negative pain. Stopping
negative pain. Negative pain. Stopping
people's attention by leveraging their negativity bias. Nah, kita harus
negativity bias. Nah, kita harus identify dulu fearnya apa, dreamnya apa.
Like we always know, gitu kan.
e eh rahasia tanpa Misalnya something like this.
Bentar. Btw, ini kita wrap dulu biar ini agak agak sedikit strong sih, tapi ini contoh aja ya, V ya. Misal
kalau kamu enggak lakuin ini maka kamu akan depresi seumur hidup. Kalau
misalnya kamu enggak jadi kita ngeportray kalau misalnya lo enggak ng-develop karakter strength lo ya lu enggak akan bisa begini gitu.
Kalau misalnya kita mau jadi orang yang tahan banting ya tanpa tanpa harus ke psikolog ya kita bisa leverage our character str something like that gitu
kan. Nah
kan. Nah ini ini agak sedikit opposite ya.
Nah, iya sejurnya memang lagi mau ngegodok konten yang hook-nya mungkin kayak ngapain psikolog enggak guna gitu, tapi agak ya iya ya kayak gitu.
Nah, gitu. Nah, jadi something like that.
Oke. Misalnya ya ee dep eh apa ya? A versus B ya yang enak ya.
apa ya? A versus B ya yang enak ya.
Hm.
P misalnya yang gampang banget ya.
Psikolog psikologi positif apa psikologi kuratif ya.
Eh tradisional sih ini omongin heeh tradisional gitu. Something like this gitu kan. Ini
gitu. Something like this gitu kan. Ini
misal tujuh cara supaya kamu bisa jadi pribadi yang lebih tangguh yang lebih kuat. Something observation.
kuat. Something observation.
Nah, something like this. Nah, ini bisa dibawa pulang ya, bisa kamu jarin konten.
Yes yes ya. So, habis ini e linknya kan aku udah
ya. So, habis ini e linknya kan aku udah share jadi you guys can take a look.
Jadi, Vinya juga bisa pakai. Bear in
mind teman-teman ini gua live ya, jadi gak gak gak staged gak anything. Jadi
emang seadanya yang ada di pikiran gua gua tuangkan aja. Ini kalau misalnya gua kerjain empat kayaknya gua bisa lah bisa
bisa ngasih free service ke kalian gitu.
Ee ini gua gua emm kerjain dua e kerjain satu lagi deh teman-teman ya. Biar nanti
teman-teman latihan sendiri habis ini kita Q&A ini kan. Jadi masih ada tiga nih set hassle overthinking sama deep work. Teman-teman tolong coba komen dong
work. Teman-teman tolong coba komen dong yang teman-teman mau kita yang mana komen ya. Saras Nasel
komen ya. Saras Nasel yang lain gimana?
Mau dibahas topik yang mana?
Sara aja baik banget sih Zia perhatian banget.
Oke kita bahas ya dengan senang hati V.
Oke, kita bahas hasle. Nah, ini sama aja. Jadi, framework berpikirnya kayak
aja. Jadi, framework berpikirnya kayak tadi, Teman-teman. Satu angle kita twist
tadi, Teman-teman. Satu angle kita twist aja kayak tadi ya. Misalnya actionable
nih ada ini jadi lebih gampang. Kalau
misalnya udah ketemu satu, Teman-teman, jadi lebih gampang. Kenapa? Karena
tinggal dikopas terus tinggal kita ganti aja subjeknya. Benar ya? Cara untuk bisa
aja subjeknya. Benar ya? Cara untuk bisa dapetin R10 juta pertama dari sideite hassle di segampang itu, Teman-teman.
Kalau udah ada contohnya framework-nya tinggal dikopas semuanya subjeknya diganti nih. Tinggal kita kopas lagi
diganti nih. Tinggal kita kopas lagi nih. Benar nih. Ini adalah alasan kenapa
nih. Benar nih. Ini adalah alasan kenapa jadi content creator ini. Ini kita ganti adalah ini. Ini
ini. Ini kita ganti adalah ini. Ini
alasan kenapa jadi content creator adalah hassle terbaik selama 10 tahun ke depan. bisa lihat something like that
depan. bisa lihat something like that bisa analytical ee misalnya kita
siapa ya ee e pebisnispisnis deh dari misalnya menerapkan satu money hack Ini kembang 10 kali lipat something like
that gitu.
Negative pain. Kalau kamu enggak lakuin ini maka kamu akan gampang banget ya.
Tinggal kita ganti depresi jadi miskin ya kan. Terus ini next kita ganti
ya kan. Terus ini next kita ganti rahasia menjadi milion pertama.
milioner pertama dalam keluargamu tanpa harus kerja kantoran. Benar
enggak? Sudah dapat nih set hasle. Ini
juga menjawab Erwin nih ya. Nah,
berhenti pergi. Eh, nah ini opinion berhenti kerja kantoran karena ini
cuman buang waktu dan masa depan lo ini gua nulisnya seakan-akan gua berbahasa seperti Sara gitu ya. Terus misalnya ini gua
gitu ya. Terus misalnya ini gua menerapkan satu habit ini dan satu habit ini dan dan
tabungan gua naik lima kali lipat dalam 2 bulan misalnya something like that. By the
way, quick tips teman-teman orang-orang tuh suka data. Jadi throw in some numbers misal kayak gini nih gua menerapkan satu habit ini dan naik lima kali lipat dalam 2 bulan ini orang makan
banget nih kayak gini seara nih jadi bisa dipakai yang kayak gini karena ada data, ada real data lalu A versus B misalnya ya tadi ya versus crypto misal
kripto yang mana lebih cocok jadi side hasle ya
Ya, bisa kita gitu.
Terus last list tujuh side hassle yang kamu bisa coba sekarang walaupun masih
SM kelar nih. Cepat kan? Enggak nyampai
5 menit sekarang bikin kayak gini. So,
that is the way teman-teman. I've laid
down the foundation. Ini kerangkanya
template-nya udah ada. Jadi kalau
misalnya teman-teman mau ganti tadi kan ada overthinking ya, ada Bandoro eh Fata juga deep work ini tinggal diganti aja cara untuk bisa berhenti overthinking hanya dalam 1 menit. Ini adalah alasan
kenapa eh ini adalah alasan kenapa tokoh terkenal enggak pernah overthinking sebelum maju ke panggung. Something like
that. Atau misalnya deep word. Ini
adalah cara kamu bisa e menyelesaikan kerja 8 jam hanya dalam 4 jam. Ya, gua
konten gua eh something fata gitu kan ya. Jadi tinggal di kuis aja gitu.
ya. Jadi tinggal di kuis aja gitu.
Ini kalau enggak kerja kantoran gak bisa beli MCH.
Oke, Teman-teman, that's pretty much it.
Maybe would like to know your opinion.
What do you think about this content matrix? Apakah helpful untuk membuat
matrix? Apakah helpful untuk membuat ide? Cukup helpful, cukup baru tahu ada
ide? Cukup helpful, cukup baru tahu ada ini atau ini mah gua udah tahu. Boleh
dong share pendapatnya teman-teman dari Zia. Btw, semua angle ini optimal
dari Zia. Btw, semua angle ini optimal di tipe contontu segmented kayak beberapa untuk talking eh Zak ini gua udah coba karena gua main Twitter juga kan
walaupun lagi rehat gua main Twitter, gua main Instagram, gua main TikTok, semuanya works bro.
Jadi for every content, every format works that I can say gitu. Enggak bantu
pisan ya, Vin apalagi ya dibikin Vnya di konten ya enak ya tinggal masukin konten plan ya Vnya ya. Oke,
thank you.
Dengan senang hatilah, santai aja.
Sebenarnya udah beberapa kali nyobain tu angle, tapi lebih terstruktur. Jadi, ya
Fata, ee karena kadang-kadang kita mikirnya lari-lari aja gitu kan. Gue
tahu nih ini gua bisa twist ke sini, ini gua bisa twist ke sini, tapi you don't know the big picture. Kayak kita belum tahu big picture. Nah, jadi ketika kita ngel down dalam foundation kayak gini,
it becomes a lot easier to actually really understand kita mau ngapain.
Basically, Teman-teman, what you can do kalau misalnya teman-teman mau gila adalah konten 6 bulan bisa jadi hanya dalam 1 jam. Kalau misalnya teman-teman gini kan literally cuma tinggal bikin tiga template jadi yang kayak begini
bikin tiga biji yang berbeda bikin lima topik kelar. Itu udah gila banget udah
topik kelar. Itu udah gila banget udah berapa ratus konten itu. So, that's
pretty much it sih, Teman-teman. yang I
would like to share for you today. Ini
template-nya teman-teman bisa copy and paste ya. Jadi bisa di
paste ya. Jadi bisa di copy and paste nanti tinggal di ini aja tinggal di isi buat konten sendiri.
Dengan itu, you will have lot content that you can tweet from there.
Oke, so if you've reached this module, most probably this is gonna be the most fun part for you. Karena di series beberapa video ke depan kita akan ngebahas secara tuntas gimana cara kita memonetisasi lewat low ticket digital
products. Kata coachnya di situ, low
products. Kata coachnya di situ, low ticket digital products. Apalagi buat lo nih content creator edukasi yang kesulitan untuk mendapatkan income dari perjalanan content creator loh. Karena
susah banget kan ya, kita dapat endorsement, kita dapat affiliate, kita dapat adsense, mungkin nature dari industri educational creator itu tuh enggak keprime ke arah-arah yang sana.
Karena contohnya kalau misalnya kita mau mendapatkan endorsan, big five-nya apa?
Let's say fashion, lifestyle, travel, FnB, skin care, ya kan? Jadi enggak
masuk tuh edukasi ke sana, enggak masuk productivity, bisnis itu tuh jarang banget. Jadi, productivity, tag atau
banget. Jadi, productivity, tag atau bisnis atau nich apapun itu yang kategorinya edukasi kadang-kadang akan suka sulit untuk diselipin endorsement yang seperti demikian. Nah, karena itu brand juga jadi susah datang ke kita.
Nah, sekarang cara monetize-nya gimana?
It is by monetizing your knowledge, your info. So, with that said, let's deep to
info. So, with that said, let's deep to it. Gimana cara memonetiz akun lo kalau
it. Gimana cara memonetiz akun lo kalau misalnya lu adalah seorang educational content creator?
What's up? This video is going to be very interesting karena di video kali ini kita akan ngebahas yang namanya value lether. Dan ini adalah salah satu
value lether. Dan ini adalah salah satu topik favorit gua ketika kita ngobrolin tentang monetisasi. Karena kalau
tentang monetisasi. Karena kalau misalnya kita menguasai ini, kita bisa literally double triple or even quadruple our business literally karena kita ngerti konsep value leather ini. So
value leather ini maksudnya apa? Jadi
kita ada dua ais ya, ada value ya, ada price. Nah, jadi semakin naik value
price. Nah, jadi semakin naik value kita, price-nya bisa semakin naik juga.
But sometimes people perceive value itu kan differently ya. Jadi itu yang harus kita taker baik-baik di sini. Oke. Nah,
jadi di sini ada beberapa fase sebenarnya. Kalau misalnya kita lihat di
sebenarnya. Kalau misalnya kita lihat di sini gampangnya ada bait, front end, middle, back end, sama ada yang namanya profit maximizer. Ini adalah program
profit maximizer. Ini adalah program termahal kita. But kalau misalnya kita
termahal kita. But kalau misalnya kita fokus ke bait, ke front end aja, ini sebenarnya udah bisa gila banget. Ini
udah gila banget sebenarnya. Kita bisa
make large money dari sini aja udah bisa. Bahkan eh flow zone blueprint aja
bisa. Bahkan eh flow zone blueprint aja kan satu produk ya sampai bisa 3 digit per bulan itu. Padahal ini cuma baru front end doang. Dan sebenarnya udah bisa kalau misalnya kita mau double digit, triple digit per bulan tuh bisa
dengan front end doang. Imagine kalau
misalnya ada middle, ada backend sama ada profit maximizer bisa gimana potensinya? But let's focus on here
potensinya? But let's focus on here dulu. Karena kalau misalnya ininya aja
dulu. Karena kalau misalnya ininya aja kita belum benar, kita ke belakangnya akan susah ya. Jadi di sini kita akan fokus ke dua hal ini. Bait itu kita bisa sebut juga sebagai yang namanya lead
magnet. Oke.
magnet. Oke.
Nah, front end itu kita bisa sebut juga sebagai yang namanya core offer.
Bedanya lead magnet sama core offer apa?
Lead magnet itu adalah hal yang kita kasih secara gratis dan mereka atau audience kita bisa tukarkan dengan data mereka dengan nama, nomor HP sama email mereka. Jangan anggap bahwa ini tuh
mereka. Jangan anggap bahwa ini tuh nothing karena bukan duit. Ini tuh
adalah duit yang ditanamkan oleh mereka di awal-awal. Karena data kita bisa
di awal-awal. Karena data kita bisa pakai terus-menerus untuk kita dalam tanda kutip gangguin mereka. Ya, jadi
itu sepowerful itu. Orang ketika naruh data dan mereka tukarkan dengan produk gratis kita itu udah menunjukkan intent yang luar biasa sebenarnya sampai mereka rela loh buat ngetik data mereka, ngasih
data informasi mereka untuk bisa dikirimkan produk kita. Itu udah crazy banget sebenarnya gitu. Nah, ini kita bisa nurture nanti ini di sini. Nah,
ketika kita sudah bikin ini baru kita bisa tawarin yang ini nanti ya. Jadi
fungsi yang pertama ini itu adalah kita kasih gratis supaya kita bisa dapat data mereka. Nah, ketika kita sudah dapat
mereka. Nah, ketika kita sudah dapat ini, kita bisa dengan gampang menawarkan yang ini. Jadi, ibaratnya pintu masuk ke
yang ini. Jadi, ibaratnya pintu masuk ke sini dari sini, nanti pintu masuk ke sini dari sini, pintu masuk ke sini dari sini seterusnya, gitu. Nah, tapi
kadang-kadang ada orang yang langsung skip, enggak ada pintu dua ini langsung masuk ke sini, enggak ada pintu dua ini, tiga ini langsung masuk ke sini. Itu
possible juga sebenarnya. Nah, tapi
untuk cara kita yang akan kita lakukan di program ini, kita akan pakai lead magnet, terus kita akan tawarkan core over, gitu. Nah, jadi ini namanya value
over, gitu. Nah, jadi ini namanya value leader. Jadi semakin naik semakin mahal.
leader. Jadi semakin naik semakin mahal.
Let me give you an example biar lebih gampang. Nah, jadi productivity boy
gampang. Nah, jadi productivity boy pertama kali lahir itu kan Juni nih, Juni 2022. Nah, kita fast for 1 bulan
Juni 2022. Nah, kita fast for 1 bulan kita udah langsung bikin lead magnet saat itu tuh ini adalah kelas pertama yang productivity boy buka secara gratis
ya 2022 Juli. Oke, Juli ya. Jadi, what
happens di sini adalah lead magnet-nya itu adalah OT image class. Jadi, optimal
time management hack. Ini tuh lead magnet-nya di sini ya. Jadi, ini itu tuh lead magnet-nya. Nah, dari sini kita bisa
magnet-nya. Nah, dari sini kita bisa jual ke front and coreover. Tapi saat
itu yang gua observe adalah karena kan kita bikin kelas ini first batch batch 1 free class ada 100 seats. Tapi saat itu hanya dalam 1 hari kebook 1000 seat.
Jadi kayak karena di mana terlalu besar akhirnya gua bilang nih kayaknya enggak bisa nih kalau misalnya semuanya free karena udah terlalu banyak yang daftar.
Jadi gua langsung pindahin tuh dari yang tadinya free gua kasih harga Rp75.000.
Jadi eventually OTMH juga dari yang tadinya free bisa berubah jadi coreover juga. Nah, yang gue lakuin apa? Setelah
juga. Nah, yang gue lakuin apa? Setelah
orang udah masuk ke OTMH ini kan ada dua batch nih. Batch satu ada dua kelas,
batch nih. Batch satu ada dua kelas, terus batch du yang berbayar ini udah ada dua kelas juga. Jadi ada empat gerbang nih. Jadinya OTMH ini yang
gerbang nih. Jadinya OTMH ini yang tadinya coreover gua kasih ini harganya Rp75.000 ya. Habis itu gua upsell. Nah,
Rp75.000 ya. Habis itu gua upsell. Nah,
ini baru yang middle kita itu ada yang namanya TMM atau time management mastery. Jadi, buat orang-orang di sini
mastery. Jadi, buat orang-orang di sini gua tawarin ini nih. Nah, ini gua tawarin harganya berapa? Segini
ya. Jadi kurang lebih kayak gitu.
So, that's what I did. Jadi tadinya lead magnet tapi ada demand gua pindahin.
Jadi, OTMH ini jadi coreovernya terus habis itu ada middle productnya langsung jadi TMM. Nah, dengan nge-utilize ini
jadi TMM. Nah, dengan nge-utilize ini aja dalam 1 bulan pertama gua ngemonetize itu hasilnya R0 juta dari OTMH nih ya. Jadi dari OTMH ada dua
kelas, optimum time management hack ada dua kelas ya. Free class and batch 1 di kami sama satu. Terus ada batch 2 di sini ya kami sama satu juga gua upsell
ke sini. Nah ini hasilnya R juta. So
ke sini. Nah ini hasilnya R juta. So
that's the power of value leather. Kalau
kita ngerti lead magnet, kita ngerti coreover, kita bisa nge-ups ke sini.
Udah enak banget. Jadi yang perlu kita lakukan adalah tentuin minimal ini dulu.
Jadi enggak usah ribet-ribet. Kita e
bait-nya dulu. Kita ngomongin-nya dulu.
Terus kita ngomongin front end. Front
end-nya ya. Terus kita ngomongin middle-nya.
ya. Terus kita ngomongin middle-nya.
Kita ngomongnya ini dulu deh. Enggak
usah enggak usah ribet-ribet sampai middle. Kita sampai core over depan sini
middle. Kita sampai core over depan sini aja tuh udah luar biasa sebenarnya. So
that's what we can do. Jadi tugas kita sekarang adalah tentuin bait-nya mau apa sama nanti front end-nya mau apa, lead magnet-nya mau apa, corever-nya mau apa.
Kita akan latihan bareng-bareng, kita akan nentuin ini bareng-bareng di bagian offer creation exercise. Oke, hope you guys have fun and enjoy.
Okay, guys. So, what is the funnel that you can use to make your first or next 100 million rupia? Oke. Nah, jadi
sebenarnya gua pengin ng-reflect back lagi nih ke si value leader yang kita sudah bahas sebelumnya. Kan kita semua tahu ya bahwa ada lean magnet, ada tripwire, ada core offer, ada profit maximizer. Oke. Nah, lean magnet ini
maximizer. Oke. Nah, lean magnet ini sifatnya free kan ya. Jadi kita tuh menukarkan data ya untuk mendapatkan sebuah akses ke info product secara free yang sebenarnya enggak free-feet karena
kita bayar data kita gitu kan, dapat nama, nomor, HP, email yang kita bisa gunain di ke depannya untuk bisa nge-follow up our audience gitu. Nah,
next. Ini mirip kayak lead magnet.
Bedanya ada harga sedikit ya. Jadi ini
range-nya sekitar Rp20.000 sampai Rp100.000 nih. Oke. Nah, next ada core
Rp100.000 nih. Oke. Nah, next ada core offer. Oke. Coree offer ini sesuai
offer. Oke. Coree offer ini sesuai namanya core. Jadi ini adalah produk
namanya core. Jadi ini adalah produk utama kita yang seringkiali kita jual dan kita distribusikan secara massal gitu. Nah, ini range harganya Rp100.000
gitu. Nah, ini range harganya Rp100.000 R000 sampai R1 juta. Nah, ada yang namanya profit maximizer. Oke, dari R1 juta sampai R10 juta. Oke, kita mungkin enggak ngharapin dapat banyak sales dari
sini dalam artian dalam bukan banyak quantity dari sini, tapi sekali kena bisa lumayan kegebok rezeki juga gitu kan kerasa gitu. Nah, lalu yang terakhir adalah yang udah lebih ekstrem lagi
yaitu di atas R juta gitu. Nah, if you wanna to do our first 100 million, I would suggest you guys to focus on just this. Segini aja udah cukup kok. Oke,
this. Segini aja udah cukup kok. Oke,
jadi kalau misalnya kita mau achieve R juta, fokus ke sini dulu aja. Enggak
usah pikir yang ini. Trust me. Enggak
usah pikiran yang ini dulu. Fokus ke
sini dulu. Ini belum bisa baru eh ini udah bisa baru lanjut ke sini. Jangan
sampai ini masih babak beluru. Udah mau
main-main ke sini ribet ya. Orang aja
enggak mau beli produk lu Rp100.000, gimana orang mau beli produk lu R juta gitu. Kebayang gitu ya. So what is what
gitu. Kebayang gitu ya. So what is what are the types of digital products yang you can sell? Oke, ada banyak tipenya.
Ada webinar, ada online course, ada ebook bootcam workshop templates paid community, paid newsletter, coaching, consulting, and many more. So,
sekarang pertanyaannya yang paling bagus yang mana? Enggak ada yang paling bagus.
yang mana? Enggak ada yang paling bagus.
Oke, yang ada yang paling cocok sama lu.
Sama aja kayak konten format juga.
Enggak ada konten format paling bagus.
Yang ada hanya yang paling cocok sama lo. Kalau misalnya lo jagonya ngajar
lo. Kalau misalnya lo jagonya ngajar kayak live ngajar gitu, bikin webinar bisa, bikin workshop bisa. Kalau
misalnya lu jagonya bikin video, ya lu rekam dan lu ngajar di video itu bikin online course. Kalau lu jagonya nulis,
online course. Kalau lu jagonya nulis, bikin ebook. Kalau misalnya lu jagonya
bikin ebook. Kalau misalnya lu jagonya bikin template, ya bikin template. Kalau
lu jagonya bangun komunitas, bikin komunitas. Ya, kalau misalnya jagonya
komunitas. Ya, kalau misalnya jagonya consulting and coaching, ya bikin consulting and coaching. Jadi tergantung
strength.
Jadi make something based on your strength. Karena apapun itu akan bisa
strength. Karena apapun itu akan bisa dijual pada akhirnya. Oke. Nah, ini gua pengen share sedikit beberapa case tadi some of the best funnels yang kita udah lakuin buat value creator sendiri, buat
productivity boy dan buat our partners and clients ya.
Biasanya yang kita lakuin begini nih.
Jadi kita bikin eh triper sama coreover ya. Jadi kan selalu e stacknya begitu.
ya. Jadi kan selalu e stacknya begitu.
Trip sama coreover. Tripower-nya kita
bisa jual Rp50.000. Nah, targetnya tuh sekitar 1.000 participan. Habis itu kita di webinar ini kita enggak full edukasi.
Jadi sebenarnya di dalam webinar ini ini tuh kita story selling ya. Kita story
selling kita jualan. Jualan apa? Jualan
coreover ini ya. Kita jualan coldover ini kita jual 399. Nah kalau misalnya kita totalin 1.000 partisipan itu tuh Rp50 juta. 250 participan itu tuh Rp99
Rp50 juta. 250 participan itu tuh Rp99 juta. Kalau misalnya inhit target ya ini
juta. Kalau misalnya inhit target ya ini 149. Kalau misalnya kita dapat 80% atau
149. Kalau misalnya kita dapat 80% atau 70% aja ya juga udah R jutaan. Jadi not
bad at all. And ini works di our case ya. Karena setiap kali kita nglaunch
ya. Karena setiap kali kita nglaunch sesuatu tuh pasti selalu triple digit gitu. Nah, ini adalah sesuatu yang
gitu. Nah, ini adalah sesuatu yang sifatnya less agresif. Kalau misalnya
kita more agresif bisa. Cuma tinggal
kita ganti corover-nya aja. Kita ganti
corovernya di sini ya.
Yang satu sedikit ee harganya tapi yang beli 250 nih. Yang satu harganya lebih mahal tapi yang beli 50. Ini bisa juga kalau misalnya kita mau pakai cara ini.
Kurang lebih income-nya sama tuh ya sekitar 149 140 ya. Enggak bisa kita expect kalau misalnya kita jual segini yang beli juga 250 W itu namanya ngimpi.
Sebenarnya bisa kalau jago, tapi kalau misalnya sebagai beginner rasanya susah ya. Jadi kalau misalnya kita targetin
ya. Jadi kalau misalnya kita targetin segini sih masuk akal ya. Jadi ini
adalah nomor yang sudah tervalidasi, yang sudah terbuktikan. Kalau misalnya
kalian penasaran RAM buktinya mana, gua bisa kasih screenshot screenshot-nya ya.
Jadi ini adalah sesuatu yang kita sudah achieve sebelumnya gitu. Nah, next. Atau
enggak sebenarnya bisa juga kita enggak usah pakai coreover kita full repire.
Jual Rp50.000 buat 2.000 participan Rp100 juta juga. Atau enggak kita jual corver doang enggak pakai trip 399.
260 participan tiap bulan R juta juga ya. Nah, jadi sebenarnya enggak ada yang
ya. Nah, jadi sebenarnya enggak ada yang salah, enggak ada yang benar di sini.
So, what I'm trying to say here is that yang penting kita fokus ke sini ya. Kita
harus tahu lead magnet kita apa, trip kita, corover apa ya. Nah, pilihannya
apa aja ini ya. Terus nanti mau jualnya gimana kita
ya. Terus nanti mau jualnya gimana kita discuss bareng karena this is very personalized. Bisa jadi funel ini enggak
personalized. Bisa jadi funel ini enggak cocok sama lo. Bisa jadi ada orang yang cocoknya jualannya begini, ada orang cocoknya jualannya begini. ada orang
cocok jualannya begini dan begini gitu.
So, ini basic-nya aja ini cara berpikirnya. Nanti your actual funnel,
berpikirnya. Nanti your actual funnel, your actual value leader. Kita bahas
bareng ya secara one onone one ya.
Supaya nanti lu bisa benar-benar mendapatkan personalized feedback dan personalized strategy secara optimal. Oke, but this is how you actually construct your
funnel gitu.
What's up? Welcome to this video. Nah,
di video kali ini gua mau ngebahas soal yang namanya te shout. Ini adalah cara yang gua lakuin supaya kita bisa mempromosikan offer kita dengan elegan.
Karena lu pernah enggak sih kayak ngelihat content creator nih, terus dia jualan online course misalnya, terus kayak dikit-dikit klik link di bio, dikit-dikit klinkling di bio gitu ya.
Jadi kayak every time kita buka konten dia di akhirnya klik link di bio ya.
Atau misalnya kayak kita buka story-nya klik link di bio ya. I mean kayak yes we get it gitu kan. You have such a great course, I understand. Tapi kayak itu rahasia tuh kayak kita tuh dijejelin gitu, woi beli woi. Gitu kan. And
sometimes people don't want that. Ketika
kita melihat itu dan orang-orang lain, audience kita misalnya ngelihat kalau misalnya kita ngelakuin itu orang kayak chill man, chill gitu. I I got it. You
have a course gitu kan. Nah, jadi gimana cara kita bisa mempromosikan dengan elegan supaya ketika orang melihat apa yang kita share ke mereka, mereka jadi tertarik. Nah, kita bagi ini jadi tiga
tertarik. Nah, kita bagi ini jadi tiga fase. There's tease, there's tell, and
fase. There's tease, there's tell, and there's shout. Kita mulai dengan tease
there's shout. Kita mulai dengan tease dulu. Masing-masing dari tiga fase ini
dulu. Masing-masing dari tiga fase ini punya objektif yang berbeda. Ya, kalau
misalnya tease objektifnya itu tuh enggak bukan kita ngasih tahu, "Hei, I have a course, hey, I have a digital product." He gua punya offer baru.
product." He gua punya offer baru.
Bukan. Fungsi dari teala cuman bikin orang penasaran, nih orang lagi bikin apa ya? Kayaknya seru nih. Nah, kurang
apa ya? Kayaknya seru nih. Nah, kurang
lebih kayak gitu. Tipe kontennya gimana?
Sesimpel kita bisa bikin IG story, kita bisa bikin TikTok post, kita bikin IG reels, IG carusel post, IG post feit gitu ya. Kita lagi foto, anything
gitu ya. Kita lagi foto, anything simple. Kayak kita lagi ngedokumentasiin
simple. Kayak kita lagi ngedokumentasiin behind the scene aja. Kita kita lagi mengerjakan offer kita. For example,
kita lagi bikin buku, misalnya kita lagi nulis buku nih, kita tinggal ambil HP kita aja terus kayak kita ngerekam terus kayak kita ngasih lihat gitu loh. Terus
kayak kita gini doang or something and then kayak udah stop the story. Jadi
cuman literally ngasih lihat kita lagi have something under the works going on gitu loh. Cuman ngasih lihat bahwa kita
gitu loh. Cuman ngasih lihat bahwa kita lagi working on something. As simple as that. Kita ggak usah bilang kita lagi
that. Kita ggak usah bilang kita lagi bikin ini, kita lagi bikin itu. Enggak.
But do it everyday. Ketika kita
ngelakuin ini setiap hari, orang jadi mikir, "Nih orang lagi ngerjain apa ya?
rajin banget tiap hari ngerjain ini.
Seru nih kayaknya orang jadi bertanya-tanya nanti orang bisa aja dim, "Kak, itu apa sih, Kak?" gitu. "Share
dong, Kak, lagi bikin apa, Kak?" Nah,
when people do that, kita bisa move on to the second phase, which is tell. Tadi
kita udah teas, sekarang kita tell. Hai,
Teman-teman. Thank you ya udah pada kepoin bla bla bla. Iya nih, aku dari 1 bulan lalu, dari 2 bulan lalu, dari 1 tahun lalu aku udah ngerjain ini nih buat kalian seru banget. Ada yang bisa tebak enggak ini apa? Nah, jadi kita bisa engage juga sama audience kita.
kita buka question box, kita kasih poll or anything gitu ya. Oke, habis itu kita bisa reveal, "Oke, I'm actually working on my new course nih. I'm actually
working on my new book. Namanya ini
bakal dapat ini ini aja tentang ini.
Tertarik enggak? Bla bla bla enggak ini itu enggak." Nah, itu kita bisa lakuin
itu enggak." Nah, itu kita bisa lakuin itu. Itu tell. Jadi, yang tadinya kita
itu. Itu tell. Jadi, yang tadinya kita cuma kiss, kita pengin bikin orang penasaran, orang udah kepok kan ini orang ngapain? Gitu kan. Terus kita
orang ngapain? Gitu kan. Terus kita
tell, eh ini gua sebenar gua sebenarnya lagi bikin ini. Nah, orang jadi klik, "Ah, gua aware sekarang dia lagi bikin ini. Gua jadi pengin e kalau misalnya
ini. Gua jadi pengin e kalau misalnya tertarik gitu ya, gua jadi pengin ngikutin terus nanti produk akhirnya gimana. Something like that, gitu kan.
gimana. Something like that, gitu kan.
Nah, itu hell kita udah declare ke orang-orang kita lagi bikin ini." Nah,
itu ketika sebelum launch. Ketika udah
launch atau menjelang launch baru kita bisa shout. Shout itu adalah ibaratnya
bisa shout. Shout itu adalah ibaratnya ya bukan teriak literally gitu ya, bukan kita bikin konten w gitu. Enggak gitu,
enggak gitu. But it's basically doing handraisers.
Jadi calling out the people yang rasanya resonate with our product dengan target market kita. Kita shout ke mereka, "Hei,
market kita. Kita shout ke mereka, "Hei, for those of you yang bla bla bla. Hei,
buat kamu yang lagi susah produktif, hei, buat kamu yang lagi insecure, hei, buat kamu yang lagi sakit pinggang, hei, buat kamu yang lagi keuangannya lagi rusak, aku lagi bikin ini nih buat kamu.
Kalau misalnya kamu ngerasa ini ini, ini, ini, DM aku kasih keyword. mau ya
DM aku join ya, DM aku wealth ya, DM aku kaya ya, DM aku bla bla bla ya, nanti aku kirimin kamu lead magnet-nya, nanti aku kirimin kamu coreover-nya. Nah, jadi
kurang lebih kayak gitu. Teas health
shout. Nah, gua rekomendasiin sih ini kita udah bisa gunain ketika kita mulai bikin lead magnet kita supaya orang udah wah apa nih pengen dong gitu. So, that's
it. How to sell elegantly supaya kita gak kliking di b ya, kliking b ya.
Nanti orang jadi pushing away from kalau misalnya kita terlalu gitu kayak kita jadi kayak bagger gitu takutnya kayak meminta-minta banget buat orang klik-klik ini bio. So let's do this
elegantly and you can do that. Ok. So
tease tell sh mantap.
So today is going to be really interesting and I'm pretty sure useful for you guys. So we're gonna talk about lead magnet mastery. Nah mungkin
beberapa dari kita masih ada yang gimana ya karena kenapa gua pilih topik ini?
Karena beberapa dari kita eh walaupun udah ada yang jalan beberapa bulan, beberapa minggu masih ada yang bingung walaupun udah ada yang bikin corover juga kayak lead magnet tuh harusnya bentuknya gimana sih? Terus seberapa
banyak sih yang harus kita yang harus kita eh bikin gitu. Terus seberapa dalam lead magnetnya, right? You guys might have might have that question. Jadi
seberapa banyak eh yang harus kita masukin di lead magnet kita, seberapa panjang? Terus habis itu lead magnet tuh
panjang? Terus habis itu lead magnet tuh formatnya gimana segala macamnya ya kan.
So today we're gonna talk about it.
Outline-nya adalah kita enggak akan ngebahas dulu lead magnet itu sebenarnya apa, terus kenapa sih kita tuh butuh bikin sebenarnya. Nah, yang paling
bikin sebenarnya. Nah, yang paling penting adalah nomor 3 sama nomor 4.
Common lead magnet mistakes. Ini adalah
this is what's gna kill your lead magnet. Karena kalau misalnya kita
magnet. Karena kalau misalnya kita melakukan kesalahan ini, lead magnet kita yang kita udah bikin capek-capek itu justru bisa backfire takutnya.
Right? Next is the value prizzation framework yang gue bakal share. Jadi
kalau misalnya teman-teman habis ini mau ngebikin lead magnet baru, this is the framework that you can use. Nah, yang
terakhir adalah backend optimization.
Gimana kita udah bikin lead magnet ngoptimize backendnya. So, first what is
ngoptimize backendnya. So, first what is lead magnet? This is pretty straight
lead magnet? This is pretty straight forward karena I assume teman-teman semua udah e baca course-nya ya. Jadi
sebenarnya udah harusnya paham. Nah, so
pop quiz teman-teman ini kan val leader kita semua tahu ya val leader itu apa.
Nah, di antara bait front end middle and back end lead magnet itu ada di mana?
Coba komen. Kalau masih salah wah gak boleh jadi graduate nih.
Pat bilang dibait ya teman-teman yang lain gimana cela?
E Thomas Putri Bait ya. Rohman gimana
nih? Bandoro,
Erwin, Sarah Bait. Yes. So it's correct teman-teman di bait ya. Btw ada Sel nanti Sella mau speech guys. Kata
kemarin udah fting speech, hari ini selling speech. Nice. Oke mulai pada on
selling speech. Nice. Oke mulai pada on cam kan. The power of Sella. Sella on
cam kan. The power of Sella. Sella on
cam, Sara langsung oncam tuh. Oke. So
bait teman-teman. Jadi, lead magnet itu ada di bagian paling awal ya, Teman-teman ya. Nah, mungkin
Teman-teman ya. Nah, mungkin kebanyakan dari kita tuh sedikit bingung sama dua term ini. Lead
magnet sama trip wire itu bedanya apa?
Lead magnet itu sama trip wire essentially it's quite similar. It's
both debate. Tapi bedanya eh by industry center lead magnet tuh biasanya tuh kita kasih gratis. Trip wire tuh
kasih gratis. Trip wire tuh mirip-mirip kayak lead magnet tapi berbayar. Nah, kualitasnya seberapa
berbayar. Nah, kualitasnya seberapa seberapa sama gitu menurut gua 111 sih cukup mirip sebenarnya. But once your lead magnet itu dikasih harga itu berubah menjadi trip wire. Sesimpel itu
sebenarnya. Jadi kedua form of product ini adalah bait supaya banyak orang bisa nyicip produk kita gitu kurang lebih.
So, next. Kenapa kita sih sebenarnya tuh harus bikin lead magnet gitu? Nah,
Teman-teman semua pasti udah pintar, udah ngerti ini juga gitu kan. Kalau
misalnya kita ke toko es krim favorit kita, whatever it is, Coldstone, Baskin Robins kek, Agendas kek, Oria kek, atau apalagi es krim yang seru gitu kan,
pasti ketika kita mau pilih flavor, kita dikasih testernya ya kan. So, it's
pretty much similar tapi not so similar gitu. It can act like a tester. Tapi
gitu. It can act like a tester. Tapi
sebenarnya enggak cuma tester. Karena
kalau misalnya mindset kita lead magnet itu supaya orang icip-icip kita doang.
Terus kalau misalnya dia suka terus eh dia beli. What if orang enggak suka?
dia beli. What if orang enggak suka?
Right? Berarti
game over dong. Yes and no. Game over
kalau misalnya kita biarin aja. Enggak
game over kalau misalnya produk kita kita improve. Kalau misalnya orang aja
kita improve. Kalau misalnya orang aja enggak suka lead magnet kita, ya itu udah sign. berarti kita harus level up
udah sign. berarti kita harus level up our product game. Ini bukan masalah marketing lagi, tapi masalah produk kita harus kita optimize. Jadi bukan sekadar tester sebenarnya. Lead magnet itu
tester sebenarnya. Lead magnet itu penting banget, Teman-teman, buat beginners. Bagi teman-teman yang baru
beginners. Bagi teman-teman yang baru pertama kali mau launch digital products. So, bagi teman-teman yang
products. So, bagi teman-teman yang masih dalam fase-fase awal, this is very important. Nah, tapi bagi orang-orang
important. Nah, tapi bagi orang-orang yang udah berkecipungan cukup lama beberapa bulan, beberapa tahun kayak gue pun ini juga sangat penting gitu. Kenapa
penting? Karena satu
aspek ini akan menimbulkan aspek-aspek lainnya sampai ke trust. Nah, yang
pertama lead magnet tuh akan nge-build report. Jadi maksudnya kayak kita tuh
report. Jadi maksudnya kayak kita tuh orang bisa perceive kita bagai eh sebagai seseorang emang in the space to actually share our knowledge, share our ideas and monetize it. Kayak people tuh
akan terbiasa dengan kita menawarkan mereka sebuah offer. Next, it builds credibility.
Orang ketika mereka ngelihat lead magnet kita, mereka jadi ngerasa nih, wah bagusnya lead magnetnya. Jadi nimbul
kredibilitas di sana bahwa this person understand what he talking about. This
person understand what she's talking about. Jadi orang bisa ngerti bahwa kita
about. Jadi orang bisa ngerti bahwa kita emang benar-benar ngerti apa yang kita bicarakan. Ini orang enggak asal ngomong
bicarakan. Ini orang enggak asal ngomong gitu. Mereka bisa tahu itu dari lead
gitu. Mereka bisa tahu itu dari lead magnet kita. Next, setelah
magnet kita. Next, setelah credibility-nya terbangun, kita akan build expectation. Jadi ketika orang
build expectation. Jadi ketika orang udah cicipin lead magnet kita, mereka akan bisa expect kurang lebih ini gratis aja gua dapat segini apalagi
berbayar gitu. Although sebenarnya itu
berbayar gitu. Although sebenarnya itu policy sih menurut gua itu cuman psychological trick karena yang gua lakuin juga em what I'm trying to do.
Bahkan sebenarnya di my lead magnet and my and my trip wire ini sedikit hack sih teman-teman. Gua lebih niat editnya
teman-teman. Gua lebih niat editnya karena kan kita akan ng-launch trip baru juga. Nanti Helmi itu akan lebih lebih
juga. Nanti Helmi itu akan lebih lebih niat ngeditnya. Sedangkan core over
niat ngeditnya. Sedangkan core over productivity boy sama HVC nanti lebih minimal on the editing side. Kenapa?
Karena so people em can see gitu loh bahwa oh ini sebenar gitu ya. Nah, tapi
mungkin kita berpikir kalau misalnya kayak gitu kita ngebongin orang dong yang di depannya udah bagus tapi yang di belakangnya jelek. Sebenarnya enggak
belakangnya jelek. Sebenarnya enggak gitu juga sih, karena at day people buy transformation.
Ironya gini, Teman-teman.
Ketika kita ngasih sesuatu yang lebih murah, orang akan lebih banyak expect.
Tapi ketika kita ngejual sesuatu yang mahal, orang akan lebih diam. Mereka
enggak banyak sor bacot gitu loh. Setuju
enggak?
If high value creator accelerator harganya R298.000, Orang pasti banyak yang komplain sesimpel itu. Kok ini kok pakai notion apa sih? Enggak ngerti notion bla
bla bla. Kok gak ada videonya sih? You
bla bla. Kok gak ada videonya sih? You
know something like that. Tapi you guys never complain, man. That's the
psychology behind it. Semakin mahal kita jual produk kita, orang akan semakin enggak complain. Kenapa? Karena we
enggak complain. Kenapa? Karena we
attract quality people. Dan when we attract quality people, yang mereka lihat tuh sebenarnya bukan seberapa bagus modulnya, tapi seberapa transformatif modulnya. Jadi, that's the
transformatif modulnya. Jadi, that's the paradigm shift yang I like to share to you guys. Jadi,
you guys. Jadi, kalau ini kayaknya bisa jadi konsep baru sih. So, when we make lead magnet, kita
sih. So, when we make lead magnet, kita bisa bikin itu secantik mungkin di luar tapi dalamnya kosong. Paham enggak sih?
Jadi, e kelihatannya bagus tapi sebenarnya isinya kosong. Kenapa? Karena
itu cuma bridging ke corover gitu loh.
