Semua Penyakit Ada Obatnya, Tapi 'Obat' Belum Tentu Menyembuhkan? | Helmy Yahya Bicara
By Helmy Yahya Bicara
Summary
Topics Covered
- Part 1
- Part 2
- Part 3
- Part 4
- Part 5
Full Transcript
Yuk, sekarang kita mulai di jendela makannya. Kita atur yuk. Ada tiga
makannya. Kita atur yuk. Ada tiga
kalimat yang mesti kita lakukan di jendela makan.
Apa aja?
Lemak yang bahaya sebenarnya bukan jumlahnya, tapi lemak yang bahaya adalah.
Jadi sebenarnya kalau diabet itu ada yang mengatakan tidak bisa sembuh, Dek.
Sebenarnya bisa ya kan banyak mengatakan ini penyakit memang tidak bisa sembuh. Is there
already gitu ya. Kalau bagi yang pesimis boleh
ya. Kalau bagi yang pesimis boleh memikir, Guys. Sekarang ini produk Cina ada di
Guys. Sekarang ini produk Cina ada di mana-mana. menyerbu bukan saja Indonesia
mana-mana. menyerbu bukan saja Indonesia tapi ke seluruh dunia. Untuk Anda yang ingin ya kemudian apa mungkin mengimpor atau bahkan mengekspor ya tidak saja ke
China tapi ke negara-negara lain harus belajar dong ilmunya. Jadi ikutin kursus yang ee bernama berani ekspor dan impor termasuk produk-produk dari Cina dan
kita juga ee bisa mengekspor ke China.
Mereka banyak sekali juga butuh produk-produk ee di kita ya. Untuk yang
mau ikut silakan scan e QR code ini atau klik link yang ada di video ini.
[musik] Oke, enggak ada yang lebih penting daripada kebugaran kesehatan. Oleh
karena itu, tamu saya untuk kedua kalinya, Adik Ray. [tertawa]
Makasih Mas.
Dari Bandung, Dek.
Dari Bandung saya.
Kenapa sih lebih milih Bandung daripada Jakarta?
Enggak juga sih. [tertawa] Kebetulan
secara kecelakaan tinggal di Bandung.
Celaka d maksudnya maksudnya situasinya membutuhkan saya di Bandung tahun 2009 itu sampai hari ini jadinya di Bandung.
Oke. Atau mungkin apa ya udaranya lebih bagus, orangnya lebih ramah-ramah gitu, makanan lebih enak. [tertawa] Tapi kalau dia sih makanan enggak jadi persoalan ya. Jadi makan itu apa, Dek? Sekarang,
ya. Jadi makan itu apa, Dek? Sekarang,
Dek.
Kenapa?
Kalau makan sehari-hari makan apa? Telur
berapa? Telur [tertawa]
makannya biasa aja lah.
Biasa aja. enggak suka makan soalnya biasanya adik dek untuk sehat dan badan kayak lu gitu memang makanannya meemang harus sesuatu yang agak sacrifice gitu de enggak boleh ini, enggak boleh itu.
Betul sebenarnya enggak juga gitu. Jadi kalau
yang saya sering katakan pilihan kata mempengaruhi rasa tuh berlaku bagi kita ketika kita bilang, "Oh, saya harus sacrifice atau berkorban."
Makanya ada statistik yang mengatakan 95% wanita gagal diet karena dia mengasosiasikan aktivitas tersebut sebagai pengorbanan.
Jadi, ini lebih kepada mindset juga ya.
Iya. Jadi persepsi itu mempengaruhi instruksi. E kalau kita bicara arsitek
instruksi. E kalau kita bicara arsitek kekebalan tubuh manusia, makanya kenapa melalui panca indra kita, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar itu dia yang menginstruksikan.
Makanya kenapa orang bilang katanya komando center kita, persepsi kita itu dia tidak mengenal kebenaran universal, dia mengenal kebenaran personal.
Ah, jadi ketika kita bilang bahwa kalau saya enggak makan pagi, maka saya enggak bisa mikir, maka itu benar bagi dirinya. Oke.
Kalau saya puasa membuat asam lambung saya naik, berarti benar bagi dirinya.
Membenarkan.
Iya. Artinya dirinya akan mengikuti itu.
Tapi kalau secara teoretis apakah hal itu benar? Bisa jadi ternyata salah
itu benar? Bisa jadi ternyata salah gitu. [tertawa]
gitu. [tertawa] Jadi kalau saya yang saya lakukan h kalau secara makan sebenarnya lebih sederhana aja. Pertama jendela makan
sederhana aja. Pertama jendela makan saya kalau bisa tidak lebih banyak daripada jendela tidak makan.
Apa maksudnya?
Iya. Jadi misalnya dalam 1 hari 24 jam, Mas.
H. Nah, jendela makan kita kecenderungannya kita hanya tidak makan pada saat kita tidur kan.
Iya. Iya. Ya.
Berarti pas melek dari jam 6.00 pagi sampai jam 11.00 kan kita ngunyah.
Oke.
Nah, artinya jendela makan kita itu berarti 70% jendela tidak makan kita 30%.
30%. Nah,
nah itu artinya agak sedikit kalau berbicara time managemen itu itu agak gagal total sedikit [tertawa] karena artinya jendela makan kita terlalu banyak.
Nah, kebalikannya pada saat di mana saya bilang saya hanya akan makan 6 sampai 8 jam sehari. He,
jam sehari. He, itu adalah jendela makan saya. Terserah
saya mau mulai dari jam berapa.
Kalau saya mau mulai jam .00 berarti
nanti saya berhenti makan di jam .00
atau jam 6. sore.
Kalau saya mau mulai di jam 12.00 siang atau kayak hari ini misalnya saya baru mau mulai makan di jam .00 siang,
berarti memungkinkan saya bisa makan sampai jam .00 atau 10. malam.
sampai jam .00 atau 10. malam.
Ini ada hubung dengan keto gitu ya. E
itu beda lagi. Tapi konsepnya sebenarnya itu kan sebenarnya terminologi-terminologi aja, tapi konsepnya adalah pendekatan makanan itu adalah sebuah tools atau metode yang kita pakai untuk substansinya kan adalah kan maunya sehat gitu.
Maunya sehat. Tapi ketu juga mengajarkan gitu ya, bahwa jendela apa tidak makannya lebih banyak daripada jendela makannya. Betul kan? Sebenarnya kalau
makannya. Betul kan? Sebenarnya kalau
ketogenic lebih kepada dia concern terhadap gula darah yang terlalu tinggi yang disebabkan karena kontribusi karbo.
Makanya kenapa? Ternyata
yang namanya makronutrisi buat kasih kita tenaga enggak perlu harus dari karboh. Ternyata badan kita juga bisa
karboh. Ternyata badan kita juga bisa memakai dari sumber lain which is dari ketone. Yaitu makanya
kenapa kita butuh ada di dalam namanya state of ketosis. Heeh.
Di mana badan kita pada saat di mana enggak dikasih karbo, gula darahnya turun, nanti badan akan mencari alternatif sumber energi lain. Makanya
disebut dengan namanya state of ketosis.
Makanya pendekatan dietnya disebut namanya ketogenic diet, gitu.
Kalau selain karbon, apa yang jadi sumber lemak? [tertawa]
lemak? [tertawa] Lemak.
Lemak. Iya.
Lemak dari lemak dari sumber yang baik. Iya. Lemak
baik. Heeh.
H. Contohnya
lemak baik. Contohnya misalnya dari contohnya dari kuning telur dari minyak misalnya minyak yang alam kuning telur justru ya.
Iya. Enggak misalnya kuning telur ee lemak dari protein misalnya kayak ayam ada lemaknya ikan ada lemaknya kambing sapi ada lemaknya. Itu kan lemak yang baik sebenarnya.
