LongCut logo

Sosial Media, Tatanan Masyarakat, dan Pertahanan Negara | Ground Zero Ep. 5

By Sabrang MDP Official

Summary

Topics Covered

  • Pencipta Sosmed Larang Anaknya Pakai Sendiri
  • Algoritma Sosmed Monetisasi Lewat Adiksi
  • Kemarahan Lima Kali Lebih Berharga di Algoritma
  • Sosmed Ganti Kriteria Hierarki Jadi Popularitas
  • Pilih Kriteria Sendiri atau Ikut Sosmed

Full Transcript

Zaman sekarang menyembah berhala itu dianggap kuno.

Tapi lupa kita menyembah para idola.

Bahasa Inggrisnya berhala itu idol.

Hal yang kita anggap masa lalu dan lagi masih kita lakukan sekarang. Kita

menganggap DVD impera itu terjadi masa lalu, tidak sekarang.

Padahal kita paham definisinya. Kita

disuruh tarung sama saudara kita sendiri.

Sekarang kita merasa David @ Impra zaman dulu padahal sekarang masih terjadi atau tidak. Yang terakhir kita sudah

tidak. Yang terakhir kita sudah mengumumkan bahwa kita merdeka 1945.

Tapi coba dipikir ulang. Benar kita

merdeka? Jangan-jangan cara kontrolnya saja yang berbeda.

Tidak semua kontrol harus pakai senjata.

Tidak semua kontrol harus kelihatan.

Yang penting hanyalah satu. Kamu bisa

berlaku seperti yang penjajah inginkan.

Jangan-jangan kita belum merdeka.

Selamat datang di Ground Zero episode kelima, Teman-teman sekalian. Ee ini

sekalian cerita tapi sekalian juga biar bisa punya sedikit pandangan apa yang kita obrolit di sebelah sana. Pernah

dengar enggak ada seorang nabi modern yang meninggalkan ciptaannya, pengikutnya. Terus kemudian dia enggak

pengikutnya. Terus kemudian dia enggak mau diikuti oleh pengikutnya?

Kata Noel. Tapi menarik untuk kita pelajari. Pernah dengar orang namanya

pelajari. Pernah dengar orang namanya Justin Rosenstein? Ya,

Justin Rosenstein? Ya, dia salah satu engineer dari Facebook yang menciptakan like button yang sekarang dipakai di mana-mana. Hampir

semua ada like-nya. Sedikit fakta

sekarang Ronstein menyebut like button itu sebagai kilatan kesenangan palsu.

Ini akan nyambung kenapa kita sering membahas sosial media dan perlu membahas sosial media. Bagaimana itu mempengaruhi

sosial media. Bagaimana itu mempengaruhi kita semua. Kita harus mulai dari

kita semua. Kita harus mulai dari awalnya. Karena kita semua sekarang

awalnya. Karena kita semua sekarang sudah tahu tentang tombol like, kita perlu tahu nabi penciptanya siapa?

Justin Rosensteck. Dia saat ini katanya memasang parental control HP-nya supaya enggak bisa download aplikasi baru si anaknya. Dia memblokir Snapchat dari

anaknya. Dia memblokir Snapchat dari hidupnya. Bahkan menyebutnya itu sama

hidupnya. Bahkan menyebutnya itu sama dengan heroin. Bahkan dia enggak manage

dengan heroin. Bahkan dia enggak manage akun Facebook-nya sendiri. Diserahkan

pada coatornya Leh Perlman. Soalnya

katanya susah menghentikan diri dari ngecek-ngecek, ngintip-ngintip. Mungkin

ngecek-ngecek, ngintip-ngintip. Mungkin pengalaman sama yang dengan kita alami ya para pemakai sosial media. Bedanya

kita cuman makai dia yang mencipta.

Kalau yang mencipta aja kayak gitu pasti ada sesuatu deh. Dan karena dia yang melahirkan itu. Ada tokoh lain cukup

melahirkan itu. Ada tokoh lain cukup terkenal. Steve Job cukup terkenal. Jadi

terkenal. Steve Job cukup terkenal. Jadi

itu yang dikatakan nabi lagi itu nabi dunia modern. Steve Job. Step Job

dunia modern. Steve Job. Step Job

melarang anaknya untuk pakai iPad yang dia sendiri ciptakan. Kok iso gelaga Stepob makan malam tanpa gadget?

Peraturannya seperti itu. Sekolah paling

LED Silicon Valley tempat anak-anak karyawan Apple, Google, eBay melarang gadget untuk anak di bawah 11 tahun.

Mereka diajarkan justru meracut, masak, gokart, mungkin gelut sedikit-sedikit tapi tidak gadget. Kenapa ya? Untuk

pikiran yang kritis perlu mempertanyakan itu. Ada lagi nih seorang tokoh

itu. Ada lagi nih seorang tokoh mantan VIP Vice Presiden user Grutth Tugas dia bagaimana agar usernya di Facebook itu bisa tumbuh semakin banyak.

Ini namanya agak susah ini. Camat Paliha

Pitia sampai ngeces ngomongnya. Dia mengaku ke mahasiswa Stanford bahwa dia merasa punya rasa bersalah yang luar biasa.

Feedback loop dopamen jangka pendek yang diciptakan sedang menghancurkan cara kerja masyarakat yang bilang dia loh VIP Facebook buan saya. Contoh nyata yang

dia tunjuk kasus tentang WhatsApp Hooka sampai ada seorang anak terbunuh dan dia secara spesifik melarang anak-anaknya pakai sosial media. Ini yang bikin,

ingat yang bikin itu semua. Dan sekarang

sudah ada data masuk bahwa anak-anak yang makai sosial media minimal 3 jam sehari itu punya tendensi si depresi sampai bunuh diri itu sampai 27%. Ini

fakta-fakta yang perlu kita perhatikan.

