ILMU PUBLIC SPEAKING PANDJI PRAGIWAKSONO
By Pandji Pragiwaksono
Summary
Topics Covered
- 80% Psikologis, 20% Teknis
- Orang Menilai Kita Sejak Detik Pertama
- Personal Branding Adalah Beritahu Dunia Siapa Kamu
- Temukan Cara Ngomongmu Sendiri
- Empat Cara Ngomong dengan Empat Jenis Audiens
Full Transcript
Thank you, man.
Enjoy man.
Tepuk tangan dulu sekali lagi untuk Edward.
Eh, betul sekali. Saya diajak Eduward ke
betul sekali. Saya diajak Eduward ke kota, diajak ke mangga besar. Kata gua diajak nih gua.
nih gua.
Perasaan kita dekat tapi enggak dekat-dekat banget gitu loh.
Tapi pengalaman yang menyenangkan sekali gua ngomong di mobil ee kayak Edward.
Aneh perasaan gua sering lewat daerah sini tapi gua enggak pernah ke wilayah ini spesifik. Terus dia bilang, "Gua
ini spesifik. Terus dia bilang, "Gua selalu senang kalau ada yang ngomong seperti itu." Terus gua pikir, "Oh,
seperti itu." Terus gua pikir, "Oh, berarti banyak yang diajak sama dia."
dia." Ee di sini ada satu orang yang sangat gua kenal. Gua manggilnya ito, kalian
gua kenal. Gua manggilnya ito, kalian manggilnya Vira. Ya,
manggilnya Vira. Ya, Vira. Berapa lama di sini? 4 tahun.
Vira. Berapa lama di sini? 4 tahun.
Berarti rata-rata kenal gue lebih kenal.
[Tepuk tangan] Lu enggak tahu bahwa Fira itu meninggalkan kehidupan nyaman di Amerika
Serikat demi karirnya di Indonesia?
[Musik] Tidak bohong sama sekali.
O malas kalau gua cerita ini. Soalnya
gua lagi tour, gua lagi tour juru bicara stand up comedy world tour waktu itu ke-24 kota di lima benua sampai ke Afrika.
Etape Amerika Serikat dia nemenin gua ikut bareng sama tim. Terus kami di New York untuk libur. Jadi waktu itu kotanya
tuh LA, SF, DC, Boston sama Chicago sama Phil En. Tapi in between ada yang jeda
Phil En. Tapi in between ada yang jeda kosong. Kami menutuskan break bentar yuk
kosong. Kami menutuskan break bentar yuk kita ke New York. Enggak ada stand up-nya cuman pengin ke sana aja. Itu
kali pertama kami ke New York. Terus
kami makan.
Kenapa ketawa lu? Kami makan
di luar. Di tempat kami makan tuh di luar tuh ada orang kulit hitam melihat ke dalam itu.
Lihat ke arah ito.
Terus kita kan bingung kan. Eh, enggak
ngelihat ke arah kami. Bingung kan ini mau dijambret, mau ditampel atau mau diajak jadi gangster atau apa gitu. Atau
kan saya juga rapper ya.
Siapa tah mau diajak ng-rap gitu. Gua
udah yo yo yo. Udah gitu teman kami keluar kalau enggak salah Zendra sama Ben mungkin keluar untuk ngerokok.
Orang kulit hitam itu nanya itu cewek di dalam siapa? Dia nunjuk Vira.
dalam siapa? Dia nunjuk Vira.
Please, gua mau kenalan sama dia. I'm in love with her. Gila gak
with her. Gila gak gila.
Gila.
[Tepuk tangan] Gua lupa apakah orang kulit Gua lupa apakah orang kulit hitam ini orang black ini nanya namanya atau enggak. Tapi yang gue ingat,
enggak. Tapi yang gue ingat, please tell her she's an angel.
[Tepuk tangan] Gila.
Gila. Ito dibilang malaikat.
Dia enggak tahu aja. Malaikat maut.
Mati. Mati lu.
Mati lu di tangan itu lu. Disedot kak.
Habis dia finish him.
Mati dia. Malaikat maut.
Gua kenal sama Edward udah lama. Betul.
Ee waktu ngobrol-ngobrol gua sebenarnya banyak bertanya soal bisnis karena gua ini adalah putaran kedua gua menjadi e direkturnya perusahaan gua. Waktu itu
tahun 2019 gua sempat megang. 2022 gua
lepas karena gua pindah ke New York. Ee
setelah 3 tahun perusahaan dipegang sama orang, gua balik lagi. Rasanya sih gua lebih baik lagi menjadi seorang direktur ketika balik lagi ke Cumika. Tapi gua
pengin belajar banyak.
nanya sama Edward terus e ya udah kalau mau ngobrol sama teman-teman gua aja yang jalanin bisnis terus kata dia, "Tapi tidak gratis." Kata dia, "Sharing dong sama anak-anak kantor gue
kat gitu."
kat gitu." Nah, cerita-cerita sama Edward eh kayaknya ini tepat untuk ee jadi kesempatan gua berbagi soal confident.
Betul. Tapi dalam konteks public speaking, karena kita semua butuh public speaking. Apapun keprofesian kita, asal
speaking. Apapun keprofesian kita, asal kita ngomong sama dua atau tiga orang itu hitungannya adalah public speaking.
Jadi kita akan berbagi banyak soal gimana caranya percaya diri dalam konteks public speaking.
Nah, kalau Panji yang ngajar public speaking harus saya akuin, harus gua akuin emang agak tidak lazim
sebagai credensial.
kayaknya semua konteks public speaking tuh emang gua udah jalanin.
Ee gua siaran radio dari 2001 sampai 2011. Jadi public speaking konteks
2011. Jadi public speaking konteks radio. Gua pernah ngemc juga dari 2000
radio. Gua pernah ngemc juga dari 2000 1 2002 sampai sekarang nge-host TV.
pernah nge-host TV untuk kuis, pernah ngghost TV untuk talk show, pernah jadi YouTuber, juga jadi stand up comedian, juga jadi rapper, juga
pernah jadi public speaker di depan anak SD, pernah public speaker dalam konteks politik.