Oke.
Selain itu juga ada lemak yang baik yang alami misalnya dari kelapa, misalnya dari olive oil misalnya lemak dari mungkin dari mana lagi. Nah, yang
buruk itu adalah lemak yang disebut dengan namanya refined fats atau lemak olahan.
yang istilahnya dalam pembuatan lemak tersebut membutuhkan proses yang panjang dengan pemanasan yang tinggi. Yang
biasanya kita dapatnya dari vegetable seeds oil kan gitu. Minyak goreng lah gitu.
Minyak goreng, can misalnya corn oil, margarin.
Iya. Heeh. Kalau butter bagus. [tertawa]
Iya.
Butternya bagus.
Kalau butter bagus kan butter kan alami.
Heeh. Kalau margarinnya enggak alami.
Margarin olahan refine. Kalau butter
alami dia. Heeh.
Oke. Oh, jadi cenderung kalau yang olahan itu tidak sehat ya, Dek?
Iya. Karena proses tersebut dia proinlamasi menyebabkan inflamasi dalam tubuh kita, peradangan di pembuluh udara. Tapi kalau yang alami badan kita
udara. Tapi kalau yang alami badan kita membutuhkannya.
H itu pertimbangannya bahkan pertimbangan hormonal kan. Bahwa pada dasarnya
hormonal kan. Bahwa pada dasarnya jadi kalau orang yang enggak makan ayam, enggak makan daging merah sekali itu memang enggak enggak benar juga ya. Ya,
sebenarnya bukan enggak benar, tapi lebih kepada kadang-kadang kalau kita berbicara sumber lemak yang baik dan sumber protein yang baik memang kalau dari hewani itu kalau kita menggunakan indikatornya namanya
essential amino acids itu oke itu profilnya paling lengkap dihewani.
Betul gitu. Jadi ketika dia enggak makan di sana bisa enggak saya dapatkan dari nabati?
Bisa juga enggak masalah. Cuma mungkin
profilnya agak sedikit kurang dalam esensial amino acid yang jumlahnya ada kurang lebih sekitar 9 10 itu.
Heeh. Tapi ada orang makan daging tapi lemaknya enggak dimakan. Ini lemak yang lainnya gini [tertawa] bisa juga. Bisa juga kayak gitu boleh
bisa juga. Bisa juga kayak gitu boleh aja enggak apa-apa. Tapi kalau
seandainya saya mau makan fat requirement-nya persyaratannya adalah enggak boleh makan karbo.
Oh.
Heeh. Jadi kalau dia mau makan nasi sama protein, lemaknya dibuang. Nah, jadi dia bilang, "Oh, enggak apa-apalah saya ngambil energinya dari karbo."
Berarti lemaknya saya turunin gitu. Tapi
kalau seandai mau ngambil lemaknya dari e energinya dari lemak, berarti karbonnya diturunin.
Diturunin ya itu siasat. Tapi kalau secara nanti ada pertimbangan insulin dan sebagainya itu beda lagi strateginya.
Oke, Dek. Gua langsung jumping aja sekarang ee modern ya.
Silakan.
Heeh.
Sekarang kita lihat perilaku terutama anak-anak muda ya yang milenial gitu. Heeh. Heeh. Kalau dilihat
gitu. Heeh. Heeh. Kalau dilihat
banyak profil mengatakan lebih enggak sehat tuh ya mereka ya.
Padahal kita lihat sehat wah running lagi top ya pedal lagi top gitu ya. Jadi kontradiktifnya di mana
gitu ya. Jadi kontradiktifnya di mana ya?
Sebenarnya enggak kontradiktif. Kalau
secara kesadaran kita lebih tinggi sekarang nih.
Betul. Secara fasilitas pun juga lebih baik.
Betul. Secara pengetahuan juga lebih bagus.
Nah, tapi secara toksicity juga lebih besar. Itu masalahnya
besar. Itu masalahnya toxicity.
Iya. Jadi toxicity bisa banyak hal. bisa
karena fooding, heavy metal, polutan, bisa karena energetik, bisa karena oportunis gitu. Jadi banyak.
oportunis gitu. Jadi banyak.
Jadi hari ini tuh penjajahannya tuh lebih kepada penjajahan keracunan.
Makanya kenapa zaman dulu kita bilang banyak orang Indonesia sakit gara-gara kurang makan.
Iya.
Hari ini gara-gara sakit gara-gara kebanyakan makan gitu. [tertawa]
Jadi exposure terhadap ee racun itu besar. Makanya kenapa puasa yang kebetulan kalau saya beranggapan adalah jadi seolah-olah saya dibilang jadi kayak PR-nya puasa nih gitu ya atau
PR-nya IF. Tapi sebenarnya saya cuma mau
PR-nya IF. Tapi sebenarnya saya cuma mau mengatakan bahwa puasa itu adalah sebuah metode yang sederhana yang bisa dipakai oleh masyarakat di Indonesia. Karena
kita di Indonesia punya asosiasi terhadap puasa yang menguatkan hati.
Karena mayoritas kaum muslimin dan muslimah terpapar dengan ibadah puasa di bulan Ramadan. Betul. Dan ternyata puasa tidak
Ramadan. Betul. Dan ternyata puasa tidak hanya memberikan kesehatan secara keimanan, tapi juga memberikan kesehatan secara keimunan, gitu. Nah, jadi masuk lewat situ menurut saya jadi aman. Dan
kebetulan kalau pendekatan diet kan ada pendekatan misalnya enggak boleh makan ini, enggak boleh makan itu, itu disebut namanya dietary restriction.
Hm.
Atau kita bilang makannya enggak boleh kebanyakan ya, masih segini aja nanti dihitung ya ee apa namanya jumlah takarannya. Nah, itu disebut namanya
takarannya. Nah, itu disebut namanya calori restriction. He.
calori restriction. He.
Nah, tapi ada satu lagi pendekatan diet yang disebut dengan namanya time restriction. H. Nah, time adalah yang
restriction. H. Nah, time adalah yang disebut dengan namanya mengatur jendela kapan ya saya boleh makan, kapan saya tidak makan.
Nah, itu adalah yang paling ampuh menurut saya. Karena ngajarin orang
menurut saya. Karena ngajarin orang jangan makan itu susah.
Tapi cukup dengan bilang misalnya, "Yuk, kita atur yuk, kamu makannya hanya di antara jam segini sampai jam segini."
Atau paling gampang saya ajarkan misalnya, "Ya udah deh, enggak usah makan pagi, langsung aja makan siang."
Atau kebalikannya, "Ya udah enggak apa-apa kamu normal aja biasa tapi jangan makan malam misalnya." nya. Nah,
jadi dengan dia mengcut enggak makan pagi atau tidak makan malam atau dia cut dua-duanya, dia hanya makan di antara jam 12.00 sampai jam 6.00 sore, selebihnya dia minum aja.
He.
Nah, pada saat itu dia mendapatkan kebermanfaatan yang luar biasa. Karena
mendadak tiba-tiba persentase jendela makan dia yang tadinya 70% oke mendadak tiba-tiba jadi tinggal 30% bahkan tinggal 20%. Nah, jadi kalori
defisit yang diharapkan artinya jumlah makanan atau racun yang masuk itu jadi mendadak berkurang itu menjadi sebuah konsekuensinya.
Ini yang ini menarik ya. Jadi misalnya
makannya artinya artinya di jendela makan tetap bisa makan misalnya. Iya. Tetap bisa
makan misalnya. Iya. Tetap bisa
menikmati makanan. He mak cuman jendela tidak makannya yang diperlebar.
Diperlebar. Nah, itu tidak satu. Heeh.
Iya. Tapi ketika dia sudah dapetin itu dan dia bilang kok saya mentok gitu. Karena pada saat itu saya bilang,
gitu. Karena pada saat itu saya bilang, "Yuk, sekarang kita mulai di jendela makannya kita atur yuk."