Kalau yang bikin sendiri aja punya sikap seperti itu, kok kita enggak pembuat heroin, mungkin enggak akan makan heroinnya, tapi dijual untuk orang lain makai obatnya. Saya takut kita pada

makai obatnya. Saya takut kita pada posisi itu. Kita makan sesuatu tanpa

posisi itu. Kita makan sesuatu tanpa tahu bahwa itu racun atau tidak. Mari

kita bahas di segmen berikutnya.

Mari kita bahas sejarah sedikit tentang sosial media. Apakah dia diciptakan oleh

sosial media. Apakah dia diciptakan oleh iblis dajal untuk menghancurkan manusia ataukah tidak sengajaan belok di tengah jalan yang pembuatnya sendiri enggak mengira bahwa efeknya seperti itu. Kita

harus punya pandangan objektif tentang itu. Mudah menghakimi. Karena memang

itu. Mudah menghakimi. Karena memang

berpikir itu berat. Tapi kalau cari mudah jangan di sini kita cari beratnya.

Mari kita bahas, kita lihat sejarahnya seperti apa agar kita bisa tahu handle-nya gimana. Untuk teman-teman

handle-nya gimana. Untuk teman-teman Gensi Noel juga ya belum lahir waktu itu. Facebook itu mungkin percobaan

itu. Facebook itu mungkin percobaan sosial media ke yang 20 lebih. Dulu yang

populer ada 60 degrees, ada PES, ada Friendster, ada MySpace. MySpace itu

mulai besar. Jadi bayangnya ginilah, setiap orang bisa meng-customize website-nya sendiri. satu page-nya punya

website-nya sendiri. satu page-nya punya dia sendiri di bisa naruh sendiri di situ. Jadi dia bisa meletakkan

situ. Jadi dia bisa meletakkan karakternya di situ sempat ramai.

Tujuannya sederhana, bikin profile, connect sama teman, mengekspresikan dirinya. Waktu itu MySpace Booming

dirinya. Waktu itu MySpace Booming sampai menjadi website paling dikunjungi di dunia. Setelah itu ramailah muncul

di dunia. Setelah itu ramailah muncul Facebook 2004 kalau enggak salah Facebook. Bedanya gini, dia dimulainya

Facebook. Bedanya gini, dia dimulainya dari lingkaran kecil dari universitasnya sendiri pakai identitas asli, pakai fit-nya sederhana, kronologis. Siapa

posting kelihatan yo urutan kronologi saja. Dan kalau enggak salah saya dulu

saja. Dan kalau enggak salah saya dulu pernah dengar bahwa salah satu breakthrough-nya adalah ketika Max Zuckerbug nulisin status. Statusnya

apakah single, pacaran atau complicated.

Langsung dapat reception luar biasa, growth-nya luar biasa, terus langsung menjadi salah satu sosial media terbesar di dunia. Satu titik dia melewati

di dunia. Satu titik dia melewati MySpace besarnya. Dan dia mengaku

MySpace besarnya. Dan dia mengaku sendiri bahwa ketika sebuah platform sudah besar, dia perlu menemukan cara untuk monetize-nya. Dan di sini titik

untuk monetize-nya. Dan di sini titik kuncinya katanya dia terinspirasi oleh Google. Dan kalimatnya sendiri Google

Google. Dan kalimatnya sendiri Google itu bisa berbuat baik tanpa harus menyusahkan penggunanya. Ada kalimat

menyusahkan penggunanya. Ada kalimat seperti itu sehingga dia mencoba bagaimana ya caranya model bisnis Google bisa diadopsi di Facebook, yaitu jualan

iklan. Google sejarah yang lain ya. ini

iklan. Google sejarah yang lain ya. ini

karena bukan sosial media kita enggak dalam-dalam di situ. Tapi Google juga bisa mengalahkan Altavista, ada Lacos, Yahoo dan seterusnya. Kemudian dia

menjual iklannya dengan cara yang cerdas. Nah, ini yang mau dicontoh sama

cerdas. Nah, ini yang mau dicontoh sama Facebook. Bagaimana aku bisa jualan

Facebook. Bagaimana aku bisa jualan cerdas? Itu gini. Kemudian karena dia

cerdas? Itu gini. Kemudian karena dia titiknya adalah gimana jualan iklan.

Artinya semakin banyak orang lihat buka platformnya semakin banyak iklan yang akan bisa dilihat. Jadi harus dinaikin nih usernya, harus diseringin nih masuk

ke platformnya. Jadi memang ada insentif

ke platformnya. Jadi memang ada insentif langsung untuk membuat orang adiksi kepada sosial media karena itu memang jualan awalnya lewat iklan tersebut.

Tombol like dimunculkan tahun 2009. Itu

titik awal titik baliknya di mana postingnya tidak lagi kronologis. Yang

muncul di atas bisa postingan kemarin kalau dia ramai, kalau dia menghasilkan banyak view. Jadi memang algoritmanya

banyak view. Jadi memang algoritmanya dituning untuk bagaimana dia membuat pos yang bisa menghasilkan view lebih banyak itu bisa dilihat banyak orang sehingga semakin banyak orang bisa tertarik untuk

datang ke platformnya ya karena memang itu titik duitnya di situ dan kemudian berkembang teknologinya, berkembang caranya untuk bagaimana membuat orang semakin sering membuka. 2010

itu tombol like itu digunakan menjadi alat pelacak. Facebook itu tidak hanya

alat pelacak. Facebook itu tidak hanya di dalam tombol like-nya itu 2009 2010 itu bisa diembet bisa ditaruh di website lain. Jadi website lainnya bisa nge-like

lain. Jadi website lainnya bisa nge-like gitu. Nah, itu jadi alat pelacak di luar

gitu. Nah, itu jadi alat pelacak di luar Facebook sendiri untuk bisa mengetahui target iklannya kayak apa, untuk bisa mengetahui profile usernya kayak apa.