Yang mau gua maksud dengan ngasih tahu credensial itu adalah kayaknya apa yang mau gua katakan itu valid. Bahwa ada
banyak orang yang ngajar public speaking, tapi kayaknya mesti adu dulu sama gua di mana saja mereka pernah public speaking, sama siapa aja mereka pernah public speaking. Karena gua yakin
credensial gua lumayan. ada nama-nama
yang lebih tua dan senior dari gua, tapi mereka terbatas hanya di radio saja atau hanya di TV saja atau hanya di radio dan TV dan MC dan presenting. Tidak se ee
luas gua. Karena gua mau membuka dengan
luas gua. Karena gua mau membuka dengan pernyataan bahwa public speaking itu
80% psikologis, 20% teknis, 80% psikologis, 20% teknis. Betul. Kalau
teman-teman sekolah public speaking atau ikut kursus public speaking, teman-teman akan diminta untuk melatih hal-hal teknis seperti humming atau lion face
supaya mulutnya kebuka, supaya enggak mumbling seperti Oril Noah.
Oril Noa kan gini ya, untung dia ganteng.
Kita kan enggak. Kalau ganteng mah orang mau nyimak. Kalau enggak ganteng atau
mau nyimak. Kalau enggak ganteng atau enggak cantik kan kita mesti berusaha.
termasuk ee olah nafas, diafragma, hal-hal teknis seperti ee nafas anjing.
Maaf ya, Kak, saya bukan maksudnya kesat nafas anjing gitu.
Nafas anjing.
Iya, nafas anjing. Mati lu. Nafas anjing
tuh tuh biasanya supaya enggak apa namanya nafasnya putus ketika lagi jadi public
speaker. Tapi semua itu sebenarnya
speaker. Tapi semua itu sebenarnya adalah sesuatu yang mendukung aspek yang lebih penting yaitu psikologis.
Karena masalah utama public speaking adalah the fear of rejection.
ketakutan akan penolakan. Sebenarnya
saya kalau ngajar public speaking panjang sekali. Panjang sekali. Saya
panjang sekali. Panjang sekali. Saya
punya sekolah bahkan saya punya sekolah namanya sekolah pecahkan itu sebenarnya 1 tahun belajar stand up dibagi dua semester. Semester pertama basic stand
semester. Semester pertama basic stand up comedy yang mana sebenarnya adalah public speaking. Jadi kami ngajar public
public speaking. Jadi kami ngajar public speaking lewat pendekatan stand up comedy corporat senang ini karena ujung-ujungnya karyaan-karyanya disuruh stand up jadi ada experience-nya dikit.
dan semester 2 ngomongin soal ngebangun karir. Nah, kalau misalkan saya ngajar
karir. Nah, kalau misalkan saya ngajar public speaking, kebanyakan waktunya itu enggak ada hubungannya sama public speaking. Hubungannya sama menyadari
speaking. Hubungannya sama menyadari bahwa whether we like it or not, people will judge us. People will judge us. Naik ke
judge us. People will judge us. Naik ke
atas panggung, hal pertama yang orang lakukan adalah menilai kita.
Kalau kita ketemu sama seseorang, kita langsung dapat 50% informasi soal orang ini, yaitu informasi fisiknya.
Manusia itu secara alamiah adalah makhluk yang mencari keseimbangan.
Itu tidak bisa didebat, itu fisiologis.
Kita berdiri aja, badan kita mau enggak mau nyari keseimbangan sendiri. Manusia
itu mau enggak mau nyari keseimbangan.
Jadi kalau kita ngelihat seseorang untuk pertama kali kita tahu kita dapat 50% informasi tentang dia, insting kita ngisi 50% lagi dengan asumsi.
Itulah kenapa di kelas public speaking saya biasanya kan orang enggak pernah saling ketemu. Di sini yang paling baru
saling ketemu. Di sini yang paling baru terakhir ee kerja di ceritanya siapa?
Anak paling baru. Kamu kamu berapa lama?
Baru sebulan.
Baru sebulan. Kamu
baru minggu kedua.
Baru minggu kedua. Oke. Boleh minta
berdiri sebentar? Ya Allah.
Ya Allah.
Ya Allah. ngadap ke teman-temannya. Oke,
ada yang baru ngelihat dia untuk pertama kali hari ini? Karena mungkin pada lu baru ngelihat pertama kali hari ini, Lu, lu oke stop. Oh, samping-sampingan.
Menarik sekali. Saya mau menciptakan konflik di sini.
Oke. Ketika lu lihat dia, apa kesan lu akan dia? Ketika lu ngelihat fisiknya,
akan dia? Ketika lu ngelihat fisiknya, menurut lu sifatnya seperti apa? Satu
ajauran.
Terima kasih banyak. Iya. Iya. Menurut
lu Spice.
Anjay.
jawaban politis, Bro.
Lu juga lu ngelihat dia untuk pertama kali sekarang kan kurang lebihnya. Apa
perspektif lu tentang dia?
Kalau mau keluar hal-hal julit enggak apa-apa. Bukan urusan gua. Entar lu yang
apa-apa. Bukan urusan gua. Entar lu yang berantem. Soalnya
berantem. Soalnya tadi dia kok diam diam. Oke, menarik sekali. Silakan
diam. Oke, menarik sekali. Silakan
duduk. Terima kasih. Tepuk tangan.
Boleh minta tolong berdiri.
Oke, silakan ngadap ke sana. Siapa yang
baru ngelihat dia pertama kali hari ini?
Ada. Oke, Edward ngelihat dia pertama kali. Kesan lu apa?
kali. Kesan lu apa?
Anjay, mampus dij sama bos lu syukur.
Siapa lagi? Siapa lagi baru ngelihat dia pertama kali? Baru ketemu pertama kali.
pertama kali? Baru ketemu pertama kali.
Ada lagi kamu ya yang di belakang yang kacamata. Lu ngelihat kamu ngelihat Mbak
kacamata. Lu ngelihat kamu ngelihat Mbak ini kesan pertama lu apa?
Sedikit pemalu.
Sedikit pemalu. Oke, sekarang gua tanya sama lu. Menurut lu mereka benar enggak?
sama lu. Menurut lu mereka benar enggak?
Oke. Ee tadi kakaknya namanya siapa?