Ada tiga kalimat yang mesti kita lakukan di jendela makan.
Apa aja itu?
Satu, kontrol karbo. Dua, prioritas
protein. Tiga, selektif terhadap lemak.
Oke.
Jadi, satu kontrol karbo karena gimana punya karbo itu jahat banget, De. Nasi itu
namanya sebenarnya bukan jahat, enggak ada. Cuma
lebih kepada kalau kita tidak punya toleransi terhadap karbo, he, makanya akhirnya dia akan menjadi sesuatu yang tidak baik bagi kita.
Oke.
Contohnya misalnya, oh jadi ternyata shopping itu jahat banget ya.
Ya, enggak juga tergantung toleransi kamu terhadap shopping seperti apa. Tapi
ketika kamu sekarang lagi nabung ingin punya banyak cicilan, banyak tunggakan atau banyak kebutuhan, tidak memungkinkan untuk shopping setiap hari. Jadi,
toleransi kamu terhadap shopping rendah.
Oke.
Nah, jadi konsep sebenarnya kalau ada orang bilang penyebab daripada berbagai yang disebut dengan namanya kalau boleh dibilang penyakit-penyakit paling populer, jantung yang berhubungan dengan pembuluh
darah ya, kayak diabetes, hipertensi, lalu juga bahkan stroke cancer dan sebagainya itu kalau buat kita investigasi itu penyebabnya adalah disebabkan karena yang disebut namanya
resistensi insulin. Selitif lagi
resistensi insulin. Selitif lagi terhadap insulin sehingga menyebabkan akhirnya gula darah kita itu jadi meningkat. Jadi, fasting glose kita itu
meningkat. Jadi, fasting glose kita itu jadi tinggi.
Nah, ketika gula darah kita meningkat itu makanya menyebabkan berbagai ketidakseimbangan, tidak dis seimbang is ketidakseimbangan disebut namanya disease itu. Nah, makanya badan membuat
disease itu. Nah, makanya badan membuat yang namanya homeostasis atau membuat keseimbangan baru dengan ya sudah saya naikin tekanan darah, saya naikin gula darah ingin menyelamatkan kita daripada
situasi itu. Nah, tapi pada saat upaya
situasi itu. Nah, tapi pada saat upaya penyelamatan badan tersebut, tendensi badan tersebut diberikan terminologi atau diberikan nama. Jadi
namanya kalau gula darahnya naik itu namanya diabetes tipe 2. He.
Kalau tekanan darahnya naik itu namanya hipertensi. Nah, pada saat itu akhirnya
hipertensi. Nah, pada saat itu akhirnya pemikiran kita adalah oh iya kalau gitu obatnya apa?
Nah, jadi fokus kepada ujung permasalahan. Padahal yang menjadi
permasalahan. Padahal yang menjadi problem adalah what is the the root cause of the problem? Akar permasalahan
yang harus dibahas yaitu adalah apa?
perubahan perilaku gitu.
Jadi kalau nomor satu tadi artinya apa?
Hati-hati kontrol karbo.
Iya. Jadi kontrol karbo terbagi juga atas yang namanya satu sumbernya, dua penyajiannya, tiga adalah jadwalnya, dan keempat adalah jumlahnya. Nah, kita
mulai dari sumbernya. Sumbernya kalau
bisa harus yang alami, bukan yang olahan. Iya.
Nah, artinya contohnya misalnya kalau olahan itu biasanya yang datangnya biasanya satu dia punya barkode, kedua datangnya dari kotak, dari kerdus, dari kaleng.
Oh, gitu ya.
Karbonya datangnya dari sana gitu.
[tertawa] Kalau ditanya salah, iya. Kalau ditanya salah ya enggak
iya. Kalau ditanya salah ya enggak salah. Cuma karena itu kan pertimbangan
salah. Cuma karena itu kan pertimbangan conveniency. Jadi, enggak boleh
conveniency. Jadi, enggak boleh disalahin itu. Cuma kita berbicara
disalahin itu. Cuma kita berbicara prioritas. Oke.
prioritas. Oke.
Prioritasnya kalau bisa cari karbonnya dari sesuatu yang bisa kita petik sendiri, bisa kita gali sendiri, bisa kita tangkap sendiri misalnya seperti itu. Intinya adalah ketika yang
seperti itu. Intinya adalah ketika yang alami apa yang terjadi? Yang terjadi
mulai dari vitaminnya, mineralnya, lemak esensialnya, amino acid esensialnya, seratnya itu pasti lebih tinggi.
Nah, dalam urusan karbo tantangannya cuma satu. Ketika kita masukin yang
cuma satu. Ketika kita masukin yang namanya roti, mie, kue, nasi, kue basah, kue kering, kerupuk keripik, begitu kita masukkan ke dalam mulut kita, dirubah menjadi gula.
H.
Nah, otomatis gula darah kita meningkat.
Nah, ketika gula darah kita meningkat, nah, pada saat itu makanya badan bilang, "Oh, gula darahnya tinggi." Dia enggak boleh gula darah tinggi harus diturunin balik ke baseline. 90, 100 mg/ dl darah kan itu kan normal.
Nah, kelebihan gula itu harus dimasukkan ke dalam sel di dalam tubuh kita. Nah.
Heeh.
Nah, waktu kelebihan itu siapa yang ngambil? Pankreas kita merilis hormon
ngambil? Pankreas kita merilis hormon namanya insulin. Dia ngambil kelebihan
namanya insulin. Dia ngambil kelebihan itu untuk ditaruh di mana?
Insulin untuk ditaruh di dalam sel di tubuh kita.
H.
Nah, badan kita pada dasarnya membutuhkan karboi, dan untuk energi. Tapi kebutuhan badan kita itu kecil, tapi kita pasti makannya lebih banyak.
Nah, tapi badan kita punya kecerdasan sendiri.
Ini karena kesempurnaan Tuhan. Dia
bilang, katanya, "Enggak apa-apa.
Manusia pasti sering makan karbonya banyak. Ya udah kita siapin gudang gula
banyak. Ya udah kita siapin gudang gula di badan kita. Nah, gudang gula itu ada di liver, ada di otot. Sama kalau sampai liver sama otot terbatas akhirnya baru dibuang
ke lemak. Nah, jadi tiga gudang gula itu
ke lemak. Nah, jadi tiga gudang gula itu ada di sana.
Nah, cuma kalau bisa dua gudang pertama yang bisa mentekel itu sudah selesai ceritanya harapannya.
Nah, liver terbatas hanya cuma 100 gr.
Otot sebenarnya agak sedikit lebih besar 400 gr. Nacu mah masalahnya enggak semua
400 gr. Nacu mah masalahnya enggak semua orang senang latihan beban gitu sehingga jadi ototnya kecil dan enggak pernah dilatih sehingga akhirnya terpaksa ketidakmampuan gudang untuk menampung
gula terlalu banyak akhirnya ya udah di toko sebelah di sana pasti diterima makanya jadi lemak lemak makanya terjadi yang namanya yang disebut namanya denovo lipogenesis proses pembentukan lemak baru
gara-gara karb karbonya mengandung lemak jadi oh nasi jahat ya karena dia berlemak nasi enggak jahat enggak kenapa-kenapa nasi mah biasa aja kalau Dimakan juga ya enggak apa-apa orang buat tenaga.
Iya.
Cuma masalah dan dulu di tahun-an kita masukkan ibaratnya semua orang juga makan nasinya banyak.
Di Cina zaman dulu orang makan nasinya banyak.
Di kampung-kampung segini makan nasi.