Dan di sinilah momen platform berhenti menunjukkan yang terbaru dan mulai menunjukkan mana yang paling adiktif.

dari sudut pandang bisnis enggak masalah karena memang yang dibutuhkan itu semakin banyak view, semakin banyak iklan yang bisa ditunjukkan berarti duitnya semakin banyak. model bisnisnya

memang seperti itu. Tapi kemudian ini dikawinkan dengan sifat manusia. Karena

manusia itu lebih terdorong untuk melihat pada hal-hal yang kontroversial yang dalam tanda petik mengundang kemarahan energinya besar itu sehingga

otomatis pos-pos ini karena dihitung oleh algoritme pos-pos yang menghasilkan kemarahan ini jadi naik menghasilkan banyak like. ini efeknya bisa jauh lebih

banyak like. ini efeknya bisa jauh lebih besar daripada hanya sekejar mengubah feed dari yang kita lihat.

Nanti kita bahas di segmen berikutnya.

Tapi yang perlu kita garis bawahi di sini adalah kemudian bagaimana titik kemarahan publik itu menjadi komoditas.

Semakin marah, semakin orang buai inin pada sebuah isu dan ada musuhnya itu jadi tempat luar biasa untuk hope karena tidak ada satu manusia pun yang pengin kalah dari orang lain. Nalurinya kayak

gitu. naluri naturalnya kayak gitu.

Enggak mau kalah aku. Pokok itu. Masuk

pada sebuah isu kontroversial, debat dan seterusnya. Sampai ada law itu apa

seterusnya. Sampai ada law itu apa mengatakan gini, kalau perdebatan cukup panjang nanti suatu titik akan mention Nazi pasti. Saya baca juga enggak tapi

Nazi pasti. Saya baca juga enggak tapi itu hasil dari penelitian itu. Kalau

diskusi panjang ribut lama-lama nyenggol nazi pasti enggak tahu kenapa. Kalau

saya melihat cuman gini aja saling mendemonasi satu sama lain. Kamu kamu

jahat, kamu jahat, kamu jahat. sampai

titik jahat representasinya sampai ke Nazi pokoknya karena Nazi dilihat sebagai salah satu representasi jahat yang tidak diperdebatkan artinya strategi ini berhasil untuk

membuat orang engage pada platform. Top

2017 ada dokumen internal ketika ada emojinya enggak cuman like, tapi reaction-nya macam-macam. Reaksi yang

reaction-nya macam-macam. Reaksi yang paling lima kali lipat lebih besar bobotnya dalam algoritme daripada like biasa. Kan itu kalau kita ngeklik emoji

biasa. Kan itu kalau kita ngeklik emoji itu ada di belakang dihitung nilainya berapa ya untuk naikin fit itu tadi.

Ternyata emoji marah itu nilainya lima kali lipat daripada emoji like. Jadi

secara platform memang sudah mengarahkan nih. Jadi kalau orang marah ditunjukin

nih. Jadi kalau orang marah ditunjukin ke orang lain lagi, orang marah ditunjukin ke orang lain lagi. Jadi

penyebaran marah itu jauh lebih cepat berdasarkan algoritma daripada algoritma yang like yang menginspirasi misalnya ya. Itu inkremen kecil. Kalau dari sudut

ya. Itu inkremen kecil. Kalau dari sudut pandang platform, oh penemuan ya ternyata gini berhasil ya dilakukan aja karena meningkatkan profit. Tapi itu

merusak society. Bukan saya yang ngomong itu penelitian tahun 2019 tapi itu penelitian internal dari Facebook sendiri. Terus kemudian dibawa keluar

sendiri. Terus kemudian dibawa keluar tahun 2022 oleh salah satu se levelnya, oleh salah satu pekerjanya di sana.

Ketika dia keluar dari Facebook, penelitian itu dibawa keluar juga dan di-publish ke dunia. Penelitian di dalam mengatakan bahwa Facebook dengan

mekanismenya, model bisnisnya kayak gini ini ikut menghancurkan society, ikut merusak society. Cara untuk tidak ikut

merusak society. Cara untuk tidak ikut menghancurkan society adalah mengubah model bisnis. Dan pilihan Facebook saat

model bisnis. Dan pilihan Facebook saat itu memang tidak mengubah model bisnis.

Kayaknya pilihannya adalah wis yuk nyemplung wae. Udah ikut aja dalam

nyemplung wae. Udah ikut aja dalam affair dunia nyata. Salah satunya dengan skandal Cambridge Analytica di mana data-data Facebook digunakan untuk

membantu memenangkan eh seorang politisi ketika sedang bertanding. Jadi dipakai

sampai sekarang ya. Sekarang kalau Anda lihat Bzer itu turunan dari situ. Dari

20 pemilihan Brexit termasuk waktu itu eh pemilihan presiden Amerika termasuk dari seluruh dunia pemilihan 20 yang

diikuti oleh Cambridge Analytika 19 menang hanya sekali kalah. Jadi sukses

rate-nya sangat tinggi karena mereka mendapatkan data yang luar biasa. Mereka

tahu kata kunci apa yang bisa menggeser.