Maaf. Kay
K.
Kai. Menurut lu dia dan siapa tadi? Dia
benar enggak? Benar.
Benar. Oke.
Sus enggak tahu ya.
Anggap aja benar, Sis. Oke.
Jadi kadang orang judgementalnya benar, kadang orang enggak.
Tugas kita adalah a. Menyadari bahwa
orang akan menilai kita dan mencoba untuk mengatasi penilaian mereka dengan impresi pertama kita di depan mereka.
Beberapa di antara orang yang jadi murid public speaking saya itu datang karena merasa punya masalah dengan public speaking, malu,
grogi, dan segala macamnya. Rata-rata
kelihatan juga dari perangai mereka ketika berdiri dinilai pendiam, jutek, galak, cerewet hampir semuanya negatif.
Kadang benar, kadang salah, kadang ngakunya salah.
Sebenarnya benar.
Nah, inilah kenapa di bagian pertama pembahasan kita, kita justru akan ngomongin sesuatu yang tidak terkesan merupakan pondasi dari public speaking.
Tapi menurut keyakinan saya, iya. yaitu
maaf beberapa orang ketawa kalau dengar menurut keyakinan saya karena itu jok saya Kak.
Yaitu personal branding.
Sebenarnya semuanya itu punya brand. Ini
kalian kerja di tempat yang sering ngomongin brand kan? Jadi mungkin lebih mudah untuk saya menyampaikan ini ee karena kalian hidup berkuta dengan itu dan membantu banyak brand. Tapi kita
semua punya brand. Kalau saya, saya enggak tahu kalau di sini seperti apa.
Di Chomika saya selalu percayanya brand tuh hidup di benaknya konsumen.
I kan saya ngambil contoh yang paling gampang deh.
Bismillah. Moga-moga bukan klien. Ada
brand dulu Ito masih kerja sama saya waktu itu. Saya waktu itu eh membantu
waktu itu. Saya waktu itu eh membantu brand Acer ya. Acer punya perspektif terhadap
ya. Acer punya perspektif terhadap brandnya sendiri ya kan. Dia bilang dia adalah produk teknologi
untuk anak muda yang pengin berkarya tapi enggak punya duit terlalu banyak.
Jadi, Acer bisa jadi laptop pertama banyak orang ya. Ini adalah laptop canggih tapi
ya. Ini adalah laptop canggih tapi kemungkinan besar ini adalah untuk market-market baru. Itu menurut mereka
market-market baru. Itu menurut mereka tentang mereka sendiri.
Tapi apa persepsi Acer di masyarakat?
Ada kepanjangannya iser itu ada yang tahu AC agak cepat rusak. Betul.
Sedih benar.
Sedih benar. Maaf Acer itu zaman dulu saya yakin sekarang sudah tidak. Ini
sekitar 2009an waktu itu. Jadi Acer
ngomongnya dia apa tapi persepsi yang ada di benak konsumen apa kan gitu kan.
Kenapa beda? Karena tergantung interaksi masyarakat terhadap brandnya. Kita mau
push kayak apa juga kalau brandnya lebih sering interaksinya kenapa rusak bu di barang? Ya, itulah yang nempel di benak
barang? Ya, itulah yang nempel di benak konsumen. Sama kayak kita.
konsumen. Sama kayak kita.
Kita mungkin enggak melakukan kegiatan personal branding, tapi interaksi kita dengan orang membuat brand kita kebentuk di masyarakat, kebentuk di orang. Saat
ini dia dianggap stylish karena mungkin hari ini dia tahu bakal ketemu banyak orang.
Tapi lama-lama brand itu yang menempel di lu mungkin rusak atau mungkin berubah. Jangan bilang rusak deh. Karena
berubah. Jangan bilang rusak deh. Karena
habis itu setelah dia berapa bulan, berapa minggu, wah dia pakai celana pendek, pakai sendal, jepit, pakai udah sembarangan aja. Terus kita bilangnya,
sembarangan aja. Terus kita bilangnya, "Oh, ini berarti anak skena, anjing."
Tapi semakin kita sering berinteraksi, semakin kebentuk brand kita di mata dia.
Inilah kenapa bahkan dalam konteks personal branding penting untuk kita kenal brand kita sendiri. Karena kalau
kita tidak percaya diri, teorinya adalah karena tidak kenal diri.
Kalau enggak percaya diri karena enggak kenal diri. Jangankan diri, orang aja
kenal diri. Jangankan diri, orang aja gitu. Kalau gua enggak percaya sama
gitu. Kalau gua enggak percaya sama orang kan karena gua enggak kenal itu orang kan gitu. Makin gua kenal itu orang maka makin gua percaya sama itu orang. Ada lima orang di hadapan gua ada
orang. Ada lima orang di hadapan gua ada duit R juta. Gua akan titipin ini sama orang yang gua kenal. Karena semakin gua kenal semakin gua percaya.
Tidak percaya dirinya kita adalah akibat dari tidak kenalnya kita.
terhadap brand kita. Apa yang kita pengin sampaikan kepada publik? Karena
sebenarnya teman-teman setiap hari melakukan aktivitas branding dengan baju yang teman-teman pilih. Kakaknya namanya
yang hijab yang nonton gua Naren.
Naren. Naren
enggak sih? Pakai hijab sebenarnya karena perintah Allah Subhanahu wa taala kan. Tapi tapi maksud gue
kan. Tapi tapi maksud gue tapi maksud gue ada informasi yang juga ingin disampaikan dengan bagaimana kita berpakaian. Gua pengin bilang bahwa gua
berpakaian. Gua pengin bilang bahwa gua muslimah ya kan? Kalau ada orang yang datang,
ya kan? Kalau ada orang yang datang, "Nah tuh ada anak bola tuh. Itu baju
bola apa, Bro?
Apa?
Oasis.
Lebih ke anak oasis.
Anak konser Manchester. Anak konser. Anak konser.
Manchester. Anak konser. Anak konser.
Kalau misalkan ada yang pakai kaos band, dia pengin bilang bahwa dia ya anak musik atau anak band. Dan masih banyak lagi, ada banyak baju-baju gua enggak gitu mengenali, tapi ada banyak orang yang enggak sadar bahwa dari apa yang
kita pakai, kita lagi pengin bilang sesuatu sama orang.