Makan nasinya banyak dan enggak apa-apa karena apa? Karena pada saat itu memang
karena apa? Karena pada saat itu memang badannya membutuhkan sebanyak itu. Nah,
sekarang kan lain ceritanya situasinya.
Nah, jadi karena dia kebanyakan akhirnya makanya disimpanlah di dalam sel lemak. Itu cerita belum selesai di
sel lemak. Itu cerita belum selesai di sana. Karena cerita itu cuma bilang
sana. Karena cerita itu cuma bilang bahwa kamu gemuk tapi kamu enggak sakit.
He.
Karena ketika ditaruh di dalam lemak, lemaknya itu didesain memang untuk menerima kelebihan karbo. Itu disebut
namanya subcutaneous fat, lemak di bawah kulit.
Iya.
Nah, cuma problemnya kitanya kan, "Oh, ya oke, enggak apa-apalah cuma glember-geler dikitlah di ini pipi tembem ini apa dari dulu sixpack menjadi gitu.
Family pack.
Iya, family pack. Nah, tapi karena kita hobi terus makan, terus makan terus, nah yang jadi problemnya adalah ini persis mirip yang disebut dengan namanya fenomena gunung es. Permasalahannya
bukan permasalahan gula, tapi permasalahan permasalahan insulin.
Nah, jadi karena kita makan terus-menerus akhirnya produksi insulin itu semakin tinggi sebagai si Grab dan Gojek yang mengambil kelebihan gula itu.
Nah, terjadi namanya hyperinsulinemia.
Nah, kelebihan gula darah itu yang terlalu tinggi, akhirnya otomatis setelah bertahun-tahun sel di dalam tubuh kita dibilang, "Nih, kok saya enggak pernah dapat istirahat?" Dikasih
ibarat ruangan enggak pernah kapan saya kosongnya?
Baru sebentar dikasih makan lagi, dikasih makan lagi. Hanya cuma
dikosongin bentar hanya pada saat tidur aja tuh si jam itu kita tidur pagi kan udah kasih lagi makan lagi, kasih makan lagi. Dari jam . sudah ada
makan, coffee break jam 10. Jam 12.00
ngopi-opi sama teman-teman sore-sore jam makan lag bahkan jam 10 pun kita makan jadi enggak ada istirahatnya nah ketika enggak ada istirahat itu makanya akhirnya si sel itu bilang apa enak aja
gila saya udah sumpek banget di sini dia kuncilah pintunya itu yang disebut namanya resistensi insulin sel tidak sensitif lagi terhadap insulin jadi insulin enggak dibolehin masuk di diock sama dia. Nah, ketika di-lock otomatis
sama dia. Nah, ketika di-lock otomatis apa yang terjadi ya kan? Jadi semua pada ada di luar.
Heeh.
Produksi insulinnya tambah tinggi, gulanya tambah banyak belum fatty acid hadir juga di sana.
Makanya terjadilah kekacauan ketika gula darahnya tinggi. Itu makanya kenapa
darahnya tinggi. Itu makanya kenapa akhirnya orang bilang ketika gula darahnya terlalu tinggi di mata makanya jadi terjadi burem penglihatan.
Ketika terjadi gulanya terlalu tinggi di luka akhirnya enggak sembuh-sembuh.
Akhirnya jadi amputasi. Ketika lukanya
terjadi eh ketika gula darahnya banyak di pembuluh darah kita juga akhirnya virus bakteri jadi happy, jadi senang di sana.
Kulit juga jadi kusam sampai akhirnya terjadi yang namanya prediabetes yang mengarahkan kepada diabetes tipe 2 yang mengarahkan kita kepada yang namanya the end stage of diabetes tipe 2 yang salah satu paling
populer yang menjadi klaim daripada cost terbesar BPJS kesehatan itu adalah namanya hemodialisa.
Hemodialisa cuci darah.
Cuci darah karena apa? Karena gagal
ginjal.
Kenapa gagal ginjal? karena kebanyakan
gula di pembuluh darah kita.
Oke.
Nah, pada saat itulah maka kita nanti akan bisa lihat, oh ternyata salah satu penyebabnya daripada permasalahan jantung dan pembuluh darah itu disebabkan karena terjadinya kunci itu.
Nah, ketika terjadi resistensi insulin makanya apa yang dilakukan oleh masyarakat kita? Oh, gula darah
masyarakat kita? Oh, gula darah ketinggian. Instead of kita berfokus
ketinggian. Instead of kita berfokus kepada the root cause of the problem, kita berfokus kepada ujung permasalahannya.
How to manage that disease stud dengan akhirnya ya sudah makan obat aja.
tambahan insulin untuk turunin gula darah fokus kerutnya ya.
Iya. Kita justru fokusnya kan ke ujung.
Nah, makanya kita turunkan tekanan apa turunkan gula darah tersebut. Tapi
pertanyaannya adalah sisanya berarti dibuang ke mana?
He.
Oleh obat itu. Jawabannya adalah obat itu akan memaksa si sel untuk tetap membuka untuk supaya biar enggak boleh gula darahnya naik gitu. Jadi harus turun.
Nah, pada saat itulah akhirnya kelebihan itu disimpan di tempat yang tidak didesain untuk ada lemak di sana. Itu
yang disebut namanya viseral fats atau atopic fats.
Apa tuh? Itu lemak darat ya.
Iya. Jadi, betul. Jadi, viseral fats itu lemak yang ada di organ tubuh kita.
Jadi, it's not supposed to be ada di sana. Makanya salah satu yang paling
sana. Makanya salah satu yang paling populer adalah it's a fattiver disease kan gitu kan gitu. Apakah karena
alkoholik maupun nonalcoholic fertil disease. Poinnya adalah di sini cuma
disease. Poinnya adalah di sini cuma mengasih tahu adalah bahwa lemak yang bahaya sebenarnya bukan jumlahnya, tapi lemak yang bahaya adalah letak atau lokasinya. Nah, ketika dia
lokasinya ada di organ tubuh kita yang it's not supposed to be banyak lemak di sana apagi pembuluh darah gitu ya.
Iya. Akhirnya berpengaruh ke sana. Oke.
Makanya kenapa jawabannya kita balikin lagi ke akar permasalahan. 95%
profil daripada klaim BPJS kesehatan di Indonesia itu adalah perilaku penyakit perilaku. Tapi good news-nya daripada
perilaku. Tapi good news-nya daripada penyakit perilaku, kalau saya bersedia merubah perilaku saya maka saya punya chance probabilitas 95% I can reverse that disease.
Makanya kenapa yang disebut dengan namanya diabetes tipe 2 itu is a reversible disease.
Hipertensi is a reversible disease.
Jadi sebenarnya kalau diabet itu ada yang mengatakan tidak bisa sembuh, Dek.
Sebenarnya bisa ya kan banyak katakan ini penyakit memang tidak bisa sembuh. Is there already gitu ya. Kalau bagi yang pesimis boleh
ya. Kalau bagi yang pesimis boleh memikir [tertawa] tapi kalau menurut saya enggak seperti itu karena itu adalah it's a behavior disease gitu. Jadi kita we we change the
disease gitu. Jadi kita we we change the behavior bisa. Tapi kalau di end stage
behavior bisa. Tapi kalau di end stage of diabetes tipe 2 di mana akhirnya sudah gagal jalan apa ya otomatis ya akhirnya jadi jadi enggak bisa balik. Nah, itu tadi.
Oke.
Jadi juga dipengaruhi lifestyle juga dong ya.
Iya. Jadi memang ee bukan juga dipengaruhi lifestyle, justru lifestyle yang mempengaruhi kita, kualitas kita.
Betul.
Cara makan, jumlah makan ya. Cara makan,
jam makan.
Jam makan. Betul. Makanya nanti ketika kita berbicara kontrol karbo, maksudnya lebih kepada saat di sana kita kontrol karbonya, ya tidak terjadi permasalahan cerita yang sampai sepanjang ini tadi
gitu maksudnya. He.
gitu maksudnya. He.