Kalau saya enggak salah ingat dulu maga itu juga American Greatic G itu juga didasarkan dari melihat profile di Facebook bagaimana ya mendapatkan lebih

dari 50% dan dari data itu maka akan mendapatkan respon yang bagus gitu. Jadi

betapa sosial media ini mengambil semua data kita membuat kita marah. mereka

yang ambil keuntungan dan kemudian menggunakan data itu untuk mengatur arah hidup kita tanpa kita sadar. Dangerous.

Dangerous. Jadi ini urusan mainan senyemplung apa kita karena ada sisi positifnya juga. Jangan salah membagi

positifnya juga. Jangan salah membagi ilmu, ngobrol ketemu dengan orang lain yang satu frekuensi kemudian membentuk komunitas. Itu sisi-sisi positif dari

komunitas. Itu sisi-sisi positif dari sosial media juga mungkin kurang memuaskan untuk orang-orang yang terbiasa untuk marah, terbiasa untuk

judgement. terbiasa untuk senang main di

judgement. terbiasa untuk senang main di hierarki tinggi rendahnya di sosial media. Mungkin itu memang endemik cocok

media. Mungkin itu memang endemik cocok buat orang-orang seperti itu. Tapi kita

lihat sendiri bahwa para pembuatnya sendiri itu mengadvokasi anaknya untuk tidak terlalu engage dengan sosial media. Kita harus memperhatikan itu dan

media. Kita harus memperhatikan itu dan kita harus objektif. Ini bukan salah senang atau tidak senang dengan sosial media. Saya enggak ngomong sosial media

media. Saya enggak ngomong sosial media pasti negatif. Saya bilang ada

pasti negatif. Saya bilang ada negatifnya dan tidak sedikit negatifnya.

Makanya kita perlu bisa menyisir, ngambil baiknya dan jangan sampai terpengaruh buruknya. Itu memang

terpengaruh buruknya. Itu memang mekanismenya gimana. Nah, untuk bisa ke

mekanismenya gimana. Nah, untuk bisa ke situ kita perlu membahas detail tentang manusia itu gimana efeknya dengan kriteria atau like tadi. Itu like itu kriteria like, follow, subscribe itu

kriteria dari sebuah ekosistem.

Apa itu kriteria? Nanti kita bahas dibeu berikutnya. Kata kuncinya di sini, kita

berikutnya. Kata kuncinya di sini, kita tidak akan bisa menyuruh meminta dengan demo sebesar apapun. Karena kalau demo pun yang suka juga akan counter demo.

Tapi kita enggak akan bisa memaksa eh sosial media itu mengubah perilakunya.

Karena hanya dengan menjual perhatianmu kepada pengiklan, tahun 2022, Google dan Meta menghasilkan total 341 juta dolar

hanya dari iklan saja. Artinya itu duit sangat besar. Artinya pertahanannya ada

sangat besar. Artinya pertahanannya ada di diri kita sendiri. Dan untuk bertahan kita harus paham mekanismenya seperti apa. Karena ketika kita paham

apa. Karena ketika kita paham mekanismenya, kita akan paham kemungkinan ancaman berikutnya.

Kita bahas di sesi berikutnya.

Lagi-lagi first principle thinking. Kita

perlu belajar dari awal dulu terus sampai kemudian gimana masukin sosial media dan efeknya apa, bagaimana itu bisa mengefek mekanisme-mekaniknya tuh seperti apa, resiko ke depan gimana.

Pertama, kita harus mulai dari dasar dulu. Ada yang perlu kita clearkan dulu

dulu. Ada yang perlu kita clearkan dulu konsepnya pada penjelasan ini. Yo,

tadinya saya mau ngomong agar tidak bisa ditist, tapi pasti ada cara untuk mentwist ya. Tapi yang niat belajar

mentwist ya. Tapi yang niat belajar mungor. Jadi kita gini

mungor. Jadi kita gini mengkategorikannya. Human manusia itu

mengkategorikannya. Human manusia itu selalu hidup dalam sebuah lingkungan.

Jadi pembedaannya garisnya adalah aku dan nonaku. Non aku itu bisa alam, bisa

dan nonaku. Non aku itu bisa alam, bisa manusia lain, bisa binatang lain, pokoknya aku dan non aku. Jadi

interaksinya itu antara aku dan non aku.

Banyak aku itu menjadi satu society kan gitu. Oke, kita mulai dari awal.

gitu. Oke, kita mulai dari awal.

Manusia.

Manusia manusia tadi seperti tadi saya bilang hidup di dalam sebuah lingkungan.

Aku dan bukan aku. Kalau Anda lihat di sini ada gradasinya di sini. Mana yang dominan?

Alam dan manusia. Maksudnya gini, yang di area sini itu adalah manusia aku.

Lingkungannya mayoritas alam.

Contohnya hewan sekitarnya adalah alam.

Manusia sekitarnya adalah alam. Jadi

masalah yang harus dihadapi adalah alam.

Di sinilah adaptasi terjadi. Bagaimana

manusia beradaptasi terhadap alam?

Menghadapi hujan, menghadapi musim dingin, menghadapi musim kemarau, bagaimana mencari makanan yang stabil dan seterusnya. Itu yang membuat

dan seterusnya. Itu yang membuat kriteria alam. Ketika alam buat

kriteria alam. Ketika alam buat kriteria, kriterianya sangat sederhana.

Siapa yang bisa hidup paling lama?

Kriterianya sederhana, hanya survival.