Nah, tapi corover gua choose to do the exact opposite. Jadi, dalamnya itu
exact opposite. Jadi, dalamnya itu benar-benar daging banget tapi penjelasannya simplified banget. Jadi,
it builds the expectation. Next, it
builds authority. Orang udah credible, orang udah expect kita bisa mendeliver bagus. Jadi, kita punya authority in the
bagus. Jadi, kita punya authority in the space. Kita bisa menguasai
space. Kita bisa menguasai otak mereka atau pemikiran kita ketika kita berbicara soal let's say productivity, productivity boy gitu kan.
Kalau misalnya kita ngomongin mindset, mindset bertumbuh gitu. Kalau misalnya
kita ngomongin personality, Marcela gitu kan. Jadi something like that. When it's
kan. Jadi something like that. When it's
once it's done, it builds trust. Nah,
ketika trust is built, that's where the money comes in.
As simple as that. Ini balik lagi ke theory marketing funnel. Ingat ya,
Teman-teman ya, ada top of funnel, middle of funnel, bottom of funnel.
I kan ya.
Jadi, as simple as this. Orang yang di atas itu adalah orang-orang yang paling cold. Jadi, mereka paling enggak kenal
cold. Jadi, mereka paling enggak kenal sama kita. Tapi semakin bawah mereka
sama kita. Tapi semakin bawah mereka udah kenal sama kita.
Ini adalah orang yang belum pernah beli.
Ini adalah orang yang tahu kita punya produk dan penasaran buat beli. Ini
adalah orang-orang yang sudah beli gitu loh. Nah, ketika kita menawarkan produk
loh. Nah, ketika kita menawarkan produk kita ke orang-orang yang udah trust sama kita di bawah sini, most likely I don't need to pitch them. I don't need to host a webinar. I don't need to make a
a webinar. I don't need to make a landing page. Kita tinggal tawarin aja.
landing page. Kita tinggal tawarin aja.
He gua ada produk ini. Kita kirimin
email. Mau check out gak? Pada check
out. Jadi that's the power of trust.
Sebenarnya, Teman-teman. Ketika kita
mate properly, it will be able to get us the money, gitu. Nah, Teman-teman, this is where larvest get things wrong.
Basically, ini adalah tujuan dari lead magnet. Jadi, kalau misalnya kita
magnet. Jadi, kalau misalnya kita berpikir lead magnet itu sebenarnya tujuannya apa? Itu adalah buat ngasih
tujuannya apa? Itu adalah buat ngasih quick win. Nah, quick win-nya ini dalam
quick win. Nah, quick win-nya ini dalam bentuk apa? Dalam bentuk dua hal,
bentuk apa? Dalam bentuk dua hal, Teman-teman. Dalam bentuk insight dan
Teman-teman. Dalam bentuk insight dan dalam bentuk hope. Nah, bedanya apa?
Kedua ini, insight itu kita membuat mereka merasa lebih pintar. Jadi, mereka
PD sama kita. Hope itu membuat mereka merasa bahwa kita punya solusi yang bagus. Nah, jadi ketika kita bikin lead
bagus. Nah, jadi ketika kita bikin lead magnet, balik lagi quick win. Quick win artinya kita lead magnet kita tuh isinya tuh harus hal-hal yang menggerakkan kita
supaya kita take action. Dan ketika kita take action itu akan ng-drive mereka untuk ngerasa bahwa kita punya solusi terhadap masalah yang mereka punya gitu.
Jadi, lead magnet sebenarnya sebaiknya itu enggak yang terlalu edukatif, tapi yang lebih banyak exercise-nya.
Karena kita pernah tes, gua lupa percentage-nya berapa, tapi we literally made a lead magnet ya, from monk mode system kalau misal lu ingat. Tapi itu
different sih itu effort banget.
Em tapi eh itu effort banget engagementnya naik tapi sales-nya enggak naik resek gitu loh. Engagement kita naik banget ya
gitu loh. Engagement kita naik banget ya Pram sama orang-orang yang ikut tuh kita benar-benar jadi besty banget tapi sales-nya naik enggak.
Nah jadi balik lagi kalau misalnya kita mau naikin engagement ya udah kasih give a lot of value aja. Give value. Nah
balik lagi value sama insight tuh beda loh. Nah value itu kita ngajarin mereka.
loh. Nah value itu kita ngajarin mereka.
inside itu kita ngasih tahu mereka sebuah cerita atau sebuah e case. Nah,
that's different, man. Itu beda banget tuh. Itu dua aja udah beda. Nah, jadi
tuh. Itu dua aja udah beda. Nah, jadi
kalau misalnya kita kasih kebanyakan value yang naik apa? Engagementnya,
bukan sales-nya. Tapi kalau misalnya kita ngasih mereka quick win dalam bentuk insight, kita ngasih mereka sebuah informasi baru tok ya dan kita ngasih mereka harapan itu akan lebih
efektif untuk sales. Nah, jadi quick win-nya itu tuh kita bisa drive mereka dari exercise, dari contohnya gini nih, checklist kayak templates kayaknya kayak gitu-gitu tuh karena mereka pakai mereka langsung ngerasa quick fix, quick win.
Gua pakai template-nya Fata, gua langsung bisa jurnaling nih. Gua pakai
template-nya S, gua langsung tahu nih MBTI gua apa. gua pakai template-nya Sara, gua langsung eh utang gua langsung lunas nih misalnya something like that gitu. Jadi itu akan ng ng ngasih
gitu. Jadi itu akan ng ng ngasih authority balik lagi jadi jangan ngedukasi delete magnet tapi bridging. Nah itu yang paling penting karena kalau misalnya
kita ngasih too much ya people malah wah ini gua udah dikasih banyak mereka malah ngelunjak pengin lebih eh dapat banyak.
So that's the common mistake. Now this is some of the
common mistake. Now this is some of the most commonly magnet mistakes yang I find. Kayaknya ada empat atau lima deh
find. Kayaknya ada empat atau lima deh if mistaken. Sebelum gua reveal common
if mistaken. Sebelum gua reveal common mistake-nya apa aja, gua pengen ngajak teman-teman semua guess dong kayak what do you guys think is the most common lead magnet mistakes yang kita tuh
sering lakuin. Kesalahan terbesar kita
sering lakuin. Kesalahan terbesar kita dalam membuat lead magnet tuh apa sih?
Coba deh kasih tahu di komen supaya kita Iya udah dipel ya. Mengajar kata Sara ee kebanyakan info terlalu panjang Fat. Ada
yang lain Cela mungkin. Eh Rio Bandoro, Oman Thomas Erwin.
Oh.
Hm. Ini Putri udah jago banget. Emang
tinggal nglaunch doang dia sebenarnya.
Udah jago suhu.
Oke, kurang jualan. Nice. Kurang
entertain kata Erwin. Teman-teman, the
first one. Betul. Kepanjangan.
Balik lagi. Ini enggak cuman apply ke lead magnet, tapi apply ke coreover kita. People don't wanna read essays,
kita. People don't wanna read essays, man. Karena ini bukan buku. Kalau
man. Karena ini bukan buku. Kalau
misalnya buku ya lu makin panjang makin bagus gitu kan. Kecuali kita nulis buku, that applies. Panjang. Wih, banyak
that applies. Panjang. Wih, banyak
ilmunya nih. Persepsinya gitu. Tapi
course enggak kayak gitu. Pernah enggak
sih kita eh most the most rook mistake ada kalau kita bikin corover, kita nemu orang nih bikin course terus yang dia pamerin di e di value stackingnya wei
100 jam plus 60 jam plus 100 modu lebih.
Wah gua ngelihat itu gua kayak irritated sih. What the heck man? Can you not make
sih. What the heck man? Can you not make it more concise? Gitu loh. Kayak
emangnya gua mau spend 60 jam. Ini
sering banget terjadi di UDMI. Aduh gua
kesal banget orang-orang Yudemi itu tahu enggak sih? Kayak gua suka banget yang
enggak sih? Kayak gua suka banget yang diajarin bagus, dulu gua tuh pernah pernah enroll eh live coaching certificationemi kan manfulness gitu
yang ngajarin namanya K Ramsey. Mungkin
yang suka eh suka mindfulness atau suka life coaching things mungkin tahu dia.
Jadi namanya Ken Ramse dia tuh cuy 60 jam lebih man modulnya. Gu ya gua kayak untung ini certification jadi makes sense tapi imagine our course 60 jam lebih orang bakal butuh komplit-nya
berapa lama considering kita cuman punya 1 jam per hari butuh 60 hari berturut-turut gitu loh itu kalau kita enggak bolong kalau misalnya bolong 4 buluy sedangkan kita mau orang bisa
nge-compllete secepat mungkin flow zone blueprint aja itu dikomplete-nya tuh 2 sampai 3 jam itu kita kenapa sengaja structure kayak gitu supaya teman-teman bisa selesain dengan sangat cepat
apalagi lead magnet it probably Eh eh se 10% dari itu aja duration-nya.
So I would say maybe kayak 20 menit, setengah jam, 10 menit lead makan tuh udah harus selesai dibaca gitu atau harus selesai diconsume. Right? Jadi
kepanjangan.
Nah, make it rule of time adalah sebenarnya kalau misalnya bisa semakin pendek semakin bagus, I would say don't go more than 30 minutes sih. Itu udah
itu pun udah kepanjangan gitu ya.
20 minutes is good gitu. Although
sebenarnya kalau kepanjangan masalah enggak sebenarnya enggak juga. Karena
dulu kita sempat testing PPH itu tuh 40 menit bahkan Ch kayaknya bikin dulu lead magnet 1 jaman sekitar 1 jam ya S ya itu masih convert juga gitu. Sebenarnya
there's no golden rule atau gimana tapi I think it will be better aja gitu sih.
Itu preference aja gitu teman-teman. So
that's number one. Number two adalah enggak spesifik.
Maksudnya enggak spesifik apa? We don't
solve a certain problem. Kita cuman
blabber-blab doang. Kita mencoba untuk knowledge bombing gitu. Tahu gak sih?
Kayak weh, gua paling ngerti soal habit nih. Gua tulis semua soal habit gitu
nih. Gua tulis semua soal habit gitu loh. Kayak segala hal tentang habit kita
loh. Kayak segala hal tentang habit kita tulis jadi enggak spesifik. Padahal
habit itu kan kalau kita pecah banyak lagi ya Fat ya. ada morning routin lah, ada keystone habit, ada habit installation, ada night routin, ada
stacking dan lain-lain. Jadi, my
recommendation lead magnet itu tuh kita pilih satu topik aja justru one topic for one solution for one avatar.
Jadi nih, Teman-teman, satu topik buat satu solusi buat satu target market itu yang kita pakai itu lead magnet harus begitu. Nah, nanti akan kita kaitin ke
begitu. Nah, nanti akan kita kaitin ke exercise kita di akhir yang namanya master class harus ada workshop ya kalau misalnya sama gua harus ngerjain sesuatu biar teman-teman selesai ini udah ada ide buat bikin 6 lit magnet habis ini
nih teman-teman akan langsung bisa bikin 6 lit magnet. Next.
Ini yang putri bilang juga enggak ada CTA-nya teman-teman. Maksudnya apa? Kita
CTA-nya teman-teman. Maksudnya apa? Kita
udah bikin lead magnet ya kan capek-capek nih bikinnya 1 hari 2 hari apalagi sampai harus cuti gitu kan.
Anjir, kalau misalnya enggak ada yang check out sedih gitu kan. Ialah gitu.
Nah, itu kenapa terjadi? Karena enggak
ada CTA-nya di lead magnetnya enggak ada CTA-nya atau enggak CTA-nya enggak optimize.
Udah untung ada deh. Tapi kadang-kadang
masih ada yang enggak taruh CTA. Jadi
cuman pure value doang kayak, "Bro, that's ok but I think you're missing a lot gitu loh." So, enggak ada CTA. Jadi,
Teman-teman jangan lupa delete magnet tuh harus dislipin offnya.
Nah, offer itu diselipinnya kapan? Based
on my trial.
Em, ini gua buka buka data ya. Jadi
teman-teman karena ini gua baru share ke yang hadir di middle child kemarin aja tuh. Gua baru share ke Sarah, Bandoro,
tuh. Gua baru share ke Sarah, Bandoro, Putri, sama Fata.
Kan e made a webinar kan, we made a lead magnet. E, gua juga janji gua bakal
magnet. E, gua juga janji gua bakal share kan statusnya gimana kan. So, we
made three webinars. So, in three days kayak dalam 3 hari kita berhasil nge-close 50 sampai 60 juta in 3 days gitu kan. Sebenarnya itu masih kurang in
gitu kan. Sebenarnya itu masih kurang in my opinion itu targetnya sebenarnya tadi lebih banyak tapi not that bad lah gitu ya. Nah, dari
ya. Nah, dari 3 hari itu hari per hari kita nge-optimize. Jadi yang kita pelajarin
nge-optimize. Jadi yang kita pelajarin di hari pertama kita implement ke hari kedua. yang kita belajar ke hari kedua,
kedua. yang kita belajar ke hari kedua, kita implement ke hari ketiga. And we
found out CTA itu, Teman-teman, jangan ditaruh di akhir. Kita sering kayak gitu kan, kita taruh di akhir. Ada beberapa
course E LM gue yang gua masih taruh di akhir nih, bahkan scopri aja, APC aja gua belum ganti masih di akhir. Itu
harusnya diselipin di mana? Di
seperempat pertama nih. Misalnya kita
ada empat bab ditaruh di bab pertama justru.
Kenapa? supaya di bab 2 3 4 kita bisa taruh reminder.
Jadi mereka enggak decision making itu cuma di akhir. Karena mereka ketika decision making cuma di akhir, mereka cuman punya beberapa detik atau beberapa menit doang buat mikir mereka mau beli atau enggak. Tapi kalau mereka kepapar
atau enggak. Tapi kalau mereka kepapar dari awal sampai akhir, decision making time mereka keexpend dari yang tadi cuma 5 menit bisa jadiura selama durasi mereka lagi ng-consume that le magnet.
Nah, itu ningkatin probabilities buat mereka check up. So, that's really important, Teman-teman. itu yang
important, Teman-teman. itu yang itu itu yang yang kita implement gitu.
Itu gila sih my opinion. Nah, yang
terakhir adalah ini enggak ada backend optimization. Ada yang tahu enggak
optimization. Ada yang tahu enggak backend optimization itu apa? Ini
sebenarnya cuman kata-kata fancy sih, tapi ada yang bisa tebak what is back and optimization kira-kira?
Ayo, ayo. Enggak tahu. Oke, Teman-teman.
So, basically ini adalah apa yang terjadi ketika apa yang terjadi setelah mereka obtain dan setelah mereka consume. Kalau misalnya mereka beli, apa
consume. Kalau misalnya mereka beli, apa yang terjadi? Kalau mereka enggak beli
yang terjadi? Kalau mereka enggak beli apa yang terjadi? Bahasa gampangnya
follow up. Kalau misalnya kita udah bikin lead magnet tapi enggak ada automation buat ngegiring mereka sampai closing, wah itu sayang banget gitu, Teman-teman. So, itu yang perlu
gitu, Teman-teman. So, itu yang perlu kita lakuin juga. Makanya
kita kalau misalnya bikin lead magnet, I would highly recommend harus ada email follow up sequence ya tuju deh gitu loh.
Tapi kita harus bisa pintar-pintar if yes-nya. Harus bisa kita pilah. Jadi
yes-nya. Harus bisa kita pilah. Jadi
kalau misal orang udah beli kita exclude tuh kita jangan kirimin lagi. Atau kan
entar kita dimaki orang lah gua udah beli lu kirimin gua email mulu nawar-nawarin mulu. Gua pernah digituin
nawar-nawarin mulu. Gua pernah digituin tuh dulu tuh. Jadi hati-hati teman-teman gitu. So that's number four. We need to
gitu. So that's number four. We need to optimize that ya teman-teman. And this
is myite part.
Jadi ini em part ini akan menjawab banyak sekali pertanyaan soal gimana cara bikin lead magnet berapa banyak dan sedalam apa. Teman-teman ini adalah
sedalam apa. Teman-teman ini adalah framework yang gua pakai ketika kita bikin litm.
And now this is yours. You can use it, Teman-teman. Asik ya? Asik ya. So, ada
Teman-teman. Asik ya? Asik ya. So, ada
tiga bulatan besar. Let me let me jelasin
bulatan besar. Let me let me jelasin mungkin ini kedengarannya kayak sangat ini ya sangat wah intermediating apa nih ada benefit pain som gitu kan pillar apa
ya ini kita kasih contoh aja teman-teman ah ini ini nih kita kasih contoh dulu nih gini teman-teman so this is the
example ya som itu apa teach guys how can use to formulate magnetil beli ini jadi gampang banget teman-teman kalau misalnya sering enggak sih ee aduh mau
bikin lead magnet nih lead magnet berikutnya tapi idenya apa gitu kan sering bahasa apa ini le magnetnya teman-teman pakai ini pertama-tama what we need to know adalah som kita som itu
apa scope of mastery kita ya nich kita apa suka plus jagonya apa jadi basically nich kita apa kalau misalnya rama kan productivity kalau sara kan eh eh ini kan money kan kalau eh sela kan
personality misalnya fatah habit so on and so forth gitu nah Jadi kita isi SOM kita misalnya ini gua kasih contoh eh communication ya. Communication nih Rio
communication ya. Communication nih Rio nih. Rio nih. Mana Rio nih? Ini bisa
nih. Rio nih. Mana Rio nih? Ini bisa
dipakai ya Rio ya. Habis ini kalau misalnya masih ng-delete magnet kacau nih. Nah ini communication right. Nah
nih. Nah ini communication right. Nah
setelah communication teman-teman what we're gonna do adalah kita cari tahu ketika orang ngomongin soal komunikasi painp utamanya apa. Nah
painpinnya apa nih? Kita cari tahu tiga ya. Contoh
ya. Contoh kalau misalnya kita komunikasi, gua mau ngomong public speaking nih, tapi gua enggak credible. Gua enggak pernah di
enggak credible. Gua enggak pernah di depan panggung. Boleh enggak gua ngomong
depan panggung. Boleh enggak gua ngomong something likeet gitu loh, Teman-teman.
Atau enggak misalnya gua pengen nge-gaet gebetan nih, gebetan baru, tapi gua bukan bandoro gitu kan. Gua enggak
sejago itu nge-gaet cewek baru gitu kan.
Nah, gimana gitu kan caranya? Nah, jadi
enggak kredibel dia. Dia enggak tahu dia. Nah, atau enggak gua mau mulai
dia. Nah, atau enggak gua mau mulai kenalan sama orang tapi gua enggak punya network. Jadi enggak ada yang bisa ee
network. Jadi enggak ada yang bisa ee kenalin gua. gimana nih komunikasi sama
kenalin gua. gimana nih komunikasi sama orang gitu. Atau misalnya gua pengin
orang gitu. Atau misalnya gua pengin jadi professional public speaker tapi gua enggak ada profitnya, gua belum bisa monetize dari sini, gimana caranya?
Right? So, kurang lebih kayak gitu, Teman-teman. Painnya apa? Nah, ketika
Teman-teman. Painnya apa? Nah, ketika
kita udah tahu painnya, next kita cari tahu apanya? Kita cari tahu benefitnya.
tahu apanya? Kita cari tahu benefitnya.
Apa yang kita bisa kasih mereka supaya pain killer-nya tuh work, supaya hilang, right? Nah, uniknya perhatiin
right? Nah, uniknya perhatiin teman-teman. Jadi, painp ini
teman-teman. Jadi, painp ini intersection-nya kita kasih solusinya.
Painpoint ini ada intersection-nya, kita kasih solusinya. Painpoint ini kita ada
kasih solusinya. Painpoint ini kita ada intersection-nya, kita kasih solusinya.
Contoh, kalau misalnya kita enggak punya credibility dan kita enggak punya income, yang bisa menyelesaikan masalah ini itu apa sih sebenarnya?
Sesimpel kalau jabatan kita naik, jadi kita punya income yang lebih gede dan kita lebih credible. Jadi, how to kill two birds with one stone solusinya apa?
Nah, itu buat yang ini. Kalau misalnya
kita enggak kredibel terus kita enggak punya network, yang harus kita ningkatin apa? Status kita, gitu kan. Jadi, itu
apa? Status kita, gitu kan. Jadi, itu
adalah feel yang harus kita kasih ke audience kita. Statusnya harus bisa kita
audience kita. Statusnya harus bisa kita naikin. Nah, kalau misalnya kita enggak
naikin. Nah, kalau misalnya kita enggak ada income, kita enggak ada network, yang harus kita naikin apa? Ya, uangnya
gitu. Supaya kita bisa mendapatkan kedua ini. Jadi, gimana cara dapetin dua ini?
ini. Jadi, gimana cara dapetin dua ini?
Kita harus punya ini. Gimana cara
dapetin dua ini? Kita harus punya ini.
Gimana cara dapetin dua ini? kita harus
punya ini something like that. Nah,
ketika kita sudah punya solusinya, benefit yang kita bisa kasih ke mereka, yang tinggal kita formulate adalah idenya. How can we make them this way?
idenya. How can we make them this way?
That is going to be your pillars, gitu, Teman-teman. Nah, contohnya kalau
gitu, Teman-teman. Nah, contohnya kalau misalnya lu mau jadi lebih credible, apa yang harus lu tingkatin? Personal
development lu gitu. Kalau misalnya lu enggak ada profit, lu enggak ada income, yang lu perlu tingkatin apa? skill lu di sini kalau misalnya lu eh udah jago tapi lu masih enggak naik-naik pangkat yang
lu perlu tingkatin apa soft skill komunikasinya harus dinaikin interpersonalnya kalau misalnya lu enggak ada network yang harus di tingkatin apa ability to negotiate-nya kalau misalnya lu enggak
ada status yang perlu e dilakuin apa ningkatin influence-nya kalau misalnya if you don't have money, what you need to learn? sales, something like that.
to learn? sales, something like that.
Nah, jadi kalau misalnya kita melakukan exercise ini, kita akan bisa nge-find out lead magnet idis dengan sangat gampang gitu, Teman-teman. So, which brings me back to
Teman-teman. So, which brings me back to the question, berapa banyak lead magnet yang harus kita bikin? Gitu kan,
Teman-teman. Sebenarnya kalau misalnya my personal opinion, tiga itu cukup at least bisa nge-solve ini, ini, sama ini gitu. tiga aja udah cukup. Tapi kita
gitu. tiga aja udah cukup. Tapi kita
kalau misalnya ngelakuin exercise ini, kita punya enam pilihan. Nah, jadi dari enam ini teman-teman bisa bikin enam-enamnya bebas. Tapi kalau misal if
enam-enamnya bebas. Tapi kalau misal if I would recommend kita bikin tiga.
Kenapa tiga? Supaya kita bisa rotate.
Soalnya teman-teman pernah kayak gini enggak sih? E kepikiran kayak gini. When
enggak sih? E kepikiran kayak gini. When
we wan to make our lead magnet gitu ya.
Kita suka mikir, gua punya satu lead magnet, gua promosiin hari ini, gua promosiin besok, gua promosiin usaha, gua promosiin. Terus orang kesal enggak
gua promosiin. Terus orang kesal enggak yang ngelihat lead magnet gua? Maybe you
have that eh thought gitu. Orang capek
ngelihat lead magnet gua CSH mulu, Ich mulu gitu kan. Jadi aduh enggak enak nih gua sama audiens gua.
What's up? So, this video we're finally going to make our offer. By the end of this video, lo udah akan punya kerangka overlow agar lo udah bisa mulai
memproduksi dan membuat mengeksekusi digital products lu. Oke, tapi sebelum kita mulai ke sana, gua pengin nge-introduce lo beberapa mitos dan beberapa fakta terkait overcreation.
Kalau misalnya kita ngomongin over digital products gitu ya, enggak jauh-jauh dari yang paling populer tuh online course, webinar, ebook, bootcamp, ceklist, template, dan lain-lainnya.
Tapi mungkin yang paling populer tuh online course. So I'm going to take
online course. So I'm going to take online course as an example here ya.
Jadi sebenarnya orang-orang tuh enggak mau beli online course yang kayak gini nih, yang panjang banget sampai ratusan jam, yang materinya banyak banget sama website-nya bagus dan kualitas videonya kayak film di bioskop. Mungkin ini
kedengaran enggak kan ya? Lah bukannya
kualitas bagus itu tuh penting ya gitu kan. Nah, ini tuh dulu contohnya gua
kan. Nah, ini tuh dulu contohnya gua pernah bikin pick productivity cross ni kayak gini gua sampai bikin website sendiri asli gitu ya. Ini kita coba cek ya.
masih bisa enggak nih gua bikin member area kayak begini ya kan bikin membership hosting domain terus member areanya dibikin gitu nah
jadi lah malah masuknya ke WordPress.
Anyways kita coba lagi.
Ini dulu banget nih ini. Ini tuh udah inaktif selama berbulan-bulan lalu ya.
Jadi emang udah udah lama enggak di-manage ini kita akses lesson kayak begini nih. Tuh
begini nih. Tuh nih pick productivity course ya. Nah tuh
kayak begini bikinbikin begini gitu loh sampai ada member areanya, ada progress barnya segala macam. Jadi emang
benar-benar dibikinnya sebesagus mungkin lah gitu kan. But people actually don't necessarily want this gitu kan. Nah yang
mereka mau tuh sebenarnya apa? yang
mereka mau itu tuh adalah course yang bisa menjawab shark bite problems mereka. We get to that in a minute.
mereka. We get to that in a minute.
Course yang bisa memberikan transformasi course yang singkat pada dan jelas dan bisa diselesaikan secepat mungkin. So,
they don't mereka tuh enggak butuh yang website fancy-fancy kayak gini mereka tuh enggak butuh. Kenapa? Karena rasanya
tuh kalau misalnya materinya panjang sampai ratusan jam terus banyak banget effort. Jadi kayak kuliah, cuy. Ini ini
effort. Jadi kayak kuliah, cuy. Ini ini
orang tuh mau beli course bukan pengin kuliah gitu kan. Terus jadi susah gitu kan. Terlalu banyak hal yang enggak
kan. Terlalu banyak hal yang enggak spesifik. Jadi kayak going and beating
spesifik. Jadi kayak going and beating around the bush gitu loh. Jadi orang
butuhnya B, kita kasihnya A, ke C, ke D ke E, baru ke B gitu loh. Dan enggak
unik dan enggak realistis karena kalau misalnya kita menganggap mereka semua bisa belajar semuanya di KS ini itu enggak realistis gitu. So, yang
orang-orang mau sebenarnya tuh yang spesifik aja yang menjab shark bite problems mereka, ngasih mereka transformasi. Jadi, mereka tuh enggak
transformasi. Jadi, mereka tuh enggak butuh website bagus, produksi bagus.
Mereka tuh enggak butuh yang sefancy ini. Yang mereka butuhkan tuh bukan
ini. Yang mereka butuhkan tuh bukan website kualitas bagus. yang mereka
butuhkan adalah transformasi. Orang tuh
beli course tuh bukan cuman buat nonton video bagus. Mereka tuh beli course
video bagus. Mereka tuh beli course karena mereka berharap mereka dari poin A bisa ke poin B. That's what they want, right? Jadi mereka tuh butuhnya
right? Jadi mereka tuh butuhnya transformasi ya. Sesingkat mungkin kita
transformasi ya. Sesingkat mungkin kita bikin course-nya ini akan membantu supaya mereka tuh bisa lebih cepat memahami dan mereka bisa transform lebih
cepat lagi. So that's the key ya. So
cepat lagi. So that's the key ya. So
contohnya kayak floon blueprint. Di sini
gua bikin tuh minim video ya. Kenapa gua
bikin videonya sedikit dan lebih banyak tulisan? Literally flow dan blueprint
tulisan? Literally flow dan blueprint tuh coursenya begini tulisan. Karena
kecepatan orang membaca itu tuh lebih cepat daripada kecepatan orang nonton video. Right? So that's how I structure
video. Right? So that's how I structure this. Dan gua sudah memvalidasi ini ke
this. Dan gua sudah memvalidasi ini ke tim gua dan ke audiens gua yang sudah membeli course ini. Mereka bilang
rata-rata mereka menyelesaikan course ini hanya dalam 2 sampai 3 jam. Kalau
mereka duduk fokus selesai coursnya. So
that's what they need. mereka udah dapat esensinya langsung bisa praktik. That's
it. That's what you need to do gitu loh.
Literally loh. Jadi itu ya kurang lebih ya. Cepat dikonsumsi, easy to check out,
ya. Cepat dikonsumsi, easy to check out, super specific, relatable positioning ya, validated sama realistic by science.
Ini kalau misalnya dalam konteks flozen blueprint. Oke. So, what we need to
blueprint. Oke. So, what we need to understand adalah kita harus membedakan shark bite sama moskito bite. Shark bite
problem atau masalah dalam hidup audiens kita yang kalau misalnya enggak diselesaikan hidup mereka tuh akan babak belur akan berantakan. Ibaratnya gini,
bayangin ya. Kita lagi di kita lagi berenang gitu kan di laut terus ada hiu makan tangan kita habis dong tangan kita hilang dong tangan kita berdarah segala macam dong. Kritis dong. That's what
macam dong. Kritis dong. That's what
shark b problem should feel like. Ketika
kita enggak membantu audience kita untuk menyelesaikan ini, mereka jadi akan kegigit hiu rasanya. Sakit banget.
Mereka enggak bisa tidur, enggak bisa mikir, pokoknya sakit banget. Nah, kita
tuh harus nge-solve problems yang kayak gitu supaya kalau misalnya mereka dapat solusinya, mereka leganya setengah mati.
Jadi fokus untuk mencari problem yang seworth itu. Jangan fokus ke moskit
seworth itu. Jangan fokus ke moskit bite. Moskito baite itu gimana?
bite. Moskito baite itu gimana?
Problemnya kalau misalnya kita digigit cuman rasanya apa? Gatal-gatal doang.
kita tekok sedikit itu juga mati gitu moskitonya. Jadi enggak enggak enggak
moskitonya. Jadi enggak enggak enggak greget gitu ya. Tapi jangan sampai moskitonya DBD juga. Kalau misalnya
nyamuknya DBD ya enggak enak juga gitu kan. Nah jadi kurang lebih gitu. So what
kan. Nah jadi kurang lebih gitu. So what
we need to find is shark but problem.
Kira-kira problem apa sih yang worth solving? Oke. So that's where we're
solving? Oke. So that's where we're going to go to the product to offer building. Jadi ini adalah framework yang
building. Jadi ini adalah framework yang kita bisa pakai. Oke ini gua udah kasih contoh. Kita akan walk through ini. So
contoh. Kita akan walk through ini. So
sharp byte cure solution. Shark B ini adalah problemnya. List sebanyak mungkin
adalah problemnya. List sebanyak mungkin problemnya yang mereka punya supaya nanti kita bisa memilih biggest wnya apa shark buy terbesar dari problem-problem ini itu apa? Ingat ketika kita mengisi
ini, bayangkan kita lagi ada di posisi mereka dan bayangkan kalau misalnya ini terjadi terus-menerus hidup kita enggak akan tenang, kita enggak akan damai.
Problem-problemnya apa aja. Nah, jadi
kurang lebih ini mungkin yang lebih ke shark by tuh ini. Ini agak sedikit moskit by. Oke. So, kita punya
moskit by. Oke. So, kita punya problem-problem ini. Nah, kita sudah
problem-problem ini. Nah, kita sudah punya problem ini. Cure-nya apa?
Solusinya apa? Lu burn out, selesaiin kerjanya lebih cepat supaya bisa lebih cepat istirahat. Ya, jadi ini dua solusi
cepat istirahat. Ya, jadi ini dua solusi mirip-mirip ini. BTW contohnya related
mirip-mirip ini. BTW contohnya related to flow zone blueprint ya. Jadi inilah
yang gua lakukan ketika membuat course ini, gitu ya. Jadi ini kurang lebih cure-nya apa, solution-nya apa, oh focus management, oh productivity techniques.
Nanti bisa dijawaban lebih lanjut lagi.
Nah, cure sama medicine bedanya apa? Ini
adalah solusinya. Ini cara kita bungkusnya gimana? Right? Right. Nah,
bungkusnya gimana? Right? Right. Nah,
bisa aja kita bungkus ini dalam online course solusinya. Bisa aja kita focus
course solusinya. Bisa aja kita focus management ini kita kasih mereka focus playlist. Bisa aja untuk productivity
playlist. Bisa aja untuk productivity technics ini kita enggak usah ajarin mereka di course, tapi kita bikin tools-nya aja. Kita share ini tools-nya
tools-nya aja. Kita share ini tools-nya lu pakai ini aja kelar ya. So, kita list down. Bisa di-adow,
down. Bisa di-adow, bisa di-delete more row ya. Jadi kalau
misalnya kebanyakan kekurangan tinggal di-adjust saja row-nya. Oke, next kita masuk ke
saja row-nya. Oke, next kita masuk ke biggest moon. Di antara ini semua yang
biggest moon. Di antara ini semua yang paling ngena tuh yang mana menurut gue pribadi yang ini. Kenapa?
Karena karena kalau misalnya ini kelamaan ya akan burn out. Oke. So the
biggest one is this. Nah, woon-nya ini solusinya apa? Selesain kerjaan lebih
solusinya apa? Selesain kerjaan lebih cepat. So that's what we need to focus
cepat. So that's what we need to focus at. Gimana cara kita bisa membuat sebuah
at. Gimana cara kita bisa membuat sebuah online course yang bikin orang lain kerjaannya lebih cepat. Nah, dari situ gua berpikir untuk gue bisa menjelaskan ini ke mereka butuh butuh waktu berapa
lama? Sesingkat mungkin. Kalau bisa
lama? Sesingkat mungkin. Kalau bisa
online course ini harus dikonsumsi itu secepat mungkin. Nah, kita tentuin
secepat mungkin. Nah, kita tentuin durasi yang kita inginkan orang untuk menyelesain course kita tuh berapa jam supaya ketika kita nge-craft course kita, kita jadi punya patokan waktunya gitu ya. Oke, gua pikir kayaknya kalau
gitu ya. Oke, gua pikir kayaknya kalau misalnya mereka bisa selesaiin ini dalam 3 jam udah sangat oke deh dengan mereka mengkonsumsi bakterinya dan mereka juga udah tahu apa yang harus mereka lakuin setelah ini. Habis itu baru kita masuk
setelah ini. Habis itu baru kita masuk ke offernaming. Ini bagin paling seru.
ke offernaming. Ini bagin paling seru.
Nah, oleh karena itu gua namain flowzone blueprint. Cara menyelesaikan kerjaan 24
blueprint. Cara menyelesaikan kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam. Ibaratnya ini
kayak buku aja ya.
Jadi ibaratnya flow zone blueprint itu adalah atomic habits-nya. Oke, flow zone blueprint itu adalah atomic habits-nya.
Judul bukunya, judul course-nya. And
this, cara menyelesaikan kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam adalah subtitle-nya.
Justru ini yang penting. Jadi namanya
penting supaya apa? Supaya orang bisa ingat course kita. Tapi efeknya, dream outcome-nya yang kita masukin di sini.
Kalau misalnya lu baca buku Atomic Habits, ya lu akan bisa tahu cara-cara untuk build good habits and break ones.
Kalau misalnya lo beli eh FGZB flow blueprint dan lo menerapkannya, lu akan tahu gimana cara menyelesaikan kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam. Oke, that's
what we need to do. Jadi bikin title, bikin subtitle for our course. And one
thing yang gua pengen touch ini penting banget. Jarang orang bahas ini ketika
banget. Jarang orang bahas ini ketika ngomongin soal course. Oke, remember
hierarchy of needs ya. Ketika kita
ngomong hierar key of needs, kalau misalnya course kita seputar health, wealth relationship oke. Kenapa? Karena
ini eternal markets, every greenish.
Jadi orang pasti bakal makan. Kalau
misalnya kita ngomongin health, wealth, relationship terus course kita enggak laku. Bukan salah, bukan salah
laku. Bukan salah, bukan salah course-nya. Salah kitanya enggak bisa ng
course-nya. Salah kitanya enggak bisa ng ngmarketnya dengan bagus. Karena pasti
semua orang butuh, kan? Semua orang
pasti mau sehat, semua orang pasti mau kaya, semua orang pasti pengin punya hubungan yang baik. Semua orang pasti enggak mau sakit, semua orang pasti enggak mau bangkrut, semua orang pasti enggak mau kesepian. Oke, jadi three markets. Pertanyaannya gimana kalau
markets. Pertanyaannya gimana kalau misalnya course kita tuh transcendent needs? Contoh kayak productivity. Yang
needs? Contoh kayak productivity. Yang
kita bisa lakuin adalah ngframe ininya namanya atau landing page-nya kita arahin seakan-akan meng-solve
si tiga markets ini. For example. For
example. Oke, flowzone blueprint. Cara
menyelesaikan kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam supaya kamu bisa punya lebih banyak waktu main sama anak. Nah, masuk
tuh ke relationship supaya kamu bisa punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan bisnis sampingan kamu masuk tuh ke wealth supaya kamu bisa punya lebih banyak waktu untuk nge-gym,
untuk olahraga masuk ke health ya. Jadi
kalau misalnya cover kita transend needs, jangan khawatir enggak apa-apa tinggal kita connectin aja ke eternal marketing. Simple as that. So once we
marketing. Simple as that. So once we can do it, kita akan be very set lah.
Kita akan be good to go. Nah, tapi let's kita step further ya. Ini namanya, ini yang namanya value equation yang dibikin sama Alex Roosi. Oke. So, ini bagus banget. Maksudnya apa? Jadi, ada dream
banget. Maksudnya apa? Jadi, ada dream outcome, ada perceiv likelihood of achievement, ada time delay, ada effort and sacrifice, ada value. So, what we need to do adalah kita harus ngincrease
hal-hal yang ada di atas garis ini.
Jadi, kita harus meningkatkan dream outcome audience kita. Kita harus
meningkatkan perceive likelihood of achievement mereka. Dream outcome itu
achievement mereka. Dream outcome itu apa? Mimpi yang mereka mau. Kita harus
apa? Mimpi yang mereka mau. Kita harus
tahu itu persis apa. Kita catat di sini ya. dream out ke mereka apa? Terus kita
ya. dream out ke mereka apa? Terus kita
harus tahu seberapa gampang audiens kita mencapai mimpi mereka ketika membeli produk kita.
seberapa yakin produk kita akan works.
Kita harus cari tahu dan kita harus meningkatkan kemungkinan itu. Jadi kalau
audience beli produk kita, kita harus meningkatkan kemungkinan mereka untuk bisa mendapatkan dream outcome ini. Jadi
yang di atas garis ini kita harus naikin, sedangkan yang di bawah garis ini kita harus kurangin. Jadi seberapa
cepat audiens mereka bisa seberapa cepat audiens kita bisa mencapai mimpinya ketika membeli produk kita. Semakin
cepat lebih baik. Semakin sedikit waktu yang dibutuhkan lebih baik. Dan semakin
sedikit effort dan sacrifice yang dibutuhkan lebih baik. Itulah kenapa
alasannya orang tuh kalau misalnya sedot lemak lebih orang tuh lebih pengin sedot lemak daripada mereka olahraga. Betul
kan? Kalau misalnya mereka mau kurus sedot lemak gimana? Cepat banget.
Beberapa jam, beberapa hari mungkin kelar terus enggak terlalu sakit, enggak perlu ngap-ngapan, enggak perlu capek, ya kan? Sedot lemak. Jadi less time
ya kan? Sedot lemak. Jadi less time delay, eh jadi more time delay. Eh,
sorry, less time delay, less afford and sacrifice. Sedangkan kalau misalnya
sacrifice. Sedangkan kalau misalnya mereka lari tiap hari kardio capek banget dan lama banget waktunya. Nah,
jadi kurang lebih itu bagian atas ini kita harus naikin, bagian bawah ini harus kita kurangin. Apabila itu
terjadi, value dari offer kita naik, value-nya naik. Nah, itu yang perlu kita
value-nya naik. Nah, itu yang perlu kita pastikan dari sini. Jadi, ini kita bisa isi. Once we're done with that, dari
isi. Once we're done with that, dari core offer ini, kita akan bikin yang namanya lead magnet. Jadi setelah kita isi ini, kita akan ambil salah satu aspek dari sini atau kita bisa bikin hal
yang baru, kita jadiin lead magnet.
Ibaratnya apa? Goalnya apa? Supaya
audience kita bisa icip-icip course kita, supaya bisa icip-icip kita, supaya bisa icip-icip yang kita bisa kasih ke mereka. Dan goal dari lead magnet adalah
mereka. Dan goal dari lead magnet adalah bukan bikin mereka pintar. Oke, goal
dari lead magnet adalah kasih mereka seenough mungkin, secukupnya agar mereka bisa take action dan bisa mendapatkan kemenangan instan yang cepat. Karena
ketika mereka mendapatkan quick wins atau kemenakan instan yang cepat, mereka jadi merasa, "Eh, what drama tells me to do works nih. Apa yang lo bilangin ke gue pas gua coba works nih." Mereka jadi
ningkat terasnya dengan kita. Dan ketika
itu terjadi, mereka jadi pengin kerja sama kita. Mereka pengin belajar dari
sama kita. Mereka pengin belajar dari kita. So that's the go. Jangan kasih
kita. So that's the go. Jangan kasih
kebanyakan, just enough. Make it simple, make it simple, make it quick supaya mereka bisa eh supaya mereka bisa implement dengan cepat dan mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan
dengan cepat. Oke, so that's the goal of
dengan cepat. Oke, so that's the goal of lead magnet. Next, kita bisa buat lead
lead magnet. Next, kita bisa buat lead magnet itu tuh dari mengambil sebagian kecil dari coreover kita atau enggak kita buat terpisah ya. Jadi, lead magnet ini bisa menjadi jembatan ke coreover.
Kalau misalnya lu ingin viral growth mastery, viral growth mastery itu yang ini jembatan. Kalau misalnya kayak gini
ini jembatan. Kalau misalnya kayak gini gimana? Let's say lu punya e-book.
gimana? Let's say lu punya e-book.