Oke. Jadi
kalau protein diprioritaskan lebih kepada karena hanya protein yang merilis hormon kenyang.
He.
Makanya kenapa jadi kalau Mas Helmi misalnya bilang, "Aduh lapar nih kepengin makan." Nah, sebenarnya
kepengin makan." Nah, sebenarnya berdasarkan ada namanya protein leverage hipotesa mengatakan bahwa kalau kita malam-malam atau kapanp kita bilang aduh kepengin makan, kepengin makan. Itu
sebenarnya badan lagi bilang bahwa saya butuh protein.
Karena protein dari katanya protos primary yang utama sebenarnya. Oke.
Nah, tapi setiap kali kita lapar, kita selalu bilang, "Ya udah, mie tektek, [tertawa] nasi goreng, roti apa." Karena
kita lebih senang dengan super gitu ya, dengan karbo. Heeh. Padahal badan
dengan karbo. Heeh. Padahal badan
perlunya protein.
Nah, kelebihannya daripada protein ketika kita dahulukan, apalagi dalam food order waktu kita masukin makanan meskipun kita makan ada nasi, ada sayurnya, kalau kita duluanin nasinya,
Heeh.
maka otomatis lonjakan gula darah kita akan terai. H.
akan terai. H.
Tapi kalau seandainya kita dahulu dahulukan si proteinnya atau sayurnya, maka nasinya di belakang lonjakan gulanya jadi dengan mengawalinya dengan buah-buahan juga bagus deh.
Kalau menurut saya enggak.
Enggak ya.
Iya. Karena
saya siapa yang ngajarin saya tahu enggak? Sebenarnya saya enggak
enggak? Sebenarnya saya enggak menyalahkan hal tersebut juga. Ee
problemnya dengan buah-buahan itu masalahnya dulu buah ada musimnya. Dulu
buah ada bijinya. Dulu buah ada rasanya.
Berbagai rasa bisa asem, manis, pahit, bisa apa. Dulu buah bentuknya tidak
bisa apa. Dulu buah bentuknya tidak selalu bagus. He.
selalu bagus. He.
Tapi hari ini kan [tertawa] terjadi kan buahnya kan berbeda gitu. Di mana sudah tidak ada musim, tidak ada biji, selalu manis dan bentuknya bagus. Dan akhirnya ketika
kita makan buah, akhirnya buah menjadi kontribusi daripada fatti liver disease kan karena fruktosenya gitu.
Oh, gitu ya. Bukan tergantung jenis buahnya juga.
Tergantung jenis buah juga sebenarnya.
Tapi kalau buah yang tergantung jenis buah kan kita ngomongin misalnya apakah kebanyakan orang makannya dari keluarga berries misalnya kan enggak. udah mahal
gitu misalnya orang kebanyakan makannya pasti kan buah kan beneran dari apa yang gampang aja sekarang ini kan pisang yang manis-manis semua apel iya yang manis-manis ya Heeh iya dan kebanyakan sebenarnya kalau
kita mau mengasosiasikan buah kita asosiasikan sebagai natural candy h it's a natural candy jadi saya senang makan candy senang ya sudahudah saya take dari natural which is adalah buah
selama buah kita jadikan sebagai refreshment gitu enggak apa-apa apa yang dianjurin dek buah masalahnya problemnya sama buah kan orang kan tiap setiap kali ngomong buah, oh buah sehat. Jadi dia memakannya berlebihan.
Overflow buah jadinya perlu tapi enggak perlu enggak boleh juga terlalu banyak ya.
Iya kalau menurut saya. Heeh. Kalau
kayak sayuran lebih memungkinkan untuk tidak terbatas sih sebenarnya ya gitu karena memang kemampuan kita menyerap juga kan lebih sedikit. He.
Kan sayur juga kan ada pestisida ada apa gitu deh.
Iya betul. Memang kalau kita ngomongin kan balik lagi semua kan permasalahan pestisida, permasalahan genetic modifying organisme kan itu memang sekarang ini memang adanya di buah, di sayur,
di tempe, di kedelai. Jadi akhirnya
problemnya ke sana. Tapi balik lagi kalau saya ini sebagai pribadi aja, Mas.
Saya cuma bilang adalah bahwa kalau pertimbangan kita terlalu banyak ke sana, nanti kita jadi kesulitan akhirnya untuk untuk akhirnya semua enggak bisa, semua enggak bisa nanti teler sendiri.
He he.
Kalau saya bilang sekarang ya udah yang semampu kita aja bisa. Mana yang bisa yang nyaman dari berbagai puluhan bahkan ratusan perilaku yang akan mendekatkan kita pada sehat. Kenapa
enggak kita mulai dengan yang kecil dulu dan kita lakukan harus dengan senang hati gitu. Karena
kalau kita lakukan dengan balik lagi tadi ya berkorban terpaksa ini apa badan terlalu cerdas untuk dibohongi.
Makanya badan akan membuat satu mekanisme defensif sendiri bukan ide baik.
Kalau untuk orang yang baru mengawalin katakan mau bikin diet supaya apa? Jendela makannya lebih kecil
supaya apa? Jendela makannya lebih kecil dari jendela tidak makannya idealnya berapa jam? Ya
jam? Ya itu tadi saya katakan tadi mungkin kalau memang ya untuk sementara yang paling gampang itu sebenarnya kan 68 jam tu jendela makan atau anggapnya kita bilang 10 jam dulu deh.
Tapi memang diawali dengan 12 jam tuh paling gampang. 2 jam sebelum tidur
paling gampang. 2 jam sebelum tidur dan 2 jam setelah bangun saya enggak masukin makanan. 2 jam setelah bangun
masukin makanan. 2 jam setelah bangun juga misalnya misalnya kita menggunakan kalimat itu 2 jam sebelum tidur dan 2 jam setelah bangun saya tidak masukkan makanan.
Nah, kalau tidurnya saya 8 jam berarti 2 + 8 + 2 berarti kan sudah 12 jam 12 juga berarti kan 50-fy itu. He.
Nah, dibandingkan dengan kita tidur doang yang enggak makan. Sebelum tidur
kita makan, pas bangun kita makan ya otomatis kan kita rugi hanya cuma enggak makannya 6 jam. Tapi
begitu kita melakukan 2 jam di depan dan di belakangnya tidur kita, terjadi kenaikan jendela tidak makan kita menjadi 12 jam. Nah, artinya terjadi
dari 30% naik menjadi 50%.
Nah, yang kedua adalah stepnya yaitu adalah yang tadi saya katakan tadi paling gampang adalah pilih aja saya enggak makan pagi atau saya enggak makan malam.
Oke.
Nah, step yang ketiga kalau saya mau lebih tajam lagi, saya enggak makan pagi, saya enggak makan malam. Saya
makannya di siang aja sampai ke sore gitu. Heeh. Alasannya kayak mimiking
gitu. Heeh. Alasannya kayak mimiking ancestor kita dulu.
Bangun tidur dia harus cari makanan dulu, dia harus berburu dulu.
He.
Pas sudah malam enggak ada PLN, enggak ada penerangan. Jadi enggak bisa makan
ada penerangan. Jadi enggak bisa makan malam. Jadi harus berhenti di jam .00.
malam. Jadi harus berhenti di jam .00.
Nah, tapi prinsipnya adalah selalu harus ada minum. Heeh.
ada minum. Heeh.
Minum.
He. Jadi kalau minum air, kopi, teh masih boleh. Yang penting jangan masukin gula.
boleh. Yang penting jangan masukin gula.
Iya. Saya tuh pagi itu kan kebiasaan harus minum kopi tuh. Kalau makan saya masih bisa tahan tuh.
Heeh. Oke ya.