Dan itu yang kriteria yang dipakai oleh hampir semua hewan setahu saya kalau pakai teori evolusi ya yang paling hidup lama itu yang akan punya banyak keturunan. Bagaimana membuktikan bahwa

keturunan. Bagaimana membuktikan bahwa dia hidup paling lama adalah dengan membuktikan bahwa dirinya paling kuat di antara yang lain. Jadi hierarkinya di dunia itu dunia yang kriterianya adalah

survival bertahan hidup kriterianya adalah siapa yang paling fit, siapa yang paling cocok dengan alamnya. Gimana sih

cara apa melihat sebuah makhluk itu cocok dengan alamnya? Itu kalau cari makan mudah. Cari makan mudah. Gimana

makan mudah. Cari makan mudah. Gimana

kita bisa mengetahui bahwa seekor hewan itu cari makannya mudah? Itu kalau dia punya banyak sisa tenaga untuk melakukan hal-hal enggak penting. Gini maksudnya.

Anda tentu melihat ada contoh powerf.

Powerfish itu kalau nyari gini, kalau nyari pasangan itu kan bikinbikin bentuk geometri dasar laut. Terus ada kalau pinguin ngumpulin batu-batu. Terus ada

burung yang bikin sarang paling indah.

Sebenarnya mau ditunjukkan adalah aku udah enggak masalah kok cari makan. Aku

bisa bikin barang enggak penting kayak gini nih untuk narik kamu. Sehingga

pasangannya itu akan ikut terjamin dalam tent makanannya lah gennya. Oh, ini

gennya gen cocok nih sama alamnya. Nah,

kriterianya di situ sehingga mereka berlomba-lomba untuk beradaptasi dengan sekitarnya agar crate survival-nya semakin tinggi.

Kriteria di sini tadi di ketika dominan alam garisnya adalah survival. Bagaimana yang paling

survival. Bagaimana yang paling bertahan? Nah, tapi ke arah sini ketika

bertahan? Nah, tapi ke arah sini ketika manusia sudah menjadi bagian penting dari lingkungannya semakin geser nih kriterianya. Enggak cuman survival.

kriterianya. Enggak cuman survival.

Karena survival sudah mudah buat yang lain. Manusia ada secara batiniah. Itu

lain. Manusia ada secara batiniah. Itu

punya kebutuhan lain. Karena kita

basisnya adalah masuk makhluk sosial.

Gimana kita bisa nalur kuliahnya makhluk sosial? Karena yang bertahan survive

sosial? Karena yang bertahan survive dulu adalah yang punya naluri sosial berkelompok sehingga mereka bisa bertahan lebih lama menghadapi

perkembangan waktu melewati zaman waktu ini. Nah, ketika sudah ada makhluk

ini. Nah, ketika sudah ada makhluk sosial muncullah naluri-naluri itu.

Naluri pengin terhubung, naluri diakui.

Karena ini bukan alam lagi yang memberikan kriteria. yang memberikan

memberikan kriteria. yang memberikan adalah orang lain, manusia lain yang di luar aku. Jadi kalau terhubung itu

luar aku. Jadi kalau terhubung itu manusia lain harus mau contoh perubahan perilakunya. Kalau Anda mengikuti

perilakunya. Kalau Anda mengikuti mas-mas dari awal, kita sering bahas bagaimana Noel bertanya yang dihubungkan dengan pasangannya. Bagaimana mencari

dengan pasangannya. Bagaimana mencari pasangannya perilakunya akan berubah sesuai dengan kriteria yang dibikin oleh pasangannya. Kalau pasangannya yang

pasangannya. Kalau pasangannya yang dikejar itu senang cowok yang klimis, Noel akan klimis. Kalau kriteria paling tinggi yang diterima oleh pacarnya

adalah pandai, Noel akan belajar minimal berlagak pandai. Karena itu kriteria

berlagak pandai. Karena itu kriteria yang disediakan oleh yang memilih untuk yang dipilih. Ini ngebel enggak? nih

yang dipilih. Ini ngebel enggak? nih

yang memberikan kriteria yang milih gu bukan yang dipilih. Yang dipilih akan mengubah perilakunya agar masuk kriteria oleh yang dipilih. Nah, inilah terhubung

ini akan menghasilkan kriteria baru nih yang ini. Kemudian kalau pemilu kita

yang ini. Kemudian kalau pemilu kita lupa yang bikin kriteria itu yang milih bukan yang dipilih. Rakyat kemudian

dipercaya bahwa dia tidak berdaya.

Padahal kalau secara alam itu kriterianya tergantung yang milih bukan yang dipilih. Ini efek dari nalui

yang dipilih. Ini efek dari nalui keterhubungan ini tadi. Terus ada ada lagi pengin diakui.

Pengin diakui itu naluri dasar tidak hanya manusia. Kalau enggak salah ada

hanya manusia. Kalau enggak salah ada hormon namanya serotonin. Itu kalau

ditrek sampai ke krustasean ee sampai ke kepiting-kepitingan sampai yang cabang makhluk itu misahnya jauh lama. bisa

jutaan tahun yang lalu lah pisahnya perkembangannya itu ternyata punya mekanisme yang sama untuk ngetrek diakui. Itu di manusia ngetracknya pakai

diakui. Itu di manusia ngetracknya pakai serotonin. Contoh sederhananya diakui

serotonin. Contoh sederhananya diakui itu ketika kalau misalnya kamu apel pakai jalan kaki terus kemudian bapaknya

enggak membukain gerbang.