E-book ini, let's say ada 12 bab. Lu
kasih bab satu sama du gratis. Nah, itu
tuh membagi sebagian kecil dari corover kita dikasih gratis. Atau misal lu bikin online course ada 12 chapters, kita ambil chapter 1 sama 2 kita kasih gratis. Nah, kayak gitu. Tapi so far
gratis. Nah, kayak gitu. Tapi so far dari pengalaman gua yang lebih convert, yang lebih makes sense eh bukan makes sense, yang lebih works adalah yang ini yang kedua. So, you might want to
yang kedua. So, you might want to consider that, ya. Jadi nanti habis kita tahu kita mau bikin apa, Lead magnetnya kita namain juga. Terus kita bentuknya apa, namanya apa terus ini medicine-nya
apa, packaging-nya apa, apakah online course, apakah ebook, apakah ceklist atau apa. Oke, kita bisa bikin itu.
atau apa. Oke, kita bisa bikin itu.
Setelah selesai kita bikin posternya.
Poster buat corover sama poster buat lead magnet. Posternya kayak gimana?
lead magnet. Posternya kayak gimana?
Yang kayak gini supaya kita bisa masukin ini ke landing page kita. Oke, that's
pretty much it for making your offer. I
hope this helps and looking forward to review to review sampai belibet gua karena saking excitednya to review offers. Kalau misal udah selesai bikin
offers. Kalau misal udah selesai bikin ini jangan lupa buat share ya ke offers talk supaya kita bisa feedback bareng-bareng. Thank you and good luck.
bareng-bareng. Thank you and good luck.
Oke, Teman-teman let's take a look at our screen. So, this talk about bagi
our screen. So, this talk about bagi Teman-teman yang ngikut accelerator ini sebagai refreshment ya.
Tapi pasti setelah kita udah jalan bareng selama beberapa bulan pasti akan ada angle-angle baru yang kita bisa ambil. So, we talk about it today. Nah,
ambil. So, we talk about it today. Nah,
serem. Oke. Nah, jadi hari ini teman-teman kita ngobrolin tentang yang namanya million dollar offer ini. Aku
tanya-tanya ke teman-teman dulu deh.
Kalau misalnya kita ngomongin content marketing atau content creating atau content monetization kan aspeknya banyak banget ya. Dan kita semua tahu kalau
banget ya. Dan kita semua tahu kalau misalnya ketika kita ingin menjual sebuah digital product di mana ini adalah vehicle ya atau creator kalau misalnya teman-teman udah nonton
videonya itu adalah bagian utama kita yang akan kita jual produk utama kita lewat. Nah, sekarang gua pengin tanya ke
lewat. Nah, sekarang gua pengin tanya ke teman-teman. If you are going to sell a
teman-teman. If you are going to sell a digital product, kira-kira apanya sih yang paling penting? Coba deh dari sebuah digital
penting? Coba deh dari sebuah digital product, bagian mana yang paling penting yang akan berdampak langsung ke penjualan teman-teman? Ke sales
penjualan teman-teman? Ke sales teman-teman. Jadi bagian ini itu
teman-teman. Jadi bagian ini itu ibaratnya adalah bagian yang bikin produk teman-teman paling laku. Coba deh
pas di kolom komentar. Bagi teman-teman
yang gak bisa oncam enggak apa-apa tapi I would highly recommend to interact in the chat supaya kita bisa ngobrol bareng. Nah, jadi kira-kira teman-teman
bareng. Nah, jadi kira-kira teman-teman ada yang tahu enggak bagian terpenting dari sebuah digital product itu apa?
Coba harga dan apakah digital product itu menjabat kebutuhan? Nice. Nice. So,
very nice. Oke, Teman-teman yang lain ada yang punya input? Putri mungkin.
Nah, sebagai sepuh nih dari Putri, Putri sudah tahu jawabannya.
Oke, Teman-teman. Nah, sebenarnya yang Su bilang itu tuh betul. Jadi, it's
actually the price and whether it can solve our audience problem or not. Itu
betul gak salah. Karena pricing itu merupakan sebuah aspek yang penting juga. Nah, kalau misalnya kita ngomong
juga. Nah, kalau misalnya kita ngomong pricing ada banyak ada banyak nih. Ini
aku aku share ke teman-teman. Ada yang
namanya low ticket, ada yang namanya high ticket. Low ticket itu adalah
high ticket. Low ticket itu adalah pricing point yang sekiranya cukup rendah dan orang tuh enggak enggak perlu mikir panjang untuk bisa beli produk
itu. Harganya kira-kira berapa? Harganya
itu. Harganya kira-kira berapa? Harganya
kira-kira di sekitar di bawah Rp100.000, 198, 298. Sering lihat kan kor-kor kayak
198, 298. Sering lihat kan kor-kor kayak gitu. bahkan sampai hybridated blueprint
gitu. bahkan sampai hybridated blueprint 398. Nah, mentok-mentok itu tuh 398,
398. Nah, mentok-mentok itu tuh 398, Teman-teman.
Nah, ini adalah low ticket programs. Low ticket programs itu orang tuh enggak terlalu banyak mikir kalau misalnya gua mau beli, gua beli. Nah, on otherum there is high ticket program. High
ticket program itu gimana? High program
itu adalah ketika kalau misalnya kita sebuah produk tapi harganya premium bisa R juta, bisa juta dan bahkan lebih.
Nah, ketika itu terjadi, orang-orang kan harus berpikir du atau bahkan sampai lebih ya untuk gue pengin beli atau enggak nih karena investasinya besar.
Nah, untuk high ticket program ini makanya cara kita untuk memmarket loh, cara kita untuk bisa mempromosikannya beda juga. Nah, tapi bagi teman-teman
beda juga. Nah, tapi bagi teman-teman sih I would recommend di low tiket dulu supaya teman-teman bisa fokus ke strategi kita karena itu untuk paling itu begitu teman-teman. Nah, aku enggak
mau ngelewatin apa yang Putri bilang bahwa yang terpenting dari produk adalah namanya.
Which is very true. Karena kalau misal teman-teman tahu, jadi gini, let's take look at.
Aku gak akan pernah bosan ngomongin cerita ini, Teman-teman. So, close on blueprint ini ya, Teman-teman. Flow
blueprint ini adalah course productivity boy yang paling winning. Jadi pertama
kali winning tuh horasnya ini. Which
means winning dalam dalam bahasaku tuh gimana maksudnya definisi winning tu gimana? Minimal 3 digit per bulan. Nah,
gimana? Minimal 3 digit per bulan. Nah,
Fion blueprint itu adalah pertama dari produk dib yang bisa angka itu. Nah,
clos blueprint pembuatannya tuh 1,eng bulan teman-teman.
Nah, 1 seteng bulan terdiri dari ngapain aja bikin materinya 1 minggu, mikirin namanya 1 bulan.
Ya, itu penting banget. Kenapa? Karena
nama ini ibaratnya adalah billboard berjalan dari produk kita. In
order for people to buy our product, ya.
Mereka harus resonate dulu, harus relate dulu sama namanya. Kalau kalau misalnya mereka e ngerasa bahwa namanya gak rilate, ya mereka bakal langsung skip karena inilah garde terdepan dari produk
kita. Itu namanya. Tentu dong.
kita. Itu namanya. Tentu dong.
Kamu mau beli apa? Mau beli baju, dia tahu baju itu fungsinya buat apa. Mau
beli apa? Mau beli rumah. Rumah itu
fungsinya buat apa? Mau beli produk ini, produk ini namanya apa? Misalnya high
value creator blueprint. Kalau misalnya
kita berpikir soal high value creator blueprint blueprint buat apa nih? Gitu
kan. Nah, makanya itulah ada kadang-kadang di bawah sini ada subheing-nya. Nah,
makanya di sini namanya flow zone blueprint tapi ada subheading. Ininya
nih yang lama dipikirin. Enggak perlu
habit dan motivasi. Kerjaan sehari
selesai dalam 3 jam. Apa cara produktif instan ini. Nah, ini nih yang bikin
instan ini. Nah, ini nih yang bikin orang bingung sebenarnya.
Nah, kita ambil contoh mana ya? Cobalah.
mana ya? Cobalah.
Wih, kita ambil contoh high ya, Teman-teman. Kenapa sih Teman-teman
ya, Teman-teman. Kenapa sih Teman-teman beli ini? Benar enggak? Kan pertanya
beli ini? Benar enggak? Kan pertanya
menarik dong. Kenapa teman-teman beli ini? Coba ee bentar aku. Nah, let's take
ini? Coba ee bentar aku. Nah, let's take a look.
Kenapa teman-teman beli course ini ya kan high value creator blueprint ya? Karena
teman-teman pengin dapatin R juta per bulan dari konten tanpa endorse benar loh, tanpa affiliate, tanpa itu. Itulah
kenapa nama itu penting banget. dari
nama kita harus bisa sudah mentransfer outcome yang mereka dapatkan apa. Nah,
balik ke poin yang tadi bilang di mana orang tuh harus tahu mereka punya problem apa, kita menyelesaikannya gimana. Nah, itu makanya penting banget
gimana. Nah, itu makanya penting banget namanya itu penting gitu. Nah, ini ada pertanyaan dari Rijal ya. Bang, saya
termasukkan orang berpenghasilan lebih.
Kenapa saya beli kelas ini tanpa mikir?
Trik apakah yang digunakan? Ya, ini
Rijal namanya. Pasti kan kamu mau kan mendapatkan dream outcome ini, mendapatkan hasil ini. Makanya
kemungkinan besar kamu beli kelas ini, gitu. Nah, itulah kenapa ketika
gitu. Nah, itulah kenapa ketika teman-teman nanti ingin memulai monetisasi konten teman-teman harus pikirin banget namanya dengan optimal.
Ya, kenapa nama itu penting? Selain tadi
berdampak langsung soal sales ya kan clear outcome, ada tiga hal lagi teman-teman yang pertama yaitu psychology. Ketika orang
mengingat sebuah brand, pasti mereka akan mengundang namanya.
Jadi kalau misalnya mereka ingat nama produk kita dengan gampang, kata produk kita, nama produk kita akan sangat mudah untuk diucapkan sama orang lain ke orang lainnya lagi. Eh, kemarin gua udah coba
lainnya lagi. Eh, kemarin gua udah coba F blueprint nih. Eh, kemarin gua udah coba high value creator blueprint nih.
Hasilnya begini ya kan? Jadi ngomongin
apa? Ngomongin high value creator blueprint. Nah, itu secara psychologi
blueprint. Nah, itu secara psychologi bisa jadi top of mind. Yang kedua aku enggak usah jelasin lagi karena tadi teman-teman udah aku jelasin ya betapa pentingnya sales itu tuh drivernya tuh
dari nama karena zombin aja porsnya bikin 1 minggu namanya mikirnya 1 bulan seting itu karena percuma kalau misal pors kita bagus tapi gak ada yang beli
betul kan betul kan so that's point next balik lag marketing it also increases thickness maksudnya apa orang jadi gampang ingat dari top of main jadi
orang word of mouth ini jadi organic marketing yang paling pals loh itu marketing juga. Nah, terakhir ini adalah
marketing juga. Nah, terakhir ini adalah sistemnya. Jadi ketika kita ingin
sistemnya. Jadi ketika kita ingin menjual sebuah produk orang tuh harus tahu kira-kira cara yang kita lakuin tu apa sih? Supaya mereka tuh bisa mencapai
apa sih? Supaya mereka tuh bisa mencapai mimpi tersebut, supaya masalah mereka tuh bisa hilang gitu. Metodenya apa,
orang harus tahu mereka tuh harus expect apa. Contohnya buat high value creator
apa. Contohnya buat high value creator blueprint. Orang-orang tahu kan kalau
blueprint. Orang-orang tahu kan kalau misalnya beli ini ya kita enggak akan ngebahas soal endorsement, kita enggak akan ngebahas soal, kita enggak akan ngebahas soal live shopping. Orang-orang tahu
live shopping. Orang-orang tahu sistemnya, orang-orang tahu. Kita enggak
akan mungkin membahas itu. Nah, itu
harus kita jelaskan juga. Ada dua cara, entah kita langsung sebut atau enggak kita exclude. Kalau high value creator
kita exclude. Kalau high value creator pakainya exclude. Jadi orang-orang
pakainya exclude. Jadi orang-orang penasaran nih, bukan endorse, bukan live shopping, bukan lihat apa dong orang jadi penasaran orang beli. Benar ya.
Nah, itu adalah salah satu caranya juga.
Caranya bisa begitu dengan mengekclude supaya orang-orang mikir-mikir ini caranya gimana ya. Although semakin
berjalan ini ya nanti akan dikasih tahu yang akan kita lakuin itu apa gitu. Nah,
nama yang bagus itu gimana cara kita tahunya?
Harus menjelaskan over kita tentang apa tanpa harus panjang-panjang. Nah, kalau misal
panjang-panjang. Nah, kalau misal teman-teman lihat ini namanya ini flowone blueprint ini jadi namanya blint. Nah, flow itu harus cukup abstrak
blint. Nah, flow itu harus cukup abstrak tapi harus cukup mendeskripsikan juga.
Nah, kita bikin konkrit gimana dari bawahnya sini ini sampai ini baru kita jelasin lebih detail lagi namanya.
Kurang lebih gitu. Next. Orang sekali
baca harus nangkap ini. Kalau misalnya
teman-teman ngelihat ini bakal tahu kan apa yang kita lakuin? Ya, kerjaannya
akan cepat selesai. Teman-teman baca ini tahu kan apa yang kita akan lakuin? kita
akan dapetin dapat 10 juta per bulan harus clear teman-teman nama itu seperti itu. Nah, makanya kita akan ngebahas
itu. Nah, makanya kita akan ngebahas tiga hal hari ini, Teman-teman. So,
chapter 1, parity of market tangible versus intangible offer, Tillion Dollar offer. Oke. Nah, yang pertama kita
offer. Oke. Nah, yang pertama kita ngebahas market dulu. Bagi teman-teman yang mau
market dulu. Bagi teman-teman yang mau nanya, BTW, diri buat langsung ketik di kolom chat ya, supaya kita bisa langsung tanya jawab juga gitu. Nah, pertama-tama
needs market. Aku pengin tanya dulu ke teman-teman semua di sini. Ini ada 20an orang yang ikut. Please jawab di kolom chat. Udah pernah baca atau dengar aku
chat. Udah pernah baca atau dengar aku ngejelasin materi ini belum? Kalau misal
udah coba kasih di kolom chat supaya aku bisa langsung skip. Kalau enggak,
kalau misal belum, oke, Hali udah. Ya
su, udah di materi. Huh, Irma udah udah ngerti ya apa apa inti dari sini. Nah,
kalau gitu aku pengin ajak teman-teman buat diskusi. Asik.
buat diskusi. Asik.
itu tuh apa sih? Ada yang bisa dijelasin?
Ada yang ada yang mau volunte mungkin ada yang mau open mic kalau misalnya enggak ada mungkin aku tunjuk on.
Oke, Teman-teman. Kalau enggak ada mungkin.
Teman-teman. Kalau enggak ada mungkin.
So, do you mind explaining what's of needs? Maybe.
needs? Maybe.
Eh, Ram, tolong go back to the slides dong.
Oh, sure sure sure. Ya, ya. Maksudnya
mau jawab tapi lihat dulu slide-nya.
Oke. Your question apa? Kenapa your
question adalah yang boleh boleh explain enggak of ini apa?
In your own words.
Oke. Oke. Ini eh kalau kalau enggak salah ya ini hierarch of nih. Go back to eh psychological ini bukan sih yang
teorinya Maslov? Bukan sih ya mungkin
teorinya Maslov? Bukan sih ya mungkin salah nih tapi kira-kira.
Betul. Jadi, jadi ee yang paling bawah kan ee kebutuhan fisik ya gitu kan.
Kayak misalnya sandang pangan, papan kira-kira kayak gitu. Semakin ke atas itu semakin penting enggak penting kira-kira lah kayak gitu. Tapi semua
orang pengin punya self actualization.
Nah, ee sebenarnya kalau yang kalau enggak salah nih yang ee gua baca di Porce lu adalah ee semakin kita bisa memenuhi yang paling bawah physiological dis ya sebenarnya sebenarnya itu yang
orang-orang butuhkan gitu karena orang butuh misalnya kayak eh wealth, health relationship kayak jadi kalau kita content creator dan mengedukasi misalnya kita ada di tiga market itu misalnya di
cara dapat uang misalnya atau di health kayak aku edukasi diabetes atau tentang relationship itu sebenarnya nya market yang pas karena semua orang butuh itu.
Benar enggak teman-teman? Boleh
tambahin.
Yes, itu on point banget. So, thank you very much to e for for explaining and elaborating. Jadi kurang lebih
elaborating. Jadi kurang lebih teman-teman survival needs kita itu adalah needs yang kita enggak akan bisa hindari.
Kita enggak punya ini, hidup kita akan sengsara. Bukannya biasa-biasa hidup
sengsara. Bukannya biasa-biasa hidup kita akan sengsara. Nah, kalau misalnya kita corate sama marketing strategy atau marketing theory orang-orang dealer sana ini yang mencetuskan konsep ini tu
Russel Branson dari Amerika bapaknya panel. Nah, dia itu bilang bahwa ada
panel. Nah, dia itu bilang bahwa ada tiga market yang gak akan pernah mati di dunia ini, yaitu health, wealth, sama relationship. Karena pasti seumur hidup
relationship. Karena pasti seumur hidup kita orang itu gak akan pernah lepas dari yang namanya masalah kesehatan.
Tentu orang kan akan meninggal jadi gak akan pernah lepas tuh. Kalau misalnya
orang sudahudah sehat pun pasti dia pengin lebih sehat. Betul ya? Orang
sehat nih tapi dia pengin dong badannya.
Orang sehat nih tapi pengin dong dia makin ganteng. Something like that gitu.
makin ganteng. Something like that gitu.
Wealth. Kalau misalnya kita gak punya uang kita miskin. Tapi kalau misal orang gak miskin dia pengin lebih kaya dong ya. Nah jadi itu relationship juga.
ya. Nah jadi itu relationship juga.
Orang kalau misalnya enggak punya teman, gak punya keluarga, enggak punya pasangan, mungkin akan sengsara. Tapi
kalau misalnya sudah punya pacar pengin punya pacar kedua mungkin kadang-kadang orang kan masuk aneh gitu ya. Nah, jadi
kurang lebih kayak kita ya. Ini
pentingnya tuh di sana. Nah, kita
mengambil konsep dari three markets ini, market ini, kita harus bisa mengkorelasikan itu dengan nama offer kita, Teman-teman. Itulah yang membuat
kita, Teman-teman. Itulah yang membuat offer kita powerful. Nah, ada dua tipe.
Ada tangible versus intangible, Teman-teman. Bedanya di mana? Tangible
Teman-teman. Bedanya di mana? Tangible
itu sifatnya nyata dan bisa diukur. Ini
nih, bisa diukur maksudnya gimana? Jadi kita
tahu kalau misalnya kita sudah sukses itu tuh gimana suksesnya kita tahu.
Contoh teman-teman tahu enggak kalau misalnya teman-teman sukses di high value creator blueprint dan yang lainnya gimana? Teman-teman akan sukses kalau
gimana? Teman-teman akan sukses kalau sudah mendapatkan ini. Betul ya? Itu
tangible-nya. Ini adalah tangible offer.
Dan di sini teman-teman akan kalau teman-teman sukses dengan flow zone gimana? Karena ini 3 jam doang kerjaan
gimana? Karena ini 3 jam doang kerjaan teman-teman kelar. Nah, itulah tangible,
teman-teman kelar. Nah, itulah tangible, Teman-teman. Penting banget. Harus bisa
Teman-teman. Penting banget. Harus bisa
diukur. Karena contohnya gini, kalau misalnya aku bikin offer ini formula untuk menghapkan R juta per bulan tanpa endorse, affiliate sama live shopping dibandingin sama
eh content creating master class, teman-teman akan pilih yang mana?
Tentunya yang pertama kan. Enggak
mungkin yang kedua konten creating masterclass. Masterclass konten
masterclass. Masterclass konten creatingnya ngapain ngonten nih? Bingung
orang. Nah, itulah pentingnya tangible offer, Teman-teman. Bisa dirasakan,
offer, Teman-teman. Bisa dirasakan, dilihat, diukur, dan dalam tanda kutip dipegang pakai tangan lah. Duit kan bisa pegang pakai tangan. Kalau misalnya kita sixpack kan bisa dipegang pakai tangan.
Kalau misalnya kita punya hubungan yang lebih baik dengan pasangan kita kan bisa kita pegang pakai tangan ya kan. Jadi
kurang lebih kayak gitu. Nah, yang
berdampak secara universal adalah tadi tiga ini ya. Eternal markets ini makanya penting banget teman-teman. Nah,
pertanyaannya gimana kalau misalnya kita nih transend need? Betul ya? Kalau
misalnya teman-teman ngomonginnya traveling, teman-teman ngomonginnya productivity, teman-teman ngomonginnya yang lain-lain. Gimana caranya supaya
yang lain-lain. Gimana caranya supaya kita bisa bikin hal yang enggak nyata jadi nyata, Teman-teman? Contohnya lebih
produktif, lebih cepat masak, lebih jago public speaking, lebih enggak stres, enggak cemas. Masalahnya di sini kita
enggak cemas. Masalahnya di sini kita enggak tahu lebih produktif seberapa produktif. Kita enggak bisa taker. Betul
produktif. Kita enggak bisa taker. Betul
enggak, Teman-teman? Lebih jago masak, lebih cepat masak, gimana? Kita enggak
tahu takaran. Jago public speaking, skalanya gimana? Dapat nilai gitu. Susah
skalanya gimana? Dapat nilai gitu. Susah
kan kita takarnya? Kadang-kadang, "Oh,
dia jago, dia enggak jago gitu doang.
Binary, enggak cemas seberapa cemas?"
Kalau misalnya ngomongnya sama Mbakoro di sini ya, mungkin yang ngebahas soal mental health, dokter kita nih, dokter andalan kita mungkin dia akan ada skala-skalanya. Tapi kalau misal orang
skala-skalanya. Tapi kalau misal orang yang bukan dokter pasti enggak tahu gimana cara ngukur dengan optimalnya.
Nah, kalau misalnya kita ngomongin fashion lebih enggak normal, lebih bagus, gimana kita tahu tolak ukurnya apa? Nah, dari nontang jadi tangible
apa? Nah, dari nontang jadi tangible kita bisa mungkin transend ini itu tuh dikaitkan dengan
teman-teman. Caranya begitu.
teman-teman. Caranya begitu.
Cara bikin non tangible jadi tangible adalah diutin aja. Nah, yang pertama caranya adalah hubungankan dengan eternal market. Yang kedua ada lagi
eternal market. Yang kedua ada lagi hubungkan dengan tangible factors. Aku
ngomong yang eternal market dulu ya.
Contohnya gini.
Iya. Ini kalau misalnya teman-teman lihat Bandoro, Putri, sama Sarah itu tuh member dari high value creator Acceler kita nih udah seram-seram. Jadi kalau
misalnya teman-teman mau nanya lebih banyak, bingung nih cara nulis konten yang bagus gimana? Cara cara ee bikin digital produk yang bagus gimana, tanyanya ke mereka aja udah udah
keren-keren. Udah Putri juga udah
keren-keren. Udah Putri juga udah closing-closing, Sarah juga udah double digit, ya kan. Bandoro juga kontennya viral terus gitu kan. Nah, jadi
teman-teman bisa tanya dari mereka. Nah,
teman-teman cara yang pertama kita lanjutin dulu ya. Hubungkan dengan
etteral market. Di sini ada enggak yang nich-nya transcenden need? Boleh, boleh
kast dong teman-teman di kolom chat masing-masing dari kalian nish-nya apa?
Sudah tahu belum ngebahas topik tentang apa? Kalau sudah tahu boleh kasih tahu
apa? Kalau sudah tahu boleh kasih tahu di kolom chat ya supaya kita semua tahu nih.
Putri traveling topik aku tentang UIUK William tentang digital marketing. Yang
lain gimana?
Ada yang mau share supaya nanti aku bisa kasih contoh ya. B health diabetes nice nice very specific very good self growth personal development. Nah teman-teman
personal development. Nah teman-teman contohnya kalau misalnya kayak kalau tentang elektro masuk ke mana? Teknik
elektro maksudnya kalau teknik elektro maksudnya tentu ke transh menurutku.
Kalau bonek literasi dini bisnis dan financial masih bimbang mau yang mana.
Keduanya seksi sih. Kenapa? Kenapa Irma
keduanya bisa? Karena keduanya kehubung sama Wales. Jadi bisa keduanya kalau
sama Wales. Jadi bisa keduanya kalau misalnya ngomongin soal financial bisa ke Sara tuh. Karena topiknya tentang finance juga nih, Sara. Gua gua
promosiin lu, Sar.
Nih, Teman-teman bisa dicek nih ini sama high value creater dari followers di bawah 1 sekarang udah udah lebih dari udah ada K lah
minimap. Terus income-nya juga ada dua
minimap. Terus income-nya juga ada dua digit nih. Ya,
digit nih. Ya, jadi teman-teman bisa belajar dari SAR juga. Udah lama nih belajar sama aku
juga. Udah lama nih belajar sama aku kurang lebih. Kita lanjut dulu.
kurang lebih. Kita lanjut dulu.
Ya notifnya emang iya ya gua gak nyadar tiap hari emang udah begitu si put sor oke teman-teman so caranya gimana satu
hubungan dengan etal market kalau misalnya ya misalnya kayak to diabetes L juga digital marketing kan Irma kayak Will lebih oke. Nah, tapi contoh kalau
misalnya kayak Hali kayak Hood gitu kan ini kan sedikit transcenden ya. Nah,
gimana kita ngghubunginnya ke eternal market gini teman-teman. Mish
itu tuh contohnya time management nontangible offer. Maksudnya gimana?
nontangible offer. Maksudnya gimana?
Cara menyelesaikan kerjaan 8 jam hanya dalam 4 jam. Nah, ini sebenarnya udah cukup tangible. Kenapa? Karena ini nih
cukup tangible. Kenapa? Karena ini nih udah diukur berarti lu bisa hemat 4 jam.
Nah, ini sebenarnya udah agak-agak tangible. Kalau misalnya non tangible
tangible. Kalau misalnya non tangible banget biasanya gimana? Kayak gini nih, Mas gini doang nih. Ini nontangible nih ya kan. Ini kita enggak tahu kita
ya kan. Ini kita enggak tahu kita ngbelajar time management gimana. Kurang
lebih kayak gitu. Cara bisa bikin tangible dikaitkan dengan etal market.
Contoh misalnya gini, cara menyelesaikan kerjaan 8 jam hanya dalam 4 jam gimana? Begini ditambahin
supaya banyak waktu main sama anak. Ini
jadi ada hubungannya sama apa? Sama
relationship Teman-teman.
supaya bebas stres dan tidur cukup. Ini
ada hubungannya sama apa? Sama health.
Supaya omset naiknya dua kali lipat.
Nah, jadi bagi teman-teman yang punya offer atau punya produknya itu tuh nontangible atau n itu tuh bukan health wealth relationship. Caranya gimana?
wealth relationship. Caranya gimana?
Cuma tinggal ditamin aja supaya bla bla bla bla supaya bla bla bla bla supaya bla bla bla bla. Nah, ini akan mengaitkan over teman-teman ke eternal market tadi supaya lebih powerful
dan teman-teman bisa ambil angle yang berbeda-beda. Nah, caranya begitu. Jadi,
berbeda-beda. Nah, caranya begitu. Jadi,
kalau misalnya teman-teman ngebahasnya di luar health relationship, caranya gimana? Tinggal dikaitin aja. Ini akan
gimana? Tinggal dikaitin aja. Ini akan
jadi lebih optimal, Teman-teman. Next.
Kalau misalnya public speaking di sini, kalau misalnya ada yang bikin konten public speaking, kalau misalnya kita cuman bikin course gini, course supaya kamu jago public speaking. Wah, orang mah
speaking. Wah, orang mah bingung sejago apa nih gua public speaking kalau misalnya gua belajar sama lu. Tapi kalau misalnya kita ganti gini,
lu. Tapi kalau misalnya kita ganti gini, jago public speaking supaya penonton lu akan berubah jadi fans relationship.
Jago public speaking biar orang lain nurut sama apapun yang lu bilang. Ini
bisa juga nih kalau misalnya kita ngomongin em ke relationship lagi ya. Nah, next. Jago
public speaking supaya gaji lo auto naik dua kali lipat. Nah, itu kan ada orang kan ada tangible gitu. Jadi ada ada tangible-nya orang jadi bisa ukur kalau misalnya gua belajar public speaking
sama lo yang gua akan dapatkan apa? Ya
ini gaji gua kemungkinan naik dua kali lipat gitu. Contoh terakhir nih fashion.
lipat gitu. Contoh terakhir nih fashion.
Kalau misalnya teman-teman ngisinya ada yang fashion. Nah, kalau misalnya
yang fashion. Nah, kalau misalnya teman-teman ngomongin fashion kan fashion itu kan seringkiali kan sama styling, mix and match bla bla bla gitu-itu. Kalau misalnya kita ngomong
gitu-itu. Kalau misalnya kita ngomong soal fashion kayak begitu itu gimana nanti cara kita supaya bisa ngitin dengan etal market. Karena kalau
misalnya styling oke gua styling nih, tapi gua akan bisa dapat benefit apa dari stying yang bagus. Kalau misalnya
baju gua rapi apa? Apakah cuman rapi doang? Karena kalau misalnya hasilnya
doang? Karena kalau misalnya hasilnya cuma rapi doang pasti kita enggak mau gitu loh. Nah, jadi itu yang bisa kita
gitu loh. Nah, jadi itu yang bisa kita perhatikan. Nah, caranya gimana kita
perhatikan. Nah, caranya gimana kita ngitin? Balik lagi ke et market. Fashion
ngitin? Balik lagi ke et market. Fashion
styling one untuk guide gebetan hanya dalam sekali.
Bayangin lu kalau misal ikut course gua gua dandan l punya gebetan sekali lu pakai baju yang kita udah discus lu kegbetan lu. Sekali ngok dia langsung
kegbetan lu. Sekali ngok dia langsung jatuh cinta sama lu orang pasti mau dong kayak gitu kan. Nah, itu ada hubungannya tuh sama etal market. Next.
101 untuk membuka bos supaya kalau misalnya kita kerja bos jadi semangat sama kita, jadi respect sama kita, kemungkinan besar bisa dikaji gitu.
Atau misalnya terakhir passion 10 untuk hidup lebih nyaman tanpa keringat. Ini
kalau misalnya supaya kalau misalnya kita lagi ee olahraga ya buat health kita supaya kita nyaman matin. Nah,
kurang lebih gitu teman-teman. Inilah
yang kita bisa lakuin. Nah, terakhir
terakhir ya. terakhir
eh masih banyak ternyata ini, Teman-teman. Kalau misalnya kita
ini, Teman-teman. Kalau misalnya kita pengin kalau misalnya saking excitednya gua udah ini aja kan. Yang kedua,
teman-teman bisa hubungkan dengan tangible factors. Tangible factors itu
tangible factors. Tangible factors itu ada beberapa hal yang kalau misalnya kita include dalam penamaan offer kita ini akan bisa membuat kita jadi lebih
strong nih overnya.
Nah, kita tinggal bisa memanipulasi beberapa hal berikut. umur,
uang, waktu, tempat, atau orang gitu, Teman-teman. Nah, jadi kalau
gitu, Teman-teman. Nah, jadi kalau misalnya contoh nih, contoh kalau misalnya uang kita, kalau misalnya kita pakai uang, contohnya gimana? Kayak gini
bisa dapetin R10 juta per bulan bla bla bla bla itu uang tuh. Kalau misalnya
umur gimana bisa dapetin R10 juta per bulan di bawah umur 20 tahun. Nah, itu
kan umur tuh ada aspek umurnya. ini
sudah fakta, sudah enggak bisa diapa-apain. Nah, bisa dapat R10 juta
diapa-apain. Nah, bisa dapat R10 juta per bulan di bawah umur 20 hanya dalam 1 bulan luar gitu kan lebih parful lagi.
Bisa nih aku kasih contoh ya. Kalau
misalnya kita ngomongin ee uang bisa dapat R10 juta per bulan nih ya teman-teman ya.
Kita akan bikin nama yang powerful. Ini
uang nih. Kalau misalnya kita ngomongin umur di bawah umur 20 tahun ini masuk nih umur kita ngomongin waktu kita bisa
tambah lagi. Hanya dalam 1 bulan kita
tambah lagi. Hanya dalam 1 bulan kita tambahin tempat. Kita tambahin tempat
tambahin tempat. Kita tambahin tempat hanya dalam 1 bulan di dari belahan dunia manaun.
orang ya orang kalau misalnya kita ngomongin apapun ee di mana pun itu termasuk orang juga
deh karena ini kan environment kita.
Nah, jadi ini itu tuh sudah mencakup lima faktor ini teman-teman ya. Nah, jadi bisa dapat 10 juta per
ya. Nah, jadi bisa dapat 10 juta per bulan di bawah umur 20 tahun hanya dalam 1 bulan dari belahan dunia manapun. Nih,
Teman-teman coba deh bikin offer kayak gini pasti ramai yang beli. Kenapa?
Karena dari namanya aja udah kencang, udah bagus, Teman-teman. Kira-kira kalau
aku tanya deh ke Teman-teman simpel.
Kalau misalnya Teman-teman ketemu yang kayak gini, bakal mau beli enggak kira-kira? Coba kasih chat. Kalau mau
kira-kira? Coba kasih chat. Kalau mau
kena besar pasti mau beli kan karena namanya sepitu teman-teman. So, that's
the power of naming. Oke. Nah, itu
adalah cara kita gimana kita bisa menamakan produk kita dan memposisikan produk kita separuhful itu supaya orang-orang langsung membeli. Itu
caranya ya. Nah, next pertanyaan dari teman-teman mungkin gini. Gimana kalau
nich gua enggak ada hubungannya sama hal-hal barusan? Enggak bisa bikin over
hal-hal barusan? Enggak bisa bikin over bagus dong. Tentunya santai dulu karena
bagus dong. Tentunya santai dulu karena pasti bisa ya. kita bisa melakukan yang namanya tangible factor terakhir yaitu
aksi aksi itu maksudnya gimana? Setidaknya
kalau mereka enggak bisa mendapatkan hasil, mereka akan bisa beraksi.
Nah, paham enggak, Teman-teman?
Setidaknya kalau misalnya kita sudah bikin course, kalau misalnya mereka kita enggak bisa menjanjikan hasil ke mereka nih, kita nih enggak bisa menjanjikan mereka hasil. Setidaknya yang kita bisa
mereka hasil. Setidaknya yang kita bisa janjikan ke mereka adalah kita akan membuat mereka beraksi.
Nah, dengan mereka beraksi sedikit banyak mereka merasakan perubahan. Nah,
itu adalah salah satu cara yang teman-teman bisa terapan juga keover teman-teman supaya powerful. Nah, ini
adalah salah satu course dari productivity dulu juga yang cukup best selling lah gitu ya teman-teman ya.
Kenapa ini works? Karena ada aksinya tujuh langkah untuk punya 48 jam sehari.
ada tujuh langkahnya. Nah, tujuh
langkahnya ini itu adalah bentuknya aksi. Jadi, kalau misalnya orang ikut
aksi. Jadi, kalau misalnya orang ikut KES ini mereka menerapkan tujuh langkah itu mereka sudah bisa progres. Itu
adalah aksi yang kita instill ke peserta gitu teman-teman ya. Habis ini kita akan tanya jawab.
session with this framework.
Teman-teman, aku pengin tanya nih di sini udah ada yang bikin offer belum?
Udah ada yang eh punya digital product belum? Kalau misalnya udah coba coba
belum? Kalau misalnya udah coba coba kasih tahu di kolom chat deh. Siapa tahu
nanti bisa kita review dan kita langsung optimize.
Ada enggak di sini yang udah bikin digital produk coba? Atau masih baru mau bikin? Nah,
coba? Atau masih baru mau bikin? Nah,
ini dari Samuel. Coba dong ee boleh kasih tahu di kolom chat enggak digital produknya namanya apa?
Ini Kris juga kalau misalnya masih on progress boleh k boleh dikasih tahu dong kira-kira namanya bakal apa nih? Oke 120
topik ngobrol. Oke. Nah
eh Samuel kita bisa ngobrol-ngobrol enggak nih? Nah supaya kita bisa
enggak nih? Nah supaya kita bisa ngebedah your product.
Express self love dari Chris Nice. Kalau
putri juga boleh kok.
Oke enggak apa-apa santai aja.
Nih begini. Karena kalau misalnya kita ngomongin 120 tapi ngobrol kita ambil di sini kita bahas di sini.
Kita tulis dulu ya. 120 topik ngobrol.
by Sam. Terus dari Kris Express Self Love.
Oke.
Terus terakhir ada digital marketing notion handbook by W. Nah, ini dari Putri practical tips
by W. Nah, ini dari Putri practical tips to enjoy Japan. Udahlah ini gak usah dibahas Putri udah bagus orang kita udah review. Nah, contoh yang bagus tuh kayak
review. Nah, contoh yang bagus tuh kayak Putri teman-teman ya. Udah tangible.
Kenapa? Coba ada tahu gak kenapa ini tangible punya Putri? Practical tips to enjoy Japan million for next. Tahuak
kenapa offernya bagus? Ada yang bisa tahu? Coba kasih di kolom chat. Kenapa
tahu? Coba kasih di kolom chat. Kenapa
namanya bagus menurut R?
Udah di state hemat R juta. Yes, betul.
Jadi udah di state hemat R juta sudah kena ya faktor uangnya.
Faktor aksinya juga udah ke state hemat.
aksinya sudah dapat, tempatnya sudah tahu. Di Jepang tempatnya juga sudah
tahu. Di Jepang tempatnya juga sudah tahu.
Nah, kalau misalnya kita mau eh optimiz ini kan kita tahu nih ada waktu ya, tinggal kita tambain aja untuk berapa lama tuh mungkin itu bisa optimal juga.
Tapi kalau misalnya enggak mau ditambahin enggak apa-apa si optional dari good gitu. Kalau misalnya mau dioptimiz lagi bisa ditambin waktu.
Sip. Oke, next. Kita ngobrol kita satu-satu kita optimiz ya, Teman-teman yang tiga ini ya biar Teman-teman nangkap. Eh, Sam, do you want to talk
nangkap. Eh, Sam, do you want to talk about your product? Ini 120 topik ngobrol tu konsepnya gimana sih? Dan
salam kenal ya. Happy to you.
Hai, halo. Panggilnya apa nih ya? Kok
Rama ya?
Rama aja enggak apa-apa panggil nama.
Oke, Ram. Salam kenal.
Kita bisa ketemu juga. Yoi. Nice. Lama
ngikutin lu gua.
Happy to see.
Oke. So, gimana nih?
Ee kira-kira 120 topik ngobrol nih boleh dijelasin enggak knya bakal tentang apa?
Jadi kan ee orang kalau mau PDKT seringki mereka bingung ya ee ee beraninya sudah ada tapi bingung mau ngomongin apa.
Jadi dengan topi ngobrol ini ide-ide itu bisa dipakai sih gitu.
Nah, ini tadi udah udah ini ini kan berarti kan relationship ya.
Iya.
Ini kalau misalnya kita mau optimize bisa gini supaya lo eh enggak mati gaya first di
bareng. something like this akan ngebump
bareng. something like this akan ngebump sedikit jadi lebih spic up gitu loh.
Karena kita harus mikir begini nih 120 topik ngobrol itu topik buat apaan gitu kan. Karena kalau tadi gua nanya, karena
kan. Karena kalau tadi gua nanya, karena gua enggak nangkap konteksnya apa, ngobrolnya buat apa. Sedangkan kalau
misalnya kita gini 120 topik ngobrol supaya lu enggak mati gaya di first date bareng doi, orang jadi tahu, Jir, kalau misalnya gua pakai eh e trik-trik yang
ada di kelasnya SEM, ya berarti nanti kalau gua ketemu doi gua, gua gua enggak bakal mati gaya nih. Dan bisa aja gua bisa akan nge-secure next date gua bareng dia gitu loh.
Hm. Nah, ini. Nah, ini lebih gila nih dari makanya saya enggak pilih. Saya tuh
enggak salah pilih set of content, cuy.
Nih, ini dari Mike nih. 120 topik
ngobrol asik gbetan atau baper dalam 10 menit duar gitu kan, Sam? Benar enggak?
Iya. Iya. Cakepcakep nih. Keren, keren.
Nah, tinggal ini tinggal ini di ee digabungin aja gitu kan. Ee
nih 120 topik ngobrol.
Nah, Sabar asik gebetan.
Eh belum anti kalau misal mau digabungin ya.
H dan something like this. Anti mati gaya dan gebetan atau bapar dalam 10 menit.
Nah, lu bikin kayak gini laku nih. Gua
jamin nih. Entah dua ini deh lu pilih deh. Karena dari namanya aja tuh sudah
deh. Karena dari namanya aja tuh sudah mendeskripsikan. Benarnya iya kan? Nah,
mendeskripsikan. Benarnya iya kan? Nah,
asik tuh. Nah, jadi mungkin sedikit input dari kami itu ya semen. Jadi kalau
misalnya mau dioptimize mungkin bisa pakai ini. Sip.
pakai ini. Sip.
Masih siap ya. Y
best of ya. Kalau misalnya mau nanya apa-apa berkabar aja ya di grup ya.
Kalau misalnya nanti mau nanya apa-apa di Discordnya chat aja nanti.
Oh oke. Siap siap kalau gitu.
Kalau misalnya kan gua kan selama ini kan gua pakai ini ya e trebelio patch-nya si Kodeni itu sama si siapa? eh firsttingen itu kalau
misalnya gua melampirkan linknya gitu untuk direview gitu, is that ok?
Oh iya boleh boleh enggak apa-apa enggak apa-apa.
Oke siap now aja. Oke thank youah thank you.
Oke next. Nah ini express self love by Chris. Nah ini ada Krisnya nih. What's
Chris. Nah ini ada Krisnya nih. What's
up Chris Christopel? How are you bro?
Eh, halo malam bro.
Nih nih review apa in the public nih.
Deg-degan nih saya sebenarnya sih.
Bisa aja lu santai kali. Siap. Happy to
see you again.
Heeh. Kris ini kan self love nih. Nah,
self love balik lagi. Kira-kira
dari self love ini yang mereka akan rasakan apa? Nah, jadi gini, gua tahu
rasakan apa? Nah, jadi gini, gua tahu kita kan akan lebih self, tapi setelah kita self love apa yang akan terjadi gitu.