Nah, sekarang tugas kita adalah memperkuat brand kita. Karena brand yang kita ingin konvey ke masyarakat, yang kita ingin bilang, itu harus kita yang bangun. Karena kalau kita enggak ngisi
bangun. Karena kalau kita enggak ngisi kepala mereka dengan informasi dari diri kita tadi yang seperti gua bilang, mereka akan mengisi dengan asumsi.
Kita yang ngisi 50%-nya lagi. Karena
kalau tidak mereka yang akan mengisi dengan asumsi. Iya kalau benar, kalau
dengan asumsi. Iya kalau benar, kalau salah jadi daripada kita fifty-fifty dan berharap semuanya berjalan dengan
kemauan kita, kita yang inisiatif untuk naik ke atas panggung dengan kesadaran I know who I am. I know what I bring to the table. I know how and what I'm going
the table. I know how and what I'm going to say. Itulah kenapa 80% menurut saya
to say. Itulah kenapa 80% menurut saya psikologis.
Semakin kita kenal diri kita siapa, semakin kita ee percaya dengan diri kita. Nah, sekarang kalau teori saya dan
kita. Nah, sekarang kalau teori saya dan keyakinannya enggak jauh beda dengan pemahaman saya akan branding, tapi saya percayanya adalah personal
branding adalah kegiatan kita bilang sama dunia kita siapa. supaya kita dapat peluang yang kita inginkan.
Saya ulang, personal branding adalah kegiatan kita bilang sama dunia kita siapa, supaya kita dapat peluang yang kita inginkan. Kalau kita translasikan
kita inginkan. Kalau kita translasikan ke branding, misalnya sebagai perusahaan, sebagai sebuah brand sebenarnya enggak jauh beda. Contoh,
Anda fans Oasis, pernah nonton Wis secara langsung?
Eam doang.
Liam doang. Maksudnya dia gini doang.
Diam. Maaf, maaf. Itu diam. Itu diam.
Itu diam doang.
Liam doang. Ya, kenapa tuh lagi diam?
Itu diam, Bang. Bukan Liam. Liam doang
di mana?
Di Jakarta sama di Sor lu tahu OSIS lagi reuni.
Iya, lagi tour kan?
Iya.
Mau enggak dibayarin nonton?
Nah, dia pengin kemarin mereka lagi tour Amerika kalau enggak salah ya. Baru aja
sekarang mau ke Australia.
Mau ke Australia. Oke. Mau enggak
dibayarin terbang ke Australia untuk nonton hotel, pesawat, makan, tiket, konser dibayarin? Mau enggak?
konser dibayarin? Mau enggak?
Itu peluang yang dia pengin.
Mungkin enggak dia dapat peluang itu kalau enggak ada yang tahu dia pengin peluang itu?
Jadi apa yang dia mesti lakukan? Dia
mesti bilang sama dunia bahwa dia adalah fansis.
Karena kalau enggak, enggak ada yang tahu dia mau itu. Gimana caranya
peluangnya nyampai, tahu aja dia suka enggak.
Fans bola di sini mana? Tepuk tangan
fans bola.
Oke. Lu apa? Fansnya keras nih.
Oke.
Lu apa?
you.
[Tepuk tangan] Dia apa? Lu apa? Lu apa bro?
Dia apa? Lu apa? Lu apa bro?
Lu mu siapa lagi? MU
lu goblok lu. Katanya lu kan fans OIS kan? Apa
kan? Apa itu city loh apa? Makanya gua belinya yang hitam yang
apa? Makanya gua belinya yang hitam yang biru.
El lu pengkhianat.
Oke oke lu Manchester United. Manchester
United. Gua simpati sama lu berdua sama lu apa? Chelsea. Chelse
lu apa? Chelsea. Chelse
ah oke semuanya semuanya salah di batang gue termasuk K gue sendiri. Enggak. Tapi
kita kan pengin dong terbang ke sana dibayarin dan segala macamnya. Tapi kan
kalau kita enggak pernah bilang kita fans MU, sorry MU ya kan kita enggak pernah Arsenal deh. Boleh deh lu pengin diterbangin. Ini kan dua-duanya London
diterbangin. Ini kan dua-duanya London tuh Chelsea sama Arsenal kan pengin dong diterbangin ke London.
Mungkin enggak peluang itu nyampai bukan beli sendiri, bukan dari duit sendiri dikasih orang. Enggak mungkin kan kalau
dikasih orang. Enggak mungkin kan kalau lu enggak bilang pun lu bilang ada banyak fans Arsenal, ada banyak fans Chelsea. Kayaknya sisa dikit fans MU
Chelsea. Kayaknya sisa dikit fans MU tapi masih enggak saya mu.
mu.
Saya sekarang pendukung Persikat Depok.
Tadi gua bilang kalaupun lu fansnya Arsenal dan dia Chelsea dan lu City kan fans City eh United, Arsenal dan Chelsea kan bukan cuman El kan ada banyak dong.
Berarti ada banyak dong yang pengin peluang tersebut. Terus gitu lu mulai
peluang tersebut. Terus gitu lu mulai mikir kan apa ya bedanya gua dengan fans MU lain? Oh gua fans MU yang nge-fans
MU lain? Oh gua fans MU yang nge-fans sama Wesis gua aneh gitu kan. Itu kan
itu posisi lu kan.
Ada juga yang gua fans MU yang paling tahu Trivia. Ada juga gua fans MU yang
tahu Trivia. Ada juga gua fans MU yang mungkin gua enggak tahu Trivia tapi koleksi gua paling banyak. Oh, gua fans MU. Trivia enggak ngerti, koleksi enggak
MU. Trivia enggak ngerti, koleksi enggak banyak tapi gua ganteng sih. Oh, gua
ganteng enggak, Trivia enggak tahu. Ee
eh merchandise enggak ada. Tapi gua jago bikin video traveling. Banyak banget
posisi yang kita bisa ambil dalam ranah brand tersebut.
Nah, kita mesti menjawab pertanyaan ke diri kita sendiri. Sebenarnya peluang
apa sih yang gua pengin?
Apa yang gua ingin di sini?