Noel kan tidak bodoh. Dia pandai

kemudian besok pinjam motornya Idan datang apa apel pakai motor. Nah,

pintunya dibukakan. Ini sebenarnya

sinyal bahwa dia diakui kan gitu. Nah,

ini diterjemahkan kemudian menjadi kasta. Dalam tanda petik kasta ada

kasta. Dalam tanda petik kasta ada strata sosial. Kamu diakui seberapa sih

strata sosial. Kamu diakui seberapa sih oleh masyarakatmu? kamu diakui seberapa

oleh masyarakatmu? kamu diakui seberapa sih oleh orang-orang di sekitar di lingkunganmu. Nah, ini naluri dasar yang

lingkunganmu. Nah, ini naluri dasar yang manusia tidak bisa eh dasar yang susah untuk dibreak, dipecahkan. Kalau Anda

melihat ajaran agama, ajaran kultur itu semua pengin memecah itu agar kita tidak tergantung pada pengakuan, kita tidak tergantung pada yang di luar, tapi tergantung pada pencipta atau terhor

tergantung pada diri. Itu pembahasan

lain agak belok sedikit. Tapi intinya

ada faktor itu bahwa pengin terhubung dengan yang lain dan pengin diakui.

Problemnya diakui itu selalu butuh diakui ini selalu butuh kriteria.

Kriterianya gimana sih? Contoh, kalau

kamu di lingkungan universitas, kamu salehnya kayak apa, tapi lulusan SMA tetap enggak akan diakui. Kenapa? Karena

pada lingkungan akademis kriteria yang dipakai untuk mengakui orang lain adalah tingkatan itu tadi kastanya S1, S2, S3 dan seterusnya. Ini pak punya fungsi

dan seterusnya. Ini pak punya fungsi sendiri ini. Begitu juga ke lingkungan

sendiri ini. Begitu juga ke lingkungan spiritual misalnya kamu mau profesor datang ke kiai tetap jadi murid pengakuannya belum dapat. Kenapa? Karena

kriteria di lingkungan ini berbeda.

Begitu juga misalnya pada kriterianya kekayaan. Kamu mau profesor kayak apa?

kekayaan. Kamu mau profesor kayak apa?

mau pandainya kayak apa di lingkungan kekayaan tidak akan dipakai karena yang dilihat adalah kriterianya siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih tidak kaya.

kriteria di dunia politik misalnya bukan urusan pandai siapa yang paling bisa mengumpulkan masa paling banyak dicoblos paling banyak dipercaya oleh masyarakat paling banyak sehingga dia melakukan segala cara termasuk pencitraan termasuk

apa dan segala macam untuk dipercaya oleh orang banyak termasuk menggunakan buzer whatever itu untuk dipercaya orang banyak karena kriteria kemenangan dalam demokrasi adalah siapa yang divoting

paling banyak si lihat perilaku manusia itu berubah berdasarkan kriteria di mana dia hidup Dan kriteria ini gini, kalau kriterianya

dibuat manusia, itu artinya manusia juga bisa memilih kriteria yang mana untuk dia hidup. Tidak harus selalu ikut yang

dia hidup. Tidak harus selalu ikut yang ada. Aku enggak peduli sama kriteria

ada. Aku enggak peduli sama kriteria akademis. Pokoknya aku mau pakai

akademis. Pokoknya aku mau pakai kriteria manfaat. Aku ngelihat orang

kriteria manfaat. Aku ngelihat orang tidak penting betapa tinggi S2-nya, S4-nya, S6-nya, seberapa, tapi dia pernah ikut kerja bakti enggak di kampungku? Boleh. Everyone, every

kampungku? Boleh. Everyone, every

society, sekumpulan manusia boleh punya kriteria yang berbeda-beda. Dan setiap

kriteria itu menghasilkan perilaku yang berbeda dan menghasilkan orang yang di atas yang berbeda. Pada kriteria

kepandaian, orang yang paling atas adalah yang paling pandai. Gimana

caranya? Karena pandai tidak bisa dibeli, dia harus belajar banyak.

Contohnya gitu. Kalau kriteria saleh misalnya, ya, dia harus mendekatkan diri pada Tuhan. Tidak bisa dibeli pakai duit

pada Tuhan. Tidak bisa dibeli pakai duit ya.

nya gitu. Nah, kalau kriteria kekayaan, gimana caranya dia pakai kaya? Yang

semakin kaya akan semakin dihormati.

Problemnya adalah kemudian banyak cara untuk menjadi kaya dari merampok, korupsi sampai memang beneran usaha.

Tapi kalau hierarkinya masuk ke kekayaan saja jadi enggak penting. Pokoknya yang

kaya saya hormati. Saya enggak tahu apakah ini terjadi di sini. Anda melihat

enggak ada koruptor tetap dihormati. Ada

apa namanya orang yang kita tahu bersama bahwa dia mendapatkan duitnya enggak masuk akal kok bisa kayak gitu tapi kaya raya tapi tetap dihormati di lingkungannya. Iya. Karena yang berlaku

lingkungannya. Iya. Karena yang berlaku utama pada lingkungan itu adalah hierarki kekayaan yang tidak peduli sumbernya dari mana. Itu itu wajar. Saya

enggak ngomong itu benar ya. Saya

ngomong itu wajar karena kita bisa melihat sendiri di lingkungan sekitar kita. Lihat

kita. Lihat bagaimana manusia punya kebutuhan.

dia butuh diakui, butuh terubung dan butuh survival. Ini kalau sekarang

butuh survival. Ini kalau sekarang karena survival sudah tinggal apa pesan Gofood sudah ada ya misalnya jadi konsentrasinya lebih pada terubung dan paling sekarang dunia modern itu paling

gede adalah pengin diakuinya tergantung dia pakai kriteria yang mana. Dia akan

punya perilaku pola perilaku yang berbeda. Dia akan punya aksi yang

berbeda. Dia akan punya aksi yang berbeda sehingga menghasilkan pola perilaku yang berbeda. Oke, kita sudah tahu bagaimana kriteria digunakan untuk menilai mana yang tinggi, mana enggak

diakui atau tidak diakui seberapa. Dan

ini tidak bisa diop karena diakui adalah naluri dasar manusia. Akan sangat susah lepas dari sini. Walaupun ada yang pencapaiannya sudah dewasa dan enggak peduli lagi. Aku hanya butuh pengakuan

peduli lagi. Aku hanya butuh pengakuan Tuhan. Ada ada doanya, ada ceritanya

Tuhan. Ada ada doanya, ada ceritanya kayak gitu. Karena dia hanya Tuhan yang

kayak gitu. Karena dia hanya Tuhan yang apa jadi saksi hidupku. Ada yang kayak gitu sampai situ dia enggak peduli apa pengakuan orang lain. Nah, itu dia mengambil kriteria yang berbeda dalam

hidupnya. Harus harus garis bawahi. Ini

hidupnya. Harus harus garis bawahi. Ini

manusia punya kebebasan memilih.