H kalau aku sih kemarin kebetulan baru ini sih ya apaam aku baru sempat bikin slogannya tuh slogannya kemarin sih aku sih tulisnya ekspresikan Anda secara
singkat dan melekat sih.
Hm. Oke,
ekspresikan Self blok Anda secara secara singkat dan melekat.
Oke.
Nah, balik lagi dari sini sebenarnya udah bagus ee untuk e slogannya gitu.
Tapi balik lagi harus ada outcaya apa nih?
Supaya. Nah, ini nih yang perlu kita isi nih. Oh, isi
nih. Oh, isi atau enggak express self love.
ee misalnya auto PD dan berhenti insecure misalnya misalnya kan orang self love gitu kan enggak PD
dan insecure misalnya misalnya sampai sini auto PD dan berhenti insecure dalam ya berapa lama lah misalnya dalam 1
minggu gitu am tu itu bisa lebih optimal pasti akan lebih lebih convincing Kris gitu jadi bisa begitu nah tapi mungkin Ini kan dari kampus ini kan masih dalam development. Nanti coba dievelop dulu
development. Nanti coba dievelop dulu nanti kita review lagi ya di komunitasnya.
Boleh. Boleh.
Oke thank you guys. Nah last but not least nih top G nih William Fernandez.
Yo bro. Gimana Will digital marketing notion handbook outcome apa?
Eh btw ini belum ada suara ya?
atau Oh, ya enggak kedengaran benar ya berarti masih belum ada WA.
Nah L belum ada digital marketing notion handbook atau enggak, Will? Boleh gini deh, nanti
kamu coba chat kira-kira ee ini akan tentang apa. Nanti kita bahas
tentang apa. Nanti kita bahas bareng-bareng. Eh, bentar. Ini kamu lagi
bareng-bareng. Eh, bentar. Ini kamu lagi pasang earphone coba ya.
Bentar ya teman-teman ya. Kita belajar
bersabar menumbuhkan self loss. Kalau misalnya
kata Kris ya kan.
Oke ini Will enggak belum belum ada Will. Will mungkin gini aja Will kamu
Will. Will mungkin gini aja Will kamu deskripsiin aja di chat aku jelasin bagian bawah ini dulu nanti aku balik ke kamu lagi yaitu ya. Sip. Nah.
Ini sebenarnya tadi kan em ada pertanyaan bagus banget nih dari Sam. Sam tuh nanya. Sam tuh nanya kalau
Sam. Sam tuh nanya. Sam tuh nanya kalau misalnya bahasa-bahasa kayak gini dapatnya dari mana resource nih? Nah
sebenarnya sejujurnya itu dari pengalaman. Tapi kalau misalnya mau
pengalaman. Tapi kalau misalnya mau dapat resource nih resource-nya ini framework-nya biar teman-teman enggak bingung. Karena mungkin tadi Sam, Kris,
bingung. Karena mungkin tadi Sam, Kris, Putri atau teman-teman yang lain bingung ini kok Raman sama Mike itu kok bisa bikin langsung kayak gini instan gitu kan. Kok bisa nih dapat kayak begini
kan. Kok bisa nih dapat kayak begini instan gitu bisa kepikiran kayak gini.
Nah, ada framework-nya teman-teman nih.
Nah, framework-nya begini. Durasinya
berapa lama, berapa banyak, outcome-nya apa sistemnya apa?
Contohnya gimana nih durasi atau berapa banyak? tujuh langkah ni outcome-nya
banyak? tujuh langkah ni outcome-nya untuk punya 48 jam.
Eh, sori sori ini sistemnya. Sistemnya
tujuh langkah. Nah, dalam sehari durasinya sehari.
Nah, ada satu lagi sistem. Cara
outcome-nya menyelesaikan kerjaan 24 jam durasinya 3 jam. Nah, Teman-teman bisa ikutin formula ini ya kan tadi kan kita juga pakai di sini
120 topik ngobrol asik ini adalah sistemnya nih. Ini sistemnya nih. Itu
sistemnya nih. Ini sistemnya nih. Itu
sistemnya ya kan dalam 10 menit durasinya ini outcome-nya gitu ya. Jadi kita pakai formula ini SEAM. Jadi kalau misalnya nanti teman-teman Sam dan yang lain mau
bikin ee produk bisa ngikutin sistem ini aja. Makanya tadi offnya Sam bisa
aja. Makanya tadi offnya Sam bisa langsung kita twik kayak gitu. Jadi
pakai formula ini. Nah, sistem ini itu apa? Mungkin bingung sistem itu apaan
apa? Mungkin bingung sistem itu apaan sih? Sistem itu adalah metodenya.
sih? Sistem itu adalah metodenya.
Metodenya apa nih? Apakah dalam bentuk blueprint? Apakah dalam bentuk
blueprint? Apakah dalam bentuk challenge? Apakah dalam bentuk sistem?
challenge? Apakah dalam bentuk sistem?
Apakah dalam bentuk hack? Apakah dalam
bentuk course atau mungkin kadang-kadang ini rahasia cara ya kan eh atau misalnya something like that. Jadi bisa kayak
gini nih sistem tuh tinggal kita ganti aja kata mana dari sini yang cocok masuk ke sini gitu teman-teman. Nah, kalau
misalnya non tangible gimana durasinya berapa banyak, outcome-nya apa?
Sistemnya apa? Plus tangible factor atau eternal market. Kayak tadi contoh tiga
eternal market. Kayak tadi contoh tiga rahasia ini buat fris nih mungkin optimal nih. Tiga rahasia ya kan durasi
optimal nih. Tiga rahasia ya kan durasi atau berapa banyak outcome-nya apa?
Berdamai dengan stres.
Sistemnya apa? Challenge
supaya sehat mental dan fisik. Nah, ada
eternal marketnya, Teman-teman.
Atauak bisa yang kedua kita tinggal balik aja tangible factor dulu, sistem outcome baru durasi sehat mental dan fisik. tiga rahasia berdamai dengan
fisik. tiga rahasia berdamai dengan stress challenge gitu teman-teman ya. Jadi kurang lebih gitu
teman-teman ya. Jadi kurang lebih gitu caranya yang kita bisa lakuin. Nah,
kalau misal teman-teman mau lebih optimal lagi semua ini tinggal ditambahin pain.
Jadi contohnya kalau misalnya punya SE tinggal kita tambahin tanpa di sini tanpa ini nih tanpa apa? Tanpa harus ganteng luar
makin menarik enggak coba? Kadang-kadang
kan orang kan takutnya begitu. Gua mau
ngobrol sama gebetan gua, mau sok asik nih sama gebetan gua supaya dia baper.
Tapi gua enggak PD karena gua enggak ganteng. Benar enggak? Kalau misalnya
ganteng. Benar enggak? Kalau misalnya
kita bilang gini, 120 topik ngobrol asif gebetan buffer dalam 10 menit tanpa harus ganteng semua cowok beli, Bro.
Gitu kan. Nah, jadi tanpanya itu loh ini powerful banget.
Makanya ini juga dipakai dier blueprint ya tanpa endorsement, tanpa live shopping, tanpa ail penting banget tuh, kencang banget ya. Jadi tinggal kita
gituin aja. Sama contohnya kayak tadi,
gituin aja. Sama contohnya kayak tadi, siap traveling ke Jepang besok dengan modal R juta untuk 5 hari. Nah, ini
contohnya put yang tadi gua share juga nih. Bisa dioptimasi juga kayak gini ada
nih. Bisa dioptimasi juga kayak gini ada ada nominalnya, ada durasinya.
Nah Teman-teman kurang lebih gitu tuh yang kita bisa lakuin. Nah, tanpa harus tajir juga bisa
lakuin. Nah, tanpa harus tajir juga bisa nih ya. Tanpa harus ganteng atau enggak
nih ya. Tanpa harus ganteng atau enggak tanpa harus tajir nih. Sudah masukin
ini sudah bisa nih. Keren.
Orang pasti beli. Oh, atau enggak gini tanpa harus ganteng dan tajir. Mantap.
Orang pasti beli semua nih. Kini gua
juga mau beli kalau saya gini kan apa gua bikin aja kayak gini. Menarik nih
hajar ini pasti mantap nih salnya nanti.
Oke last but not least kita e ngobrol ke Will punya ya. Jadi WH itu coursenya tentang belajar digital marketing social media dan lainnya. Tapi belajarnya by notion tulisan enggak pakai video jadi lebih cepat karena aku lihat di luar dan
aku pernah itu juga itu mahal.
Oke. Nah ini berarti yang udah ketemu tuh baru aspek ininya aja Will baru durasinya doang yang udah ketemu.
Sistemnya juga udah ketemu nih. Apa?
Karena gini.
Durasinya itu dih kamu bilang 3 hari ya sistemnya notion handwork ya Will. Nah, tapi
outcome-nya belum ada nih. Ini yang
harus kamu cari ya kan? Kalau misalnya udah ada bisa
ya kan? Kalau misalnya udah ada bisa gini digital marketing notion handbook
auto profit juta dalam 3 hari misalnya something bisa nih kayak gini contoh nih.
Nah, tapi outcome-nya harus ada dulu.
Apa nih outcome-nya? Kalau aku kan kasih contoh kan auto profit ya kan. Nah, ini
nanti kamu harus bikinnya sendiri gitu.
Semoga membantu ya, Wil ya.
Sip, Teman-teman. That's pretty much it so far. Gimana session-nya? Apakah
so far. Gimana session-nya? Apakah
mencerahkan? Let me know. That's pretty
much it for the session.
Oke, Teman-teman. So today we're gonna discuss about this ya. Jadi gimana sih cara kita bisa ngebangun million dollar offer ya kan. So we're gonna talk about
people's most common mistakes. Jadi
supaya teman-teman tuh bisa menghindari kesalahan ini semenjak gini. Karena aku
udah ng for your information aku udah in this business sekitar 2 tahunan du hampir 3 tahunan and I made more than 20 products already. Jadi aku udah ngetes
products already. Jadi aku udah ngetes banyak banget dari ebook, dari online course, dari webinar, dari based courses, dari online coaching, dari grup coaching, every single thing that you
can imagine. Aku udah tes dan dalam
can imagine. Aku udah tes dan dalam perjalanan itu ada beberapa kesalahan yang oh rasanya kalau aku tahu lebih awal nih aku bisa meminimalisir e kesalahan tersebut gitu. Jadi aku akan
share habis ini. Ada juga getting the right pricing. Nah, karena kalau
right pricing. Nah, karena kalau misalnya kita ngomongin harga gitu ya, Teman-teman. Ketika misalnya lagi mau
Teman-teman. Ketika misalnya lagi mau bikin digital product, nanti mungkin ada beberapa dari Teman-teman tuh yang udah mikir, "Ini gua udah tahu mau bikin apa tapi bingung nentuin harganya gimana, harga yang pas tuh berapa ya." Nah,
something like that. Nah, kita akan bahas juga nanti, Teman-teman. And we're
gna talk about tapping into core human needs. Jadi, gimana cara kita make sure
needs. Jadi, gimana cara kita make sure ketika kita bikin digital product, bikin offer, ketika kita launch itu tuh emang udah benar-benar yang termaksimal.
Jangan sampai kita eh maksudnya ketika udah launch eh tapi kok ternyata masih ada yang bisa di-improve dan segala macam. Nah, itu tuh kita bisa tahu
macam. Nah, itu tuh kita bisa tahu dengan cara apa? Dengan melihat human needs, gitu. Nah, last but not least, my
needs, gitu. Nah, last but not least, my favorite part which is shark bite versus moskito bite. Teman-teman, we're gna
moskito bite. Teman-teman, we're gna first discuss about people's most common offered creation mistake. Ya, jadi ini teman-teman ketika nanti membuat offernya, coreover-nya apalagi kayak
Dave Sue udah mulai bikin lead magnet, sudah mulai bikin coreover, ini bisa menjadi renungan gitu ya e buat ke depannya juga. Teman-teman, the biggest
depannya juga. Teman-teman, the biggest mistake is actually we tend to make too many offers.
Nah, ini kesalahan terbesar kita kadang-kadang itu tuh kita tuh membuat kita tuh pengin buat banyak gitu.
Padahal terkadang mungkin teman-teman mikir bikin satunya gua udah capek setengah mampus apalagi bikin banyak gitu kan. Nah, tapi ketika teman-teman
gitu kan. Nah, tapi ketika teman-teman gini trennya trust me ketika teman-teman sudah bikin satu kalian akan PD dengan apa yang kalian bisa buat dengan potensi kalian. Kalian akan PD ketika itu
kalian. Kalian akan PD ketika itu terjadi kenapa gua enggak bikin dua aja ya? Kenapa gua enggak bikin tiga aja?
ya? Kenapa gua enggak bikin tiga aja?
bikin empat aja itu akan terjadi. Trust
me. Ketika teman-teman sudah selesai bikin offer pertama kali, kalian akan berpikir seperti itu. Kayaknya nih gua udah bikin online course, gua tambahin mini ebook. Asik nih gua tambahin ini
mini ebook. Asik nih gua tambahin ini asik nih. Akan seperti itu ya. Apalagi
asik nih. Akan seperti itu ya. Apalagi
Sam nih. Shoutout juga Sam. Sam tuh
enggak cuman offnya yang banyak, akunnya aja ada lima. Sam gua kagak ngerti. Sam
tuh terlalu dewa gitu ya. Time
managementnya bisa sampai bikin lima akun gitu kan teman-teman. Nanti bisa
cek ya Sam maybe you can share your accounts ada apa aja nanti teman-teman bisa cek semua. Ya, kayak gitu. Too many
offer, Teman-teman. Nah, kalau misalnya kita bikin kebanyakan, hasilnya seperti apa? Nah, ini aku kalau enggak salah dapat dari buku Effortless sama Essentialism dari Greg Mcwin. Dia
tuh bilang gini, "Kalau misalnya kita bikin satu aja, satu aja off-nya, hasilnya kayak yang kayak di kanan nih, Teman-teman. Tuh, eksponential
Teman-teman. Tuh, eksponential growth-nya ya. Jadi, dari 1 2 3 4, wah mantap
ya. Jadi, dari 1 2 3 4, wah mantap banget.
Nah, tapi teman-teman kalau misalnya kita satu orang nih bikin 8 1 2 3 4 5 6 7 8 kita bikin 8 yang berbeda,
kita marketingin, kita distribusiin secara waktu yang bersamaan, Teman-teman. Ya, hasilnya begini, enggak
Teman-teman. Ya, hasilnya begini, enggak ke mana-mana. Satu produk cuman bisa
ke mana-mana. Satu produk cuman bisa segini, produk kedua bisa segini, produk ketiga bisa segini, produk keempat bisa segini, dan seterusnya. Tapi sedangkan
kalau misalnya kita bikin satu, kita put of our marketing and sales effort itu one.
Hasilnya begini, Teman-teman. And kalau
misalnya Teman-teman perhatikan itulah yang gue lakukan selama beberapa bulan ke belakang. It's actually pretty easy to get 1500 orang yang eh ikut
webinar kemarin. Kenapa? Karena every
webinar kemarin. Kenapa? Karena every
single post, every single content kita arahin ke sana. Kita sold out sebelum eh waktunya webinarnya sudah berjalan.
Kenapa? Karena kayak gitu. Makanya kalau
teman-teman lihat postingan, teman-teman bisa scroll, teman-teman bisa cek every single one of our post, most of them teman-teman, itu tuh 80% tuh ngarahnya
ke webinar, sisanya ke kasih value aja gitu. Nah, jadi itulah the power of
gitu. Nah, jadi itulah the power of focus yang I'm gonna share you in a bit.
Nah, kalau misalnya kita ngomongin marketing ratio, Teman-teman, this is the ratio. Jadi, mungkin Teman-teman
the ratio. Jadi, mungkin Teman-teman juga kadang-kadang ada berpikir ketika nanti udah jadi nih digital productnya ya, berapa kali ya kita harus jualan, berapa kali ya kita harus kasih value.
Yang enaknya gimana supaya audience kita tuh enggak merasa dijualin terus. Benar
enggak sih? Pernah berpikir seperti itu enggak? Nih nanti gua bikin produk nih.
enggak? Nih nanti gua bikin produk nih.
Jualnya seberapa sering ya? Supaya
audiens tuh enggak risih. Nih orang kok jualan mulu gitu. Nah, so that is the question that a lot of us have gitu.
Kalau misalnya kita ngomongin secara teori sebenarnya 3 is one, teman-teman untuk setiap tiga konten value yang kita kasih kita bisa minta sekali. Jadi empat
konten nih, tiga kontennya itu kita ngasih value. Satu kontennya kita jualan
ngasih value. Satu kontennya kita jualan boleh. Nah, itu zaman dulu. Tapi zaman
boleh. Nah, itu zaman dulu. Tapi zaman
sekarang, Teman-teman, here is the crazy part. Makanya kalau misalnya teman-teman
part. Makanya kalau misalnya teman-teman udah paham em Handra ya, apalagi Dave, Sue Sam pasti udah paham Sam, eh Samuel
juga kalau misalnya eh udah nonton yang day wah udah day berapa tuh?
D6, D7 kali ya atau misalnya yang VCU yang monetization there's something called handraiser. If you guys take a
called handraiser. If you guys take a look at that, you can sell in every single one of your content and you don't sound like selling. Kenapa? Karena it's
just a call to action to just chat.
Benar enggak?
komen mulai ya, komen bla bla bla ya.
Nanti gua kirimin lo DM supaya lu bisa tahu cara mulanya gimana. Kan kita
enggak jualan, lu ikutan webinar gua ya, lu beli online course gua ya. Enggak
kayak gitu. Jadi dari yang tadi angkanya 3 banding 1 bisa semuanya kita jualan gitu. Nah, ini saya kayaknya agak
gitu. Nah, ini saya kayaknya agak sedikit salf ya sama chat-chatnya ya.
Terlalu luar biasa ini kan. Kalian lihat
loh akunnya Samuel Moses. Segitu banyak
dia manage akun.
kayaknya saya aja kalah gitu kan. Gua
aja manage dua akun aja capek Sam. Ini
dia manage berapa akun? Del akun. Keren.
Nah, ya kayak gitu teman-teman. Jadi
fokus ke giving value. Tapi kalau
misalnya kita udah pakai strategi handrazer, you can actually sell in every single one of your content. Nah,
here's the thing, Teman-teman. Ketika
Teman-teman sudah tahu itu, the thing is kalau misalnya kita jualan di seluruh konten kita, itu tuh bisa tapi ada tekniknya.
Kalau misalnya kita cuma punya satu produk, di setiap konten kita, kita jualan produk yang sama, itu enggak apa-apa. Kenapa? Karena it's all
apa-apa. Kenapa? Karena it's all centraliz into one single product.
Nah, Teman-teman, kalau misalnya melakukan itu, orang-orang tuh jadi awareness-nya terhadap produk Teman-teman tuh jadi akan makin mantap.
In a sense people will understand saat ini yang teman-teman lagi lakuin itu tuh apa, yang lagi mau ditonjolin apa. Itu
jadi gampang. Nah, mungkin teman-teman pernah dengar yang namanya rule of seven. Pernah dengar enggak?
seven. Pernah dengar enggak?
Kalau misalnya audience kita tuh masih cold, masih benar-benar tuh enggak familiar banget sama kita, mereka tuh perlu melihat offer kita atau apa yang
kita bisa tawarkan tujuh kali sampai akhirnya mereka mau beli. Nah, itu rule of seven. Mungkin pernah dengar eh
of seven. Mungkin pernah dengar eh marketing rule itu dan itu sebenarnya cukup true juga. Jadi patokannya gini, orang tuh harus melihat konten kita atau offer kita tujuh kali. Nah, ketika orang
udah lihat tujuh kali, mereka baru bisa make purchasing decision. Nah, mereka
bisa mil itu akhirnya gua mau beli atau gua enggak mau beli atau gua belinya entar. Itu bisa terjadi seperti itu. Itu
entar. Itu bisa terjadi seperti itu. Itu
kalau cool. Kalau misalnya warm udah beda, apalagi kalau udah hot. Contoh,
kalau udah hot gimana? Misalnya Dave,
misalnya Ari, misalnya Jonathan, misalnya Aini, misalnya Paula, misalnya Mas Budi. Gue tawarin nih, Guys. Gua ada
Mas Budi. Gue tawarin nih, Guys. Gua ada
program lanjutan nih untuk Value Creator University sekian-sekian nih investmentnya. Mau enggak? Mungkin di
investmentnya. Mau enggak? Mungkin di
atas 50% mau gitu atau mungkin di atas 70%.
Dev is to kind ya always ya. Mau di atas 80% 90% mau. Kemungkinan besarnya untuk orang-orang mau invest di program kita kalau udah hot market. Hot market
maksudnya apa? Udah beli program kita sebelumnya mereka mau. Nah, tapi
bagaimana dengan Cold? Makanya butuh
rule of 7 gitu. Ini dari Dimas. Ini
boleh minta record-nya kah? Nanti karena
sinyal saya lagi jelek. Enggak apa-apa
boleh kok nanti kita kasih ya tenang aja. Nah Levina Kak tapi aku baru lihat
aja. Nah Levina Kak tapi aku baru lihat iklan ke Arawa sekali doang langsung percas webinar kemarin. Itu makan ya gunanya copywriting dan nanti teman-teman bisa belajar juga ya. Jadi
selama 14 hari ke depan ya ee teman-teman utilize ada Mike, ada Helmi, ada timku ya. Teman-teman bisa doner aja. Tolong dong bantuin gua bikinnya
aja. Tolong dong bantuin gua bikinnya donunder aja terus sampai mereka stresonder aja. Gua pun juga kalian
stresonder aja. Gua pun juga kalian doner enggak apa-apa. Kalau misalnya
Sam, Dave, Sue itu kan kita masih lama ya. Jadi you can doner me every single
ya. Jadi you can doner me every single day enggak masalah ya tenang aja gitu.
Nah, jadi that's what's up. Kalau
misalnya kita bikin satu produk semuanya kita centralize effortnya ke satu produk itu aman. Tapi here's the thing. Kalau
itu aman. Tapi here's the thing. Kalau
misalnya kita delan produk orang bingung.
orang tuh bingung gini loh, misalnya di konten yang ini gue promosiin produk A, di konten yang ini gue promosiin produk B, di sini produk C, produk D, produk E, produk F, dan seterusnya. Jadi, setiap
kali kita promosi, kita mempromosikan hal yang berbeda-beda, orang jadi bukannya malah mau beli, jadi bingung gua beli yang mana nih ya? Benar enggak
sih? Make sense enggak gitu loh.
Orang tuh jadi bingung, "Eh, gua tahu nih lu punya produk tapi gua belinya yang mana ya?" Nah, jadi kurang lebih kayak gitu. Orang tuh jadi bingung gua
kayak gitu. Orang tuh jadi bingung gua harus beli yang mana. Sedangkan kalau
misalnya semuanya satu produk jadi gampang kita tahunya. Oh, Rama wants to fully focus on this. So, let's join this. Gitu. Nah, Teman-teman, kalau
this. Gitu. Nah, Teman-teman, kalau misalnya orang udah bingung akhirnya mereka yang tadinya mau beli jadi enggak beli. Sayangnya itu that is one of the
beli. Sayangnya itu that is one of the biggest mistake yang gue punya dan gue lakuin dulu ketika gue bikin banyak banget produk, balik lagi gua udah bikin 20 lebih produk. Nah, dari semua itu
udah ditesilnya seperti demikian. Jadi,
sebisa mungkin jangan ditiru kesalahan tadi gitu. Nah, balik lagi ke yang tadi
tadi gitu. Nah, balik lagi ke yang tadi gue sempat bilang di awal. There is a dilemma, Teman-teman. There is a
dilemma, Teman-teman. There is a dilemma. Kenapa? Karena begini, no
dilemma. Kenapa? Karena begini, no briner kita kalau misalnya kita bikin lebih banyak produk, duit kita lebih banyak, right? Let's say kita punya satu
banyak, right? Let's say kita punya satu produk kita bisa dapat berapa? Tapi
kalau misalnya kita bikin dua, kita kali dua nih, kita bikin tiga, kita kali 3 nih, kita bikin empat kita kali 4 nih our revenue. Nah, kurang lebih kayak
our revenue. Nah, kurang lebih kayak gitu logikanya. Tapi sebenarnya it's not
gitu logikanya. Tapi sebenarnya it's not as easy like that. Nah, solusinya gimana kalau misalnya kita mau bikin banyak off? Ini ini berlaku juga buat Mas Budi
off? Ini ini berlaku juga buat Mas Budi ya, karena kan trainingnya ada banyak, Mas. Jadi, ini bisa di eh
Mas. Jadi, ini bisa di eh implementasikan buat BQC juga. Here's
the thing, Teman-teman. Udah ada yang pernah lihat ini belum? Di modul udah sempat lihat intip ini belum? Apalagi
Teman-teman yang baru ya. Ah, ini belum.
Kalau Samuel Oxy udah ya, Teman-teman.
So, bagi teman-teman yang belum, belum sampai situ ya, belum ya, ada beberapa yang udah gini teman-teman. So, there's
something called value leader. Oke,
value leader itu apa? Kita harus paham dulu ketika kita mau bikin core offer sebelum kalau misalnya kita mau bikin corover harus paham ini dulu. Kenapa?
Dengan kita paham ini kita jadi tahu kita harus bikin digital product itu apa aja.
Dari awal kita sudah harus tahu itu.
Nah, ketika kita tahu itu, jadi kita efektif planning ke depannya tuh gimana.
Nah, ini ada berbeda-bedanya kayak gini.
Contoh bait. Bait itu tuh ada dua tipe, Teman-teman. Ada yang namanya lead
Teman-teman. Ada yang namanya lead magnet, ada yang namanya trip wire.
Bedanya apa? Lead magnet itu gratis tapi kita kasih mereka gratis mereka tukerin data ke kita, ya. Jadi mereka kasih nama, nomor HP, sama email. Gunanya apa?
Ketika nanti kita launching produk, kita bisa tawarin ke mereka. Itu yang namanya lead magnet. Mereka dapatnya gratis tapi
lead magnet. Mereka dapatnya gratis tapi mereka tukerinnya sama nama, nomor HP, email. Lead magnet. Yang kedua adalah
email. Lead magnet. Yang kedua adalah contohnya webinar yang teman-teman kemarin ikutin. Ingat ya, value creator
kemarin ikutin. Ingat ya, value creator webinar harganya berapa? Ada yang 27, ada yang Rp20.000, ada yang R7.000. Itu
sifatnya trip bait. Kenapa? Karena
harganya sangat murah. You wouldn't
think twice. Segini doang ya udahlah coba aja. Benar enggak. Nah, itu adalah
coba aja. Benar enggak. Nah, itu adalah bait-nya. Nah, after bait comes the
bait-nya. Nah, after bait comes the front end. Nah, front end ini adalah
front end. Nah, front end ini adalah yang namanya core offer.
Di webinar ini aku mau fokus ngebahas yang namanya coreover ini. Yang middle
sama back endi kita ngebahasnya kayaknya ketika nanti kita udah lebih punya struktur yang bagus dan kalau misalnya digital produk kita corovernya sudah sukses baru kita ngomongin yang belakang
ini gitu. Nah, coreover ini apa? adalah
ini gitu. Nah, coreover ini apa? adalah
produk terlaku kita yang tadi teman-teman lihat nih yang di sini yang kita jualin semua ini. Ini tuh harusnya yang paling besar tuh corover kita.
Kenapa? Karena it's the biggest eh product that we can promote dan harganya. Oke. Nah, contoh core
harganya. Oke. Nah, contoh core offer-nya productivity boy ya. Maybe I'll just share it to you
ya. Maybe I'll just share it to you guys.
Oke.
Oops.
Itu dulu ini yang namanya flow zone blueprint. So I
basically got my first eh one billion rupia. Jadi R miliar pertamaku dari dari
rupia. Jadi R miliar pertamaku dari dari sini nih. Lumayan juga jualan C.000
sini nih. Lumayan juga jualan C.000
dapat 1 M. Not bad right gitu kan. Nah,
jadi teman-teman kalau misalnya teman-teman udah ketemu ini ada Arif Budi nih. Shoutout nih Arif Budi juga
Budi nih. Shoutout nih Arif Budi juga ada hari ini. Jadi kalau misalnya teman-teman udah nemuin your winning product ini, teman-teman promosiin gila-gilaan, you can literally print money gitu loh. Nah, itulah fungsi dari
si coreover tadi.
Nah, cara mainnya gini, Teman-teman. Ini
aku kasih simulasi tadi ya. Kalau misalnya kita ngomongin
tadi ya. Kalau misalnya kita ngomongin ada trip, ada coreover, sama ada back end. Nah, kita ngomongin ee simulasi
end. Nah, kita ngomongin ee simulasi gini Teman-teman.
Ini adalah ee contoh dari roadmapku dulu ketika gue pengin bikin kan dulu productivity full ya, ketika dulu bikin productivity mindsetnya
begini nih. Jadi inilah yang eh gue
begini nih. Jadi inilah yang eh gue design untuk customer journey-nya. Nah,
mungkin Mas Budi bisa relate-relate juga. Jadi, I'm aware teman-teman ini
juga. Jadi, I'm aware teman-teman ini dari sudut pandang productivity ya.
Kalau misalnya orang mau produktif yang harus pertama-tama diatasin tuh apa?
Masalah mereka nunda-nunda atau enggak.
Karena kalau misalnya mereka nunda-nunda, mereka sudah beli course, udah beli pun mereka masih nunda-nunda mengkonsumsi coursenya. Betul enggak?
mengkonsumsi coursenya. Betul enggak?
Nah, jadi pertama-tama yang harus kita atasi apa? Masalah nunda-nundanya. Nah,
atasi apa? Masalah nunda-nundanya. Nah,
ketika mereka sudah beres bisa nunda-nunda, mereka baru bisa mulai belajar time management, energy management, sama focus management. Basic tiga ini sudah
focus management. Basic tiga ini sudah dapat, mereka baru bisa jadiin ini habit. Nah, logikanya ke sana. customer
habit. Nah, logikanya ke sana. customer
journey-nya ke sana. Nah, kita ganti shift kita perspektifnya kita ganti.
Ibaratnya kalau misalnya kita ngomongin ee sekolah ini tuh SD, ini tuh SMP, ini tuh SMA gitu loh. Semakin naik kelas semakin mahal kan. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu. Kalau misalnya kita
ngomongin topik lain, Teman-teman, supaya lebih seru, give me a topic, a niche. Apa kek, a finance kek, apa kek,
niche. Apa kek, a finance kek, apa kek, kasih deh niche. Gua kasih contoh.
Ada enggak yang mau traveling health?
Oke, kita lock dua itu ya. traveling ya
sama health ya. Let's say putri for putri traveling yang di sini kita bisa bikin let's say contoh gini nih itinerary misalnya di sini pergi ke Jepang itinerary-nya apa? Jadi literally
cuma D1 sampai D7 sampai D14 ngapain kalau traveling? Nah di sini kita bisa
kalau traveling? Nah di sini kita bisa bikin ebook culture-nya orang-orang eh Jepang tuh gimana sih? Habis itu hidden jam-nya tuh apa aja sih? Terus gimana
cara berinteraksi sama orang Jepang tuh apa sih gitu ya. Atau kalau misalnya lu ketika ke Jepang mau eh berbaur sama orang Jepang, apa aja yang harus dilakuin sih bisa bikin ebook-nya kayak eh kayak gitu. Nah, lanjutannya lagi
yang lebih mahal kita bisa bikin eh group travel put which is the thing that you are doing already. Nah, jadi
something like that funnel. Nah, kalau
misalnya kita ngomongin health, contoh health misalnya ngej. Nah, nge-gym
98.000 ini kita bisa jual apa?
misalnya ee nutrisi kita nih kalau misalnya lagi mau keluar makan kan suka bingung ya mau cari nutrisinya apa. Jadi kita kumpulin semua restoran-restoran yang ada di
mall-mall. Contoh Solaria kek, HWBand
mall-mall. Contoh Solaria kek, HWBand kek, Paper Lunch kek, BGM GM ke or apapun itu kita kumpulin let's say 100 list restoran terus kita kasih mereka
menu-menu menu-menu yang sehat yang lo bisa nikmati di restoran ini apa aja ya.
Nah, itu masuknya ke sini. Kenapa?
Karena quick w queen sifatnya. Next-nya
kita baru edukasi lebih dalam lagi.
Ketika el tetap mau menjaga pola hidup lo dengan makan lebih baik, lebih proper lagi, yang harus dilakukan adalah apa?
Teknik-tekniknya apa? Misalnya
memanipulasi hormon misalnya ee ya walaupun I'm not eh enggak gua enggak terlalu setuju ngitung kalori tapi ngitung kalori something like that gitu.
Nah, jadi bisa yang lebih dalam di sini.
Nah, di belakangnya sini kita bisa tawarin coaching. Lu mau enggak jadi
tawarin coaching. Lu mau enggak jadi klien gua? Gua ajarin deh cara supaya
klien gua? Gua ajarin deh cara supaya bisa nge-gym dengan bagus, nutrisi dengan bagus. Nah, funnelnya kayak gitu,
dengan bagus. Nah, funnelnya kayak gitu, Teman-teman. Nah, jadi what we need to
Teman-teman. Nah, jadi what we need to do adalah sebenarnya kita fokus di sini, Teman-teman.
Fokus di barrier paling pertama ini dulu.
Entry level-nya ini kita fokus di sini offer kita. Jadi, kita make sure ketika
offer kita. Jadi, kita make sure ketika kita lagi membuat offer, yang paling bagus tuh yang di sini. Kenapa? Supaya
bisa nge-pol semakin banyak audience, Teman-teman.
Nah, although kalau misalnya di awal-awal sebenarnya emang bagus kalau misalnya kita bikin lead magnet. Kenapa?
Karena sifatnya itu tuh gratis. Tapi
ketika nanti kita udah udah naik level harus kita hargain teman-teman course-nya. Semurah apapun mau hargain
course-nya. Semurah apapun mau hargain Rp20.000 R7.000 R97.000 harus dikasih harga. Kenapa? Karena ada
perbedaan besar di antara lead sama customer.
Ada perbedaan nih. Ee kastanya gini, Teman-teman.
Kastanya gini.
ini langsung ee ini aja ya kastanya gini nih, ada yang namanya audience, ada yang namanya leads, ada yang namanya
customer, ada yang namanya client. Nah,
gini ibaratnya gini, Teman-teman.
Satu leads itu tuh kayak 10 audience.
Satu customer itu tuh kayak 100 audience value-nya. Satu klien itu tuh kayak 1000
value-nya. Satu klien itu tuh kayak 1000 audience value-nya. Nah, maksudnya apa?
audience value-nya. Nah, maksudnya apa?
Audience itu hanyalah orang-orang yang nonton konten kita ya. Oh, views-nya
berapa? Banyak. Ada 100.000. Nah, tapi
kalau misalnya dari 100.000 itu kita bisa dapat 1000 leads itu udah bagus banget. dari 1000 leads itu kalau
banget. dari 1000 leads itu kalau misalnya kita bisa dapat 50 customer itu udah bagus banget. 50 customer tuh ibaratnya tuh lebih bagus daripada 100.000 views. Paham ya teman-teman ya?
100.000 views. Paham ya teman-teman ya?
E comparison-nya di sini ya. Nah, satu
klien itu tuh ibaratnya tuh kayak 1000 audience, 10.000 audience. Kita kita
dapat 100.000 views 1 M views. Dari 1 M views itu kita bisa dapat 10 klien. Udah
bagus banget klien tuh. Maksudnya apa?
yang eh membayar kita eh service kita lebih dari du digit misalnya, itu udah oke banget. Nah, audience itu tuh cuman
oke banget. Nah, audience itu tuh cuman orang yang mau menikmati konten gratis.
Leads itu adalah orang-orang yang menunjukkan intensi bahwa mereka tertarik dengan produk kita sampai akhirnya mereka menukarkan nama, nomor HP, sama email mereka. Customer itu
orang yang sama kayak leads, tapi bedanya mereka sudah rela bayar. Klien
itu adalah yang udah percaya total.
Contohnya kalau di kasus ini misalnya Mas Budi Dave ya ke gue gitu. Nah, jadi
itu sifatnya udah klien. Nah, next,
Teman-teman. Nah, ketika kita lagi udah buat over ini, what we can do adalah jangan enggak buat over-over di belakang ini, Teman-teman.
Jadi, tadi gua bilang bikin satu offer di awal kuncinya.
Ketika nanti teman-teman sudah jalan, harus bikin back end-nya belakangnya karena duit besarnya justru di sini.
Nah, ee lebih paham enggak teman-teman?
Gitu. Jadi duit besarnya sebenarnya tuh di belakangnya. Tapi untuk orang nyampai
di belakangnya. Tapi untuk orang nyampai belakang gerbangnya harus dibuka dulu, gitu. Nah, jadi di konten-konten kita
gitu. Nah, jadi di konten-konten kita yang kita bisa fokus jualin adalah yang si di depan ini. Yang belakang ini kita fokusnya tuh ngenerchernya pakai email
sama WA, Teman-teman.
Nah, caranya kayak gitu. Inilah yang
kita bisa lakuin supaya offer kita tuh optimized, gitu ya. Jadi ibaratnya gini, kita bisa punya 8 produk boleh, kita punya empat produk, tiga produk boleh, tapi yang kita promosiin satu aja supaya
orang tuh kenal kita tuh, oh si Ramani punyanya value creator webinar ya. Oh,
si Ramani punya e flow zone blueprint ya. Nah, course-course paling terkenalku
ya. Nah, course-course paling terkenalku kan itu. Nah, jadi itu yang kita bisa
kan itu. Nah, jadi itu yang kita bisa lakuin, Teman-teman ya. Sampai sini ada pertanyaan teman-teman.
A bit makes sense ya. Jadi, this is setting you up for your scaling. Nanti
ketika nanti teman-teman udah sukses dengan offer pertamanya karena kita harus punya mindset asumsi kita akan nail it ya, kita harus sukses ya. Enggak
boleh enggak sukses dong gitu kan. Jadi
nanti ketika teman-teman udah launch produk pertama teman-teman nanti jangan fall into the scaling trap teman-teman.
Bikinnya gini ibaratnya gini teman-teman. Jangan
bikin ini tuh ada tig ada empat ada del biji. Jangan bikin begitu. Ini yang
biji. Jangan bikin begitu. Ini yang
depan cuman satu, produk belakangnya yang bisa banyak gitu intinya gitu. Ini
Eza mau tanya. Monggo Eza. I've open the mic.
Oke, thank you Rama. So, forgive me karena aku lagi gak bisa open mic eh open mic open cam.
Tapi aku eh really appreciate webinar hari ini. Yang pengin aku tanyain eh
hari ini. Yang pengin aku tanyain eh sebenarnya ee apa ya? Framework ini juga aku menarik banget gitu. aku udah ngeh juga gitu. Cuman yang pengin aku tanyain
juga gitu. Cuman yang pengin aku tanyain adalah kalau kita mau ngejual yang high management, energy management, focus sama habit building ini berarti kan tadi
Rama bilang pakai eh email eh tadi pakai email dan WA ya. Berarti itu kita nawarinnya ketika kita ngadain lead magnetnya yang free itu ya berarti
either yang free soalnya gini ini kan listnya kita ada. Nah list ini kita ngegedeinnya dari mana? either dari
previous customer, orang-orang yang udah pernah berinteraksi sama kita atau beli produk kita sebelumnya. Nah, tapi kalau misal belum ada cara kita ngebangunnya, gimana dengan menukarkan produk gratis tadi lead magnet gitu.
Oke, berarti once kita mau ngejualin time management berarti kita harus ngejualin procrastination gitu.
Eh, ini ibaratnya kan contoh misalnya gini, Eza, kalau misalnya aku ingat eh yang kamu pernah bikin, kamu kan pernah bikin webinar nih, I kan. Eh, how to start your pharmacy journey. Nah, kamu
kan buka ada berapa spot tuh? 50 spot,
100 spot, e 500 spot misalnya. Misalnya
kita asumsi semua nih udah full book ya.
Misalnya 500 ini.
Nah, yang kita lakukan ketika kita mau rilis yang ini, kita tuh tawarin offer baru kita ke orang-orang yang sudah beli ini Eza gitu.
Oke. I ya ya, ya. Ya, C belakangnya ya berarti ya.
Iya. Jadi karena kenapa? Investmentnya
di sini kan lebih besar.
Iya.
Bukan berarti orang kalau misalnya kita tiba-tiba tawarin di konten nih lu beli Rp300.000 Jadi, Bu, orang enggak mau.
Bukan begitu bisa juga, tapi kemungkinan orang-orang yang udah pernah percaya sama kita, yang sudah beli sebelumnya, kalau mereka puas pasti mereka mau beli lagi dong, gitu.
Oh, iya benar.
Lebih gampang.
Iya, iya iya iya.
Cara mainnya gitu.
Sip. Thank you.
Thank you. Next kita lanjut ke Mas Eka ya. Silakan
ya. Silakan ya. Makasih, Bang Rama ee kesempatannya.
ya. Makasih, Bang Rama ee kesempatannya.
Saya cuma mau konfirmasi aja karena ada beberapa idea yang akhirnya muncul.
Cuman saya ini kan bedanya karena karya yang dijual ya, bentuknya tulisan puisi.
Nah, jadi untuk di fokus awalnya itu saya sih rencananya gini awalnya, Mas.
Jadi saya jual awal itu produknya adalah memang buku puisi saya mau rilis bentar lagi. Nah, di ujungnya yang jadi paling
lagi. Nah, di ujungnya yang jadi paling mahalnya adalah menulisnya tuh sebenarnya.
Hm. He.
Buku tips menulisnya cuman dibalikkah gimana konsepnya dari perjalanannya itu atau tetap seperti itu gitu. Nah, kalau
ada penawaran kayak misalnya dalam harga yang murah atau gratis terlebih dahulu kayak di course-nya itu kan masalahnya kalau nulis puisi itu kan penghayatannya panjang ya Mas ya. Enggak bisa 2 jam 3
jam beres ya. Jadi, gimana tuh, Bang, ee untuk untuk ee mungkin ada brainstorming idea atau untuk saya ee runutin tuh si perjalanan ee produknya itu aja sih, Mas.