Oke. Oke. Enggak apa
termasuk malam pun ngopi ya. Kalau bagi sebagian orang merasa
ya. Kalau bagi sebagian orang merasa enggak kenapa-napa, ya oke aja.
Ngopi. Saya tuh 15 hari, Dek.
Sebelum tidur pun saya ngopi gitu.
Iya. Cuma memang tantangannya memang kalau secara teoretis hanya cuma mengatakan pada saat di malam hari memang kan kalau kita ngomongin ritme sirkkadian kita gitu, hhubungan kita
dengan alam itu memang ketika malam hari kan makin gelap. Nah, ketika makan hari makin gelap itu sebenarnya dia dekat dengan hormon yang namanya melatonin atau hormon tidur kita. He.
Jadi, hormon tidur kita semakin gelap itu kan semakin teraktivasi.
Oke. Oke.
Nah, melantonin uniknya dia seperti jungkat jangkit dengan kortisol.
Oke. Oke.
Nah, makanya ketika kita bilang malam saya olahraga, malam saya minum kopi.
Jadi, kita seolah-olah kita mengangkat sedikit si kortisolnya itu menurunkan si melatoninnya. Makanya kenapa nanti ada
melatoninnya. Makanya kenapa nanti ada kualitas tidur kita yang agak sedikit terganggu. Bukannya tidak bisa tidurnya,
terganggu. Bukannya tidak bisa tidurnya, Mas. I
Mas. I tapi kualitas tidurnya maksud tidur.
Jadi Masnya tetap bisa tidur karena kan kita capek ya kita tidur.
Cuma secara teoretis dia akan bilang, "Mas, cuma kualitas tidurnya kalau tadi misalnya enggak ngopi misalnya terakhir ngopinya cuma sampai siang aja sampai sore kualitas tidurnya jadi lebih baik."
Waktu tidur juga menentukan untuk kesehatan deh.
Iya. Itu
saya dengar ada katanya 8 jam ya minimal atau gimana ya?
Iya. Sebenarnya lebih kepada kualitas tidurnya tapi Iya. Tapi kalau kualitas tidur itu tidur aja juga cuma salah satu sisi kan sebenarnya secara overall-nya dia masuk di dalam pendekatannya.
Makanya pendekatan saya itu tiga, Mas.
Satu, pendekatan chemikal. Apa yang kita masukkan ke dalam mulut kita itu kita ngomongin diet and nutrition.
Dua, pendekatan mekanical itu adalah kita berbicara ngomongin olahraga, cardio exercise, buat latih otot jantung, resistance training, buat ngatih otot rangka. Nah, itu mechanical.
Nah, yang ketiga kalau istirahat yang cukup itu yang disebut dengan namanya pendekatan namanya emosional. He.
Nah, pendekatan emosional itu relnya sebenarnya sama nafas.
Nah, jadi gerakan pikiran kita itu biasanya gerakan nafas kita itu tercermin daripada gerakan pikiran kita dan sebaliknya.
Jadi kalau kita banyak pikiran, kita kesal atau mungkin ada sedikit kecewa atau apapun juga di sana pasti nafasnya pendek dan cepat.
Tapi pada saat di mana kita lagi happy, lagi senang, lagi banyak rezeki dan sebagainya, nafasnya panjang dan pelan.
Nah, berbicara secara teoretis aktivasi parasyimpathetic nervous system relax respon di mana aktivasi tubuh kita jadi tumbuh dan kembang. itu hanya terjadi kalau kita rajin punya nafas yang
buangnya tuh panjang. Nah, jadi ketika Mas contoh misalnya gini, "Mas lagi, aduh gila saya lega banget nih, Dek misalnya gitu." W gila lega banget nih
misalnya gitu." W gila lega banget nih tadi berhasil ini apa? Nah, kalau lega itu pasti nafasnya gitu panjang pasti.
Nah, sekarang pertanyaannya kalau kita belajar kita gampang aja gimana ya caranya supaya saya biar bisa nafasnya selalu nafas saya H tarik nafas sama buang nafas lebih panjang
lebih panjang. Iya. buang nafas. Nah,
lebih panjang. Iya. buang nafas. Nah,
ternyata dalam memanjangkan buang nafas, makanya satu ada caranya, itu yang disebut namanya breathw yaitu adalah breathw.
Oke.
Latihan pernafasan. Jadi dia makanya dia suruh tarik nafas, tahan, buang lebih panjang, lalu tarik nafas dari hidung, buang dari mulut misalnya, atau misalnya tarik nafas tahan sebentar
misalnya nadi sudi atau apa silakan apa aja boleh. Itu satu cara. He.
aja boleh. Itu satu cara. He.
Cara kedua adalah berbagai aktivitas yang secara tidak sengaja kita nafasnya jadi lebih panjang pada saat buang.
Yaitu satu, kalau tidurnya nyenyak.
Ah. Oh, iya. I
dua. Kalau kita baru habis olahraga.
Hm.
Artinya itu yang disebut namanya rebond parasyimpetic nervous system. Tiga,
kalau kita dekat dengan kalau olahraga tuh dekat dengan keimunan. Ketiga, kalau
kita dekat dengan keimanan. He.
Nah, makanya biasanya kalau habis salat, kalau habis berzikir, habis habis sembahyang, habis berdoa, ini apa?
Nafasnya biasanya pasti teratur.
Ada rasa syukur gitu ya.
Rasa syukur. Betul. Nah, yang keempat yaitu adalah dekat dengan kesenian. Nah,
itu pasti itu teratur.
Jadi, kita dengar lagu gitu ya, lagu rileks. Iya. Atau nikmatin sebuah
lagu rileks. Iya. Atau nikmatin sebuah seni atau misalnya apapun aja. termasuk
juga mungkin misalnya memainkan instrumen atau misalnya mungkin dia bersenandung atau sekedar mendengarkan orang menyanyi atau apapun juga atau membaca dianggap sebagai sebuah seni bagi dia. Nah, itu pasti kita dekat
bagi dia. Nah, itu pasti kita dekat dengan yang namanya ketenangan, keteraturan dan sekarang orang enggak ngebaca buku de tapi apa scroll handphone ya kadang-kadang ya saya kayak saya kan
dengar motivasi kan algoritma keluar gitu.
Betul betul betul sambil berbaring gitu.
Iya. Iya. Kalau dulu saya sebenarnya, Mas eh salah satu yang menurut saya bisa bantu kita buat gantiin buku tuh sebenarnya audiobook sih.
Audio book zaman dulu. Heeh. Makanya kenapa saya
zaman dulu. Heeh. Makanya kenapa saya senang kayak Jakarta Bandung tuh, Mas kan.
Oh, dengar audiobook ya.
Iya. Jadi waktu saya habis buat apalagi kemacetan di Jakarta, kalau misalnya kita tinggal di Jakarta itu paling sebenarnya paling ideal ketika kita itu menggunakan si sound system di mobil itu menjadi sebuah
sesuatu yang kita ada di kuadran dua itu, Mas.
I ehit itu gitu. Jadi kita ada di kuadan du
itu gitu. Jadi kita ada di kuadan du yang which is not is not urgent tapi jadi important gara-gara kita membunuh waktunya dengan sesuatu yang investasi bermanfaat.
Berman.
Nah, jadi saya pikir itu lalu tadi ngomongin apa lagi ya? Itu jadi menurut saya sekarang orang sudah enggak audio, Bu. Ah, audio visual.
Bu. Ah, audio visual.
Iya, betul. Iya. Visual lagi audio visual gitu. Apakah itu lebih baik atau
visual gitu. Apakah itu lebih baik atau enggak baik gitu. Oke. Oke sih kalau itu kalau menurut saya enggak ada masalah.
Cuma kan tantangannya kan lebih kepada seleksi kita.