Problemnya adalah tidak semua manusia punya kedewasaan berpikir untuk bisa memilih.

Dunia manusia itu sama absolutnya dengan dunia alam. Kalau dunia alam itu

dunia alam. Kalau dunia alam itu absolut. Kita enggak bisa milih. Hujan

absolut. Kita enggak bisa milih. Hujan

ya hujan, badai yo badai. Enggak bisa

milih. Kita enggak mau badai aku di sini enggak bisa. Kalau waktunya datatang

enggak bisa. Kalau waktunya datatang badai ya badai itu absolut. Tapi kalau

dunia kriteria yang dibikin oleh manusia, manusia punya pilihan. yang

kadang manusia lupa bahwa dia bisa memilih karena dia butuh diakui di sekitarnya. Dia akan mengikuti apa yang

sekitarnya. Dia akan mengikuti apa yang diikuti oleh sekitarnya. Kalau wali-wali

itu bikin lagu tombok ati itu ada satu kalimatnya yang wong saleh kumpulono.

Sebabnya kenapa? Ketika dia masuk pada kumpulan orang saleh, kriteria diakui oleh sekitarnya itu akan berubah.

Bukan lagi kekayaan, tapi ya kriteria apa untuk menjadi saleh itu? Ini di

sinilah yang namanya kebebasan sebenarnya.

Predm itu di sini kemampuan untuk enggak peduli sama kriteria-kriteria tak pilih sendiri. Dan sayangnya tidak mudah

sendiri. Dan sayangnya tidak mudah sampai ke situ. Tapi saat ini perlu diingat aja bahwa itu pilihan. Nah,

sekarang sosial media.

Sosial media.

Kita tadi sudah cerita tentang sosial media. Kriteria apa sih yang diberikan?

media. Kriteria apa sih yang diberikan?

Sosial media memberi pengakuan kepada yang like-nya banyak, kepada yang subscribernya banyak, kepada yang followernya banyak. Memang gitu. Coba

followernya banyak. Memang gitu. Coba

kita contohkan apakah kriteria itu masuk ke kepala kita? Ya, kalau Anda punya akun kemudian didm oleh dua orang, yang satu followernya 10, yang satu followernya sejuta, kira-kira mana yang

direspon? Kalau jawaban Anda sejuta dulu

direspon? Kalau jawaban Anda sejuta dulu yang direspon make sense loh. Coba

dirack ke belakang. Kenapa yang sejuta duluan? Kenapa kamu menganggap sejuta

duluan? Kenapa kamu menganggap sejuta itu lebih pantas direspon duluan daripada yang followernya 10? Nah,

artinya kita sudah masuk pada sebuah mekanisme, sebuah kriteria. Kita

membedakan orang yang pantas diakui dan tidak berdasarkan follower. Lagi-lagi

seperti kriteria kekayaan itu tadi. Kita

tidak peduli gimana dia dapat banyak follower. Apakah dari bikin fitnah,

follower. Apakah dari bikin fitnah, apakah dari asal ikut ramai aja terus followernya semakin banyak, apakah bikin konten yang bikin orang lain marah

sehingga diikuti dan dimonitor oleh orang lain. Ini bukunya dengan chapter

orang lain. Ini bukunya dengan chapter yang sebelumnya.

Kita kan ngomong bahwa kemarahan itu lima kali dihargai lebih daripada like biasa. Artinya akun-akun yang bisa

biasa. Artinya akun-akun yang bisa membuat kita mayoritas ya enggak semua ya membuat kita pengin engage terus difollow. Nah, padahal itu kriteria yang

difollow. Nah, padahal itu kriteria yang kita lihat melihat tingginya orang sama rendahnya orang. Di situlah dangernya

rendahnya orang. Di situlah dangernya karena setiap kriteria tertentu itu menghasilkan hierarki yang berbeda.

Kenapa meritokrasi penting?

Kadang ada konsep kita sering ngomong meritokrasi berdasarkan kompetensi.

Karena pada hierarki merotokrasi kita akan mendapatkan para pemimpin yang cendekiawan, para pemimpin yang memang capable.

Meritokrasi artinya sesederhana itu sebenarnya yang naik hierarki yang lebih diakui adalah memang orang-orang yang kompeten. Problemnya adalah gimana

kompeten. Problemnya adalah gimana melihat kompetensinya. Kalau balik ke

melihat kompetensinya. Kalau balik ke sosial media, lagi-lagi kompetensi disamakan dengan popularitas. Itu

problemnya. Karena tidak semua orang bisa ngelihat kompetensi orang lain.