Ini ee jadi nanti produknya dalam bentuknya dalam bentuk puisinya gitu ya.
Itu saja atau ada yang lain? Eh, Mas.
Iya. Eh, untuk saat ini saya kan baru rilis dua tuh. Yang satu masih coming soon, yang satu sudah pernah ada. Nah,
baru dua aja berbentuk puisi.
Ini digital sejatahnya digital.
Oke. Ah, ee harganya berapa untuk masing-masing? Yang pertama 30, yang
masing-masing? Yang pertama 30, yang kedua 50. Oke. Nah, ee itu kan kita bisa
kedua 50. Oke. Nah, ee itu kan kita bisa anggap berarti tuh itu tadi jatuhnya ke yang ini, Mas, ke yang si di depan ini nih kan jatuhnya.
Nah, itu jatuhnya ke bait. Nah, nanti kita tinggal bikin
bait. Nah, nanti kita tinggal bikin coreover-nya. Corovernya dalam bentuk
coreover-nya. Corovernya dalam bentuk apa? Mungkin bisa kumpulan puisi tadi.
apa? Mungkin bisa kumpulan puisi tadi.
Let's say misalnya ee Mas Eka punya lima, punya lima ee lima punya 10 puisi.
10 puisi. Kalau misalnya ee kita harga normal Rp500.000, Bu, oh kita kasih harga spesial jadi 397. Nah, itu bisa tuh kayak gitu formatnya. Kalau misalnya
kita mau bundle bisa atau kalau misalnya mau bikin yang lebih ekstrem lagi ee bisa ngajarin cara orang gimana nulis puisi. Itu bisa juga harganya 397 atau apa. Lu kan sudah menikmati nih puisi-puisi gua mau
belajar nulis kayak gua enggak banyak tuh pas yang mau. Ketika itu ee udah marketnya udah kegar bisa dibikin course kayak gitu juga karena kan kita menukarkan value ya, value creator gitu.
Jadi itu mungkin salah satu cara yang bisa dilakukan sih itu ee menurutku Mas Eka gitu.
Nah, I berarti kalau saya kan maunya ujungnya tuh menulisnya karena kelas itu kan sebenarnya yang mahal nantinya gitu.
Nah, cuma saya bingungnya ee si pembukaanpembukaan kayak ininya apa sih kalau di course-nya tuh lead magnetnya itu loh ngawarkannya sih sebenarnya yang agak pusing gitu
karena kan kayak misalnya creating memory tuh experience saya nyari-nyari apa hooknya orang bikin puisi kayak gitu loh Mas. Jadi seringsering
kendalanya di situ sih sebenarnya emang emang enggak gampang Mas Eka karena kalau semua gampang semua orang bisa betul enggak jadi gitu tapi Mas Eka sudah di track yang betul kok ya jadi
menurutku sih tinggal dikembangin aja ya siap siap Mas Eka guys by the way ini gua enggak sadar udah jam . What the
heck? Harusnya ini 1 jam. Biasanya kita
1 jam ya, Mas Budi ya. E Dave dan teman-teman lain ya. Tapi ini gua izin extend ya, Teman-teman ya. Eh, izin
extend ya. Jadi mungkin 30 more minutes teman-teman. Jadi kalau misalnya bagi
teman-teman. Jadi kalau misalnya bagi teman-teman yang perlu leave dulan, silakan leave. Nanti ada rekamannya
silakan leave. Nanti ada rekamannya juga. Tapi kalau misalnya mau stay
juga. Tapi kalau misalnya mau stay sampai habis mumpung gua lagi hype up banget ya, jadi kita lanjutkan aja. Ini
kita simpan sampai Samuel sama Dave ya.
E kita lanjut dulu ke DI kalau ada yang mau nanya.
Oke, Man. suara dengan aman aman aman.
Oke, kemarin gua sempat bikin lead magnet cuma kayaknya masih melenceng sama like where will go malah educate kebanyakan isinya untuk misalnya expose
the problem si itu gimana caranya ya kalau yang aku sempat revisi tapi jadi berasa kayak lari dari topik ngajar itu sendiri lebih bahas ke
inflasi lah kenapa harus tambahin income segala macam kayak gitunya sih karena yang e shar-nya yang mau gua ambil kan
tentang lebih ke wealth-nya gitu.
Hm. Oke, ini gua live eh sharing aja ya.
Jadi sebenarnya kalau misalnya kita mau bikin lead magnet, nah Dave ini nih lagi di fase lagi mau bikin lead magnet, Teman-teman.
Ada ini kita em fokus ini kita basic of copywriting deh. Kalau copywriting kalau
copywriting deh. Kalau copywriting kalau misalnya teman-teman yang pernah eh belajar copywriting kan ada satu yang namanya P yaitu problem agitate solution. Nah, yang kita lagi lakuin
solution. Nah, yang kita lagi lakuin Dave adalah kita tuh lagi ngelakuin dua fase awal ini supaya apa? Supaya yang
ini itu tuh nanti itu jatuhnya tuh di coreover kita. Nah, orang tuh nanti
coreover kita. Nah, orang tuh nanti sampai mau beli corover kita buat ini gitu. So, what we're doing right now is
gitu. So, what we're doing right now is agitating the problem and exposing the problem gitu. Nah, tapi bukan berarti
problem gitu. Nah, tapi bukan berarti solutionnya kitaak bisa kasih. So, I
would say it's probably like this probbly like 80% of the problem and agitation plus 20% of the solution.
Boleh kayak gini.
This is what we can do. Nah, jadi eh kasih solution itu sebatas apa? solution
itu tuh sebatas framework kita bisa kasih atau misalnya outline di itu dulu loh. Kalau misalnya
di eh value creator kan ada webs model gua jelasin nih visioning tuh begini, expanding tuh begini ya kan. Eh lalu eh building tuh begini kalau zaman dulu kan visioning growing, monetizing ya. Jadi
visioning, growing, monetizing. Nah,
jadi menurut gue teman-teman this is a very important topic juga. What we need to do adalah kalau misalnya teman-teman mau skill your product, make an IP.
IP itu maksudnya apa?
dengan gua bilang value creator aja ini tuh sudah ngasih new opportunity karena we're not content creators. Paham enggak, Teman-teman?
creators. Paham enggak, Teman-teman?
Kita tuh udah bukan content creator lagi, tapi kita tuh value creator. Nah,
value creator itu jatuhnya IP. Kenapa?
Karena inilah kata-kata yang gua buat.
Paham ya deh ya? Nah, jadi you can make your own framework. Misalnya rekan
pengajar model atau misalnya rekan pengajar eh framework or rekan pengajar sistem something like that gitu.
Nah, jadi bisa dibikin kayak gitu. Nah,
di sini itu yang kita jelasin framework-nya aja garis besarnya. Nah,
nanti setelah itu eh ng-deep drive-nya baru di corover gitu, De.
Eh, sori. Eh, unmute lagi.
Oke, I see. Tapi kalau misalnya problem sama-nya lebih ke enggak bahas ke topik utamanya, it's oke kah?
kan mengajar tapi bahasnya lebih ke inflasi sama kenapa ya gitu sih karena itu makro level ya kan itu levelnya enggak apa-apa enggak apa-apa
yang pentingannya kok oke alright then thank you day thank you ram sip oke next kita e terakhir sor yaena ya kita habis ini lanjut dulu nanti di
akhir ada sesi lagi kok terakhir kita lanjut ke Samel Oxi dulu ya oke halo halo Kak Rama Nice to see.
Oke. Ee mungkin cepat aja ya Kak Rama ya. Jadi tadi aku sudah lihat ee sambil
ya. Jadi tadi aku sudah lihat ee sambil make notes gitu ya eh tentang slide yang tadi yang procrastination, time management, energy management dan sampai di habit building. Nah, eh core offer
aku itu sudah ada dan untuk tripwirnya juga sudah ada. Cuman yang belum aku bikin itu adalah lead magnet. Nah,
ee jadi nich yang aku dalamin itu adalah di grafologi sama mental health.
konsultan grafologi itu adalah ngam nganalisis kepribadian dari tulisan tangan.
Boleh minta akunmu enggak? E before
that. Apakah Samuel Oxi juga atau apa, Sam?
Iya. @ Samuel Oxi. Boleh. Boleh. Adamel
oxi.
Oke. Sip. Aku sambil buka ya biar gampang.
Heeh.
Eh sip. Boleh sambil lanjut.
Oke. Nah ee di Oh jadi malu dibuka di sini.
Nah, ee yang pengin aku jadi pertanyaan buat aku adalah ee bukan delete manetnya. di lead partitnya itu udah
manetnya. di lead partitnya itu udah tadi sempat searching-searching ya di sempat ee ngobrol sama CGBT juga kalau lead market-nya itu modelnya mau tadi
problemnya 80% sama nanti 20%-nya adalah ee solusinya kira-kira di mana. Nanti
coreovernya adalah yuk kita analisis tulisan tangan kamu untuk bisa ngerti bakat minat atau ngerti trauma kamu.
Nah, yang jadi kebingunganku adalah bukan setelah le magnet kan nanti masuk ke tadi ya ee prokastinasi kalau di Heeh. He
Heeh. He slide-nya Kak Rama kan prokrastinasi.
Nah, yang aku bingung adalah ee plat keduanya itu yang time managemen yang di managementen. Nah, itu aku bingungnya di situ mau aku isi apa.
Karena di yang sudah aku jalani sekarang itu adalah orang beli e-book terus mereka baca, mereka tertarik untuk dapat laporan. Karena di dalam ebook juga aku
laporan. Karena di dalam ebook juga aku kasih kupon diskon 80% untuk ee laporan grafologinya. Nanti mereka langsung ee
grafologinya. Nanti mereka langsung ee minta laporan anakku analisis langsung kita konsultasi. Jadi end goal-nya
kita konsultasi. Jadi end goal-nya adalah tengah-tengahnya dikonsultasi.
Harapanku sebenarnya yang begitu tengah-tengahnya tu mau aku isi apa gitu. Apakah hanya n di konsultasi aja?
gitu. Apakah hanya n di konsultasi aja?
Karena tadi kalau Kak Rama kan ngomongnya adalah konsultasi itu atau coaching itu sebenarnya adalah eh high end produknya gitu Kak Rama.
H. Oke got it. This is a very interesting case. Ini si Dave
interesting case. Ini si Dave senyum-senyum ini kayak karena di chat ada sesuatu kali ya.
Eh, bentar kita lihat dulu ini ada apa sih ini? Kadang-kadang Samuel Moses nih
sih ini? Kadang-kadang Samuel Moses nih kalau ngomong langsung eh bikin ketawa emang si Sam. Eh, oke. Eh,
for Samel Oxy ya. Eh, gini, ini dua-duanya sama-sama Sam ya. Tapi ya you guys know lah.
Panggil aja Oxi. E, aku bisa.
So, here thing in my opinion ini. E,
jadi aku ini dulu.
So, what we can do adalah Oh wait.
Ibu kamu tuh masuk masuknya ke sini.
Nah, tapi tadi konsultasinya tuh langsung jampai ke sini kan maksudnya kan konserning. He.
konserning. He.
Nah, terus di tengah-tengah ini kita mau bikin apa gitu.
Heeh.
Nah, pertama-tama aku mau tanya harga consultation-nya berapa? Axi
consultation-nya berapa? Axi ee biasanya aku langsung satu paket.
Jadi untuk cor aku ada tiga paketnya.
Satu adalah cuma laporan biasa itu around Rp150.000.
Terus yang kedua itu dapat laporan lebih komplit plus konsultasi. Yang ketiga itu laporan grafologi plus analisis trauma plus konsultasi gitu. Aku ada tiga over seperti itu.
Oh, absel-apsel ya. Oke.
Heeh. Jadi kalau konsultasinya langsung rangkap jadi satu.
Heeh. Nah, kamu pernah tahu ini enggak tahu Samara enggak?
Belum tahu Samara ini dia human design coach menurut aku offnya menarik. Although dia
sebenarnya bakal bisa di e update kalau misalnya pakai funeling tapi dia ini aja enggak pakai funeling. Kalau dia
sistemnya mirip sama kamu e Oxi. Jadi
dia ada report yang sedikit doang, ada report yang banyak, ada report yang lebih banyak lagi. Ada eh zoom consultation.
Nah menurut aku di sini ee itu tuh jatuhnya tuh report your eh report. Nah, kita ngomongnya dari segi pricing juga ya yang akan kita
bahas di sini. He. So,
tadi eh harga paling mahalnya berapa Oxi? Sori.
Oxi? Sori.
Eh, harga paling mahal 400.
Oke, 400. Ini udah consultation ya?
Plus konsultasi udahan.
Yang beli aku ini aku straight forward aja ya. Yang beli laku enggak?
aja ya. Yang beli laku enggak?
Eh, so far karena aku enggak terlalu push ya di konten pakai manet enggak terlalu push yang laporan grafologi itu so far baru tiga round tiga. Yang paling
banyak yang tengah soalnya karena itu oke lah menurut mereka.
Ini yang 150 ya berarti itu yang tengah itu yang yang paling laku itu yang 250.
Oke 250 ini kan berarti tadi ebook ee arti tulisan tangan.
Heeh.
One on one consultation biasanya berapa lama? Eh, Sen
lama? Eh, Sen 1 jam.
Ini menurutku dinaikin nih harganya nih.
Jadi minimal 897 lah. Terus ini ee BT teman-teman aku sekalian ke ngomong pricing ya karena ini akan e berhubung sama Oxi punya. Jadi aku lanjut sedikit Oxi ya. Habis ini kita
Oxi ya. Habis ini kita eh balik lagi ke kamu karena kebetulan e getting the right pricing is our next topic. Maksudnya gini, kita tuh sering
topic. Maksudnya gini, kita tuh sering bingung nentuin harga. Bahkan barusan
mungkin Oxi juga bingung harganya oke berapa ya? Sampai tadi gua bilang 800
berapa ya? Sampai tadi gua bilang 800 tuh sampai kok 800. Teman-teman,
ada yang punya guest enggak kira-kira ee harga yang bagus nominalnya untuk kita jualan coreover kita itu tuh berapa sih? Ada yang punya enggak? Eh, guess
sih? Ada yang punya enggak? Eh, guess
just guess gitu. Harganya berapa nih yang bagus di chat ya coba ya.
497 500 plus plus apa tergantung skill kita lif ya good observation menurut aku jangan dibahas 100.000 Kata Will 349 499
R 1 juta. Wah gila Mas Budi udah next level ya. 298 299 5007.
level ya. 298 299 5007.
Actually guys you guys are not wrong.
This is the best range based on my experience selama 2 tahun ini. Ketika
aku udah ngetesting 20 lebih off ini harga yang paling lukratif.
Betul Faris. Betul banget. Jadi gini
bisa ranging dari 47 sampai 397. Kalau
misalnya kita dari 47 sampai 97 itu tuh kita mainnya di trip wire ya. Tapi kalau
udah sampai 197 sampai 397 itu tuh ada corover lumayan. Nah maksudnya apa? Ini
corover lumayan. Nah maksudnya apa? Ini
kelipatan. Jadi harganya bisa gini teman-teman 97, 197 atau 297 atau 397.
Nah mungkin teman-teman bingung kok ada ee 9797-nya. Ini kan sebenarnya kan
ee 9797-nya. Ini kan sebenarnya kan Rp50.000 sama R00.000 gitu kan. Tapi
kenapa 9797 gitu teman-teman? Karena
yang namanya manusia ini kan psychology of anchoring ya. Jadi kita akan ngelihat lebih sedikitnya. Kalau misalnya kita
lebih sedikitnya. Kalau misalnya kita ngomongin 400 sama 397, otak kita tuh bakal mikir ini 300.000 kok bukan R00.000 gitu loh. Sesimpel begitu aja.
Nah, ada juga alasan kenapa kita tuh belakangnya 7 atau 9 teman-teman. Aku udah ngetes banyak
teman-teman. Aku udah ngetes banyak harga. Rp50.000 aku udah sempat tes.
harga. Rp50.000 aku udah sempat tes.
R5.000 aku udah sempat tes. 47.000 aku
udah sempat tes. 49.000 aku sempat tes.
298 bla bla aku sempat tes semua.
Ini udah berdasarkan riset juga. Yang
bikin riset tuh Click Funels punya founder Russell Branson itu orang udah dewa banget. Jadi enggak usah diraguin
dewa banget. Jadi enggak usah diraguin lagi. Dia bilang gini, "Kalau misalnya
lagi. Dia bilang gini, "Kalau misalnya lu mau overall laku eh psikologi pricing yang paling optimal itu tuh kita tuh ngplace ending dari harga over kita itu tuh 7
atau enggak 9. Contohnya gimana? Kalau
misalnya kita mau bikin ee R90.000-an ya 97 jadi R97.000 atau enggak R99.000 jangan R98.000 R. Kalau mau R0.000-an
197 atau enggak 199 itu lebih efektif begitu.
Oke, jadi di video kali ini aku mau share nih terkait struktur dari sebuah landing page. Jadi apa aja yang harus
landing page. Jadi apa aja yang harus kita include ya ketika kita membuat sebuah landing page gitu kan. Nah, jadi
ini ada beberapa hal, ada beberapa aspek yang harus kita masukin. Jadi, kamu mau pakai layanan apapun itu yang kamu ee rasa suk gitu ya sama kebutuhan kamu bebas. Mau pakai WordPress kayak, mau
bebas. Mau pakai WordPress kayak, mau pakai ini, mau pakai itu, mau pakai Google Docs, mau pakai Notion, bebas kamu pakai apapun. Yang penting
elemen-elemen ini harus kita masukin ke dalam landing page. Nah, ini aku ambil contoh dari landing page aku yang soal webinar content creating. Nah, ini akan kita jadiin contoh ya untuk pembahasannya gitu. Nah, ini akan kita
pembahasannya gitu. Nah, ini akan kita jadiin contoh. Nah, jadi kita akan
jadiin contoh. Nah, jadi kita akan ngebahas soal hook dulu. Pertama,
seperti sebuah konten landing page itu harus punya hook. Jadi, apa nih yang ada di paling atas? Nah, jadi ini hook-nya nih. Tuh, ketika aku menemukan metode
nih. Tuh, ketika aku menemukan metode ini, aku berhasil memecahkan kunci menghasilkan Rp juta hanya dalam 2 minggu. Bakal orang mikir enggak kayak
minggu. Bakal orang mikir enggak kayak gimana caranya gitu kan. Nah, itulah
efek yang kita inginkan ketika orang membaca hook. Kita harus dam gitu. Nah,
membaca hook. Kita harus dam gitu. Nah,
dam-nya bisa dua tipe kayak dam gua butuh nih gitu kan. Jadi orang ketika ngelihat gini, "Dam, gua butuh nih, mau banget menghasilkan Rp juta hanya dalam 2 minggu." Nah, itu efek yang harus kita
2 minggu." Nah, itu efek yang harus kita incer gitu kan. Nah, atau enggak yang kedua, dam gua juga mau nih kayak gitu gitu kan. Nah, atau enggak kayak orang
gitu kan. Nah, atau enggak kayak orang kat ngelihat ini, "Dem, gua juga mau nih kayak punya Rp50 juta hanya dalam 2 minggu." Nah, kalau misalnya kita bisa
minggu." Nah, kalau misalnya kita bisa mendapatkan emosi itu, membuat audiens kita berpikir emosi seperti itu dan mendapatkan dan merasakan emosi seperti itu ketika melihat hook ini, itu berarti
kita sukses. Jadi, apapun itu yang kita
kita sukses. Jadi, apapun itu yang kita tulis efeknya sama kayak bikin konten.
Harus bikin mereka kayak what the heck gitu kan. Nah, itu yang kita mau dari
gitu kan. Nah, itu yang kita mau dari hook kita di landing page kita. Nah,
setelah hook kita bisa kasih storyting intro.
Nah, storyting intro tuh maksudnya gimana? Nah, ini yang aku terapin di
gimana? Nah, ini yang aku terapin di sini. Jadi di sini aku enggak langsung
sini. Jadi di sini aku enggak langsung oke ini yang kamu dapat, kamu dapat enggak tapi bercerita dulu. Kenapa
karena manusia seperti kita belajar di branding supercharge ya, manusia itu tuh adalah makhluk emosional di mana otak kita itu tuh berpikir lebih
dominan secara emosi daripada logis.
Nah, jadi di sini kalau kita ceritain cerita kita, kita akan bisa menyentuh sisi aspek emosi dari manusia. Jadi, ini
cerita dan ini kasih before after-nya nih. Eh, ini kasih result-nya. Oh, bisa
nih. Eh, ini kasih result-nya. Oh, bisa
menghasilkan segini loh, gitu kan. Nah,
itu adalah storyting-nya. Nah, jadi di sini kita mengintroduksi diri kita, memperkenalkan diri kita lewat storyting. Nah, lalu setelah itu kita
storyting. Nah, lalu setelah itu kita masukin empathy points. Jadi, empathy
points ini adalah ibaratnya kita tuh berempati dengan audience kita. Oh, kamu
pernah merasa kayak begini, aku juga pernah loh. Nah, jadi supaya mereka tuh
pernah loh. Nah, jadi supaya mereka tuh ngerti kalau misalnya kita tuh tahu apa yang mereka merasa dan kita tuh pernah dalam fase itu. Tapi sekarang kita udah keluar. Caranya gimana, caranya gini.
keluar. Caranya gimana, caranya gini.
Nah, itu yang kita kasih lihat di empathy points di sini nih. Nah, coba
cek apakah kamu pernah merasakan hal-hal di bawah ini? Udah ngonten tiap hari tapi enggak ada views, brand, enggak ada yang ngajakin buat kolaborasi bla bla bla. Ini adalah hal-hal yang mereka
bla. Ini adalah hal-hal yang mereka rasain dan kita bilang ke mereka, "Kita juga kok ngerasain kayak gini, tapi kamu bisa loh berhenti merasa seperti ini."
Nah, ini adalah empathy points di mana kita berempati dengan audience kita, dengan calon customer kita. Lalu setelah
itu kita elaborasi nih benefitnya gimana. Nah, benefitnya itu adalah yang
gimana. Nah, benefitnya itu adalah yang di bawah ini tuh. Inilah yang akan kamu dapatkan.
tuh. Inilah yang akan kamu dapatkan.
Nah, tuh. Tuh, inilah yang akan mereka dapatkan. Ini total-total ini offnya
dapatkan. Ini total-total ini offnya kan. Nah, jadi ini benefitnya apa aja,
kan. Nah, jadi ini benefitnya apa aja, offer-nya apa, bonusnya apa, kita share semua di sini gitu ya. Nah, lalu setelah itu baru penting nih social proof.
Jangan lupa testimoni. Makanya di atas sudah ada testimoni. Ini banyak banget yang ikut. Terus ini testimoni dalam
yang ikut. Terus ini testimoni dalam bentuk video ya.
Halo. Kenal. Tuh, jadi ini emang benar-benar orang bisa nonton videonya terkait pendapat orang-orang terhadap kelas ini. Nah, kurang lebih seperti
kelas ini. Nah, kurang lebih seperti itu. Enggak cuman itu, tapi sebenarnya
itu. Enggak cuman itu, tapi sebenarnya ini juga menjadi social proof. Karena
social proof tuh enggak cuman hanya testimoni, tapi perjalanan kita before and after kita. Dari yang tadi followers aku hanya segini gitu ya, sekarang udah segini gitu kan. Sekarang udah segini
tuh terus naik insights-nya kita kasih lihat ini social proof membuktikan bahwa apa yang kita ngomong itu benar. Nah,
itu social proof penting banget. Ini
yang paling penting nih, social proof.
di sini. Lalu bonus. Kalau misalnya ada bonus kita kasih bonus gitu ya.
Contohnya kayak ini di sini. Oh ini loh bonusnya kamu dapetin. Enggak cuman live webinar kamu enggak cuman kamu akan belajar materi-materi ini. Tapi kok kamu juga akan dapat sesi Q&A. Kamu akan
dapat sesi review akun, sesi bla bla bla bla bla bla gitu. Nah, ini semua kita jabarin. Ini bonusnya. Lalu ini kalau
jabarin. Ini bonusnya. Lalu ini kalau misalnya kamu mau ini enggak ada di sini ya. Tapi kamu bisa kasih guarantey juga.
ya. Tapi kamu bisa kasih guarantey juga.
Misalnya kalau aku di yang dulu di sini kayaknya ada nih gurenty-nya.
Oke, tidak ada. Nah, tapi biasanya kalau misalnya kamu lihat landing page orang lain biasanya tuh mereka ada guarantee di mana mereka bilang, "Oke, money back guarantee gitu kan. Jadi ada
garansi-garansi yang kamu bisa kasih."
Ini opsional. Aku sih kurang suka ya kalau bikin garansi gitu karena maksudnya kalau emang orang mau belajar apalagi kalau digital product mereka bisa mengeksploitasinya. Jadi mereka
bisa mengeksploitasinya. Jadi mereka bisa ee menggunakan itu untuk benefit mereka bisa niat jahat lah ibaratnya.
Jadi mereka cuman beli terus minta refund padahal ya mereka tetap bisa akses. Nah itu kan kurang enak ya. Nah
akses. Nah itu kan kurang enak ya. Nah
jadi sebenarnya kalau untuk digital produk aku pribadi sekarang udah enggak pakai garansi gitu. Nah jadi ini sebenarnya tapi kalau misalnya kamu mau pakai bisa jadi kita bisa bilang oh kalau kamu enggak suka produk ini kita bisa kasih money back guaranti kok.
Kalau misalnya kamu ah coba masih enggak bekerja kita bisa ganti rugi. Kita bisa
kembalikan uangnya. Nah jadi kurang lebih garansi atau guarantey tuh seperti itu efeknya. Nah, lalu ini juga jangan
itu efeknya. Nah, lalu ini juga jangan lupa direct CTA. Nah, penting nih. Jadi
ini harus ada daftar sekarang tanya via WhatsApp kalau misal belum ini. Jadi di
antara semua ini, ini kan ada tombol.
Nah, ini tombol tuh harus ke sini nih.
Harus ngarahin kita ke CTA ini. Tuh kan
ada banyak tombol kan. Kalau misalnya di landing page atau enggak di paling atas ini daftar sekarang set harus ngarahin kita ke sini. Ngarahin kita tinggal kita scroll dikit lagi. Oh, daftar sekarang ya. Nah, ini yang kita mau mereka klik
ya. Nah, ini yang kita mau mereka klik kan. Jadi mereka harus klik ini. Nah,
kan. Jadi mereka harus klik ini. Nah,
jadi semua copywriting kita di atas ini itu tuh harus membuat mereka pengin scroll, pengin scroll, pengin scroll, pengin scroll sampai akhirnya mereka take action. Take action-nya gimana?
take action. Take action-nya gimana?
Dengan membeli produk kita. Membelinya
gimana dengan CTA ini. Daftar sekarang
klik orang nanti beli. Oke, bandling.
Nah, gitu. Nah, jadi kurang lebih seperti itu. Harus ada direct CTA-nya
seperti itu. Harus ada direct CTA-nya dan juga ada bisa kita kasih frequently asked questions. Jadi kalau misalnya kan
asked questions. Jadi kalau misalnya kan kita malas ya kalau misalnya ngeladenin orang misalnya ratusan atau ribuan orang yang mau beli produk kita tapi nanyanya sama mulu. Nah, jadi kita bisa kasih
sama mulu. Nah, jadi kita bisa kasih lihat di bawah kalau misalnya ada FAQ.
Nah, misalnya contohnya kayak gini. FQ
tuh kayak gini tuh. Jadi kayak gini. Apa
yang membedakan program ini dengan program lainnya? Kelas ini akan diadakan
program lainnya? Kelas ini akan diadakan offline atau online? Nah, jadi kalau misalnya kamu ingin membuat FQ seperti ini juga boleh banget untuk membantu menyelaraskan ekspektasi dan persepsi
customer kita dengan realitanya seperti apa nih kelas kita atau produk kita.
Nah, bisa seperti itu juga supaya gampang kalau mereka punya pertanyaan dan pertanyaan ini cukup banyak ditanya dan kita bisa kasih lihat aja supaya mereka enggak nanya ke kita lagi tapi mereka udah punya jawabannya. Nah, jadi
kurang lebih untuk landing page strukturnya seperti itu. Jadi pakai
layanan apapun aman banget. WordPress
kayak Google Docs, Tribelio, Notion, apapun semua bebas asal yang penting strukturnya nih kita bisa ikutin. Nah,
jadi kurang lebih seperti itu. Nah,
ketika kamu membuat landing page, kamu bisa melihat nih top creator kamu siapa.
Jadi, kamu bisa dapat inspirasi dari landing page mereka. Oh, mereka
strukturnya ini dulu ya, baru ini dulu ya, baru ini dulu ya. Nah, gitu. Nah,
jadi ini tuh enggak berurutan ya. Enggak
berurutan. Terserah kamu mau pakainya kapan, kapan, kapan dulu, yang mana dulu, yang mana dulu. Tapi yang penting ini semua kalau bisa ada gitu ya. Nah,
jadi kurang lebih seperti itu untuk struktur landing page. Jadi bisa make sure buat ambil-ambil inspirasi dari top creators yang kamu punya juga di nich kamu supaya bisa mendapatkan
kira-kira bergambaran oh yang converting tuh landing page tuh yang kayak gini.
Nah, jadi kurang lebih seperti itu untuk struktur landing page. Semoga membantu
dan have a great time creating your landing page.
Kita ngomongin hari ini landing page copywriting masterclass. Eh, ini
copywriting masterclass. Eh, ini kelihatan depannya bagus. Percayalah
desain yang bagus ini hanya bertahan sekitar tiga halaman.
Misalnya sudah terlalu lelah untuk melakukan desain. Yang penting materinya
melakukan desain. Yang penting materinya tersampaikan dan bisa membantuah.
Oke, pertama kenapa harus ada landing page? E
page? E landing page itu secara umum itu gunanya cuman tiga, itu yaitu untuk bikin audiens kita
relate kalau apa yang kita jual itu sesuai sama mereka. Yang kedua, bikin mereka percaya kalau kita bisa menyelesaikan problem mereka. Dan yang
ketiga ujungnya adalah bikin mereka beli. Enggak gak ada tujuan aneh-aneh
beli. Enggak gak ada tujuan aneh-aneh lainah.
Karena kan landing page itu kalau dibilang seolah-olah adalah seolah-olah kayak sales person kita, yaitu bikin problemnya, nyesuain produk kita sama
problem dia, bantu dia percaya kalau kita bisa selesaiin dan bikin mereka beli. Nah, sebenarnya apa sih landing
beli. Nah, sebenarnya apa sih landing yang ini kayak tadi apa sih landing page? Landing page itu bukan cuman
page? Landing page itu bukan cuman sekedar halaman, tapi eh perjalanan orang masuk dari pintu kita. Karena
orang datang ke landing page itu bukannya yang belum tahu sama sekali biasanya, tapi yang udah tahu kita, udah tahu tokonya. kita masuk ke satu toko
tahu tokonya. kita masuk ke satu toko misalnya IKEA kredibility how the product works sneak peck masuk ke
journi perjalanan kita landing page-nya gimana harus nentuin ini dulu eh ini si sebutan aja sih biar gampang ingat diamond persona namanya fs challenge
dream valu ini juga pasti udah pernah harusnya udah pernah bikin di audience persona ya nah pada saat bikin landing page coba e dilist lagi betul-betul karena gini karena seperti yang kita
tahu pas kita awal bikin konten kita sudah nentuin challenge, fear, dreams, value apa. Tapi begitu seperjalanan kita
value apa. Tapi begitu seperjalanan kita bikin konten, seaudience kita grow, kita makin ngelihat lagi nih sebenarnya problem yang bisa kita solve itu apa.
Kayak dulu aku pertama kali bikin konten, pengin bantuin orang bisa nulis konten, bisa viral, bisa dapat duit dari menulis. Tapi ternyata lebih banyak
menulis. Tapi ternyata lebih banyak orang pengin belajar jadi copywriter untuk hasilin duit. Nah, ujungnya itulah yang bikin jadi produk. Ada fear-nya
dari situ, dreamnya dari situ, challenge value-nya juga dari situ. Sebelum bikin
landing page, coba dilist dulu di satu halaman kayak di satu word atau apa.
Karena ini bakal bikin kita pas bikin landing page tuh jadi gampang dan cepat banget. Ini kuncinya di sini. Nah,
banget. Ini kuncinya di sini. Nah,
makanya dari situ kita masuk pertama ke main poster atau main offer. Contohnya
adalah ini kalau di OWB dan juga di HHF.
Aku aku mengambil contoh dua aja yang ee dua-duanya aku tulis ya. Ini yang satu adalah eh berdasarkan dream sama challenge. Yang satu berdasarkan dream
challenge. Yang satu berdasarkan dream and dream lagi. Yang ini dream paling atasnya ini kerja 4 jam sehari sampai 12 jam bebas itu dream. Bisa naikin income dua kali lipat dan ngejar passion itu
juga dream.
Nah, ee dari mana kita bisa tahu titik pertama ini kita mulainya dari mana?
Adalah kita lihat dari diamond yang tadi mana yang paling kuat, mana yang paling bisa menarik audiens kita. Karena ee RAM itu kan sebetulnya udah pernah ada
produk FZB ya untuk bikin focus management itu bisa kerja selesai kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam. Nah,
itu kalau itu kan berdasarkan dari challenge dia dan dari dreamnya. Tapi
kalau yang ini karena kita ngambil untuk next stepnya lagi orang udah bisa fokus bisa apa segala macam penginnya apa selanjutnya penginnya bisa naikin income
dreamnya ini yang harus kita kejar gitu.
Nah, kenapa ini harus pada paling atas?
Karena ini adalah yang betul-betul harus menarik mereka. Makanya kenapa tadi eh
menarik mereka. Makanya kenapa tadi eh di awal harus dilist dulu diamond personanya ini eh fear dream challenge value-nya karena jadi kita bisa lihat oh yang mana nih yang sebetulnya paling
penting untuk kita taruh di paling atas.
Nah, dari situ kita masuk ke audiens persona. Ini contohnya ee apa lo ini
persona. Ini contohnya ee apa lo ini hobi menulis? Orang yang hobi menulis
hobi menulis? Orang yang hobi menulis pengin jadi copywritter, pengin kerja full time tapi pengin menghasilkan juga dari side hassle.
ee pengin juga eh pengin hidup sebagai penulis terus ini udah capek kerja income gitu-gitu aja susah dan makan waktu ini. Ini adalah mungkin terdengar
waktu ini. Ini adalah mungkin terdengar mirip sama painp karena dasarnya tetap sama yaitu tadi fear. Tapi di sini kita
pengemasannya adalah kita bentuk dari persona seseorang. Bukannya bukannya
persona seseorang. Bukannya bukannya kata kerja, tapi ee ada orangnya di situ. Nah, goalnya apa? Kalau misalnya
situ. Nah, goalnya apa? Kalau misalnya
ini goalnya cuman dua, bikin orang merasa terpanggil dan merasa terwakili.
Sama apanya? Sama masalahnya dia, sama fear-nya dia. Karena kayak tadi lagi kan
fear-nya dia. Karena kayak tadi lagi kan dibilang untuk landing page ini tujuannya adalah bikin orang relate terus bikin mereka trust. Kalau kita
bisa solve problemnya mereka gitu. Nah, setelah di sini ada ee kita
gitu. Nah, setelah di sini ada ee kita udah bikin mereka tahu kalau mereka tuh adalah audiens kita dan kalau mereka yakin kalau misalnya problem mereka ada
di sini, di sini ada breaking point pertama. Makanya kalau dilihat di HHF di
pertama. Makanya kalau dilihat di HHF di sini langsung ada nih em apa? instant
payment button ada daftar sekarang karena main-nya udah kita kasih, personanya udah kita kasih. Mereka tuh
udah bisa ngrelate kalau yang udah percaya banget sama sama Rama eh mereka bakal langsung check out bakal langsung daftar sekarang. Makanya di sini kita
daftar sekarang. Makanya di sini kita langsung kasih solusinya. Solusinya
adalah produk kita HF gitu. Nah, kalau misalnya belum juga
gitu. Nah, kalau misalnya belum juga kita kasih selanjutnya lagi painpin poin bernya ini.
Nah, makanya si painpin ini lahir dari pain tambah personanya orang. Ini
sebenarnya sor bukan pain doang sih, ini pain itu eh apa namanya? Dream fear
challenge lagi. Kembali ke yang tadi lagi tiga ditambah personanya gitu. Maka
ini sih karena audiensnya by udah terlalu luas ya, jadi enggak ada yang cukup spesifik. Tapi kalau misalnya
cukup spesifik. Tapi kalau misalnya audiensnya ada yang mau spesifik misalnya pekerja atau enggak freelancer itu bisa ditulis banget di sini.
gitu. Karena goal di sini, goal di sini apalagi sama kayak tadi, merasa terpanggil, merasa terwakili untuk ke
masalahnya dia gitu. Nah, ee kembali lagi ya, ini urutannya tuh sebetulnya enggak terlalu harus saklek begini, tapi ini ee contoh aja ada beberapa pelajaran
yang aku ambil dan aku compile jadinya tuh begini. Nah, selanjutnya kenapa
tuh begini. Nah, selanjutnya kenapa harus ada testimonial adalah karena tadi lagi kita sudah bikin trilate nih yang belum adalah mereka belum trust kalau
kita bisa solve problem mereka. Makanya
di testimonial ya dasar.
Nah, di testimonial tujuan ee di di sini tujuan kita itu bukan untuk show off, bukan untuk show off kalau ini udah banyak yang beli produk kita nih udah udah ada ini, udah ada ini, udah ada
ini. Sebetulnya bukan itu tujuan
ini. Sebetulnya bukan itu tujuan utamanya, tapi tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan objection dia akan produk yang mau dia beli.
Nah, contohnya ini. Kalau misalnya di produk aku masalahnya adalah apakah produk ini betul-betul bisa bikin orang itu menghasilkan uang? Apakah produk ini
bisa meningkatkan skill mereka? Makanya
di sini iya pas banget. Makanya di sini yang aku taruh di atas adalah kalau ilmunya diterapin balik modalnya bakal cepat. Jadi objection mereka kalau ih
cepat. Jadi objection mereka kalau ih duit gua bakal balik enggak ya? Di sini
langsung kejawab. Nah, itu beda lagi produk-produk yang lain. Nah, kalau
produknya Rama yang HHF di sini eh objection-nya adalah karena dreamnya tuh kita mainin dream and dreamdream yang gede banget kan. Apakah cara ini akan
masuk akal? Nah, makanya di sini
masuk akal? Nah, makanya di sini dimasukin di sini lebih bagus adalah bisa dimasukin gini sih kalau cuman satu ya objectionnya dan dibikin kita kasih e breaking objectionnya apa? Ada orang
yang sudah menghasilkan ini nih pakai metode yang diajarin.
Contoh lagi eh Fata karena banyak audienceku adalah orang yang betul-betul enggak bisa nulis. Ah banyak ke DM tuh Bang kalau misalnya gua belum pernah nulis kalau dari nol bisa enggak ya join
course-nya? Itu enggak sedikit yang
course-nya? Itu enggak sedikit yang nanya. Makanya ini aku masukin di sini
nanya. Makanya ini aku masukin di sini mudah dimengerti untuk pemula. Jadinya
orang begitu ngelihat, "Oh, ini bisa dimengerti walaupun ini nanti harus dimainin lagi di founder eh ini pekerjaan orangnya apa, festil tambahannya apa, itu bisa dimainin lagi.
Tapi tujuan utamanya itu. Nah, untuk
yang HHF yang sebelah kanan ini eh productivity course for everyone." Dan
di sini dia dokter. Jadi kayaknya dokter tuh mungkin ada hubungannya, tapi bukan seseorang yang bakal terpikirkan kalau ini orang yang butuh tanda kutip
produktivitas. Tapi ini dokter pun
produktivitas. Tapi ini dokter pun mengasih testi seperti ini. Jadinya kita
bisa bangun bangun terust yang lebih lagi gitu.
Nah, selanjutnya adalah kayak tadi eh karena relate tujuannya relate dan juga tujuannya trust, dream identity itu gabungan dari keduanya, yaitu bikin
mereka relate sama dream mereka dan juga trust sama kita. Nah, ini contohnya yang diaku adalah jadi penulis online, menghasilkan uang, bisa dibikin konten viral. yang dirama ini tahu prioritas
viral. yang dirama ini tahu prioritas hidup, kerja 4 jam sehari, belajar menguasai skill dan sampai naik income.
Nah, ini tujuannya kayak relate dan merasa kalau dia terwakili. Terwakilinya
dan merasa terpanggilnya apa? Bukan
masalahnya lagi di sini, tapi sori terwakili dan terpanggil soal mimpinya dia. Kalau misalnya dia tuh memang ada
dia. Kalau misalnya dia tuh memang ada di sini dan kita tuh kita ngasih tahu kita bisa loh wujudin mimpi lu. Nah,
baru selanjutnya kita mulai bangun trustnya nih dengan salah pertamanya adalah credibility dan introduction.
Karena kenapa ini ee ini contohnya dulu ya. Ini contoh di aku adalah ya gini
ya. Ini contoh di aku adalah ya gini konten set of content productivity itu aku tulis soalnya masih kredibilitas rama masih tinggi banget kan jadi itu bisa dicuri kalau misalnya kita punya
kerja di tempat apa atau pernah punya klien apa itu bisa ditulis banget semuanya.
Nah the goal-nya sama kayak tadi lagi.
Eh bukan sama kayak tadi goalnya adalah karena orang itu membeli barang itu dari orang. Orang lebih percaya sama orang.
orang. Orang lebih percaya sama orang.
Karena tujuan dari credibility ini adalah bikin dia percaya kalau kita bisa solve problem mereka. Makanya di sini ee kita kasih kalau bisa kasih foto. Kalau
memang ya ada foto harus kasih foto sih kalau mau bagus sih.