Kalau misal apa sih jabatan yang tinggi di sini? Apa? Creative director gantiin
di sini? Apa? Creative director gantiin Edward misalnya.
Boleh boleh.
Kalau sanggup cara gua jawab gitu ya.
Iya, boleh, boleh kalau sanggup. Ya,
tapi kan kalau misalkan lu suatu hari pengin jadi creative director, lu kan tahu kan, oke ini adalah peluang yang gua inginkan, berarti gua harus ngasih tahu bahwa gua layak untuk mendapatkan peluang
tersebut.
Gua harus punya inisiatif. Gua harus
berani untuk ngelempar ide, berani salah, berani dicela. Ada banyak hal.
Gua punya etos kerja yang oke, gua kolaboratif. apapun yang dibutuhkan
kolaboratif. apapun yang dibutuhkan untuk menjadi creative director berarti kan kita harus tunjukin. Karena kalau lu doang yang tahu dan orang lain enggak tahu, ya enggak dapat peluang itu.
Nah, sekilas kayak enggak ada hubungannya sama public speaking, but the more you know about yourself, the more
comfortable with who you are everywhere you go. I know who I am. I know what I
you go. I know who I am. I know what I bring to the table.
Everything else is technical.
Sebenarnya diskusi soal gimana caranya ngebentuk personal brand itu bisa sangat panjang. Tapi kita mulai aja dulu dengan
panjang. Tapi kita mulai aja dulu dengan bertanya sama diri kita sendiri. Peluang
apa yang gua inginkan? Habis itu lu bisa ngebangun brand. Tentu brand yang lu
ngebangun brand. Tentu brand yang lu tampilkan kepada publik bukan holistiknya el. Sisanya mah enggak
holistiknya el. Sisanya mah enggak terlalu relevan. Masih el tapi enggak
terlalu relevan. Masih el tapi enggak terlalu relevan terhadap apa yang lagi ingin lu capai, peluang yang lagi ingin lu berikan. Nah, melatih untuk memulai
lu berikan. Nah, melatih untuk memulai ngebangun personal brand itu krusial.
Enggak pernah ada kata terlambat. Mulai
aja dari sekarang. Gua selalu pakai contoh KFC. Kolonel Sanders kan logonya
contoh KFC. Kolonel Sanders kan logonya udah putih rambutnya karena dia mulai ee kuliner setelah dia selesai perang.
Enggak pada terlambat. Cuman emang butuh proses dan butuh latihan. Karena bagian
paling susah dari personal branding adalah cara bilang sama orang gua ini siapa, cara kita bisa ngomongin mediumnya.
Gua enggak TikTok banget, gua lebih senang nulis.
Gua enggak bisa nulis, gua sering bikin video. Gua enggak bisa ngedit. Emang gua
video. Gua enggak bisa ngedit. Emang gua
cocoknya TikTok.
Kita baru ngomongin medium, kita belum ngomongin mannerism.
Gua enggak bisa disuruh ngomong yang biasa-biasa aja. Eh, maksudnya yang yang
biasa-biasa aja. Eh, maksudnya yang yang rapi gitu, yang bagus gitu. Gua mah
orangnya ketus. Apakah Ketus tidak punya tempat dalam konteks public speaking?
Ada tuh. namanya Rocky Gerung.
Karena jembatan menuju public speaking karena semua orang berpikir dia enggak bisa public speaking.
Padahal dia enggak bisa public speaking seperti public speaker yang dia anggap bagus di kepalanya.
Punya cuman satu idola aja.
Betul. Kita semua ketika ditanya siapa public speaker favorit lu? ada di kepala lu. Terus lu bilang, "Gua enggak bisa
lu. Terus lu bilang, "Gua enggak bisa kayak gitu. Emang enggak harus?"
kayak gitu. Emang enggak harus?"
Itu mah cara dia ngomong.
Pertanyakan el sendiri. What is your brand? What is your way of talking? What
brand? What is your way of talking? What
is your way of speaking? Ini yang paling penting. Ini yang kita mesti temukan dan
penting. Ini yang kita mesti temukan dan ini yang mesti kita amini. Lu pikir
orang gagap enggak bisa jadi penyiar?
Bisa. Pangeran sihaan itu gagap. Ada
yang tahu enggak? Dia pundit anak bola harusnya tahu. Pangeran Sian itu gagap.
harusnya tahu. Pangeran Sian itu gagap.
Emang orang introvert enggak bisa jadi stand up comedian? Indra Frimawan itu introvert.
Kalau enggak diajak ngomong, enggak ngomong. Gua pernah
ngomong. Gua pernah main bola, selesai baru sadar ada dia.
Demi Tuhan. you Indra Frimawan.
Pernah loh di sini kita nih siapa? Gimana cara kita ngomong?
Gimana caranya kita pede dengan cara kita ngomong?
Ada orang yang N-nya pendek, ada orang yang enggak bisa ngomong L.
Bukan berarti enggak bisa jadi public speaker dong. Ada orang yang enggak
speaker dong. Ada orang yang enggak punya tangan, enggak punya kaki. Dia
adalah motivational speaker. Tahu
enggak?
Enggak ada. E, torso doang aja kayak patung-patung gitu dia.
Tapi kan, tapi kan dia tahu dia siapa, dia tahu posisi dia seperti apa.
Karena kita enggak bisa jadi orang-orang ditanya, "Oh, gua enggak bisa jadi public speaker kayak misalnya misalnya Anis Baswedan public speaker yang bagus." Gua enggak bisa kayak gitu. Gua
bagus." Gua enggak bisa kayak gitu. Gua
enggak bisa kayak Ganjar.
Gua enggak bisa kayak Prabowo karena hei antek-antek asik gak bisa gua. Power gua
enggak ada. Hidup Jokowi enggak ada power gua ya kan Kak ya. Lu gak bisa kan?
Bisa gak lu trak? Hei antek-antek asing.
Bisa enggak? Enggak bisa kan?
Bangs iya bangsa yang besar itu enggak bisa kan?
Kalau lu ngomongnya hai antekantek asing gitu kan.
ya.
Oh hai.
[Musik] Tiap orang gaya komunikasinya beda-beda.