Iya. Seleksi feeding jenis apa yang kita tonton kan.
Betul. Betul. Iya. Lalu selain itu juga dekat dengan kesenian. Nah selain itu juga adalah dekat dengan alam Mas.
I.
Nah dekat dengan alam itu kalau ada istilah yang mengatakan tubuh kita adalah produk alam karena kita adalah kumulasi alam yang kita konsumsikan.
Alam itu adalah ekstensi kepanjangan daripada kita. Makanya kenapa ketika
daripada kita. Makanya kenapa ketika kita grounding misalnya Mas taruh kaki di ini, ketika kita menghirup udara segar, ketika kita kena sinar matahari, oke,
ketika kita mungkin bahkan yang relate dengan alam yang dekat dengan kita misalnya bercocok tanam atau misalnya menyiram pohon, ngobrol sama pohon tanaman, ngobrol sama binatang, sama anjing, sama
kucing, atau bahkan ngobrol sama manusia. He
itu juga kan kebalikannya daripada kemarin di musim infeksi terjadi sosial isolasi hari ini kita terjadi sosial koneksi.
Nah, itu yang namanya sosialisasi itu sendiri. Jadi itu menguatkan. Heeh. Dan
sendiri. Jadi itu menguatkan. Heeh. Dan
satu lagi mungkin lebih kepada yang saya sering cerita, sehat bersahabat dengan pertemanan hati, sakit bersahabat dengan perlawanan hati.
Itu maksudnya adalah setiap ada postingan orang, kita cenderung menjadikan itu sebagai sebuah ketersinggungan bagi kita. He.
Nah, makanya jadi noud, nobel itu salah satu strategi yang tepat bagi kita juga untuk membuat nafas kita lebih panjang dan pelan.
Nah, jadi kalau istrinya orang bilang, "It's not loving what if," tapi loving what is gitu. Nah, prinsipnya adalah gratitude punya rasa bersyukuran tinggi, bersyukur tinggi.
Kedua, punya forgiveness, pemaafan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dan yang ketiga, ya punya keikhlasan itu tadi, Mas. Gitu. ikhlas dalam kalau
tadi, Mas. Gitu. ikhlas dalam kalau ngomongin perbedaan kita udah lihat orang lain berkomentar aja kan atau posting aja yang kita bilang kan beda banget sama kita.
Iya.
Tapi ketika kita punya keikhlasan terhadap sebuah perbedaan akhirnya menjadi sebuah toleransi tapi ketidakikhlasan terhadap perbedaan akhir menjadi diskriminasi. Makanya
menjadi diskriminasi. Makanya ribut berantem terus di sana.
Saya tuh punya saya dulu belajar dari beberapa teman ya jadi saya enggak mau mengawalin hari saya itu dengan sesuatu yang enggak bagus gitu.
Betul.
Jadi kalau pagi itu saya enggak mau nonton kriminal.
nonton hard news gitu ya yang isinya apa begal pemerkosaan korupsi gitu betul karena saya jaga banget dek kadang-kadang saya film horor pun enggak
mau loh iya iya jadi saya tuh ya udahlah biar saya tuh senangnya nonton olahraga ada friendship di situl betul nonton yang kayak discovery betul
ya jadi sesuatu itu memang ada hubungan juga karena sehat itu juga termasuk mentality juga kan it start from there juga kan termasuk pikiran Betul, Mas.
Jadi kalau ada istilah yang mengatakan kalau membayangkan yang namanya create pleasantness to our own body, our own mind, our own emotion and our own life energy itu sebenarnya sehat dalam arti
sesungguhnya. Nah, ada satu keunikan
sesungguhnya. Nah, ada satu keunikan ketika kita bilang bahwa badan kita adalah akumulasi daripada apa yang kita makan.
Iya.
Nah berarti Iya. Nah, berarti waktu kita mau makan,
Iya. Nah, berarti waktu kita mau makan, kita punya empat elemen yang kita harus pertimbangkan.
Satu, sumber dan jenis. Dua, penyajian.
Tiga, kapan dan frekuensi saya makan.
Oke.
Dan yang terakhir, berapa jumlah yang bukan sesuai kebutuhan kita? Nah, itu
kan sudah jadi pegangan buat kita.
Nah, ternyata pikiran kita juga adalah akumulasi daripada apa yang kita makan.
Nah, cuma kalau makan kan akumulasi makanan tersebut melalui mulut. He.
Nah, sedangkan kalau pikiran akumulasinya dari mana, Mas? Dari panca
indra.
He.
Jadi, apa yang kita dengar, apa yang kita saksikan, apa-apa. Nah, tadi yang Mas Helmi katakan tadi itu sudah tepat sekali. He.
sekali. He.
Karena ternyata isi daripada makanan kepala kita atau pikiran kita itu yang disebut dengan namanya data dan informasi.
Nah, pertanyaan saya kalau kita salah makan, Mas, bisa mencret enggak kita, Mas? Kalau kita
salah makan bisa mencret enggak, Mas?
Iya. Nah, kalau kita salah makan, tadi kan Mas kan ngelihat kan salah makan bisa mencret juga enggak? Bisa. Itu yang
disebut namanya mencret secara mental. Ya. I
itu namanya mental diaria.
Mungkin ada proverbnya kapal itu karam bukan karena ada air di sekelilingnya, tapi ada air yang masuk ke dalam kapal itu gitu ya.
Betul. Betul. [tertawa] Setuju.
Jadi kalau kita enggak pikirin, enggak terlalu itu sih aman-aman aja ya kan.
Betul. Nah, jadi satu keunikan tadi yang Mas katakan. Jadi seingat zaman dulu
Mas katakan. Jadi seingat zaman dulu lagi emang benar ternyata katanya kan ada salah satu penelitian mengatakan adalah bahwa bagaimana caranya meningkatkan imunitas seseorang. Iya.
Jawabannya adalah katanya akan untuk sementara boleh off dulu dalam hal apa?
I baca koran, nonton berita. [tertawa]
Iya. I
baca koran, nonton berita. Dan mungkin
satu lagi yang sebenarnya relate dengan yang namanya semuanya itu perlawanan hati. Makanya ketika tadi meskipun kita
hati. Makanya ketika tadi meskipun kita nonton sebenarnya enggak ada salahnya kita lihat ada berita kriminal dan sebagainya, tapi memang kita di sana kita akan bisa melihat bahwa istilahnya ketika kita i
mengkonsumsikan yang namanya konflik atau versus tersebut gitu, maka otomatis badan terlalu cerdas untuk dibohongi. Makanya
kenapa terjadi yang namanya aktivasi yang namanya sypatic nervous system atau yang disebut namanya fight or flight mode. Nah, fight or flight memaksa tubuh
mode. Nah, fight or flight memaksa tubuh kita untuk berproteksi sehingga tidak terjadi tumbuh dan kembang. He.
Nah, tapi ketika kita misalnya masnya misalnya pas bangun, "Ah, saya mau cari sesuatu yang mungkin relate dengan developing diri kita dan sebagainya," akhirnya otomatis terjadi yang namanya
parasympathetic nervous system which is rest and digest yang terjadi. Makanya
badannya tumbuh dan kembang.
Gila ya. You are what you eat, you are what you think ya. Iya.
Kadang-kadang kan [tertawa] iya kadang-kadang kita harus cuek juga tuh.
Jadi kita harus apa ya apa kontrol. Jadi
kontrol intinya ya, Dek.
Saya sih enggak bilang seperti itu, tapi pertama kita punya satu pemahaman aja dulu. Pemahaman adalah fondasi daripada
dulu. Pemahaman adalah fondasi daripada kepatuhan.