Nih trustnya people buy from people that they trust. Karena makanya di sini kita
they trust. Karena makanya di sini kita bangun mulai kita bangun kalau misalnya tuh em kita tuh bisa dipercaya sama mereka gitu. Nah, di sini karena kita
mereka gitu. Nah, di sini karena kita udah mulai kayak tadi udah kita bangun trust, kita udah kasih tahu relatability-nya, kita udah kasih tahu problemnya, kita udah kasih tahu solution-nya, kita bisa kasih breaking
point lagi. Breaking point-nya ya sama
point lagi. Breaking point-nya ya sama kayak tadi, biar mereka bisa beli di sini. Main over-nya udah ada, personanya
sini. Main over-nya udah ada, personanya udah kita ambil, udah relate, problemnya udah kita tahu solvingnya bagaimana, trustnya udah mulai kita bangun. Dari
situ kita bisa kalau misalnya orang sudah mulai percaya ya mereka langsung beli, gitu. Nah, kalau masih belum
beli, gitu. Nah, kalau masih belum percaya tambah lagi ee kita sudah bikin relate, relate, relate, kita lanjutin lagi.
Orang enggak beli karena enggak percaya.
Itu kan karena aku selalu bilang ee berlian dijual sama tukang siomai, enggak ada yang beli tuh berlian walaupun harganya 1.000 dan murah walaupun itu berlian asli gitu. Tapi
sioma ini dijual sama tukangnya siomai ya dibeli karena orang percaya sama dia.
Masalahnya tuh di trust, bukan masalah di produknya doang gitu. Produk bagus
tapi orang enggak percaya sama yang jual sama aja gitu. Nah, ini contohnya ya yang ee apa
gitu. Nah, ini contohnya ya yang ee apa gimana cara kita sebagai produk maker ini bantu audiens kita. Kalau di aku ya
dikasihnya gini, apa aja yang mereka dapat, format belajar seperti apa. Ini
ee bikin mereka jadi jadi bisa goalnya itu adalah making sense. Jadi mereka tuh masuk akal ini bisa tercapai karena ini, ini bisa tercapai karena ini. Dream
mereka tuh tercapai karena apa yang kita kasih overnya.
Dan gol ada gol kedua sebenarnya dari ini, tapi gol keduanya harus kita bahas dulu sebelumnya adalah sneak pick dari ee produk kita. Snik itu contohnya
seperti ini. Kalau di kita bisa kasih
seperti ini. Kalau di kita bisa kasih betul-betul list apa aja yang mereka pelajarin semuanya. Kita bisa kasih
pelajarin semuanya. Kita bisa kasih video contoh pembelajaran. kita bisa
kasih contoh cheatsetnya, contoh worksheet, apapun itu yang enggak enggak terlalu reveal tapi masih bikin penasaran. Kayak ini kan kenapa aku
penasaran. Kayak ini kan kenapa aku kasih judul-judulnya di sini?
Karena judul-judul ini adalah hal-hal yang sering ditanyain sama audiens.
Kembali lagi karena basisnya adalah audience, kita kembali lagi ke audiens.
Mereka pengin belajar copywriting, gimana caranya? Diajarin oh enggak,
gimana caranya? Diajarin oh enggak, Bang? Ee kalau AI masalahnya gimana?
Bang? Ee kalau AI masalahnya gimana?
Terus gimana cara mulai freelance?
Karena menurutku judul-judul dari setiap bab ini sudah menjawab, jadi aku masukinnya ini. Sedangkan kalau dirama
masukinnya ini. Sedangkan kalau dirama kalau dimasukin judul semuanya HHF itu bakal kepanjangan banget. Tapi garis
besarnya adalah dua gitu. Garis besar
inilah yang membuat ee mereka bisa mencapai gol mereka.
Nah, seperti tadi ini sama making sense of the offer. Nah, tapi eh kayak yang tadi aku bilang kedua hal ini sneak pick dan juga e how the product works itu tuh
ada dua goal sendiri.
Goal keduanya adalah untuk menjawab orang kayak gini, jangan beli kucing dalam karung. Jadinya mereka bisa tahu
dalam karung. Jadinya mereka bisa tahu dulu apa yang mereka beli sebetulnya.
Apakah ini beli? Apakah ini beli buku, isinya seberapa banyak, apa aja yang akan dipelajarin sebelum mereka beli, mereka jadi sudah tahu dulu. Dan itu eh
untuk beberapa orang itu tuh breaking the objection juga ujungnya.
Nah, selanjutnya adalah overstacking.
Mungkin ini juga pasti pernah lihat deh overstacking isinya berapa juta-berapa juta. Walaupun juta-jutanya ini juga
juta. Walaupun juta-jutanya ini juga kita buat-buat sendiri sebetulnya, tapi kita kita yang sudah pernah bikin ee berpikir ini ya ini dibuat-buat
karena kita ngerti.
Tapi most people enggak ngerti soal ini.
Jadi kita buat begini dengan angka yang tanda kutip masih masuk akal ini membuat mereka jadi sama lagi making sense. Tapi
di sini bukan making sense kalau misalnya produk kita bisa mencapai dari mereka tapi making sense dengan harga yang akan kita kasih. Sebetulnya e bayar
segini tuh dapat apa aja dengan harga yang mahal ini R10 juta, Rp1.500 500 ada yang R juta. Nah, makanya selanjutnya kita bedain sama pricing di bawahnya tuj
ee karena karena kembali lagi kalau pricing itu kan harga yang mereka bayar.
Kalau misalnya overstacking adalah harga yang mereka dapatkan. Tujuannya adalah
di sini sama making sense tapi making sense of the price. Dan second goalnya adalah namanya value perception. K eh
pasti pernah deh maksudnya kalau misalnya ke UNIClo atau ke tempat-tempat lain tulisannya diskon 50% tapi sebelum diskon 50% tuh harganya udah dinaikin
dulu kayak hampir hampir hampir dua kali lipat mungkin udah dinaikin dulu 30% jadi seolah-olah kita dapat value lebih jauh lebih gede. Padahal mah ya udah
diskon emang harganya segitu aja gitu.
Itu tujuannya pemisahan pricing yang kayak gini tuh gitu. Dan terakhir FQ
gitu. Dan terakhir FQ break and as question. Ini sebenarnya
tujuan akhirnya adalah cuma breaking small objections dan questions. Jadi
daripada mereka kalau ada hal-hal kecil yang bikin mereka enggak beli, kita kasih ini aja biar mereka enggak usah nanya kita dulu, enggak usah apa. Jadi,
jadi customer journey-nya bisa lebih cepat.
Nah, karena kembali lagi ee pembuatan landing page ini adalah yang tadi aku bilang sebuah perjalanan jernih dari customer
kita. Jadinya kita yang bikin journey
kita. Jadinya kita yang bikin journey itu engak enggak usah nyesuainin sama template ini. Kalau mau sama enggak
template ini. Kalau mau sama enggak masalah, kalau mau beda ya itu lebih bagus lagi karena harus disesuaikan per audiens. Nah, bagaimana bedainnya adalah
audiens. Nah, bagaimana bedainnya adalah ee harus tahu kalau semua jernih tadi itu tuh terbagi jadi empat esensial.
Journe ini dari main over, audience persona, paint sampai ke FQ itu tuh dibagi jadi empat yaitu NIS kita.
problem yang kita solve, solution yang kita kasih, dan transformation yang akan mereka dapatkan.
Keempat ini yang sebetulnya kita kasih di semua ini cuman dalam bentuk yang berbeda-beda. Jadi, kalau misalnya mau
berbeda-beda. Jadi, kalau misalnya mau di mau kita ubah urutannya ya ubah aja urutan berdasarkan ininya.
main goal-nya ini oh eh problem yang kita kasih kurang tambahin problem lagi.
Solution-nya e kurang testimony. Makanya
berapa landing page ada yang testimoninya dua. Bukan masalah
testimoninya dua. Bukan masalah testimoninya kebanyakan tapi ya itu yang bisa dikasih dua karena credibility enggak mungkin kita kasih dua kali. E
how the product work susah juga kita kasih dua kali. Sneak pick kalau kita kasih dua kali jadi ngwenin. Tapi
testimoni kita bisa kasih dua kali bahkan tiga kali itu karena kita bangun trustnya di situ. Dan terakhir
transformation dream identity ini juga bisa kasih dua kali kalau misalnya memang masih kurang.
So today kita akan ngebahas tentang how to conduct a webinar that sells ya. Nah,
jadi kalau misalnya teman-teman pernah ikut webinarku yang value creator webinar series ya yang cara mendapatkan 5 juta dalam 14 hari tanpa affiliate, tanpa live shopping,
tanpa yang gitu-gitu tanpa endorse ya. I
think that's a very popular webinar for us diow Creater dan teman-teman rasanya keracun ikut ini gara-gara itu semua e baik dari teman-teman ya. So, I'm gna
break down that webinar. Why do I structure it like that? Supaya
teman-teman paham betul. mindset ketika
kita bikin webinar tuh gimana dan harapannya adalah teman-teman bisa mendapatkan framework ya. Jadi bukan
cuman contoh webinar tapi framework-nya ngerti kenapa bikin webinar tuh begitu gitu. Dan for your information webinar
gitu. Dan for your information webinar ini tuh nge-generate itu lebih dari 3 digit per webinar. Jadi itu ekspektasi yang teman-teman bisa harapkan gitu ya.
Semoga sih kalau enggak nyampai 3 digit ya at least double digit lah dapat multiple double digit gitu. Nah, karena
ketika PR Boy praktikin, itates more than triple digits every single time.
Nah, jadi harapannya adalah I'm going to pass this knowledge to all of you. So,
you can also do the same. Al right,
Teman-teman, kita sebelum ngebahas structur-nya, kita akan ngebahas misconception-nya dulu. Kenapa sih kita
misconception-nya dulu. Kenapa sih kita tuh bikin webinar? Itu dulu yang gue pengin bahas di sini ya, Teman-teman.
Kita harus tahu dulu goal-nya webinar itu apakah untuk give value, yes or no?
Ini pertanyaan penting dulu. Teman-teman
harus renungin dan coba jawab deh di kolom chat. Goal dari webinar apakah ini
kolom chat. Goal dari webinar apakah ini untuk give value? Yes or no? Nah,
dari William yes. Dari Dave yes. Menurut
teman-teman gimana kita bikin webinar nih? Apakah untuk give value dari Sy?
nih? Apakah untuk give value dari Sy?
Yes. Teman-teman yang lain Michael yes juga. Nah, Susan mau ngomong nih pas
juga. Nah, Susan mau ngomong nih pas bisa yes bisa no.
Oke. Kenapa tuh Su?
Yesnya memang ada value yang dibagikan di depan, tapi noya karena not entirely giving value. Kita mau jualan
giving value. Kita mau jualan my opinion ya. Your opinion is my other.
ya. Your opinion is my other.
Luar biasa emang emang benar jawabannya depends. J ini udah kelamaan di VC udah
depends. J ini udah kelamaan di VC udah jadi terlalu terlalu terlalu wah terlalu pintar gitu kan di sini ya. Jadi very
good that's the truth depends. Nah
pertama-tama dependsnya depends on apa?
Kita harus ingat ini lagi value leader kita dependsana apa. Contoh kalau
misalnya teman-teman bikin webinar, webinarnya ini udah middle and over ya.
Jadi udah middle over harganya Rp500.000 ya udah yes berarti full give value aja.
Kenapa? Karena harganya udah mahal, udah duitnya udah banyak dari sana gitu.
Kalau misalnya ini udah menjadi lebih dari coreover, artinya udah bukan lagi coreover yang kita promosikan terus-menerus dan harganya udah di arah yang premium, enggak apa-apa full give
value. Kenapa? Satu harganya premium.
value. Kenapa? Satu harganya premium.
Jadi, people do expect a lot from the webinar. Jangan sampai webinar 500.000,
webinar. Jangan sampai webinar 500.000, R juta, 2 juta kasihnya cuman cetek gitu. Wah, itu orang ngamuk gitu ya.
gitu. Wah, itu orang ngamuk gitu ya.
Nah, jadi layak untuk kita kasih as much rally as we can. Nah, the thing is kalau misalnya kita kayak gini yang kita lakuin webinarnya misalnya kayak Vincent. Vincent kan lagi mau bikin free
Vincent. Vincent kan lagi mau bikin free webinar tuh. Lagi mau bikin free webinar
webinar tuh. Lagi mau bikin free webinar di sini ya. jatuhnya ke bait atau lead magnet berarti gratis nih. Atau misalnya
teman-teman kalau misalnya gua lihat kalau enggak salah Sarah tuh lagi bikin webinar juga ya R85.000 ya kan. Nah dia
mau bikin sekitar 47.000 5.000 atau R97.000 ini jatuhnya tuh ke front and over jatuhnya ke apa namanya trip wire ya teman-teman bagi Teman-teman yang masih belum paham trip
wire itu apa, lead magnet itu apa, ada di materi yang ada di eult. Jadi silakan
eh search aja Tripwire lead magnet pasti akan ngerti nanti bedanya apa. Nonton
materiku yang ngebahas value lader aja pasti nanti akan ngerti total perbedaannya apa. Kalau teman-teman itu
perbedaannya apa. Kalau teman-teman itu webinarnya itu gratis ya atau trip wire benar yang tadi Su bilang jangan cuman give value. Kenapa?
Supaya kita bisa m-maximize yang namanya LTV. Nah LTV itu apa? bukan TV yang kita
LTV. Nah LTV itu apa? bukan TV yang kita sering nonton, bukan, tapi lifetime value. Jadi kita bisa meningkatkan value
value. Jadi kita bisa meningkatkan value orang tuh di produk-produk kita.
Contohnya gimana? Dengan yang namanya upsell misalnya. Makanya kalau misalnya
upsell misalnya. Makanya kalau misalnya teman-teman ke McD, ke McDonald's, let's say mau pesan Big Mac nih, pasti ditanya dong, mau paket enggak sama kentang, samaan? Mau sama es krim enggak? Yang
samaan? Mau sama es krim enggak? Yang
kayak gitu-gitu. Nah, jadi kita bisa meningkatkan customer lifetime value juga supaya dia beli lebih banyak dan datangnya lebih sering. Nah, itu adalah konsep dari value leader. Makanya kita
harus ngerti dulu at the end of the day kalau misal ada orang mau belajar tentang digital product pasti topik pertama yang gua selalu ajarin ke orang-orang adalah valer supaya kita bisa ng-reverse engineer goal kita and
goal-nya apa. Itu tuh dari val reader
goal-nya apa. Itu tuh dari val reader tersebut ya. Jadi kalau misalnya
tersebut ya. Jadi kalau misalnya teman-teman bikin webinar yang harganya masih relatif murah atau elite magnet atau trip wire, no. It's not for purely 100% giving value. Harus ada unsur
jualannya juga gitu di sana supaya apa?
Supaya bisa convert orang-orang tersebut ke coreover teman-teman. Kalau misalnya
enggak ke coreover teman-teman, ke midver teman-teman. Kalau misalnya jago
midver teman-teman. Kalau misalnya jago bisa nge-convert langsung ke high ticket. Nah, itu adalah triknya. webinar
ticket. Nah, itu adalah triknya. webinar
goal give value itu enggak cuman give value tapi juga yang namanya kita sebut di sini persuad. Nah, sekarang cara persnya gimana? Inilah yang akan kita
persnya gimana? Inilah yang akan kita bahas ya dari cuma di awal-awal sini dia bisa naik akhirnya ke sini nih. Itu yang
akan kita bahas di webinar ini. That's
the goal of today's webinar ya. So, I'm
gonna call this the 12 webinar commandments. Asik sudah ketahu-ket apa
commandments. Asik sudah ketahu-ket apa aja nih commandments kan udah si paling sok keren gitu kan kata-katanya commandments. Right? So, we're gna talk
commandments. Right? So, we're gna talk about this today. This is what I want to show you guys. Ya. So, we're gna talk about social proof. Social proof adalah webinar commandment yang pertama. Jadi,
gini, di webinar ini eh di master class ini, I'm gonna walk you through apa yang gua pakai. Semua slide webinar gua
gua pakai. Semua slide webinar gua teman-teman akan gua kasih lihat. Jadi,
if you guys want to know webinar yang terakhir kali teman-teman ikutin dari Productivity Boy itu tuh berapa slide?
386 slide ya. Jadi emang sebanyak itu, tapi the results paid off ya. Tapi
teman-teman bukan berarti wah gila gua harus bikin webinar 300. Enggak, enggak
gak. Ini emang gua seniat itu kalau bikin materi. Jadinya makanya kenapa
bikin materi. Jadinya makanya kenapa hasilnya bisa optimal juga. Ini hanya ee sebagai contoh yang kita lakukan ya.
Jadi 386 slide. Nah, yang akan kita lakukan di
slide. Nah, yang akan kita lakukan di webinar ini adalah nge-go through part by part. Jadi ibaratnya webinar ini tuh gua udah bagiin jadi chapter-chapter, Teman-teman. supaya
chapter-chapter, Teman-teman. supaya teman-teman paham habis ini masuknya apa, habis ini masuknya apa, habis ini masuknya apa. Dalam konteks webinar yang
masuknya apa. Dalam konteks webinar yang kita pakai di sini adalah webinar buat kasih value dan jualan. Gabungan di
antara GueU and Pursuit supaya teman-teman bisa nge-upsel orang-orang yang sudah beli webinar teman-teman ke produk yang lebih mahal gitu ya. So, the
first aspect yang kita mau bahas di sini adalah social proof. I always start my webinars with social proof. Nah, ini
slide-nya yang kita pakai. Ini ngasih
lihat apa? Social proof. Kenapa? Karena
ini ngasih lihat nih account gua grow-nya segini, impression-nya segini, growth-nya segini, income-nya segini ya. Kenapa gua
share ini? Mau kasih lihat ini semua possible. Ini social proof. Kenapa?
possible. Ini social proof. Kenapa?
Karena ngasih lihatnya data. Real kan?
Teman-teman bisa lihat sendiri. Makanya
data itu tuh very powerful di sini. Yang
kedua adalah breaking the status qua.
Jadi kita pakai yang namanya breaking the status qu. Kenapa breaking the status qu itu penting? Karena kita
nge-set ourselves apart from everybody else.
Teman-teman coba bayangin ngebahas productivity misalnya, terus gua bilang nih time management tuh bullshit gitu.
Wah langsung diattack tuh sama satu industri. Mat itu yang terjadi dulu
industri. Mat itu yang terjadi dulu ketika gua bikin flo blueprint kan makanya knya laku banget tapi ada beberapa kontra juga gitu loh. Jadi kita
status quenya apa? Kita bilang jangan begitu gitu tapi harus make sense ya.
harus make sense. Makanya contoh kalau misalnya di fitness industry mungkin ini lebih relate sama Vincent nih. Dan Vina
barusan kalau misalnya kita ngobrol di eh Discord juga Vina kan bikin nutrition ya, bikin milk plan dan segala macam.
Kalau misalnya kita bilang gini, sehari-hari kalau misalnya mau sehat jangan makan cuman minum air aja gitu.
Weh langsung tuh diattack tuh pasti kan.
Kalau misalnya kita ngomongin water fasting misalnya, su mungkin ngerti-ngerti yang kayak gini-ginian.
When we talk about water fasting, although it's a cutting edge research on that gitu ya, dan itu lagi eh bukan on demand sih, tapi lagi rising banget, kontranya baik banget juga. So that's
why kalau misalnya kita bisa jadi pioneer dalam water fasting itu tuh akan bisa hasilnya luar biasa. Dan itulah
yang dilakuin sama Shelly. Kalau
misalnya teman-teman ingat di webinar yang gua share itu kan ada Shelly ini bentar.
Jadi ada satu contoh kan yang I showed you guys di sini yang ini nih loose 3 cage in 7 days yang diajaran apa? Water
fasting dari sini berapa? Udah 1 M cuyime lifetime sales-nya gitu ya. Nah jadi
that's the power of eh breaking the status. Flow zone brin juga 1 m lebih
status. Flow zone brin juga 1 m lebih lifetime sales ya kan. Nah jadi
maksudnya itulah yang membedakan over-over yang biasa aja dengan yang luar biasa gitu teman-teman. harus bisa
breaking the status go. Nah, yang kita lakuin di sini adalah enggak cuman dari offer kita, tapi dari what we do in our content. Itu tuh udah kita kasih lihat
content. Itu tuh udah kita kasih lihat di sini breaking the status yang gua lakuin apa di sini gua bilang, "Lu bisa bangun brand nih di Indo tanpa harus joget-joget, tanpa harus madi lumpur, sama tanpa harus giveaway." Karena kalau
misal orang mikir mau cepat viral, gimana? Ngikuti yang sudah viral,
gimana? Ngikuti yang sudah viral, joget-joget, kasih-kasih duit biar cepat dapat followers, komen ini ya. Terus
nanti orang berikut yang hoki gua transfer Rp500.000. Wah, gitu. Kalau
transfer Rp500.000. Wah, gitu. Kalau
misalnya itu yang terjadi kan kita bakar duit tiap hari gitu kan ya bisa sih kalau banyak duit enggak masalah tapi kalau misalnya enggak dan kita justru mau make money from this ya enggak effective breaking the state school so with this sequence dengan sequence ini
gua ngset myself apart from the other creators yang melakukan ini. Kalau
misalnya kita sefrekuensi lu akan suka dengan apa yang akan gua share karena gua enggak akan melakukan ini yang orang lain lakuin. Nah kita jadi sefrekuensi
lain lakuin. Nah kita jadi sefrekuensi di sini banyak orang yang ngejual-jual kelas juga tapi enggak walk the talk ngajarin hal yang enggak bermutu yang sampah. Nah, ini sama aja kayak kita ke
sampah. Nah, ini sama aja kayak kita ke dokter kulit tapi dokternya jerawatan.
Ini sama aja kayak kita nge-gym misalnya Vincent lu nge-gym terus ptinya gendut kocak kan maksudnya gitu kan. PTI kok
tapi gendut enggak make sense gitu.
Ngapain gua belajar dari dia ya kan dokter kulit tapi kok jerawatan enggak make sense. Kenapa? Karena no skin in
make sense. Kenapa? Karena no skin in the game itu yang kita establish.
Breaking the status setting ourself apart from the others. Next we're gna do more social proof. Nah, ini kayak ngesandwich nih. Social proof breaking
ngesandwich nih. Social proof breaking the status. social proof lagi. Nah,
the status. social proof lagi. Nah,
kalau misalnya kita frekuensi, lu akan tahu kalau misalnya lu akan bisa mendapatkan hasil-hasil ini juga. Nah,
ini baru kasih testimoni nih dari our past clients. Kalau tadi yang di pertama
past clients. Kalau tadi yang di pertama social proofnya social proof gua pribadi, sekarang social proof klien gua. Biar orang paham ini enggak works
gua. Biar orang paham ini enggak works gua nih, tapi di clien gua udah diterapin dari berbagai macam bidang tuh, pengembangan diri, kedokteran, psikologi, ya segala macam, finansial,
asuransi, MLM, udah semua mereka semua bisa dapetin hasil yang sama. Nah, lu
mau enggak? Habis itu ada call to action. Nah, Teman-teman ingat apa yang
action. Nah, Teman-teman ingat apa yang terjadi habis ini? Giveaway ya,
launching free. Kalau misalnya lu mau dapat ini gampang carinya gimana nonton sampai habis. Ini ada call to action.
sampai habis. Ini ada call to action.
Buat apa supaya orang nonton sampai habis? Permasalahan kita gini,
habis? Permasalahan kita gini, Teman-teman. W doar yang kita mau
Teman-teman. W doar yang kita mau jualan. Kita kan seringkiali jualannya
jualan. Kita kan seringkiali jualannya di akhir ya kan? jualannya di akhir.
Tapi kalau misalnya nyampai akhir, let's say datang 200 orang, tapi di akhir-akhir tiba-tiba 140 orang sisa.
Wah, itu kan huge problem. 60 orang
hilang tuh kita enggak bisa jual ke mereka. Nah, PR-nya gimana cara supaya
mereka. Nah, PR-nya gimana cara supaya ketika kita bikin webinar orang nonton dari awal sampai akhir?
That's the hardest part in a webinar.
Apalagi webinar murah, apalagi webinar gratis. Ah, gua enggak bayar, udahlah
gratis. Ah, gua enggak bayar, udahlah skip aja gitu loh. Jadi enggak ada urgency-nya, enggak ada scar city-nya buat dia, gitu. Nah, itulah yang membuat orang tuh jadi aduh udah entar aja deh.
Tapi kalau misalnya ada ini kan orang jadi pengin nonton apa akhir bisa kok dapat gratis gitu ya. Next kita kasih outline. Kalau misalnya teman-teman
outline. Kalau misalnya teman-teman mau bikin presentasi rule number one of presentation design ada banyak tapi salah satu yang paling penting adalah kasih clear expectations. Give the
outline. Hari ini bakal bahas apa aja supaya teman-teman enggak bingung nih orang kapan selesai ngomongnya. Nah,
sering enggak dengerin orang presentasi?
Mungkin sering kali dosen nih dosen presentasi atau pembicara presentasi ngoce mulu. Kita enggak tahu kapan dia
ngoce mulu. Kita enggak tahu kapan dia selesai karena apa? Enggak ada
outline-nya. Jadi kita establish ini dulu outline-nya gitu. Supaya orang tahu oh si Rama udah
gitu. Supaya orang tahu oh si Rama udah nyampai di sini. Oh dia udah nyampai di sini. Bentar lagi kelar nih. Supaya
sini. Bentar lagi kelar nih. Supaya
mereka tahu harus sampai mana dia berekspektasi.
Btw ini gua plugin juga. I'm not
sponsored or anything. Tapi teman-teman
gua tuh belajar presentation skill ini tuh dari tendon. Kalau misalnya
teman-teman pernah dengar tendon. Jadi,
gua tuh belajar dari sini. Ee gua
berawal dari murid, terus mereka akhirnya sempat jadi klien Proty juga sampai akhirnya kita teman dekat gitu sama foundernya. Jadi kalau misalnya
sama foundernya. Jadi kalau misalnya teman-teman mikir, "Wah, kok presentasinya Protby bagus, cara eh desainnya bagus, cara komunikasinya bagus, gua belajar dari mereka." Jadi
kalau misalnya teman-teman mau belajar, mau nge-deep dive bisa belajar dari mereka juga. Gua enggak ada affiliate
mereka juga. Gua enggak ada affiliate code, enggak ada apa. Jadi pure gua gua ggak ngambil profit dari sini sama sekali. But I'm justing them karena
sekali. But I'm justing them karena mereka bagus banget. As simple as that.
Jadi I just want to v them so I I learn from them. Y gitu. Jadi dari Fendy Dave
from them. Y gitu. Jadi dari Fendy Dave ini Dave ada nanya juga kalau yang nomor tiga kita belum ada that's social proof from our clients. Oh gini. Nah dari Rafa sama dari Dave. If you guys don't have
this teman-teman. Nah gua juga awalnya
this teman-teman. Nah gua juga awalnya di di landing page landing page gua awal ketika gua pertama kali mau nge-launch off gua kan enggak ada nih social proof kayak gini. Yang gua lakuin apa? Gua
kayak gini. Yang gua lakuin apa? Gua
minta teman-teman terdekat gua atau yang pernah belajar dari gua minta pendapat mereka tentang my eh tentang me personally. Jadi, social proof-nya
personally. Jadi, social proof-nya enggak harus tentang course-nya, tapi omongan orang tentang kita, gitu loh.
Paham enggak sih? Misalnya Dave bikin high demand tutor, tapi belum belum banyak nih misalnya review-nya yang what you can do adalah ask your previous students atau ask parents dari previous students itu pendapat tentang Mr. Dave
gimana kumpulin jadi satu masukin ke sini. Gantinya bisa gitu. Jadi enggak
sini. Gantinya bisa gitu. Jadi enggak
harus testimoni tentang course, tapi it can be a testimony for you mewakili your personal branding, gitu. Jadi, hope it helps ya. That's what I do and that's
helps ya. That's what I do and that's what I did and it worked gitu. Nah, jadi
balik lagi outline ya, kasih outline supaya mereka tahu ekspektasinya gimana.
Lalu kita lanjut ke materi.
Nah, makanya kalau misalnya teman-teman lihat ini materinya banyak nih dari slide 70. Wah, ini kita scroll ya sampai
slide 70. Wah, ini kita scroll ya sampai bawah banget sampai 180-an deh kayaknya.
Ini tuh materi full ya. Jadi baru deh di sini kita give value ya kan. Jadi ini
kita bisa tarik ulur bisa 50-f 50% give value sama 50% jualan gitu sih. That's
what I did gitu. Tapi kalau misalnya teman-teman mau jomplangin dikit ya enggak apa-apa juga gitu. Terserah
teman-teman ya. Jadi ini sampai slide wah bahkan lebih sampai slide 199 tuh ya. give value kasih materi berarti
ya. give value kasih materi berarti berapa tuh? 150 slide lebih ya udah give
berapa tuh? 150 slide lebih ya udah give value. Nah, next baru kita ngreap. Balik
value. Nah, next baru kita ngreap. Balik
lagi. Kalau misalnya tadi kita ada outline, baiknya kita ngreap supaya orang ingat apa yang mereka udah pelajarin. Makanya setelah itu, we have
pelajarin. Makanya setelah itu, we have a recap. Yang udah kita pelajarin ini,
a recap. Yang udah kita pelajarin ini, ini, ini. Ya, ingat kan yang kita udah
ini, ini. Ya, ingat kan yang kita udah pelajarin apa aja? Ini, ini, ini, gitu.
Nah, habis itu baru kita mulai jualan di sini. This is the valley stack.
sini. This is the valley stack.
This is the valley stack. Before I jump into the valley stack dari Dave nanya kalau testingnya bukan transformation yang kita offer enggak apa-apa ya?
Enggak apa-apa note aja on us itu udah cukup supaya people still know gitu. Karena kalau
misalnya teman-teman mau beli barang di Shopee, di Tokopedia, di Go Shopee Food kek, di Grab Food kek, di manap pun itu mau ngebeli barang atau beli makanan pasti teman-teman lihat review-nya bintangnya udah berapa nih
yang like udah berapa sama digital produk juga gitu psikologinya gitu. Nah,
so after we gave value and everything else in between, this is the time where we shine. Di sini kita ngasih value
we shine. Di sini kita ngasih value stack. Kalau misalnya value stack simple
stack. Kalau misalnya value stack simple itu apa, Teman-teman? Mungkin yang sudah belajar cukup lama paham. Value stack
simple adalah gini nih.
Iya kan? Set ini doang nih value stack nih. Kan yang membedakan over dengan
nih. Kan yang membedakan over dengan produk apa?
Over itu ada value stack-nya lebih dari cuman course produk itu gua cuman jualan course nih. Over itu ada course plus apa
course nih. Over itu ada course plus apa plus apa plus apa plus apa plus apa ini value stack. Nah di sini gua take it
value stack. Nah di sini gua take it with steroids gitu. Daripada gua cuman ngejabarin gini doang gua nge-breakdown masing-masing tuh bakal dampaknya apa, transformasinya apa. Makanya teman-teman
transformasinya apa. Makanya teman-teman bisa lihat di sini ya. Kita lihat
bukti-bukti bla bla bla. What if I give you all the key to this? Gitu kan.
proudly presents. Nah, kalau misalnya lu udah bla bla bla bla bla bla, this is for you. Ya kan set. Btw, teman-teman,
for you. Ya kan set. Btw, teman-teman,
ini rahasia kecil, jangan di-share ke siapa-siapa. Bahkan ini desainnya gua
siapa-siapa. Bahkan ini desainnya gua mepet karena gua bikin hamin satu. Lihat
aja ini masih lorem.
Tapi enggak ada yang nyadar kan lorem kan. Karena gua sepionate itu ketah
kan. Karena gua sepionate itu ketah presentasi dan ini cepat kok jalannya masih loren Ipsum tuh lihat tuh ya. Nah,
jadi when you speak with conviction this can happen gitu teman-teman ya. Jadi di
sini kita kasih value stack, kita elaborate masing-masing ini apa, terus jeder kita kasih masing-masing value stack itu dapatnya apa. Jadi value stack dalam value stack, habis itu kita wah total value-nya segini. Nah, yang gua
over kan enggak cuman satu, ada empat, kita repeat empat kali.
Nah, ini yang kedua set ya kan. Kita
lanjutin ini yang ketiga.
Set. Lanjutin terakhir yang keempat.
Set. Nah, total yang lu dapetin kalau misalnya lu ngikut program value creator bakal begini su aja sampai wah bingung gitu kan ngelihatnya kan banyak banget gitu kan. Nah, jadi makanya itulah
gitu kan. Nah, jadi makanya itulah kenapa gua bilang ini value stack dari value stack udah ada value-nya udah ada bonus-bonusnya bonusnya pun dijabarin lagi. Makanya powerful banget orang
lagi. Makanya powerful banget orang sampai ngenal banget oh ini tangible banget bikin itu sampai setangible mungkin gitu. Nah after the value stack
mungkin gitu. Nah after the value stack is done this is the highlight.
This is the highlight which is the plot twist.
Ya, plot twist apa? Kalau misalnya
teman-teman ingat makanya when I presented ingatkan enggak segini, enggak segini, enggak segini tapi berapa Rp berapa? Rp nol duar orang langsung ah
berapa? Rp nol duar orang langsung ah ini benar gitu kan. Orang kaget langsung semua. Nah, ini menjadi plot twist.
semua. Nah, ini menjadi plot twist.
Kenapa? Karena orang udah ngikutin, udah happy mood-nya udah enak terus tiba-tiba pas dikasih ini jeder orang langsung kayak you are the best gitu kan. If
you can see the chats, we have the recording. People went crazy, people
recording. People went crazy, people went bananas. I swear to God, everybody
went bananas. I swear to God, everybody was like, "Kok bisa begini?" Jadi ini eufornya lagi gila banget ya ketika kita ini. Kenapa? Karena plot twist-nya dapat
ini. Kenapa? Karena plot twist-nya dapat di situ ya. Orang tuh begini ekspresi mukanya kan pas ngelihat ini. Nah, gua
mau cerita dulu baru kasih tahu back story-nya kenapa gitu kan. Kalau
misalnya kasih gratis kureng gitu kan. Makanya kita kasih plotist lagi daripada money back guarantey yang sering orang abuse kita hanya result based guarantey. Kalau lu
jadi top seven, top three, kita akan balikin uangnya. Jadi we will give you
balikin uangnya. Jadi we will give you money if you achieve the goal. Kenapa? Karena
kita mau kalian semua achieve. Kita
bukannya kalian enggak mau achieve, kita balikin uangnya, tapi kita ganti. If you
achieve, kita kasih uang. Ini plot twist lagi. Jarang ada yang ngelakuin ini kan.
lagi. Jarang ada yang ngelakuin ini kan.
Seringkiali orang money back guaranti.
Lu lu ngerasa ini enggak bermanfaat, gua balikin uangnya, gua balikin lagi, plot twist lagi. El berhasil sama gua, gua
twist lagi. El berhasil sama gua, gua kasih uang lu balik. Kenapa? Karena lu
udah kerja keras, cuy. Dan enggak
gampang. Nah, kayak gitu bla bla bla bla bla. Ya, ini challenge-nya. Nah, baru
bla. Ya, ini challenge-nya. Nah, baru
kita kasih investmentnya segini. Mahal
amat bla bla bla. Kita kita anchoring juga bedanya di mana. Nah, habis itu kita pakai yang namanya this is whatical choice. Ini adalah sebuah opsi yang gak
choice. Ini adalah sebuah opsi yang gak s kalau lu gak ambil.
Ini adalah sebuah opsi yang lu tahu sendiri. Kalau misalnya lu enggak ambil
sendiri. Kalau misalnya lu enggak ambil ini, lu yang rugi. Caranya gimana? Entar
ini ada yang nge-chat. Apakah ada
pertanyaan?
Nah, dari Iya, benar sih. Kalau kalau
karena kalau gratis jadi gampang ini.
Yes, betul gitu. Nah, jadi gini. Next is
rhetorical choice. Rethodorical choice
itu adalah kalau misalnya kita ngasih options, ada dua options, mereka tahu yang benar tuh sama yang benar yang mana. Jadi enggak ada yang benar, yang
mana. Jadi enggak ada yang benar, yang salah, tapi yang benar sama yang benar.
Ya, caranya gimana kita apply-nya di sini? Makanya kalau misalnya teman-teman
sini? Makanya kalau misalnya teman-teman ingat di sini kan ada gini ya, gratis kami bayarin bla bla bla. Ini kita kasih
social proof lagi ya.
Nah, kita kasih opsi good news. Kalau
misalnya lu mau jadi kayak mereka sama bad news. Kalau misalnya lu mau jadi
bad news. Kalau misalnya lu mau jadi kayak bocil nyinyirin lagi. Nah, makanya
lu pilih lu mau jadi tipe yang mana.
Jadi yang nyinyir atau jadi yang bagian dari kami. Ini kan rhetorical choice.
dari kami. Ini kan rhetorical choice.
Orang kalau misalnya punya eh rational brain to actually think about it even clearer, you pick this one. Logically
speaking. Kenapa? Karena iyalah udah banyak kok yang dapetin juga dan it makes sense rationally. So people would want that gitu. Life pula social proofnya. Betul. Betul. Nah kan. Karena
proofnya. Betul. Betul. Nah kan. Karena
balik lagi what makes this webinar powerful adalah salah satu unfake advantage yang gua punya. Gua udah punya skin the game. Jadi memang udah ada orang-orang yang udah berhasil dan enggak sedikit banyak. Jadi lu mau
ngomong apa lagi gitu loh. Enggak bisa.
Ini semua udah bukti gitu. Kalau kalian
scroll ke atas ini semua ini pasti juga ada yang lu follow kan gitu kan. Nah
jadi masih mereka aja sama gue kok apalagi yang lu butuhin gitu.
simpel itu gitu. Nah, ini yang paling gua suka teman-teman mungkin wah ini susah nih gua belum ada gua belum ada testimoni gua belum ada ya kan gitu-gitu kan apply ini. Ini udah paling gampang
urgency sama scar city this is what I did. Yang lu perlu tahu gua punya
did. Yang lu perlu tahu gua punya promise dan I always keep my promise gitu ya. There's only 50 spot. Makanya
gitu ya. There's only 50 spot. Makanya
beneran untuk setiap batch ini kita cap ke 50 spots. Value creator OS itu 14 hari itu leave 50 spots. Value creator
accelerator kemarin itu 50 spots. Ya,
jadi kita cuman nge-cap sampai 50. Nah,
tapi kita tahu kalau misalnya limitnya 50 ada 500 orang nih yang daftar misalnya atau ada 1000 orang yang daftar misalnya followers gua total across all platforms itu tuh 1000 lagi 1 juta
orang.
Which means begini rasilnya bahkan mungkin ini jauh lebih sekecil harusnya.
Segini kali ya. Jadi yang spotnya ada segini, yang daftar segini, yang bisa lihat over ini segini. Nah, lu mau enggak masuk ke sini gitu. Kalau misal
mau bisa tapi harus cepat-cepetan. Orang
tahu gitu ini akan cepat habis masuknya ke Scar City sama tinggal gua tambahin.
It's gonna sold out tonight. By our
experience in batch one, it's gna sell out in just 15 minutes. Ya, jadi ada masuk Scar City-nya di sini. ini scar
city nih. Nah, lalu ini urgency.
Urgencynya juga powerful. Kenapa? Karena
based on previous results, sebelumnya 15 menit udah sold out. Which means orang akan mikir ini 15 menit nih bakal out lagi. Kalau misalnya kita enggak gak gak
lagi. Kalau misalnya kita enggak gak gak take action sekarang. Logicnya kan
begitu. So people will think like that.
Nah next.
This is where the money comes in. Sales
checkout. Ketika gua nyampai sini kan gua bilang dah ah capek ngoceh mulu.
Pram comes in ya kan PWK ya. Pram GPT
comes in. Pram tolong di Zoom chat kasih link checkout-nya. Pram kasih link check
link checkout-nya. Pram kasih link check out terus gua kasih ini checkout duar duar duar. Udah notif HP gua langsung
duar duar. Udah notif HP gua langsung meledak di situ. So that's e what I did ya. Kalau misalnya kalian lihat gua
ya. Kalau misalnya kalian lihat gua jualan cuma dua slide cuy ini doang.
Tapi nge-build up ke sini 380 slide kalau misalnya teman-teman. Nah,
strukturnya apa? Kita pakai the 12 commandment tadi. Jadi, if you guys want
commandment tadi. Jadi, if you guys want to screenshot anything, this is what you can screenshot, I believe, ya. Jadi,
kita ngflow-nya apa? Social proof dulu.
Social proof pertama itu adalah dari diri kita sendiri. Kita ngelihat, kasih lihat ke orang lain, kita sendiri bisa enggak nih menerapkan ini?
Barusan gua dapat ads dari ada salah satu platform, dia bilang, "Cara mendapatkan R miliar dari digital product SAS enggak?" Enggak SAS. Kalau
misalnya dia kasih lihat hasilnya kan dashboard dia misalnya dia kasih lihat dan e real testimony itu enggak sas tapi dia enggak ngasih lihat hasil sama sekali tapi dia ngeklaim dia bisa begitu di otak gua lu aja udah begini belum gitu loh 1 miliar tiap bulan dia
ngeklaimnya begitu nah tapi kalau misalnya kita ngasilit hasil kita sendiri itu akan powerful habis kita ngasil habis kita ngaslit hasil kita, kita break the status orang biasanya
gimana ini bukan cara gua enggak begini gua dapat segini ratusan juta miliaran dari sosial media itu bukan dari endorse bukan Bukan dari affiliate, bukan dari live shopping yang lagi ramai yang kalian tahu semua, tapi
gua bikin dari digital products, breaking the states home. Habis itu biar orang makin percaya, kita kasih apa?
Social proof lagi. Social proof kali ini berbeda. Kenapa? Karena ini social proof
berbeda. Kenapa? Karena ini social proof adalah datangnya dari testimoni atau hasil-hasil orang, penilaian orang terhadap kita. Entah itu bisa dari
terhadap kita. Entah itu bisa dari transformasi mereka atau enggak bisa dari pendapat mereka tentang kita.
Masuknya di sini. Habis itu kita kasih call to action. Nah, call to action-nya apa? Call to action supaya mereka nonton
apa? Call to action supaya mereka nonton sampai habis. kita kasih apa? Bisa kasih
sampai habis. kita kasih apa? Bisa kasih
giveaway ya atau bisa kasih encouragement lain, emphasis lain, benefit lain sampai mereka nonton sampai habis ya. Habis itu kita kasih tahu
habis ya. Habis itu kita kasih tahu outline-nya supaya mereka tahu ekspektasinya apa dengan webinar ini ya.