Jelaslah lu berpikir lu enggak bisa public speaking. Lu pikir gaya public
public speaking. Lu pikir gaya public speaking harus kayak mereka.
Semua orang bisa ngomong, kan? Semua
orang bisa ngomong.
Pertanyaannya adalah gimana caranya ngomong di depan banyak orang? Ah, itu
aja. Bawa cara kita ngomong ke depan banyak orang.
Kalau lu lebih percaya dengan diri lu sendiri karena lu kenal diri lu sendiri, naik ke atas panggung, you know you can handle stuff, right? You know they're going to judge you. It's ok. It's fine.
I know. I know everything they're thinking about me. Gua pernah soalnya workshop ini, kalau di tempat lain ya, workshop ini gua tahu orang akan mikir gua pendiam, orang mikir gua judes. Gua
tahu itu semua dan gua selesaikan di awal. Waktu itu saya punya murid seorang
awal. Waktu itu saya punya murid seorang perempuan. Gua sering banget pakai
perempuan. Gua sering banget pakai contoh dia. Dia tuh badannya kecil,
contoh dia. Dia tuh badannya kecil, kelihatannya pucet dan dia punya skoleosis. Dia punya skoliosis tulangnya
skoleosis. Dia punya skoliosis tulangnya e bengkok. Jadi dia agak bungkuk. Jadi
e bengkok. Jadi dia agak bungkuk. Jadi
ketika dia naik ke atas panggung, belum mulai presentasi pun orang sudah naikin handphone karena mereka berpikir bosan nih kayaknya gitu. Dia tahu itu lewat workshop ini. Dia tahu persepsi orang
workshop ini. Dia tahu persepsi orang sehingga gua bilang sama dia, kita mesti lakuin sesuatu untuk mematakan asumsi itu di depan. Kalau lu ngerasa lu orang yang membosank. Kebetulan orangnya
yang membosank. Kebetulan orangnya senang banget ngulik.
Jadi sekarang karena pekerjaannya emang mengharuskan sekarang slide pertama dia selalu foto terlucu yang ditemukan di internet.
Jadi dia orang yang membosankan kan dia tahu dia jalannya literally kayak gini dia tahu orang berpikir dia akan membosankan. Slide pertama nyala meledak
membosankan. Slide pertama nyala meledak biar patah asumsinya. Dia tahu soalnya persepsi orang terhadap dia dan dia siap untuk mengatasi. Itu adalah 80% public
untuk mengatasi. Itu adalah 80% public speaking.
Hanya butuh untuk comfortable. Nah,
nanti kapan-kapan teman-teman mungkin akan ngerjain. Mungkin orang-orang akan
akan ngerjain. Mungkin orang-orang akan bilang, "Gua waktu ngelihat lu pertama kali, gua pikir lu mesum anjing lu." Ya,
gitu. Ada banyak yang kayak gitu-gitu.
Tapi prosesnya itu panjang. Prosesnya dimulai
dengan orang kira-kira menilai lu seperti apa, apakah gue sesuai, apa yang mau gua lakukan, apa yang ingin gua sampaikan, peluang apa yang gue ingin dapatkan dan bagaimana cara gue
menyampaikannya.
Butuh waktu memang, but it's worth it.
Karena ketika lu punya itu, jangankan public speaking, ke mana pun lu tahu susah untuk berkarya kalau lu di stand up comedy ya. Karena ini kan konteksnya ilmu yang sering gua ajarin di stand up.
Di stand up itu gua selalu bilang stand up itu kan tetap berkesenian.
Kalau lu enggak kenal diri lu, apa yang mau lu ekspresikan?
Kalau lu enggak tahu cara lu ngomong, pantesan cara ngomong lu kayak orang lain. Pernah enggak ngelihat Sapemedian
lain. Pernah enggak ngelihat Sapemedian pas lihat kayak Radit caranya ngomongnya? Cara ngomongnya kayak
ngomongnya? Cara ngomongnya kayak bintang Bt, kayak bintang Emon, kayak Abdur, kayak Panji karena dia ketemu stand up sebelum ketemu dirinya sendiri.
fotografer juga gitu gua rasa.
Iya selalu ketemu sama fotografi sebelum ketemu dirinya sendiri. Akhirnya cara fotonya,
dirinya sendiri. Akhirnya cara fotonya, objek fotonya, warnanya segala macam kayak orang lain semuanya kayak gitu.
Itu kadang-kadang jadi cara yang mudah untuk memulai.
Betul. Betul. You have to start somewhere. You have to start somewhere.
somewhere. You have to start somewhere.
Makanya cara paling enak memulai adalah dengan meniru sebenarnya. Karena
setidaknya lu punya patokan, tapi ada masanya lu mesti berpisah dengan gaya yang lu tiru karena lu ketemu gaya lu sendiri.
Ah, banyak Q aja, Bols. Bentar lagi gua ke sana. Gua mau
Bols. Bentar lagi gua ke sana. Gua mau
nutup dengan tips cara ngomong dengan empat jenis orang.
Tadi kan lebih ke personal brand ya. Ini
cara ngomong dengan empat jenis orang.
Karena mungkin lu akan ketemu. Cara
ngomong sama anak-anak, cara ngomong sama remaja, cara ngomong sama orang dewasa, sama cara ngomong sama bapak-bapak. Tidak, Ibu-ibu. Ibu-ibu
bapak-bapak. Tidak, Ibu-ibu. Ibu-ibu
tidak masalah.
Paling masalah ngomong di depan bapak-bapak.
Saya tahu karena saya bapak-bapak.
Karena gua udah pernah ngomong sama mereka semua. Kadang-kadang orang ketika
mereka semua. Kadang-kadang orang ketika ngajar ee gua ngajar di kelas, orang pengin sesuatu yang bisa mereka pakai dan mereka pegang langsung.
Anak-anak, be genuine. Remaja, be a part of them. Dewasa, be reasonable.
of them. Dewasa, be reasonable.
Bapak-bapak be respectful.
Anak-anak bisa nyium kalau lu enggak suka anak-anak. Walaupun di depan
suka anak-anak. Walaupun di depan anak-anak lu yang adik lucu banget. Tapi anak-anak bisa mencium
lucu banget. Tapi anak-anak bisa mencium kalau lu enggak suka anak-anak.