Nah, edukasi adalah amunisi daripada sebuah pemahaman. I. Nah, jadi pada saat
sebuah pemahaman. I. Nah, jadi pada saat katanya orang juga bilang gini, katanya ketika kita bilang, jadi ada banyak berbagai pendekatan. Ee Mas pernah baca
berbagai pendekatan. Ee Mas pernah baca bukunya yang ee Atomic Habit itu ya, itu salah satu yang bagus juga yang mengingatkan saya kembali untuk bilang bahwa ternyata sebuah perubahan
habit itu justru diawali dengan yang namanya perubahan yang disebut namanya identitas gitu, bukan perubahan sikapnya gitu. Sikapnya akan mengikuti kalau
gitu. Sikapnya akan mengikuti kalau seandainya kita punya identitas baru yang menjadi itikat kita. Itikat adalah hasrat tanpa
itikat kita. Itikat adalah hasrat tanpa pamri.
Nah, jadi ketika saya bilang saya adalah orang yang gemuk, saya adalah orang yang enggak bisa kalau tahan kalau ngelihat kerupuk. Saya
adalah orang yang kalau latihan olahraga sebentar saya pasti langsung pusing.
Saya adalah orang yang enggak bisa puasa karena asam lambung saya naik. Maka
identitas yang melemahkan hati itulah dulu yang dirubah gitu. Dengan bilang bahwa wah
dirubah gitu. Dengan bilang bahwa wah saya mah badan saya bagus, cuma badan saya aja cuma ketutup lemak dan ini. Makanya yang
bagusnya ketutupan. Makanya saya sering cerita tentang dulu Michael Angelo pernah membuat satu patung di Florence, Ital itu patung David kan Il Gigante itu kan. Nah, patung David itu kan ditanya
kan. Nah, patung David itu kan ditanya Michael Angelo, "Kok kamu bisa bikin patung David dari sebuah batu marmer yang besar itu?" Karena Michael Angelo kan bilang, "Saya enggak bikin David.
David sudah ada di dalamnya. Yang saya
lakukan I only chip away the access.
Saya hanya membuang yang menutupinya gitu."
gitu." Itu kata-kata yang keren banget ya.
Iya. Nah, jadi pada saat saya bilang kita semua berarti sudah punya sixpack.
Cuma ada yang kelihatan, ada yang enggak kelihatan.
[tertawa] Nah, jadi there inside all of us yang menutupi kita yaitu tadi mulai dari kemalasan, mulai dari kesalahpahaman,
mulai dari ke yang kita bilang tadi kebodohan atau kegemukan atau ke apa juga ya.
Iya. Nah, jadi kita selalu punya identitas dalam diri kita adalah bahwa ada satu yang baik yang sedang ketutupan. Nah, jadi dengan kita rubah
ketutupan. Nah, jadi dengan kita rubah identitas kita adalah bukan cabi kit yang kebetulan baru punya badan bagus.
Basically kita sebenarnya saya sebenarnya yang badan bagus cuma kebetulan lagi enggak ada waktu aja nih gua lagi sibuk [tertawa] belum aja entar lihat ya gitu. Nah, jadi
mindset perubahan itulah yang sebenarnya iya akan membantu kita untuk akhirnya si habit itu yang small habit yang kita mulai itu ternyata dia connect gitu karena selalu dibantu sama identitas
dan karena identitas itu kita punya akhirnya kita jadi semangat sama habitnya itu karena kita merasa kan oh iya dong kalau orang kaya mesti begini dong oh kalau orang sukses mesti begitu dong gitu. I iya iya.
Ini celakanya kita enggak makan malam tuh suka dapat undangan tuh, Dek.
[tertawa] Kadang-kadang dapat undangan. Enggak
apa-apa siasat, Mas. Tapi siasatnya
masukinnya proteinnya aja. Jadi jangan
masukin karboja.
Oh, proteinnya ya boleh ya? Jadi
misalnya kalau kan kita enggak makan kan enggak enak juga ya.
Enggak apa-apa, Mas. Pas undangan, Mas kan lihat di situ kan ada ayam, ada ikan. Mas, makan aja tapi enggak usah
ikan. Mas, makan aja tapi enggak usah masukin nasinya.
Oke good.
Gitu aja segala.
Buah-buahan selalu aman ya. Makan dikit
gituak ya.
Enggak aman.
Enggak aman. Kalau menurut saya jangan masukin buah-buahan malam-malam gua cuman makan buah aja gitu.
Lebih bagus daripada makan coklat dan es krim sih. Betul. [tertawa]
krim sih. Betul. [tertawa]
Iya betul.
Oke Dek. Keren banget. Jadi ada sampai sekarang jadi brand ambassador dari BPJS Kesehatan ya.
I saya mengajarkan hidup sehat.
Iya. Enggak. Kebetulan waktu dulu kan lebih kepada kalau kita berbicara yang namanya asuransi sosial itu mensyaratkan yang namanya orang yang sehat itu harus lebih banyak daripada yang sakit. I
yang sakit. I karena satu orang sakit membutuhkan orang sehat. Sakitnya lebih parah
orang sehat. Sakitnya lebih parah membutuhkan 50 atau bahkan 500 orang sehat.
Nah, kenapa terjadinya defisit misalnya negara harus membiayai biaya pengobatan yang besar kan karena memang pada dasarnya yang sehat lebih sedikit daripada jauh lebih sedikit.
Iya. Makanya salah satu daripada upaya waktu itu yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan adalah pada saat sosialisasi tentang teknis administrasi UPJS, kenapa enggak juga
diselipkan seminar kesehatan. He.
Nah, akhirnya tadinya saya yang tadinya di daulat menjadi cuma bintang iklan yang cuma fotonya dipakai, habis itu tinggal ngomong wajib dan bermanfaat gitu doang. [tertawa]
gitu doang. [tertawa] Akhirnya ee saya bilang, "Boleh enggak kalau seandainya saya jangan jadi wastiy talent?" Saya bilang, "Kalau boleh saya
talent?" Saya bilang, "Kalau boleh saya berkenan diberikan juga kesempatan kasih waktu saya 1 jam saya akan sosialisasi hidup sehat kepada masyarakat." Nah, sejak itu sampai
masyarakat." Nah, sejak itu sampai sekarang saya melakukan besok ke Padang ya?
Besok ke Padang.
Besok ke Padang. Iya.
Oke, Dek. Thank you
bangeth, Mas Elmi.
Keren banget. Gua belajar banyak juga, Dek, ya. Jadi banyak banget.
Dek, ya. Jadi banyak banget.
Jadi mulai sekarang gua enggak makan malam lah. Kalau [tertawa]
malam lah. Kalau [tertawa] boleh kata dia, tapi boleh. Iya, proteinnya aja, Mas.
boleh. Iya, proteinnya aja, Mas.
Jangan karbo. Thank you.
Thank you, Mas. Makasih, Mas.
Ya, itulah obrolan saya. Saya pikir
semua orang kepengin hidup sehat karena sehat itu mahal, ya.
Sehat itu murah, yang mahal murah, yang mahal tuh kalau sakit. Nah,
itu ya. Jadi kebalik gue ya. Jadi jangan
sampai sakit. Makanya saya itu bilang apa? Mahal itu dalam valuable.
apa? Mahal itu dalam valuable.
Betul ya? Dengan sehat kita bisa melakukan
ya? Dengan sehat kita bisa melakukan apapun ya. Bisa berkarya, bisa menolong
apapun ya. Bisa berkarya, bisa menolong orang. Maka sesuatu yang
orang. Maka sesuatu yang sangat mahal yang kita harus perjuangkan. Kalau sakit mahalnya secara
perjuangkan. Kalau sakit mahalnya secara cost ya.
Betul. Betul.
Thank you, Dek. Ya,
kita jumpa lagi dengan tamu hebat saya selanjutnya. Bye bye.
selanjutnya. Bye bye.
Loading video analysis...