Baru kita pemaparan materi ya setengah sesi set kita ng-recap materinya sudah ngebahas apa aja. Habis itu kita ngevalue stack yang tadi kita bahas.
Habis itu baru plot twist ya, baru jeder. Finalinnya di
sini, epic-nya di sini, eya paling besar di sini. Habis itu kita kasih rortical
di sini. Habis itu kita kasih rortical choice. Lu mau gak gimana? Bla. Nah,
choice. Lu mau gak gimana? Bla. Nah,
baru urgency scar city supaya mereka langsung check out dan akhirnya kita kasih sales and check out. So that's
pretty much it. This is what I did.
This is the psychology and the logic behind a successful webinar versi value creator. Bisa jadi orang punya
creator. Bisa jadi orang punya framework lain, tapi mereka menghasilkan berapa? Ini
menghasilkan 3 digit. Sekali ngocek 2 jam 3 digit. Kalau misalnya teman-teman mau copy pas boleh ya, tapi asal jangan disebarluasin ya. Awas sebarlasin
disebarluasin ya. Awas sebarlasin jangan. Copy paste boleh. Kenapa? Karena
jangan. Copy paste boleh. Kenapa? Karena
ini benefit kalian gitu ya. Jadi this is your eh perks. This is how I structure my webinar. And webinar ini adalah
my webinar. And webinar ini adalah webinar terbaik yang boy pernah em buat. Secara conviction gua
buat. Secara conviction gua menyampaikannya gua sangat PD. Kenapa?
Karena emang hasilnya nyata. Gua enggak
nipu sama sekali di sini. Enggak nipu
karena hasilnya real dan orang-orang udah mendapatkan hasilnya dan gua pd dengan value yang gua kasih di sini dan gua tahu gua punya produk yang bagus gua bisa tawarin. Jadi that on top of this
bisa tawarin. Jadi that on top of this framework that's what that's what makes a killer webinar in my opinion. Jadi
teman-teman bisa steal ini ya. Tapi
jangan lupa di ATM gitu. Cuman tinggal
teman-teman adjust social proof-nya kan enggak bisa pakai social proof gua. Jadi
pakai punya sendiri status qu-nya cari dengan sendiri social proof yang lain sendiri call to action-nya bonusnya terserah giveaway-nya mau apa sendiri outline-nya sendiri material sendiri semuanya diadjust aja dengan nich teman-teman dengan personal branding
teman-teman dan dengan offer teman-teman itu yang paling penting. That's pretty
much it. It's been fun teman-teman. kita
udah ngomongin webinar. That's what I did to to launch three digits webinar.
Tinggal diin and repeat aja. By the way, I did that for my clients to and they got three digits juga dari eh this framework. So, I gave that. Jadi,
framework. So, I gave that. Jadi,
sebelum teman-teman mendengarkan materi ini, gua memberikan materi ini ke klien gua. Dia udah nerapin itu dan dia
gua. Dia udah nerapin itu dan dia mendapatkan tiga digit juga. Jadi,
it's proven. Enggak cuman gua, tapi udah ada klien gua juga. Tapi karena NBD gua enggak mau disclose siapa ya. Eh, jadi
eh that's pretty much item without further ado. So, this is what we're gonna cover today ya. Ada tiga hal penting yaitu online customer journey, key matrics to monitor. Nah, jadi
matrik-matriknya apa aja nih? Kan
teman-teman pada bingung ya yang perlu kita taker itu apa aja. Nah, kita bahas nanti. Nah, lalu kalau misalnya kita
nanti. Nah, lalu kalau misalnya kita sudah tahu matriknya ketika goes wrong apa yang perlu kita improve. Nah, itu di poin ketiga nanti kita bahas ya. Nah,
sebelum kita lanjut teman-teman, so I'd like to ask all of you. Boleh di chat, boleh unmute bebas. What is the most important matric to track for our digital product? Ada yang berani jawab
digital product? Ada yang berani jawab enggak atau ada yang mau nebak enggak?
Ini enggak ada salah, enggak ada benar ya. Maksudnya feel free aja ya.
ya. Maksudnya feel free aja ya.
Roas, Roas. Oke. Sip. dari Sam Roas, dari
Roas. Oke. Sip. dari Sam Roas, dari teman-teman yang lain. Ada ada thoughts, ada mau tebakan kira-kira matrik apa sih yang terpenting kalau misalnya kita ngomongin tentang digital product yang
harus kita ukur?
Sales.
Oke, sales ya atau conversion ya dari SU ya. Oke, any other kalau dari will
ya. Oke, any other kalau dari will comment. Oke, satu lagi mungkin ada yang
comment. Oke, satu lagi mungkin ada yang mau nebak leads kalau dari gen. Nah, jawabannya
mirip-mirip semua, tapi jawaban tertepat adalah dari SU ya. Jadi, congratsu. It's
actually the sales, it's actually the conversion. Kalau misalnya dari gen
conversion. Kalau misalnya dari gen leads benar, tapi leads leads to sales.
Jadi, leads leads to sales. Jadi, matrik
paling akhirnya tuh apa yang kita ukur gitu. Nah, Dave sebenarnya juga enggak
gitu. Nah, Dave sebenarnya juga enggak salah karena ROAS itu juga penting kalau misalnya kita lagi ngomongin performance marketing.
Sam, tapi kan kita tapi kita kan lagi ngomongin organik gitu ya. Nah, D ada mau tambahan?
gitu ya. Nah, D ada mau tambahan?
No. Tadi Sam yang jawab Ras kayaknya.
Oh iya gua salah ngomong ya berarti tadi ya. Belum makan malam guys mohon maaf.
ya. Belum makan malam guys mohon maaf.
Mantap ya. Jadi tadi Sam ya e Roas ya eh Roas itu penting. Enggak cuman roas Sam.
It's also the conversion. Jadi intinya
website conversion ya atau purchase value-nya. Jadi total sales-nya RAS itu
value-nya. Jadi total sales-nya RAS itu kan dirive kan dari total sales juga.
Nah, jadi itu matrik terpenting sebenarnya. Jadi kita ngomongnya sales.
sebenarnya. Jadi kita ngomongnya sales.
Kenapa? Karena kita value creator ya, bukan content creator. Kalau content
creator mikirinnya views, kita udah beda. Kita harus mikirinnya sales-nya,
beda. Kita harus mikirinnya sales-nya, conversion-nya gimana. Nah, on a scale
conversion-nya gimana. Nah, on a scale of 1 to 10, Teman-teman, how important is it to track our matrix? Nah,
ini dari Mas Budi Rama kayaknya enggak ngelihat kamera. Iya, karena ini aku
ngelihat kamera. Iya, karena ini aku ngelihatnya laptop kameranya di sana, Masud biar lebih keren. 10 dari Sena.
Ada yang mau jawab Y-nya juga enggak kenapa. Ini kan pada jawabnya 10 penting
kenapa. Ini kan pada jawabnya 10 penting banget, right? Nah, tapi Y-nya kenapa
banget, right? Nah, tapi Y-nya kenapa nih kira-kira? Hmm. Numbers don't lie
nih kira-kira? Hmm. Numbers don't lie ya. Mantap.
ya. Mantap.
Buat ngukur. Nice.
Boncos masa diterusin. Oke, nice. Biar
tahu progresku, Teman-teman. Udah pada
jawab ya-nya ya. supaya kita tahu progres kita, KPI-nya. No sales berarti produknya no value. Nice dari Kris ya.
Sena juga supaya tahu nanti arahnya ke mana, yang perlu di-improve apa gitu ya.
Dari Arif baru join ya enggak apa-apa santai aja kita santai kok. Nah jawaban
teman-teman benar semua. Kalau misalnya
gua nambahin ya kenapa kita harus ng track our progress? Supaya kita tahu funnel kita tuh brokennya di mana, funel kita tuh rusaknya di mana? Jangan
sampai produk kita udah bagus. konten
kita yang jelek kita benerinnya malah produk kita sama aja. It's not a product problem, it's a content problem. Jangan
sampai konten kita udah bagus views-nya tapi enggak convert-convert nih. Pernah
ngerasain gitu enggak? Mungkin views gua udah ratusan ribu, udah 1 M, tapi kok enggak ada yang convert, tapi kok enggak ada yang beli produk gua. Nah, itu
berarti bukan masalah di kontennya, itu masalah di produknya, di offer-nya. Nah,
itu yang perlu kita cari tahu sebenarnya letak masalahnya tuh di mana. Nah, oleh
karena itu ada yang namanya online customer journey. Nah, ini penting
customer journey. Nah, ini penting banget ya buat teman-teman perhatikan zaman dulu. Nah, ini mungkin ya kalau
zaman dulu. Nah, ini mungkin ya kalau misalnya ini nih, kalau misalnya ada ini ada ini kan di sini kalau misalnya teman-teman yang digital marketer pasti udah enggak asing lagi ini. Apalagi Will
juga pasti udah enggak asing lagi pasti pernah dengar yang namanya Aida. Dave
juga pasti tahulah gua yakin. Sam juga.
Jadi ini tuh udah model lama banget yang orang-orang tuh bilang ini sebenarnya udah outdated juga gitu. Nah, jadi ada yang namanya Aida. Aida itu apa?
Attention interest desire action.
Basically this is customer journey.
Orang dari yang enggak tahu kita, jadi kenal sama kita, terus jadi tertarik sama produk kita atau jasa kita sampai akhirnya mereka beli. Nah, tapi ini udah outdated nih. Makanya orang-orang ada
outdated nih. Makanya orang-orang ada yang bikin 5A juga.
aware appeal ask act advocate.
Bedanya di mana? Teman-teman bisa lihat di bagian bawahnya ini. Kalau mereka
aware, mereka tahu kita tuh exist.
Mereka tahu kalau misal produk kita tuh ada. Appeal itu apa? Mereka tuh tertarik
ada. Appeal itu apa? Mereka tuh tertarik sama produk kita. Ask itu apa? Mereka
tuh sampai nanya-nanya. Kalau misal
orang mau beli produk ya misalnya Sem di salon mobilnya ada orang yang mau e datang ke salon e mobilnya pasti nanya-nanya dulu kan ini bukanya jam berapa jam berap harganya berapa atau
misalnya kita mau beli ee mau beli handphone kita ngelakuin hal yang sama ini harganya berapa ada promo enggak?
Nah itu ask. Nah habis itu ada juga act.
Act itu adalah oke gua bakal mau beli nih budgetnya sudah disiapin tinggal cari waktunya kapan dan akhirnya beli gitu. sampai akhirnya kalau misal mereka
gitu. sampai akhirnya kalau misal mereka suka banget sampai produknya tuh bagus banget, mereka tuh sampai rekomenin ke teman-temannya. Mungkin teman-teman ada
teman-temannya. Mungkin teman-teman ada yang pernah kayak gitu entah itu misalnya contoh teman-teman pergi pijit.
Nah, kemarin beberapa waktu gua lihat Jen sempat pergi pijit ya karena lagi enggak enak badan terus pergi pijit.
Kalau misalnya tukang pijitnya enak banget pasti kita bakal ee komen ke teman-teman, eh kemarin gua pijit di ee di sini loh. Terus atas nama ini nih si terapisnya enak banget gitu. Lu kalau
misalnya mau pijit di sini, mendingan lu sama ini deh. Karena enak pijitannya pasti kita begitu. Sama juga kurang lebih kalau misalnya teman-teman puas sama value creator, eh kemarin gua ikut kelasnya value creator seru nih pengalamannya. Lu coba deh kalau mau
pengalamannya. Lu coba deh kalau mau belajar ngonten sama value creator something like that. Jadi advocate. Nah,
ada versi lain juga namanya ISAS. Tadi
ada Aida ada 5A ya, 5A of Marketing sama ada ISA. ISAS itu apa? Attention,
ada ISA. ISAS itu apa? Attention,
interest, search, action, share. Nah,
ini ada poin bagus nih. Dua pertama ini itu tuh pasif, sedangkan yang tiga poin terakhir ini itu tuh aktif.
Attention sama interest ini bisa jadi subconscious. Kenapa? Karena ini tuh
subconscious. Kenapa? Karena ini tuh tugasnya kita sebagai marketer untuk menunjukkan konten kita ke audiens kita.
Ini dalam kontrol kita. Nah, tapi yang tiga ini itu di luar kontrol kita ya. Attention tuh gimana? Kita bikin
ya. Attention tuh gimana? Kita bikin
konten. Orang ngelihat konten kita di FP mereka tertarik enggak? Nah,
itu tugas kita yang bikin mereka tertarik. Habis itu baru role-nya
tertarik. Habis itu baru role-nya pindah, bolanya pindah nih ke audience kita. Mereka bakal mau search enggak
kita. Mereka bakal mau search enggak produk kita? Mereka bakal mau take
produk kita? Mereka bakal mau take action enggak buat beli produk kita?
Mereka bakal mau share enggak produk kita? Contoh misalnya kita mau beli
kita? Contoh misalnya kita mau beli iPhone, teman-teman udah tahu nih, bentar lagi Apple udah mau ngeluarin iPhone baru misalnya, terus tertarik mau
beli. Setelah teman-teman tertarik, yang
beli. Setelah teman-teman tertarik, yang Teman-teman lakuin apa? Search di Google dong launch date-nya kapan, spek barunya apa nih yang ngebedain sama iPhone sebelumnya? Iya kan? Kalau misalnya
sebelumnya? Iya kan? Kalau misalnya
sama, mendingan gua beli iPhone yang baru atau yang lama. Nah, paham enggak sih? Kayak gitu. Atau misalnya
sih? Kayak gitu. Atau misalnya
teman-teman ikutan value creator accelerator, teman-teman tanya nih sama alumni-alumni yang udah ikutan value creator accelerator bagus enggak sih?
Hasilnya lu gimana yang lu dapetin gitu kan. Worth it enggak segala macam. Ya
kan. Worth it enggak segala macam. Ya
kan? Value creator accelerator sama yang lebih murah produknya bedanya apa ya?
Nah, kita nanya kayak gitu kan pasti buat make decision. Habis kita udah tahu, kita jadi punya consciousness di mana, "Oh, yang ini nih produk yang terbaik buat gua sampai akhirnya kita
action dan kalau kita puas kita share."
Tapi here's the thing, Teman-teman. My
point is ini banyak banget kan? Udah ada
Aida, udah ada 5A, udah ada ISAS itu jadi gua pakai mana nih lu kasih gua ada tiga biji Rama ya kan. Jadi gua pakai yang mana? Takutnya teman-teman semua
yang mana? Takutnya teman-teman semua pada bingung. So my point is let's
pada bingung. So my point is let's simplify all this. Daripada teman-teman
bingung seperti biasa yang teman-teman sudah tahu dari Rama, Rama tuh udah paling demen bikin konsep sendiri. Jadi
daripada lu ngikutin itu ribet-ribet, mendingan kita gampangin dengan satu terminologi baru ini, yaitu modern online funnel.
Nah, gua singkat jadi tiga. Gampang kan?
Jadi dari tahu tertarik sampai beli masing-masing ini ya Dave dan teman-teman ada matrik buat ngukurnya.
Matriknya apa? Kalau misalnya orang tahu kita itu datangnya dari mana nih? Ya,
teman-teman sudah bisa lihat Prot Boikor ya secara manipulasi ya. Ini lagi banyak banget yang pakai konten ini. Kemarin
Sara bikin, S bikin ya, terus Dav juga bikin ya. Bentar lagi ini feeling gua
bikin ya. Bentar lagi ini feeling gua Sam sama Jen juga ikutan bikin nih yang kayak gini-gini kan cara memanipulasi ya. Ini Mas Budi juga tinggal nunggu ya.
ya. Ini Mas Budi juga tinggal nunggu ya.
Ini Mika juga kan. Nah, jadi
malam minggu nanti Mas Budi sudah tadi hari ini lagi langsung langsung ya kan ini boyor ya. Nah, jadi
dari konten kita orang tuh tahu produk kita dari konten kita karena ada CTA-nya. Nah, next-nya
dari orang tahu sampai tertarik mereka gimana kita ngetracknya dari sini teman-teman ya kanan apa kita landing page kita, Teman-teman.
Tugas konten kita itu tuh cuman sampai bikin orang tuh tahu bahwa kita tuh punya produk.
Tugas landing page kita itu tuh supaya bikin orang tuh tertarik sama produk kita. Makanya kalau misalnya kita mau
kita. Makanya kalau misalnya kita mau ngepromosin produk kita, enggak usah jelasin semuanya. Oh, produk eh online
jelasin semuanya. Oh, produk eh online course gua ngajarin soal ini, ini, ini, yang lu dapetin ini, ini, ini benefitnya enggak usah. Itu tugasnya lading page.
enggak usah. Itu tugasnya lading page.
Jadi tugasnya konten kita cuman buat bikin orang aware doang. Hey, I have this. The dream outcome is this. If you
this. The dream outcome is this. If you
want to check it out, do this. Nah, itu
tugasnya konten kita. Cuman CTA-nya
sampai sana aja. Nah, next-nya tugasnya tuh ada di landing page kita ngejelasin semuanya buat nge-breakdown objection, kasih tahu dream outcome-nya, benefit yang didapetin apa, value stack-nya apa,
offnya gimana, harganya apa, guarantey-nya kalau ada apa. Sama
akhirnya sampai mereka bisa beli dan mereka masuk ke checkout page. Nah,
gampangnya begitu. Content landing page check out content landing page check out content landing page check out.
Simpelnya begitu. Nah, sekarang
ngetracknya gimana? Kalau misalnya kita ngomongin content landing page checkout ya, keyrix to monitornya itu adalah ini nih. Kalau konten tentu ya yang perlu
nih. Kalau konten tentu ya yang perlu kita perhatikan adalah views-nya.
Kalau misal views konten kita sedikit, belum tentu produk kita enggak laku.
Tapi kita yang harus ningkatin konten kita supaya bisa lebih bagus. Entah itu
kita belum nemu winning konten kita atau enggak kita nge-postnya terlalu sedikit.
Jadi belum works trafficnya belum datang kecuali nge-ads gitu. Jadi konten nomor satu kita harus tahu dulu ini permasalahan di konten kita yang belum viral atau produknya. Kalau misalnya
konten kita belum viral ya kita harus benerin kontennya. Tapi kadang-kadang
benerin kontennya. Tapi kadang-kadang ada yang suka terjadi begini. kontennya
udah viral, udah 100.000, udah 100.000 views nih sama udah 1 juta views nih, tapi kok masih yang check out dikit gitu kan. Itu berarti permasalahannya ada di
kan. Itu berarti permasalahannya ada di landing page.
Landing page teman-teman itu kurang convincing enough sampai orang tuh enggak mau ngeklik. Teman-teman bisa
ngeceknya gimana? Teman-teman nanti bisa ngecek rasio di antara landing page views sama button click. Berapa orang,
seberapa banyak orang yang ng-view landing page teman-teman sampai akhirnya ngeklik button teman-teman.
Your next question will be rasionya berapa yang bagus ya kan. Jadi gimana?
Nah nanti kita bahas. Yang terakhir
check out conversionnya dari orang udah ngelihat checkout page mereka masukin data sampai akhirnya bayar itu berapa banyak yang kita cek ya. Nah habis itu kita bisa lihat juga
ya. Nah habis itu kita bisa lihat juga ada dua ini di tengah-tengah ada dua nih ya. Yang pertama dari views ke button
ya. Yang pertama dari views ke button click ya. Dari content ke landing page
click ya. Dari content ke landing page itu yang perlu kita lihat apa? Link
clicks-nya. Kalau misalnya teman- teman-teman pakai link di bio, itu berarti link di bionnya berapa banyak yang klik? Kalau misalnya teman-teman
yang klik? Kalau misalnya teman-teman pakai pakai mini chat atau pakai DM Automation, berarti berapa banyak tuh link clicks yang ada di DM teman-teman?
Nah, habis kita tahu, kita lihat checkout initiation-nya dari orang yang ngeview landing page kita, berapa banyak orang yang ngemasukin data sampai
akhirnya klik buat bayar. Check out
initi eh initiation tuh artinya apa?
Mungkin teman-teman kurang familiar sama checkout initiation. Tapi kalau misalnya
checkout initiation. Tapi kalau misalnya teman-teman ngerti ads, ini udah menjadi e term yang sangat awam banget, checkout initiation. Nah, checkout initiation itu
initiation. Nah, checkout initiation itu adalah gini. Kemisalannya teman-teman di
adalah gini. Kemisalannya teman-teman di sini ya, Teman-teman.
Ini checkout page kan. Check out page ini teman-teman kalau misalnya ada orang ngisi nama, email, nomor HP, terus kan mereka scroll ke bawah terus mereka bisa bayar sekarang kan mereka bisa klik bayar kan entah pakai metode payment
apapun itu ya. Nah, ketika orang ngeklik itu dan mereka sudah masukin data, itu namanya checkout initiation. Berarti
mereka sudah menginisiasi checkout tinggal bayar. Nah, itu adalah matrik
tinggal bayar. Nah, itu adalah matrik yang kita sebut sebagai checkout initiation, ya. Nah, jadi itu kurang lebih adalah
ya. Nah, jadi itu kurang lebih adalah yang namanya checkout initiation.
Ada pertanyaan nih dari Samuel, Ram, ada pengalaman enggak algoritma berpihak views-nya naik daripada biasanya, tapi pada akun IG dan TikTok kita di udah berapa upload?
Oh, biasanya sih di konten ke-20an sampai 30-an. Eh, Sam kalau misal dari
sampai 30-an. Eh, Sam kalau misal dari nol banget gitu ya. Tapi ada orang contoh kayak Sara. Sara itu tuh by the way Sara itu salah satu alumni kita.
Kalau enggak salah konten best of the best dia tuh di konten ke-50-an baru akhirnya naik tung ngegulung dari 2000 sampai 20.000 hanya dalam beberapa em minggu gitu kalau enggak salah. Tapi
harus gua cek sama Sara lagi. Tapi Sara
growth-nya lebih lama gitu loh. Tapi
kalau misalnya teman-teman ngelihat keep on being consistent kayak dia, dia tuh berarti VC tuh udah sekitar 6 bulanan 100.000 sekarang followers-nya gitu loh.
Mike kalah, Aril kalah gitu loh. Jadi
the power of apa consistency karena dia konsisten 100.000.000 hari ini baru aja hit. Dia baru bilang ke gua lewat WA,
hit. Dia baru bilang ke gua lewat WA, "Gua udah hit nih. Tapi gua tahu RAM next-nya lu bakal bilang apa? Share di
Discord." Iya. Ah, jadi bentar lagi dia share di ya. Jadi em biasa sih di 20 sampai 30 itu buat gua, buat Mike sama buat Aril kayak begitu, Sam. Tapi
kadang-kadang ada orang kasusnya di konten ke-50 baru naik gitu loh. Jadi
signifikannya baru kelihatan di sana.
Jadi biasanya sih kurang lebih seperti itu. Kalau yang type akun bertobat cepat
itu. Kalau yang type akun bertobat cepat hilang terus upload lagi, ada pengalaman enggak? Kayaknya sama aja sih, Sam.
enggak? Kayaknya sama aja sih, Sam.
Jadi, I think we just need to make sure that contentnya bagus. Karena terkadang
it's not about the quantity, tapi emang konten kita berarti yang perlu diimprove. Kalau misalnya meemang belum
diimprove. Kalau misalnya meemang belum naik views-nya gitu. Jadi itu sih kalau titipan dari gua gitu. Oh, Sara sudah share ya di UIN di Discord. Jadi,
teman-teman nanti bisa lihat ee perjalanan dia. Kalau teman-teman mau
perjalanan dia. Kalau teman-teman mau tanya, mau minta input, silakan juga di Discord. Jadi bisa kontakkan sama Sarah
Discord. Jadi bisa kontakkan sama Sarah Mama Beruang gitu. Nah, Teman-teman ini adalah jawaban dari pertanyaan Teman-teman semua. Mungkin matriknya
Teman-teman semua. Mungkin matriknya gimana? Mungkin Mika juga menanya hal
gimana? Mungkin Mika juga menanya hal yang sama. Nah, jadi begini teman-teman
yang sama. Nah, jadi begini teman-teman dari konten ke landing page, matrik yang bagus tuh berapa banyak sih? 2 sampai
4%. Jadi kalau udah orang ngeklik landing page kita dari konten kita 2 sampai 4% itu udah bagus. Dari landing
page ke checkout page 10 sampai 15% kalau misalnya convert itu udah bagus.
Tapi kalau kita ngomongin dari end to end ini, btw disclaimer dulu ini data pribadi sama klien-klien Proud ya yang udah pernah dipegang sebelumnya sama e customer-customer kita. Jadi biasa kalau
customer-customer kita. Jadi biasa kalau kita handle kita ngetrack kan kurang lebih seperti ini. Nah, kalau misalnya teman-teman mau gampang, this is just a simple math, just a dumb math gitu ya.
Kalau mau gampang gimana? Dari views
sampai akhirnya sales itu 0,05%.
0,05%.
Makanya kalau misalnya kita lihat simple mat gini, kalau misalnya kita punya 100.000 views dan conversionnya itu 0,05% berarti berapa banyak sales-nya?
Sales-nya itu kurang lebih di sekitar 50 sales ya. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu.
ya. Nah, jadi kurang lebih kayak gitu.
If you have sekitar 100,000 views, berarti sales-nya yang kita bisa expect tuh sekitar 50. Tapi mungkin beberapa dari teman-teman mikir gini, "Views gua
Rp100.000 nih, tapi produk gua kok enggak sampai 50?" Atau misalnya kebalikannya, "View gua Rp100.000 nih, tapi kok produk gua lakunya lebih banyak?" Nah, mungkin beberapa dari
banyak?" Nah, mungkin beberapa dari teman-teman ada berpikir seperti itu karena what if not? I kan kalau misalnya enggak 50 sales gimana, RAM? Kira-kira ada
beberapa faktor, Teman-teman, yang perlu kita perhatikan di sini. Jadi kalau
misalnya golden ratio itu teman-teman enggak touch atau teman-teman enggak dalam tanda kutip achieve di sana kok 100.000 views gua enggak 50 sal ya apa
yang terjadi? Ada dua faktor teman-teman
yang terjadi? Ada dua faktor teman-teman yang pertama itu adalah digital product price kita tentu semakin mahal pasti akan semakin sedikit ya confession
rate-nya. Contoh, misalnya produk kita
rate-nya. Contoh, misalnya produk kita harganya Rp1 juta, tapi yang beli cuman 20 orang.
Itu berarti udah Rp2 juta tuh dari satu konten. Tapi kalau misalnya produk kita
konten. Tapi kalau misalnya produk kita harganya Rp90.000, yang beli 200 orang sama toh R juta ish
plus minus tapi yang beli 200. Jadi
maksudnya tergantung pricing point kita juga. Nah, jadi it's a pricing a game
juga. Nah, jadi it's a pricing a game gitu. Tergantung teman-teman mau mainnya
gitu. Tergantung teman-teman mau mainnya gimana. mau ngejar kuantitas atau mau
gimana. mau ngejar kuantitas atau mau ngejar kualitas.
Ya, jadi ini ada efeknya dari harga yang teman-teman taruh juga gimana di sana.
Nah, itulah yang perlu kita tahu price-nya gimana. Nah, untuk yang ini
price-nya gimana. Nah, untuk yang ini itu tuh controllable. Kenapa? Karena
kita bisa tes, oh gua pakai price di sini orang beli. Kalau misal gua pakai di segini orang enggak beli. Itu yang
gua lakuin dengan flowzone blueprint, Teman-teman. Jadi, kalau misalnya
Teman-teman. Jadi, kalau misalnya Teman-teman ingat ya, pasti tahu Flowzone Bluint kan sering gua ceritain ya ke Teman-teman ya dulu. Flow
Blurprint itu harga launching-nya itu 298. Tapi kita sempat testing selama 1 2
298. Tapi kita sempat testing selama 1 2 minggu kita naikin ke 349.
Yang terjadi apa? sales-nya drop 25% ya udah gua balikin lagi ke 298 lagi and then akhirnya balik normal lagi. Nah,
jadi itulah salah satu hal yang perlu kita testing atau perlu kita tahu juga bahwa pricing matters. Karena terkadang
value yang kita mau sampaikan dengan price point sebegini mungkin orang tuh mikir kayaknya segini enggak worth it deh produknya segini tapi kalau segini gua pengin beli deh. Nah, gitulah kurang lebih kayak gitu. And this we can
control. Jadi, pricing-nya kita bisa
control. Jadi, pricing-nya kita bisa tes. Kalau misalnya belum laku, ada dua
tes. Kalau misalnya belum laku, ada dua opsi, Teman-teman. Entah turunin harga
opsi, Teman-teman. Entah turunin harga buat nge-adjust ke value-nya atau Teman-teman naikin value-nya. Misalnya
kelas gua Rp500.000, tapi kok enggak laku. Entah kita naikin banyaknya
laku. Entah kita naikin banyaknya bonus-bonus atau materinya kita tambahin supaya value-nya naik atau enggak kita turunin harganya sedikit. Itu kita bisa testingnya begitu solusinya. Yang kedua
adalah audience quality atau targeting-nya emang suai aja. Sayangnya
organik adalah kayak gini. Kita enggak
bisa ngetarget. Gua mau audience gua yang begini, umurnya segini-segini, gendernya begini, lokasinya di sini, interest begini, enggak bisa ditarget.
Kecuali kita main ads. Kalau main ads bisa kita pinpoint, tapi kalau organik enggak bisa. Kita mainnya gimana? Lewat
enggak bisa. Kita mainnya gimana? Lewat
intonasi kita, lewat cara berbicara kita, lewat ide yang kita pilih, lewat scripting kita, lewat hook-nya.
Karena kita ngebahas bisnis buat CEO sama kita bahas bisnis buat anak kuliahan beda ya. Nah, jadi kita bisa mainin di angle pembawaan konten kita.
Setidaknya itu yang kita bisa kontrol, tapi ini uncontrollable gitu, Teman-teman. Nah, oleh karena itu ketika
Teman-teman. Nah, oleh karena itu ketika kita sudah tahu ini semua, yang perlu kita lakuin apa? Decision making-nya
supaya kita bisa mengimprove nih ya, ke depannya yang kita bisa lakuin itu apa. Ini teman-teman brokennya di mana
apa. Ini teman-teman brokennya di mana kita harus tahu dulu ya. Seperti yang
tadi ini kan kita udah lihat nih. Kalau
misalnya kita jeleknya di konten, views-nya masih kurang, kita betulnya di konten. Kalau misalnya button clicksnya
konten. Kalau misalnya button clicksnya masih kurang, kita betulin di landing page. Kalau misalnya orang udah masukin
page. Kalau misalnya orang udah masukin data, udah tinggal check out tapi mereka enggak convert, kita betulinnya di sini.
Nah, masing-masing apa? Kita bahas
satu-satu ya, Teman-teman. Kalau
misalnya kita ngomongin kontennya jelek, yang perlu kita adjust apa, Teman-teman?
Ada tiga aspek yang kita bisa adjust.
The first one, Teman-teman, is the hook ya selalu ya udah paling utama ini hook kita bisa adjust karena bisa aja mungkin hook kita enggak optimal
gitu. Yang kedua adalah idenya. Karena
gitu. Yang kedua adalah idenya. Karena
bisa aja ide kita yang enggak market fit gitu loh. Konten kita bagus, hook-nya
gitu loh. Konten kita bagus, hook-nya bagus, tapi orang enggak butuh konten ini gitu loh. Jadi mereka tetap enggak relate. Idenya yang kita improve lagi.
relate. Idenya yang kita improve lagi.
Dan yang ketiga adalah CTA-nya supaya orang bisa lanjut ke landing page. Nah,
sekarang kalau misalnya kita ngomongin landing page yang perlu kita improve apa nih, RAM? Supaya orang tuh merasa bahwa
nih, RAM? Supaya orang tuh merasa bahwa value kita tuh tinggi dan akhirnya sampai orang tuh mau ngeklik buttonnya sampai nge-check out. Ada tiga hal ini, Teman-teman. Yang pertama adalah above
Teman-teman. Yang pertama adalah above theult. Above the foldult itu apa? Baru
theult. Above the foldult itu apa? Baru
pernah dengar nih, RAM gitu kan. Above
the foldult itu adalah kata-kata pertama yang teman-teman lihat di landing page masing-masing. Nih gua kasih contoh ya
masing-masing. Nih gua kasih contoh ya teman-teman ya. Misalnya
teman-teman ya. Misalnya buat flow zone blueprint misalnya ya.
Nih kita lihat.
Nah ini adalah above the fold. Above the
fold itu maksudnya adalah ketika kita ngebuka website kita, gambar atau kata-kata yang pertama kali kelihatan sebelum kita scroll ke bawah itu adalah yang namanya above the fold gitu ya.
Jadi ini adalah above defult kita harus kita improve karena kalau ininya aja enggak hooking, ini aja jelek, orang enggak bakal scroll sampai bawah gitu.
Nah, jadi above default-nya ibaratnya above the fault itu adalah hook-nya dari landing page kita. Nah, itu yang harus kita improve.
Nah, pertanyaan dari Sena, Ram buat above the fold-nya tetap pakai hook ya?
Iya, betul, ini hook sama aja. Eh, Ram
mau dong linknya. Link apa nih? Link eh
ininya gua share ya ke sini.
I sip nih. Sip, gitu ya. Jadi above the fold Teman-teman.
Yang kedua adalah overstacking. Nah,
overstacking itu apa? Nah, teman-teman
semua sudah tahu ya. Over stacking itu adalah ini. Jadi ini nih
adalah ini. Jadi ini nih overstacking-nya. Karena bisa aja mereka
overstacking-nya. Karena bisa aja mereka ngelihat dengan harga segini ini 298 nih gua dapatnya ini udah cukup menarik belum ya buat gue? Nah, mereka akan merasionalisasikan itu. Gue dapat course
merasionalisasikan itu. Gue dapat course worksheet community. Worth it enggak ya
worksheet community. Worth it enggak ya buat harga segini? Kalau menurut mereka belum worth it mereka jadi akan ngrationalize decision mereka untuk enggak beli. Jadi ini yang kita perlu
enggak beli. Jadi ini yang kita perlu twak di si overstacknya.
Nah, lalu yang terakhir adalah dream outcome-nya nih. Dream outcome-nya.
outcome-nya nih. Dream outcome-nya.
Dream outcome itu apa?
Kalau di sini di title-nya sendiri, kerjaan sehari selesai dalam 3 jam pakai cara produktif ini. Jadi, gimana cara kita bisa menyelesaikan kerjaan 24 jam hanya dalam 3 jam? Cukup menariknya itu
ya. Itu yang perlu kita taker. Is
ya. Itu yang perlu kita taker. Is
actually the promise of our product itu tuh menarik enough enggak? Cukup menarik
enggak buat audiens kita? Kalau misalnya
enggak cukup menarik ya pantesan mereka enggak beli karena ya ngapain gua beli ini aja enggak menarik gitu loh. Itu
yang perlu kita cari tahu. Jadi ada tiga above the fault ya hook-nya dalam landing page kita apa. Dua,
overstacking-nya yang kita offer ke mereka tuh apa aja. Lalu yang ketiga, dream outcome-nya gimana?
Jadi yang kita ngasih ke mereka ketika mereka beli ini apa? Contoh value
creator accelerator. Kalau misalnya lu join ini, lu akan bisa dapat R3 juta.
Kalau misalnya kemarin bootcam 14 hari, kalau misalnya lu join ini, lu akan dapat 14 eh lu akan dapat R juta dalam 14 hari gitu ya. Ini mungkin lebih makes
sense nih bagi teman-teman. Agak ketebak
nih yang perlu di-improve apa. Tapi ini
yang teman-teman paling sering kelewatan dan gua I cannot emphasize enough the importance of this. Di antara
ketiga ini. Menurut gua ini adalah salah satu yang paling penting.
Karena sering banget kita kelupaan kalau dua depan ini teman-teman sering ingat.
Tapi ini nih yang teman-teman sering lupa. Kalau misalnya orang sudah masukin
lupa. Kalau misalnya orang sudah masukin data tapi mereka enggak cek outal artinya apa? Bisa jadi tiga ini yang
artinya apa? Bisa jadi tiga ini yang menjadi bottle neck customernya teman-teman sampai akhirnya mereka enggak daftar. Yang pertama adalah
enggak daftar. Yang pertama adalah urgency sama scar city. Menurut mereka
produknya ini bagus tapi mereka enggak melihat alasan kenapa mereka harus belinya atau checkoutnya sekarang.
Contoh teman-teman, ada yang pernah mau masuk ke gym enggak sih? pengin beli
subscription gym gitu misalnya pengin mulai nge-gym terus ng ee ini nih nge-contact marketing di gym-nya gitu ya.
Atau enggak teman-teman kartu kredit dah atau enggak misalnya teman-teman mau beli yang lain dah pasti mereka selalu akan kayak gitu tuh kak ini slotnya tinggal sisa dua ya tiap hari lu sisa dua terus slotnya tahu lu
ngibulin enggak sisa dua masih banyak tapi tiap hari lu follow up gua sisa dua sisa satu sisa dua lagi. Jadi, itulah
yang mereka lakukan. Nge-build urgency
sama Scar City-nya. Hey, this offer is gonna expire soon. Jadi, lu harus check out sekarang. Kalau enggak diambil sama
out sekarang. Kalau enggak diambil sama orang lain nih, banyak yang mau juga.
Dan tinggal sisa waktunya segini. Karena
cuman limited sampai bulan Agustus aja.
Bulan Juli udah enggak ada lagi. Eh,
bulan September udah enggak ada lagi gitu. Enggak
gitu. Enggak yang kedu.
Oke, ini menarik mengenai landing page karena selama ini yang gua masih pakai di mm link gua adalah landing lead magnet-nya which is yang you dapat kelas
gratis, you line up kan masukin data.
Wish mungkin enggak menarik karena kan setelah gua pikir-pikir kayak apa gua masukin link yang langsung ke coreover misalnya kan atau apa karena di situ kan lebih jelas tuh valueing-nya dapat
apanya bla bla bla seperti itu. Anyway,
em dari nanti ngitung-ngitungnya mungkin nanti ya yang tadi berapa berapa ininya gua pikir yang ini yang
em follow up kayak gitu memang memang gua tuh suka gua udah nanyain kayak sejak seminggu dari yang waktu itu gitu kayak udah nonton belum gitu.
H masalahnya karena free and it's there in their email tinggal click and anytime is ready. Jadi kayak ya udahlah ya tarsok
ready. Jadi kayak ya udahlah ya tarsok tarsok kan gua bisa nonton mau mau gua kapan kan. Nah but I see that em enggak
kapan kan. Nah but I see that em enggak tahu beberapa hari ini gua kayak ke algoritma IG-nya tuh kayak kayak ini kayak kayak Mind Valley ya. Gua tuh
kayak dapat terus si Mind Valley itu if you know Mind Valley RAM itu tuh kayak kelasnya dia kayak pakai apa sih? calend calend
atau apa pokoknya jadi kayak the webinar is free tapi lu harus set the time kamu mau nonton jam berap di waktu kapan tanggal berapa so when the access is
gone ya udah it's your loss gitu thinking mungkinkah kita gue perlu bikin scare city itu sehingga orang enggak kayak bodoh tarsok-tarsok dong nonton free-nya gitu sehingga mereka enggak
akhirnya kan kalau udah nonton course gua kan kelihatan kan gua ngajarnya gimana enak enggak menurut lu value-nya nih oke enggak kalau Kalau lu beli kelas selanjutnya gitu. Sekarang mau nonton
selanjutnya gitu. Sekarang mau nonton aja juga masih banyak yang enggak nonton gitu, Ram. Gimana menurut lo? Oke, ada
gitu, Ram. Gimana menurut lo? Oke, ada
dua jawaban. Eh, tiba-tiba kamera gua mati, Guys. Sorry. Jadi gua pakai webcam
mati, Guys. Sorry. Jadi gua pakai webcam lagi. Back to the webcam. Anyways, so
lagi. Back to the webcam. Anyways, so
that strategy is called automated webinars. Nah, jadi yang main Valley
webinars. Nah, jadi yang main Valley lakukan itu tuh pakai automated webinar sistemnya. Ada beberapa teman gua udah
sistemnya. Ada beberapa teman gua udah pakai dan it works ada beberapa yang flop as Jadi, em for advancy itu strategi advancy my
opinion. Jadi, kalau misalnya mau dites
opinion. Jadi, kalau misalnya mau dites tapi gua pribadi masih twaking secara internal karena buat bisa nge-pull off that automated webinar, every single
attention to detail itu harus kita perhatiin. Karena gini, essentially what
perhatiin. Karena gini, essentially what it does adalah itu bikin kita berasa kita lagi ikutan webinar dan ramai webinarnya, tapi sebenarnya enggak ada orang, cuman kita doang sendiri. dia tuh
bisa nge-set di detik berapa ada orang namanya siapa ngechat apa, ada orang namanya siapa di detik ke sini ngechat apa. Jadi seautomated itu dan harus
apa. Jadi seautomated itu dan harus dicraft sebegitu detail gitu. Jadi itu
namanya automated webinar itu ada banyak sih. Ada pakai webinar jam pakai ada
sih. Ada pakai webinar jam pakai ada ever webinar pakai calend juga bisa.
Jadi toolnya banyak di luar gitu.
Enggak. Kalau gua enggak mau webinar gue cuman mau the free class yang recording gua adalah limited. Itu gimana?
Gini, sesimpel begini. In the in the email that you sent them atau in your landing page, in the thank you page, bilang ini hanya akan bisa diakses selama 3 hari atau selama 1 hari. Jadi
kalau misalnya mau nonton, nonton hari ini. Kalau misalnya itu kan yang kita
ini. Kalau misalnya itu kan yang kita bisa lakuin, lakukan ketika automated.
Dan kalau misalnya kita lagi mau follow up nih kemarin misalnya follow up, when you follow them up. Udah nonton belum webinarnya? Karena ini akan expire nih
webinarnya? Karena ini akan expire nih linknya hanya dalam 40 e 48 jam lagi.