Anak-anak yang ngelihat om tai gitu. Benar. Benar. Sumpah
tante anjing gitu.
Artinya kalau lu dapat peluang disuruh ngomong di depan anak-anak dan lu sebenarnya enggak suka anak-anak, percuma. Mending tukar, "Pak, jangan
percuma. Mending tukar, "Pak, jangan saya."
saya." Mereka tahu kenapa gua enggak ngerti gimana ceritanya, gimana caranya mereka bisa ngebaca. Gua enggak ngerti.
ngebaca. Gua enggak ngerti.
Mungkin kayak anjing tahu kalau kita punya banyak kucing di rumah, tahu enggak?
Kalau kita lagi keluar anjing gitu kan.
Kalau remaja, be a part of them. Ini pal
menurut gua ya, ini sama yang ini tuh paling ribet untuk diajak public speaking.
Anak-anak ini berisik mulu. Enggak
peduli sama lu semua.
Mereka enggak pengin ada di situ. Mereka
pengin kayal jorok, main bola, apapun itu. Tapi satu hal yang krusial dan pasti dari remaja di manaun
adalah mereka komunal.
Anak-anak remaja ini komunal. Mereka tuh
kayak gajah ke mana-mana bareng-bareng gitu. Mau itu di Indonesia, di Jakarta,
gitu. Mau itu di Indonesia, di Jakarta, di Aceh, di New York sama aja. Jadi
public speaking ke mereka salah satu kita mesti establish di depan adalah kita mau jadi bagian dari mereka. Jadi
ketika lu datang ke SMP atau SMA atau bahkan kampus kadang karena ngakunya mahasiswa tapi cuman siswa sebenarnya.
Be a part of them. Nyampe sebisa mungkin lebih dini tanya siapa cewek paling cakep di sini? Siapa cowok paling ganteng di sini? Siapa yang baru jadian?
Siapa guru rese? Apa nama ibu kantin?
I guarantee 100% 10 out of 10. Lu maju.
Halo semuanya, apa kabar? Sebenarnya
saya agak takut. Ada Bu Elice enggak sih? Woh, ketawa mereka takut dimarahin.
sih? Woh, ketawa mereka takut dimarahin.
Tapi enggak apa-apa, Reng. Ada Pak Rudi di situ. Wah, selamat juga ya sama Lisa,
di situ. Wah, selamat juga ya sama Lisa, sama Budi yang baru jadi-jadian. Wei.
Ketika mereka ngelihat kita mencoba untuk jadi bagian dari mereka, now they're interested.
Now I want to know what you're talking about. Works all the time. Selalu kayak
about. Works all the time. Selalu kayak
gitu.
Supaya ngok asik gimana?
Muka lu sih susah. Kalau muka lu kan sebenarnya sok asik antara sok asik dan tidak sok asik itu kan ada gradasi warna ya.
Bayang enggak antara hitam dengan putih kan ada abu-abu. Nah, ini emang sesuatu yang lu mesti pelajari sendiri karena itu bagaimana tergantung bagaimana cara lu ngomong, cara lu berbicara seperti
apa. It takes time. This is not science,
apa. It takes time. This is not science, ada art-nya juga. Eh, tapi teorinya seperti itu. Lu ngomong aja dengan
seperti itu. Lu ngomong aja dengan cepat di awal bahwa lu tahu soal kondisinya mereka. Apalagi kalau ada
kondisinya mereka. Apalagi kalau ada kasus-kasus spesifik yang memang spesifik di sekolah tersebut. ada
kejadian-kejaran spesifik diangkat aja.
Yang paling enak itu ngomong sama orang dewasa karena kita cuma butuh ngasih tahu kenapa lu mesti dengerin? Udah
selama kita bisa establish itu di depan, dengerin mereka. Tapi kalau kita enggak
dengerin mereka. Tapi kalau kita enggak berhasil ngasih tahu itu di depan, mereka juga jadi, "Tapi gua kenapa mesti di sini?"
di sini?" Kalaupun kita ngasih tahu, "Lu di sini karena gua pengin ngomongin ini,"Atanya, "Tapi kenapa itu penting?"
Nah, jadi tapi orang dewasa ini paling enak karena kita dewasa, mereka dewasa.
Kita bisa sama-sama di satu level. Yang
ribet adalah bapak-bapak.
Bapak-bapak emang kayak anjing.
Mereka enggak peduli apa-apa.
Kecuali rasa hormat Anda.
Ibu-ibu enggak.
Lu naik atas pang ibu-ibu.
Kalau lu laki ataupun perempuan, insting mereka kayak oh kayak anak aku.
Eh, lucunya itu baju. Manis banget ini orang. Baik mereka. Baik. Hampir setiap
orang. Baik mereka. Baik. Hampir setiap
kali gua stand up, kalaupun gua anyep, pasti ada ibu-ibu yang gini.
Enggak lucu buat dia juga. Buat dia juga enggak lucu, tapi dia ngebantu aja.
Oh, kok o. Saya ngelawak minta hahaha
kok o. Saya ngelawak minta hahaha dikasih o sama dia. Tapi dia enggak ngerti. Tapi dia dia baik gitu. Ibu-ibu
ngerti. Tapi dia dia baik gitu. Ibu-ibu
bae kok.
Kalau ada ibu-ibu yang enggak baik, ya itu anomali lah.
Anomali semua ibu-ibu baik termasuk Megawati.
[Musik] Sumpah baik baik.
Tapi kalau Bapak-bapak kita harus be humble.
Masuk tuh. Bapak Ibu sekalian mohon maaf saya tahu Bapak mungkin ngerasa saya ini siapa. Izin. Saya mau semua kata-kata
siapa. Izin. Saya mau semua kata-kata yang kayak gitu lempar di depan. Izin.
Mohon waktunya.
Sekadar menginformasikan disuruh Bapak ini semua bahasa-bahasa gua.
Gue ingat waktu itu gua pernah eh stand up di Piala Dunia.
Namanya juga orang butuh duit.
job standup-nya tuh di eh have time tetap ide tolol.
Gua lupa brandnya apa, tapi ini brand di bawah Pak Anin zaman dulu waktu itu apa ya apa udah lama banget lah. Terus ya
kan sepak bola kan promenti laki apalagi pada zamannya terus bapak-bapak dan ini tuh adalah kayak rekanan kliennya Pak Anin Andindia Bakri.
Gua naik stand up. Saya enggak mau ngelihat Anda. Kata Bapak
ngelihat Anda. Kata Bapak terus gua bilang, "Pak, dengan segala hormat kalau saya duduk di situ, saya juga ngomong hal yang sama.
Saya di sini untuk nonton bola." Tapi,
Pak, izin, Pak. Saya di sini kerja.
Bapak tahu enggak kenapa saya ada di sini? Teman Bapak, Pak, ading dia bakri.
sini? Teman Bapak, Pak, ading dia bakri.
Adiknya lagi duduk di bar minum kopi gitu. Terus dia langsung, "Oh,
gitu. Terus dia langsung, "Oh, so itu empat tips yang kalian bisa pegang. Eh, di anak-anak be genuine, di
pegang. Eh, di anak-anak be genuine, di remaja be a part of them, di dewasa be reasonable, di orang tua be humble, di bapak-bapak be humble." Sisanya adalah
hal krusial seperti mencari hotspot dan mencari maskot. Mencari hotspot itu
mencari maskot. Mencari hotspot itu ketika lu lagi public speaking di awal enggak semuanya responsif sama lu dan lu deg-degan. Insting kita cenderung
deg-degan. Insting kita cenderung merhatiin yang bet sama kita. Insting
kita ni kita lagi stand up nih atau public speaking ini mungkin sekitar berapa saya 30 30 mungkin something 40 orang
mata gua pasti ke orang yang gitu nguap.
Iya pasti ada yang nguap nguap ditutup tapi ada orang lain yang merhatiin sebenarnya. Nah, suka merhatiin enggak
sebenarnya. Nah, suka merhatiin enggak MC di depan selalu ngomong selamat malam semuanya. Malam apa kabar semuanya?
semuanya. Malam apa kabar semuanya?
Baik. Suka merhatiin itu enggak? Ada MC
yang kayak gitu basa-basi ada yang di ada yang ada MC yang gitu untuk scanning MC yang bagus makin ke belakang pertanyaannya makin rumit sebenarnya.
Apa kabar?
Eh, selamat malam. Apa kabar? Apakah ke
sini macet?
makin lama makin makin rumit sehingga makin sedikit yang respon. Nah, orang
yang masih tersisa ngerespon di belakang namanya hotspot stay with them. Karena
kalau lu bertahan di tempat-tempat yang salah, lu grogi di panggung.
Cari hotspot lu.
Dia dia reses spot.
Kalau dia mah pasti hotspotnya siapapun.
Tapi kan enggak semua acara ada dia kan.
Tapi ketika kita lagi public speaking, tanya scanning aja, apa kabar semuanya?
Baik, gimana? Apakah sudah makan malam?
Makan. Makannya apa? Masih nyaut. Nanti
cari yang masih nyaut terus aja. Tiga,
empat pertanyaan masih nyaut. Stay.
Kadang-kadang nyebar hotspotnya di sini, di sini, di sini. Oke. Di awal gua ngelihat dia aja deh. Ketika kita
tenang, lama-lama yang lain akan ke kita juga. Karena kalau ada satu hal dari
juga. Karena kalau ada satu hal dari public speaking, semakin grogi kita, semakin grogi penonton. Suka gitu
enggak? Kayak ada orang degan, terus kita, "Duh, gua ikut degan lagi." Suka
gitu enggak? Energinya itu nyampai yang berarti kalau kita nyaman, dia juga ikut nyaman.
Oke. Maskot itu adalah hotspot teraktif, paling enak untuk jadi tektokan. Ada
aja. Terus aja ngomong kalau di sini paling yang kalau misalkan gua public speaking beneran paling yang City kena mulu eh yang si OSIS kena mulu sama gua.
Pokoknya yang setiap kali tektokan enak, nah itu bakal jadi maskot. Ketika kita
lagi butuh mereka untuk melek kita ke maskot. Kenapa penting? Karena kita tahu
maskot. Kenapa penting? Karena kita tahu dia pasti nyaut.
Pernah enggak lagi di kelas terus tiba-tiba gurunya nanya ke satu orang, "Nama lu siapa ya?"
Marl.
Marl. Tiba-tiba nih ini guru lagi ngajar lagi gini gini gini gini. Marlo kasih
tahu gini gini gini gini. Dia panik tapi satu kelas juga.
Benar enggak? Benar enggak?
Kenapa kita ikut panik? Karena kita
khawatir orang selanjutnya kayaknya kita.
Betul.
Itulah kenapa maskot itu penting.
Karena kadang di tengah publ speaking kita, kita kehilangan konsentrasi dia karena antara emang kitanya juga enggak gitu oke atau emang materinya terlalu berat.
Kita ngerasa itu, kita ngelihat udah mulai main handphone nih. Ke maskot kita Marlo tadi ya, Marlo Pek langsung matanya buka lagi
ngat ke kita. Tips-tips kecil. Tapi
secara umum 80% adalah psikologis. If
you know who you are, kalau lu kenal diri lu, lu percaya diri lu. Tapi kalau
lu enggak kenal diri lu, enggak kenal brand lu, agak susah. Memang
ingat, public speaking itu semua orang bisa. Walaupun tidak seperti gaya yang
bisa. Walaupun tidak seperti gaya yang kita anggap sebagai seorang public speaker. Gua enggak akan pernah bisa
speaker. Gua enggak akan pernah bisa public speaking kayak Martin Luster King atau Barack Obama. Gua suka banget ngelihat Barack Obama pidato enggak bisa. Cara gue seperti ini. Barack Obama
bisa. Cara gue seperti ini. Barack Obama
juga ketika ngelihat gue si itu gitu kali ya. Tapi kita harus tahu cara kita
kali ya. Tapi kita harus tahu cara kita ngomong dan tahu kita siapa, cara ngomong kita, apa yang kita suka, apa yang jadi brand kita itu krusial. Oke,
itu aja dari gua. Makasih banyak. Thank
you.
[Tepuk tangan]
Loading video analysis...