Jadi kalau misalnya belum nonton dan memanfaatkan ee promo yang ada di lead magnet ini, lead magnet ini bisa dimanfaatkan dalam 48 jam ke depan ya.
Karena setelah ini akan hangus vouchernya habis gitu.
Oke oke oke oke. Soalnya kalau kan selama ini kan itu langsung masuk automation email kan which is link klik link di sini misalnya gitu kan. Myion kan kagak pernah expired ya
kan. Myion kan kagak pernah expired ya terus betul betul betul e gak apa-apa just say it to them aja bahwa this is gna expire kalau misalnya gak tentu enggak akan
expire and it's their win kalau misalnya mereka enggak kena tapi kalau misalnya mereka kemakan ya kan both winwin juga it's a good deal for them and we got a sale. Jadi sebenarnya menurut gua
sale. Jadi sebenarnya menurut gua sah-sah aja sih buat kita begitu.
Oke thank you. Boleh boleh. Misalnya eh
nih tambahan nih misalnya ada audiens kita yang kritis, "Ini gua udah beli nih, tapi lu bilang kemarin cuman sisa 2 hari lagi, tapi ini kok masih bisa diakses gitu kan. Ada orang yang kayak ada orang yang kayak begitu terus kita tinggal bilang gini aja due to popular
demand extending ya tinggal dibasi-basi gitu aja gitu loh."
gitu loh." Emang cara mainnya gitu digital product itu sangat lumrah kok.
Oke. Oke.
Gitu. Thank you, thank you.
Nah, ini poin ketiga udah tadi sekalian kita bahas nih sama yang questionnya dari SU which is special offers. Like
when we follow them up even further, Teman-teman kan kita bakal bilang, "Hei, lu udah nonton belum lead magnet kita?
Hei, lu kan udah kemarin udah pre-order ini nih." gitu kan. Masih mau enggak bla
ini nih." gitu kan. Masih mau enggak bla bla bla. Ini tinggal sisa bla bla bla
bla bla. Ini tinggal sisa bla bla bla ya. Tinggal sisa quantity x gitu sampai
ya. Tinggal sisa quantity x gitu sampai tanggal segini offnya. Dan kalau
misalnya lu beli hari ini, gua akan kasih lu ekstra bla bla bla dikasih bonus lagi. Itu yang namanya special
bonus lagi. Itu yang namanya special offer. Itu yang akan bikin orang
offer. Itu yang akan bikin orang convert. Nah, jadi magic of conversion
convert. Nah, jadi magic of conversion is in the followups.
Is in the followups. Jadi jangan ragu, Teman-teman, atau jangan putus asa.
Kalau misalnya ini yang daftar lead magnet udah banyak nih, tapi kok yang check out sedikit. Yang daftar 100, tapi kok yang checkout 1 5 7 10 kenapa ya?
Nah, kita bisa follow up kok ke depannya. Kurang lebih gitu teman-teman.
depannya. Kurang lebih gitu teman-teman.
It's it's it's pretty simple. Jadi kalau
content ya yang perlu kita perhatikan views-nya. Kalau misalnya views-nya itu
views-nya. Kalau misalnya views-nya itu kureng kita bisa optimize hook call to action idea landing page. Kalau misalnya
kita mau ngetrack gimana? Button klik
kita ngimprove-nya gimana? Above the
fold ya. Kalau check out gimana? Ini
yang kita track yang kita lihat ininya.
Alright. So, the next session is gonna be very fun karena video berikutnya adalah live breakdown dari case study yang gua lakuin untuk klien gua di mana dia lagi baru mau memulai nge-scale up info produk dia dan gua nge-breakdown
funnel dia dari awal sampai akhir.
Gimana cara dia nge-optimize low tiket dia sampai akhirnya bisa ngcale up ke high ticket dia. With said, let's jump into the next session.
Oke, cool, cool, guys. What's up, Akbar?
Run me through.
Yes. Jadi eh produk sudah selesai produk eh forover benar gratis LP juga tinggal finishing
touchnya harusnya Selasa semua banget gitu. Nah cuman
gitu. Nah cuman gua pengin ngomongin pertama dari flow dulu nih dari apa?
Jadi kemarin kita sempat dari flow. Oke,
FL soral fan penjualan kemarin kita sempat ya ke misalnya kita mau naruhnya itu di kartu ya kan.
Oke, jadi gratis.
Nah, cuman what you should know sebenarnya ourselves itu enggak lewat many chapter.
Hm.
lewat lewat ts kebanyakan 10% jadi kalau misalnya ngarahin dari chat langsung ke page actually yang beli itu dikit
kayak gitu. Nah, jadi apakah mendingan
kayak gitu. Nah, jadi apakah mendingan buat lain man langsung ke si webinar gratis ini atau better gimana tu? Jadi dari produk
memang gua bakal taruh add cuma dari manajer gua langsung arahin ke versi webinarnya.
Oke, webinar jadinya mau gratis ya bar ya enggak jadi mau berbayar ya.
Ee kita pikir tuh awal-awal kalau agak dulu sih menurutnya gimana?
Boleh kalau misalnya apalagi kalau misalnya tadi organik ya.
Kalau misalnya 10% comes from organik ini boleh sih jadi funelnya langsung ee kita pecah aja. Jadinya kalau misalnya organik itu tuh
dari konten konten kan many chat automation ya.
terus DM, klik link, terus habis itu free webinar. Gua setuju, gua setuju bar
free webinar. Gua setuju, gua setuju bar ini bar. Tapi kalau misalnya kita main
ini bar. Tapi kalau misalnya kita main ads supaya kita bisa balik modal si itunya juga si add cost-nya eh ini kan
kreatif terus kan eh klik click button terus landing page ini produk berbayar ya produk berbayar
terus one time offer order bump order bump webinar gratis ini boleh sih kalau ini gua enggak masalah lah.
Jadi dibedain aja funnel-nya. Kalau
misalnya itu sih yang bakal gu nah kalau misalnya lu mau testing bisa gini bar lu balik. Jadi yang di organic free webinar dulu nanti order bamnya baru yang produk berbayar. Kebayang
enggak?
Balik aja.
Oke. Oh i ya benar benar benar gitu tinggal dibalik. Kalau gini gua setuju soalnya sayang kalau misalnya mereka udah mau bayar why not kan gitu.
Iya Pak.
Terus yang kedua nih, Ram.
Iya.
Ini kan gua bakal kan entar ujung-ujung kan jual corover ya dari webinar ini, Kang.
Si coreovernya ini selain dari webinar apakah gua juga dan if yes gua nunggu webinar pertama dulu seakan-akan
launching dulu. Apakah gua langsung
launching dulu. Apakah gua langsung belajar aja bagaimana?
Baik.
Gua lagi mikirin pros and ken ya biar ini webinarnya launch-nya e webinar did-nya kapan ya bar?
Nah, ini belum belum kita tentu juga lah. Bagusnya tuh kayak ketika gua mulai
lah. Bagusnya tuh kayak ketika gua mulai robot kayak berapa kali post dan berapanya kira-kira gimana?
Kalau misalnya gua apalagi kalau free webinar biasanya sih needs needs two weeks two to the weeks sih weeks sebenarnya udah oke weeks max ya ini for promotion.
Jadi kalau misalnya kita ngelihat di hari ini nih kita masih ada 2 minggu ya mentok-mentok ya berarti di sini bar di minggu pertama Februari tuh kalau mau
eh first week of web will be ideal. Nah, sekarang
pertanyaannya question.
Do we sell core over on ads? Ya kan
before the webinar ya kan? Ini million
dollar questionnya kan sebenarnya kan.
Nah, what I would do bar kalau gua jadi loop sell butnya batnya kencang. BATnya kencang
gini. Jadi eh with core offer what we need to do adalah kita mainin skema promosinya akbar view. contoh-contoh
eh optimize and strategize on the promotional campaign.
Let's say misalnya gini, let's say misalnya misalnya nih ada banyak cara jadi lesnya harga aslinya berapa, Bar? Eh si ininya eh
corovernya Bar untuk sekarang di webinar pertama sih 299.
Oke 299 ya. Nah, wikin adalah kita bisa ads tapi kasih eh potongan harga bar.
Jadi, let's say, let's say misalnya potongan harga jadi 249.
Nah, ini diskon khusus ads.
Nah, terus nanti ketika webinar launching ini kan kita kan mau ada urgency sama Dascar City kan.
Jadi ee jadi ee cara ngomongnya nanti cuman ada diskon ini cuman ada sampai malam ini webinar selesai terus cuman ada 100 lot gitu kan. Nah,
tapi ketika udah ada ini harganya jadi ee 198 misalnya jadi 198. Nah, ketika ini 198 eh
jadi 198. Nah, ketika ini 198 eh potential conflictnya gini. Potential
conflict adalah orang sudah beli ads tapi ikut webinar.
Nah, benar ya. Orang yang sudah beli 249 kalau nanti mereka webinar kok lu 198 kemarin gua beli 249 nih.
I kan.
Nah, yang kita bisa lakuin adalah ya udah ee kalau gua jadi gua chat ee gua ee kalau misalnya mau gampang kasih chat
ke customer service refund aja 50.000-nya.
Oh oke.
Ini bisa opsi satu. Opsi satu opsi satu.
Opsi satu. Ini opsi satu. Opsi dua
free add on. Kita kasih mereka free add on aja. Kita kasih bonus nanti kita ke
on aja. Kita kasih bonus nanti kita ke mereka yang jadi udah beliver di ads tapi ikutan webinar. Nah, free
addon.
Free addon ini. Free addon ini eh kita jual ee bisa juga nih kita jual free addon-nya
bisa dijual. ee pas di webinar juga gitu
bisa dijual. ee pas di webinar juga gitu harganya Rp50.000 juga. Jadinya
nominalnya balance-nya ibaratnya nol gitu loh. Net lah ibaratnya gitu. Nah,
gitu loh. Net lah ibaratnya gitu. Nah,
ini ada dua opsi nih. Opsi satu, opsi du bisa kayak begitu juga gitu. Nah, eh
tapi my logic my logic behind why sell be a core offer before webinar. yang gua mau validasi
webinar. yang gua mau validasi sebenarnya alasannya karena gini bar buat testing making sure core overnya winning.
Karena kalau misal amit-amit ketika dari menjelang webinar e dari menjelang promosi webinar terus tiba-tiba sales-nya drop itu kan berarti corovernya enggak winning. Kita masih
bisa ada waktu buat ngerombak total bar.
Nah, itulah kenapa itulah kenapa gua bilang ee coreover-nya di di ini aja di di jualin aja gitu biar bisa testing. Nah,
sama jurus jitunya lagi gini satu lagi Vio sama Akbar. Kalau misalnya kayak kita lagi webinar kalau misalnya coreovernya pun belum jadi di hari itu kita bisa preorder.
Jadi kita ah jualan dulu produknya belum dikirim enggak apa-apa bilang launchingnya minggu depan. Nah, itu
enggak apa-apa. Itu ngasih kita waktu lagi tuh buat ngevalidasi lagi. Nah,
tapi gini. Jadi, nanti harga aslinya kita naikin. Kalau misalnya kita mau
kita naikin. Kalau misalnya kita mau perioder, harga aslinya jangan 299, 399.
Kalau lu beli di webinar ini 299.
Jadinya kebayang ya, Vio ya.
Jadi harga selalu enggak ada masalah karena kan production cost zero, cuman butuh waktu sama energi doang kan sama fokus kan gitu. Nah, jadi soal harga bisa kita manipulate lah in gitu sesuai
dengan kebutuhan kita. Tapi logika gua begitu sih, Bar. Mak sense enggak kira-kira?
Cuma dari dulu personally tuh personally kayak waktu di zaman gitu ramai kalau gua perhatin lu kebanyakan e webinar gitu cuma lu sempat
push di juga e pernah tapi eh pernah tapi skill skill utama gua organik sih oh jadi makanya eh skills gua lebih baik
dari organics daripada ads karena emang skill gua di sana gitu tapi kalau gua mauong ads bisa enggak bisa hanya saja A kalau misalnya setelah gang x ya paling 50 50 lebar. Kalau orang kan ada yang
kayak let's say eh 90 95% ngad nih jagonya 5% organik. Kebayang enggak
maksud gua.
Nah ini agak sedikit tricky soalnya dia personal brandingnya enggak sticky. Jadi
kalau misalnya tiba-tiba produknya udah udah saturated bikin produk lagi bikin produk terus gitu loh.
Karena brandingnya enggak ada gitu. Nah
tapi kalau di gua, gua bisa gua bisa bilang mungkin gua 55 45 55 gua lebih jaga organik ads gua bisa juga. Tapi
kalau ditanya lebih jago S atau organik, jujur lebih jago organik gitu.
Dan organik tuh jingsu lewat webinar.
Kalau di gua karena gua tuh ngerasa gua tuh paling lancar tuh ngomong ya cuap-cuap dan enaknya kalau di webinar itu adalah lu bisa nge-objection handling langsung.
Nah, ini sama satu lagi kata ini rikunci gua kalau misalnya kalian sudah nonton video webinar gua harusnya nyadar yang gua kirimin ke Akbar sama view kemarin.
Caranya gini bar ya. Ketika di webinar
ya. Ketika di webinar kita jualan dulu baru Q&A. Kadang orang
Q&A dulu baru jualan. Salah menurut gua.
Kenapa? Karena kalau lu jualan dulu baru lu Q&A. Jadi habis kita jualan kita baru
lu Q&A. Jadi habis kita jualan kita baru buka Q&A. Oke. Ada yang punya pertanyaan
buka Q&A. Oke. Ada yang punya pertanyaan untuk materi sebelumnya? Orang tuh ke aner karena hal yang terakhir mereka dengar itu tuh bukan materi tapi jualan.
Jadi dia Q&A lu itu isinya objection handling selama 30 menit. Kebayang
Kak ini nanti produknya ada ini enggak ada. Jadi kayak lu nge-live e lagi kayak
ada. Jadi kayak lu nge-live e lagi kayak nge-live shopping TikTok gitu loh selama 30 menit.
Pertanyaan orang-orang lu balas semua.
Jadi itu nge-shift perspectif dari yang orang nanya soal materi jadi nanya soal produk lu.
Itu game changer banget. Game changer
gitu sih.
Untuk produk over ada ada lain enggak yang mau ditanya?
Sor gimana Bar ada enggak buat yang paling ini sih kalau landing page-nya itu tuh single page kayak yang dikasih contoh lama atau perlu bikin landing page yang sebenarnya kayak ngejelasin
secara dep gitu tadi aku lagi mikirin landing page juga sih barusan yang kayak aku contohin aja e yang kayak gini yuk e aku share screen lagi
yang kayak gini aja udah cukup sih Udah jauh lebih dari cukup. Kita ada
juga kok materinya Vio yang di Notion course B. Aku bukain sebentar ya.
course B. Aku bukain sebentar ya.
Kayaknya yang dikasih AK beda deh. Iya.
Enggak sih soalnya berakh single page gitu.
Yang ini Ram yang yang free webinar.
Oh free. Oke. Sabar sabar sabar.
Nangkapnangkap. Itu benar kok cuman poster terus optin doang. Vi kalau yang itu benar poster optim doang. Benar.
Kalau itu soalnya tadi aku ke Akbar gitu kayak aku kan lagi ikut kelas meditation gitulah terus aku ngelihat ih materainya bagus karena aku inggis sama beberapa yang dim
page dia gitu loh. Saya bilang ke Akbar Barber kayaknya jangan single pitch deh.
Better kayak yang Rama barusan contohin itu sih.
Oh kalau misalnya buat aku jujurly ini nih lebih ke coreover sih karena kan ini jualan vio. Kalau misalnya kalau
jualan vio. Kalau misalnya kalau misalnya aku bikin litm aku cuman bakal kasih ini terus di bawahnya ada opin langsung kayak nama nomor HP email kelar. Kenapa? Karena gratis. Barrier tu
kelar. Kenapa? Karena gratis. Barrier tu
masukinnya itu sedikit. Karena kan
gratis, nothing to lose. Kecuali kalau
kita udah mau jualan baru ada elemen-elemen ini nih.
Gitu. Oh,
oke oke oke.
Aku kasih lihat ya. Ee
nih di bagian sini ada nih, Guys. Emm
di yang exclusif bonus. Terus ada yang ee ini nih.
Wait.
Yang ini. Nah, yang ini nih harusnya kelihatan landing page lead magna.
Contoh begini aja kita bikin begini banyak yang ikut VO ya. Oke. Oke.
Gitu. Ini ada materinya nih. Ini juga
ada tuh.
Cukup kok begini sama gua. Gua pengin nanya dikit tentang
sama gua. Gua pengin nanya dikit tentang ini dong TR.
Boleh boleh.
Jadi kan gua juga gue juga lagi ini kan lagi kan si webinar ini lagi diute nih naik tiket lagi kita juga gitu biar sekalian.
Nah kemarin lu sempat pas di meeting terakhir tuh gua sempat ngelihat tuh beberapa ada yang closing gitu ya.
He.
Terus yang paling penting itu bisa make appointment gitu.
I. Nah, gua penasaran untuk yang udah make up banyak itu udah 100an atau lebih sekarang segitu dia ini nunggu hand racer dulu atau dia yang nyari sih?
Oke, dua-duanya bro karena kita ada yang namain atau gitu.
Nah, ini di sini nih.
Em di sini, Bro.
Di di cash velocity acceleration yang ini appointment sting foundation.
Oke. Oke.
Nah, ini bakal ngejawab nih semua pertanyaan lu, Bro. Ada di sini semua gitu.
Gila, Maruk ya Akbar ya. Baru L tiket langsung high tiket VO. Dia udah kencang banget larinya.
K disuruh kerja mulu sama dia tiap hari sebelum kerja lagi, Ram.
Iya, gas lah. Ini gas masih ada 2 minggu bar. Sikat.
bar. Sikat.
Iya. Heeh.
Iya. Berarti ya 2 minggu lagiah ya berarti udah keekit ya si webinar ini.
Iya iya jangan kelamaan ya Bar ya biar cepat ada biar biar lu bisa cepat-cepat masukin ke channel tuh.
Iya ini lagi cabangan humar duluan.
Iya.
Okelah lagi enggak sih? Enggak sih kalau dari aku udah sih.
Jadi eh mungkin fokus launch webinar in weeks ya bar ya berarti latest by first week of eh
terus run ads run ads and organic for eh funel for webinar and coreover ya.
Kalau misalnya lu udah sampai titik ini, itu berarti kita udah ke chapter terakhir di masterclass kita, yaitu automation. Lu mungkin udah sering
automation. Lu mungkin udah sering banget ngelihat contonent creator di luar sana tuh ngepakai automation ya kan dimut automation. Jadi kalau misalnya
dimut automation. Jadi kalau misalnya dia ada nge-post story disuruh reply pakai kata kunci ini ya atau kalau misalnya dia bikin karusel atau reels terus dia ada call to action komen dengan kata kunci ini ya. Dan nanti
ketika autom missationnya udah masuk ke DM lo ini akan bisa membawa lo buyers journey yang berikutnya. Nah, itulah
yang akan kita bahas di modul kita kali ini yaitu automation. So, if you're ready to automate your processes, watch the next video.
What's up? Akhirnya kita sampai di salah satu mungkin materi yang dinantikan banyak orang ya, gimana kita bisa memakai DM atau gimana kita bisa mengotomatisasi
sistem sales kita dari yang tadinya harus kita balasin satu-satu tapi ini tinggal pakai satu aplikasi semuanya bisa berjalan dengan sendirinya. Nah,
mungkin buat yang udah pemain lama yang sudah 2 tahun mungkin 3 tahun di ee Instagram pasti pernah lihat ini atau mungkin sekarang di TikTok pun masih ada. Klik link di bio ya. Klik link di
ada. Klik link di bio ya. Klik link di bio ya. Masalahnya satu strategi ini tuh
bio ya. Masalahnya satu strategi ini tuh udah basi banget dan Tobiana sudah sangat tidak bekerja. Kenapa? Satu
prosesnya panjang dari kita suruh klik link di bio, orang harus keluar dari konten kita atau enggak harus klik profile dulu, habis itu masuk ke bionya, lihat di bio, masuk ke linknya harus
keluar lagi nungguin dulu baru masuk ke satu website yang mungkin ya belum tentu juga mereka akan klik atau melakukan apapun juga di situ. Nah, jadi masalah
ini udah pada bosan banget dengerin ini.
Sedikit banget orang yang akan melakukannya sekarang. Dan yang paling
melakukannya sekarang. Dan yang paling penting seperti yang tadi udah gue bilang, orang yang masuk ke website itu belum tentu juga ngeklik dan orang yang ngeklik belum kita enggak tahu siapa yang ngeklik. Misalnya ada 1000 orang
yang ngeklik. Misalnya ada 1000 orang ngeklik, ada 100 orang beli produk kita, which is sudah bagus banget. Tapi 900
orang lain yang udah masuk ke website kita enggak mungkin ngeklik ataupun enggak, kita enggak tahu itu siapa. Ini
900 orang yang udah tertarik tapi enggak bisa kita follow up, enggak bisa kita apa-apain. Entah untuk e entah karena
apa-apain. Entah untuk e entah karena alasan apapun mereka enggak beli, tapi ini semua jadi sia-sia. Nah, makanya
Link di Bio itu udah sebuah strategi yang bisa dibilang udah cukup matilah, udah susah banget untuk kita manfaatkan.
Apalagi kalau di Instagram. That's why
untuk zaman sekarang untuk bisa memarketingkan produk kita, untuk kita bisa marketingkan digital produk kita yang harus kita pakai itu dim automation.
Nah, mungkin teman-teman juga pernah dengar ya di entah di productivity boy atau di val creator pasti pernah dengar komen mulai ya kalau mau mulai menghasilkan 100 juta pertama dari digital produk kamu atau yang kedua ini
komen brand X kalau pengin bisa colab brandnya dengan value creator atau komen join kalau pengin bisa join webinar ini.
Ini adalah contoh VTA atau call to action yang kita manfaatkan untuk bisa memulai DM automation kita. Nah, di mana orang dari komen masuk ke direct
message, masuk ke DM-nya secara langsung atau mungkin orang balas story di balas story kita atau reply ke story kita atau mungkin DM kita secara langsung, kita
bisa bikin ada message yang otomatis muncul ke DM mereka. Di mana dari orang tadinya ada 1000 orang yang klik ke link kita atau enggak e masuk ke profil atau
masuk ke website kita 100 orang beli dan 900-nya sia-sia. Sekarang 900 L ini kita
900-nya sia-sia. Sekarang 900 L ini kita dapat datanya, kita tahu siapa yang klik dan bisa kita follow up secara langsung.
Dan yang terbaiknya adalah dengan salah satunya dengan many chat ini di Mutomation ini, kita bisa follow up mereka tanpa bahkan kita nyentuh keyboard atau nyentuh handphone kita sama sekali karena semuanya sudah
terotomatisasi.
Nah, di mana salah ada sebetulnya ada banyak ya aplikasi yang bisa kita gunakan untuk BM Automation ini. Tapi
yang ee sangat kita sarankan itu mini chat. Mungkin yang lain pernah dengar
chat. Mungkin yang lain pernah dengar juga namanya SPS atau enggak chat viel.
Ini bisa kita pakai. Tapi tetap sampai sekarang dari riset yang kita lakukan dari percoba banyak percobaan yang paling kita sarankan tetap many chat.
Dan many chat ini memang udah jadi official partnernya Meta. Jadi well
sangat baik adanya jika kita bisa pakai ini. Nah, kenapa harus menggunakan DM
ini. Nah, kenapa harus menggunakan DM Automation? Ada tiga. Yang satu mungkin
Automation? Ada tiga. Yang satu mungkin teman-teman bisa lihat juga konten-konten yang menggunakan DM Automation itu engagement-nya luar biasa tinggi bahkan bisa sampai 10 kali lipat.
Kenapa? Karena kita bikin orang tertarik untuk komen di konten kita. Entah apapun
yang kita janjikan di balik itu, tapi orang akan lebih tertarik untuk bisa engage dengan konten kita. Yang kedua,
closeness atau kedekatan kita dengan audiens. Seperti yang mungkin
audiens. Seperti yang mungkin teman-teman sudah pelajarin juga soal closeness, closeness dan authority ya.
kita bisa membangun closeness dengan audiens kita di sini secara otomatis dan itu yang terpenting karena kita bisa aja bangun closeless dengan audience kita dengan balasin DM ngobrol tapi berapa
waktu yang kita milikin sih sehari untuk ngelakuin itu bisa-bisa kita balasin 10 20 orang aja ngobrol ngobrol itu udah bisa seharian tapi dengan many chat dengan DM automation yang dicraftin
dengan baik teman-teman bisa melakukan conversation atau percakapan dengan eh followers teman-teman ini secara otomatis. dengan pembahasaan yang sesuai
otomatis. dengan pembahasaan yang sesuai sehingga closeness atau kedekatan dengan audiens ini juga akan meningkat. Dan
yang terpenting adalah conversion ke sales itu yang sangat-sangat tinggi dengan menggunakan dim automation ini.
Kenapa? Karena orang itu enggak merasa begitu komen atau begitu selesai nonton konten mereka langsung dijual. Tapi
dengan DM Automation ini mereka merasa kita DM secara langsung. mereka merasa
kita engage dengan mereka secara langsung membangun sebuah pembicaraan, sebuah conversation yang justru lebih smooth untuk bisa sampai ke sales dan ini sudah terbukti bisa meningkatkan
sales dengan sangat-sangat baik. Nah,
untuk perkenalan kita bicara itu aja.
Nah, selanjutnya kita akan bicara soal bagaimana kita bisa menerapkan dim Automation ini ke dalam Halo everyone. Sekarang kita akan bicara
Halo everyone. Sekarang kita akan bicara mengenai automation creative touch point atau di titik-titik mana aja dalam konten kita, dalam e kreatif dari sosial
media kita yang bisa kita terapkan untuk menggunakan DM atau mission ini. Nah, di
mana kenapa sih harus kita bikin suatu DM automation yang kreatif atau yang menarik? Karena automation yang di
menarik? Karena automation yang di belakangnya udah udah bagus banget, udah sangat kuat. Seperti teman-teman mungkin
sangat kuat. Seperti teman-teman mungkin pernah lihat yang pernah faer yang udah panjang banget automation-nya. Tapi
kalau konten eksusinya ini jelek, percuma karena orang tetap enggak ada yang mau komen, tetap enggak ada yang lihat, tetap enggak ada yang DM, tetap enggak ada yang reply story-nya. Tapi
kalau kita bisa bikin automation yang bagus banget, ditambah dengan eksekusi konten yang bagus banget, ini self-nya bisa modet, bisa gede banget dan luar
biasa jauh banget dibandingin kalau kita konten yang kita eksekusi itu jelek.
Nah, pertanyaannya kapan harus jualan dan kapan jangan? Apakah kita harus ee DM, minta DM, minta komen setiap konten kita, setiap story kita jualan atau
sebetulnya ada formulanya? Nah, basis
atau patokan yang paling mudah bisa kita pakai adalah dengan menggunakan the golden rule of marketing yaitu 3 banding 1.
Atau mungkin pernah teman-teman kalau yang penggemar GV dari tahun 2018 atau sudah lama pernah dengar di bukunya namanya Jep Jep Jep Wright Hook yaitu di
mana kita menggunakan tiga konten untuk em memberikan value, tiga konten untuk engage, tiga konten untuk sharing, dan satu konten ini nih right hook ini untuk jualannya. kita warm up audience untuk
jualannya. kita warm up audience untuk bisa terust sama kita, semakin dekat sama kita, lalu kita jualan baru.
Pertanyaannya adalah di mana kita bisa menggunakan DM Automation ini? Di mana
kita bisa menempatkan creative atau kreatif dari automation kita ini? Nah,
jawabannya ada tiga, yaitu di konten kita, di story kita, atau nyuruh orang DM kita. Nah, yang pertama untuk di
DM kita. Nah, yang pertama untuk di konten misalnya bisa juga di end of content VTA di akhir konten kalau mau ini komen ini ya. atau enggak kalau mau
ini reply eh reply konten ini pakai ini.
Yang kedua bisa di tengah-tengah konten juga enggak masalah. Di tengah-tengah
konten bisa bilang, "Yang mau ini komenin dulu ya baru kita lanjut lagi ngomong di konten." Atau bisa juga di caption setelah akhir caption dan kalau mau ini komen komen abc komen mau komen
mulai itu bisa kita lakukan semuanya.
Nah, untuk di story juga bisa mungkin pernah lihat sorya value creator yang ini di mana kata-kata ini value kata-kata brandx yang kita highlight di sini sebetulnya adalah keyword atau
keyword trigger yang kita pakai untuk mulai automation kita yang kita sudah setting di man sebelumnya. Nah, yang
terakhir juga bisa di DM seperti ini.
Yang ini yang gua pakai juga adalah di DM. Kalau misalnya pengin course gratis
DM. Kalau misalnya pengin course gratis atau pengin sesuatu DM e DM kita di mana pada saat itu kita sudah siapin dimutomation di belakangnya untuk
menjalankan proses yang akan kita setting di manet gitu. Nah, lakukan ini aja udah cukup.
gitu. Nah, lakukan ini aja udah cukup.
Dan selanjutnya kita akan mulai start selling and automating eh punya teman-teman sendiri dari many chat dan teman-teman bisa lihat tutorialnya di video.
So, what's up? Kita akan mulai di sini untuk crafting your automation petwist.
kita akan belajar gimana caranya kita setting ee kata-katanya, kita setting eh chat bubble-nya supaya kita bisa orang yang komen masuk kita kasih DM langsung,
ya. Di mana di sini untuk sebelum itu
ya. Di mana di sini untuk sebelum itu kalian harus tahu dulu untuk bisa pakai many chat kita harus punya Facebook busnis page atau meta buisnis page di mana ini yang akan diconnect ke many
chat akhirnya kita bisa pakai. Kalau
misalnya belum punya bisa bikin dulu dan nantinya dikonnect ke mini chat ya. So,
kita langsung aja akan setting up our manet automation. Oke. Nah, ini tampilan
manet automation. Oke. Nah, ini tampilan terdepan dari automation ya. Di mana ini yang mungkin kalian pernah lihat sebelumnya eh keyword-keyword yang
pernah ada di HVC yaitu kita semua ada di sini, kita masih safety sini. Nah,
tapi untuk ee memulai biar lebih enak langsung, kita akan bikin langsung dari awal aja. Kita bikin new automation di
awal aja. Kita bikin new automation di sini. Nah, di pilihan itu ada banyak.
sini. Nah, di pilihan itu ada banyak.
dia udah punya banyak template sebetulnya yang bisa kita pakai, tapi yang paling umum itu biasa dipakai dua ini, orang yang reply story dan juga orang yang komen dan kita akan balik
balas ke DM. Settingannya enggak jauh berbeda, cuman bedanya ee kalau misalnya yang di DM atau di story orang kita bisa bikin langsung cukup panjang. Sedangkan
kalau dari komen, orang komen kita hanya bisa balas di satu e enggak terlalu panjang chatbnya. Kita akan langsung
panjang chatbnya. Kita akan langsung coba aja ya. Langsung kita mulai di yang komen ini di-close dulu aja tidak usah digubris. Nah, tampilan
pertamanya itu akan seperti ini.
Orang komen di post reels dia akan balas ke sini. Nah, ini bisa kita setting.
ke sini. Nah, ini bisa kita setting.
Yang pertama kita bisa setting kita mau salah satu post aja atau kita bisa untuk post semuanya atau mungkin kalau kita mau setting dulu nanti ditinggal baru
upload lagi kita bisa setting di next post or. Jadi pos kita selanjutnya akan
post or. Jadi pos kita selanjutnya akan kena dampak dari automation yang kita lagi buat sekarang ini. Tapi biasanya
kalau HVC atau Bradby lagi bikin campaign yang cukup panjang, kita akan pakai all post or real karena eh keyword yang kita gunakan biasanya sama. Nah,
selanjutnya kita bisa setting keyword apa yang kita pakai di sini. Kita bisa
pakai misalnya kita bisa pakai mau. Nah,
huruf besar huruf kecilnya tidak usah dipedulikan karena dia langsung ngedetect huruf gede atau huruf kecil.
Kalau any komen sebetulnya ini orang komen apapun di pos tersebut akan langsung ke reply. Tapi ini cukup kurang efektif sebetulnya. Kecuali ee kalau
efektif sebetulnya. Kecuali ee kalau kita mungkin mau bikin akoun baru yang lagi bikin guide atau perkenalan atau lain-lain itu bisa. Tapi kurang efektif
kurang efektif lah sebetulnya. Nah,
selanjutnya kita juga bisa sebetulnya bikin kita reply dirly komen mereka biar
kita bisa lebih engage. Misalnya eh cek thank you cek DM ya.
Nah, ini kita bisa comment reply-nya itu sampai salah ketik terus itu bisa ada lima kita di entah nanti mereka
ng-random sendiri keluar yang mana. Tapi
permasalahannya dengan multiple multiple replies ini adalah kalau kita ng-replay komennya terlalu banyak akan ada satu titik di mana em
Instagram itu nge-ban account kita dan jadinya kita enggak bisa balas komen lagi dan bahkan kita enggak bisa naruh caption di ee di konten kita selanjutnya. Dan itu tentunya akan jadi
selanjutnya. Dan itu tentunya akan jadi masalah ya. Jadinya e lebih baik kalau
masalah ya. Jadinya e lebih baik kalau misalnya yang ini kita biasanya pakai no aja karena mungkin engagementnya akan sedikit berkurang tapi setidaknya
account kita akan lebih aman. Lalu kita
save.
Nah, ini kita setting. Kita udah setting untuk triggernya. Jadi trigger words-nya
untuk triggernya. Jadi trigger words-nya itu sudah selesai. Tinggal kita lanjut ke apa yang akan kita kasih, kita DM ke audiens kita pada saat kita komen. Dia
udah ada template-nya sebetulnya begini, tapi eh biasanya kita dikit kita ganti lagi. Hai, thanks
lagi. Hai, thanks thanks udah DM ya. Bisa dikasih emoji juga.
ya. Bisa dikasih emoji juga.
Kalau misalnya kita mau langsung kasih link biasanya kita bisa langsung taruh di sini aja linknya. Langsung aja klik
link di bawah ini kalau mau klaim course gratis gue. Misalnya begini, kita kasih
gratis gue. Misalnya begini, kita kasih lagi emoji ini di sini. Nah, selanjutnya
ini button yang di sini adalah kalau misalnya teman-teman lihat ada chat yang bisa diklik button-nya itu kita setting di sini kita bisa setting eh claim claim
course gratis atau klik di sini misalnya tambahin lagi emoji biar lebih interaktif dan di sini kita bisa kasih linknya link landing page kita mau kasih
link ee seperti ini. Contohnya link
YouTube, link video kita yang lain itu bisa di sini. Aplikasinya sangat banyak, tinggal tergantung kreativitas teman-teman gimana. Kalau udah done dan
teman-teman gimana. Kalau udah done dan done, dan di sini kita set live selesai.
Di semua post yang ada orang yang komen mau, dia akan dapat akan langsung dapat DM ini langsung dikirimin DM dari
account kita gitu. Nah, aplikasi lainnya lagi setelah ini gimana dari sini? Kalau kita mau nge-follow up
dari sini? Kalau kita mau nge-follow up sebetulnya bisa di sini ada action. Ee
umumnya ini sebetulnya ada banyak kita bisa masukin ke gheet dan lain-lain.
Tapi untuk keperluan ini kita cukup nambahin tag aja. Ini tag yang sebetulnya sudah sebelumnya udah ada di HVC. Jadi kita pakai aja dulu kita ee
HVC. Jadi kita pakai aja dulu kita ee untuk percobaan aja atau kalau teman-teman nanti kalau mau nyoba dan bikin sendiri tag-nya itu juga bisa kok.
Tinggal dimasukin aja. Dari situ kita bisa kasih di sini ada banyak ee ini Instagram message akan jadi seperti ini.
Kita bisa pilih atau kita lihat dulu yang lain ya. Ada action itu sama yang kay misalnya kalau misalnya orang ini udah pernah DM sebelumnya kita kasih
apa? Kalau belum pernah atau orang baru
apa? Kalau belum pernah atau orang baru kita kasih apa? Randomizer itu kita bisa balas dengan beberapa kata-kata atau kalimat yang random tergantung dari kita pengin kasihnya apa. Smart delay kita
bisa kasih dulu di sini misalnya smart delay ee kita kasih waktu jangka waktu 30 menit ya. Kita kasih jangka waktu 30
menit. Dalam 30 menit ini enggak akan
menit. Dalam 30 menit ini enggak akan ada DM apa-apa. Tapi selanjutnya kalau kita kasih DM dalam 30 menit. Hai, apakah kamu
sudah klaim course-nya?
Nah, di sini kita jadi kita ngingetin lagi ini yang tadi disebutkan kalau misalnya di many chat atau di DM Automation ini kita bisa follow up setiap orang yang klik atau e
berinteraksi dengan konten kita. Setiap
orang yang komen kita bisa follow up lagi tanpa bahkan tanpa kita sentuh Instagram kita. Semua ini dilakukan dari
Instagram kita. Semua ini dilakukan dari automation. Batasnya di mana? Batasnya
automation. Batasnya di mana? Batasnya
di kreativitas, Teman-teman. Semua itu
bisa dilakukan. Begitu.
Nah, di sini pun kita juga bisa kasih salah satu yang sering kita pakai itu delay. Jadi, begitu orang ee udah
delay. Jadi, begitu orang ee udah ngejawab sesuatu, kita kasih delay dulu berapa detik. Seolah-olah kita lagi
berapa detik. Seolah-olah kita lagi ngetik. Jadinya bot ini terlihat tidak
ngetik. Jadinya bot ini terlihat tidak seperti bot, tapi lebih ke manusia.
Ada delay, ada card. Carda, yang kita kasih gambar cukup gede, ada tombolnya lagi. Kita bisa taruh video, taruh
lagi. Kita bisa taruh video, taruh gambar atau teks lagi yang seperti ini juga.
ini semua bisa dicustomize tergantung dari ee kebutuhan teman-teman. Nah, ee
mungkin untuk comen dan eh automation-nya seperti ini udah cukup jelas. Kita akan coba bikin satu lagi
jelas. Kita akan coba bikin satu lagi yang e untuk nunjukin aja kalau kita gimana kalau kita bikin story ya.
Sebetulnya enggak jauh beda, tapi ini bisa kita bisa pilih reply story, all stories atau specific story. Kita bisa
pilih dengan specific word atau kata-kata tertentu. Kayak tadi misalnya
kata-kata tertentu. Kayak tadi misalnya kita mau kasih kata-katanya mau di-save triggernya.
Lalu di sini. Nah, kita bisa kasih yang cukup panjang bisa kata-katanya apa, kita bisa kasih delay lagi, terus kita kasih follow up lagi. Kita bisa buat
lebih seperti sebuah percakapan, seperti conversation. Jadi, pada saat mereka
conversation. Jadi, pada saat mereka balas DM kita, kita bisa buat seperti ngobrol sama mereka dengan sebuah automation yang kita enggak bahkan enggak perlu sentuh. Bayangin
dengan automation ini kita bisa berinteraksi dengan 1000 bahkan 10.000 audience kita. 10.000 followers kita
audience kita. 10.000 followers kita tanpa kita nyentuh keyboard sama sekali.
Cuman perlu kita setting di awal. Itulah
kekuatan dari automation. Nah, tapi
kembali lagi automation ini back end di belakangnya dapurnya. Untuk bisa
belakangnya dapurnya. Untuk bisa memaksimalkan ini, kita harus bisa juga maksimalkan front end-nya konten kita depannya. Oke, so you've reached the end
depannya. Oke, so you've reached the end of the masterclass. Congrats, first of all, it's been my pleasure to have you here on our seven hours course. Semoga
dalam 7 jam ke belakang, lo sudah mendapatkan banyak sekali valuable insights yang lo bisa langsung terapkan ke bisnis lo secara langsung dan harapannya bisa meningkatkan jumlah views lo, jumlah followers lo, dan
jumlah income yang lo dapatkan setiap bulannya. Barusan ini adalah segala hal
bulannya. Barusan ini adalah segala hal yang gua lakuin untuk mendapatkan 150.000 R000 followers pertama gua dalam 1,eng bulan dan juga R miliar pertama gua 3 tahun lalu di akun Productivity Boy. Jadi, barusan lu udah nonton dan
Boy. Jadi, barusan lu udah nonton dan opsi lu ada dua. Satu, lu terapin semua yang gua share barusan dan nge-grow akun lu sendiri dan ng-monetize akun lu sendiri. Atau enggak yang kedua, kita
sendiri. Atau enggak yang kedua, kita enggak berhenti di free course doang.
Gua udah menyiapkan bonus yang lebih dalam lagi buat lo, yaitu free consultation. Kalau misalnya lu pengin
consultation. Kalau misalnya lu pengin dibimbing sama gua dan tim gua langsung, di bawah di deskripsi itu tuh ada link di mana kalau misalnya lo klik dan lo daftar, lu tuh bisa mendapatkan free consultation bersama gua dan tim gua
yang nanti akan bisa ngebantu lo untuk nge-walk through proses lo. Apa aja sih yang lo perlu lakuin untuk personal branding lo, untuk akun lo, dan untuk bisnis lo secara personalize. Kata
kuncinya di sana, personalize. Jadi
kalau misalnya lu pengin bantuan yang personalize yang terstruktur untuk akun lo secara spesifik, make sure buat klik link yang ada di deskripsi di bawah dan lu bisa daftar untuk mendapatkan free one onone consultation bersama gua dan
tim gua. Tapi kalau misalnya enggak mau
tim gua. Tapi kalau misalnya enggak mau pun enggak apa-apa. No worries. My only
ask for you. Permintaan gua cuman satu.
Seperti yang gua bilang di awal video, kalau misalnya lu mendapatkan manfaat dari video barusan, please share this video ke orang-orang di luar sana supaya kita enggak cuman berkembang sendiri, gak cuman El, gak cuman gua yang
berkembang, tapi banyak orang bisa mendapatkan manfaat dari video ini juga.
Oke, so thank you for watching this video and always remember, value over everything. Yeah.
everything. Yeah.
Loading video analysis...