Mohon maaf. Ini yang yang disalah pahami. Kamu dengan mudah ngomong,

pahami. Kamu dengan mudah ngomong, "Enggak, enggak kompeten lebih kompeten yang itu." Wait, wait. Kamu pernah

yang itu." Wait, wait. Kamu pernah

berpikir apakah kamu punya kapabilitasnya untuk menilai mana yang lebih kompeten atau tidak pada sebuah bidang tertentu? Kalau ada 10 dokter

bidang tertentu? Kalau ada 10 dokter kamu datangi, bisa enggak kamu ngomong itu dokter yang lebih canggih daripada dokter? Itu hanya dokter yang bisa

dokter? Itu hanya dokter yang bisa menilai dokter. Bahkan ini juga

menilai dokter. Bahkan ini juga dicapture, ditangkap dalam peribahasa Indonesia hanya wali yang bisa tahu wali. Itu peribahasa yang sering kita

wali. Itu peribahasa yang sering kita dengar dan itu dalam maksudnya. Karena

jangan keburu menilai orang kalau kamu tidak punya kapabilitasnya untuk menilai. Contohnya sederhana gini, coba

menilai. Contohnya sederhana gini, coba ya lihat permainan catur itu pokoknya mindah bidak satu ke tempat yang lain.

Mindah ke tempat yang lain. Kalau yang

main ahli, yang nonton ada ahli di situ, sebuah langkah bisa menghasilkan reaksi.

Woh, keren. Cerdas ini orangnya. Yang

tidak tahu catur. Cerdas apanya?

Sama-sama mindah kok. Apa bedanya sih?

kamu tidak paham kompleksitasnya, tidak paham indahnya memindah satu beda itu karena di belakangnya ada tujuan, ada strategi, dan seterusnya karena kita tidak masuk, tidak paham dan tidak

expert di sistem itu. Jadi, tidak semua orang bisa menilai apapun. Tapi di

sosial media itu enggak penting. Kenapa?

Karena hierarkinya adalah yang penting ramai sehingga dia bisa naik hierarki tersebut. Apa yang terjadi pada sebuah

tersebut. Apa yang terjadi pada sebuah society? Popularitasnya adalah yang

society? Popularitasnya adalah yang paling penting. Ini akan menghasilkan

paling penting. Ini akan menghasilkan influencer. Enggak peduli sama truth,

influencer. Enggak peduli sama truth, enggak peduli sama deep thinking, enggak peduli sama kapabilitas. Yang penting

ramai karena ramai itu menguntungkan orangnya sudah didesain sama platformnya. Dengan sebuah society

platformnya. Dengan sebuah society hierarki yang berdasarkan popularitas, kita kehilangan kemampuan untuk melihat

mana yang ahli, mana yang tidak hilangnya kepakaran. kita akan susah

hilangnya kepakaran. kita akan susah untuk menentukan siapa yang pantas untuk memimpin kita semua karena urusannya popularitas bukan bup sehingga kita membuat tatanan yang

berbeda.

Karena hierarki ini, inilah yang akan membuat tatanan tersebut.

Ini dancernya untuk dunia entertainment, popularitas naik hierarki make sense.

Banyak orang tertarik kepadanya. Mak

sense and it's ok. Saya enggak ngomong bahwa hierarki popularitas perlu dihapus. Enggak masalah. hierarki

dihapus. Enggak masalah. hierarki

popularitas karena kamu menghibur banyak orang, kamu bermanfaat untuk banyak orang, bisa memberi kesenangan ke banyak orang, kamu populer, no problem. Karena

judgementnya satu langkah. Aku nonton,

dengerin suaranya enak, aku senangin.

Tapi untuk masalah yang kompleks, lihat kamu untuk memahami musik itu enggak perlu tahu gimana cara bikin musik. Bisa

nge-judge pakai enak atau enggak enak.

Tapi untuk ngejur bagus atau enggak bagus, kamu enggak bisa kayak gitu.

harus punya kapabilitasnya, harus punya pengetahuannya tentang cator untuk menilai dia jago catur atau enggak.

Begitu juga dengan pemimpin, begitu juga dengan politisi. Enggak bisa kita pakai

dengan politisi. Enggak bisa kita pakai popularitas karena kita tidak tahu gimana kompleksnya keputusan yang harus diambil oleh sebuah pemimpin. Terus

gimana caranya? Se nanti dulu. Inilah

sebabnya kenapa demokrasi waktu itu ditantang oleh Plato. Saya enggak setuju demokrasi. Kenapa? Karena coba bayangkan

demokrasi. Kenapa? Karena coba bayangkan kalau sebuah kapal oleng nahkodanya mati, apakah kita mau milih siapa aja untuk jadi nahkoda? Yang paling populer adalah orang yang paling lucu di situ

atau orang yang paling pintar bersosialisasi di situ. Dia bisa kita pilih bersama pakai demokrasi. Votingnya

paling banyak karena banyak orang yang suka sama dia. Tapi apakah dia punya kemampuan untuk menjadi nahkoda? Salah

milih kapalnya tenggelam semua.

Logik. Walaupun kita enggak bisa ngomongin salah demokrasi karena demokrasi memberi kesempatan pada semua orang untuk punya C suara pada jalannya sebuah negara. Gimana jalan tengahnya?

sebuah negara. Gimana jalan tengahnya?

Sepemahaman saya seharusnya jalan tengahnya adalah transisi. Saya agak

belok sedikit. Transisi gimana sih? Oke.

Tadinya para pemilih tidak paham siapa yang harus dipilih karena tidak bisa membedakan mana ide baik, mana ide buruk sehingga tidak bisa memilih dengan tepat. It's ok di awal-awal. Tapi

tepat. It's ok di awal-awal. Tapi

kemudian partai politik kan dibiayai sama negara seharusnya memberi pendidikan politik duitnya bukan untuk menggalang massa secara B. Karena

seharusnya karena mereka yang ahli dalam dunia politik dan ahli tentang ID ya mesti memberi pendidikan politik.

Pendidikan politik itu apa sih? Memberi

kemampuan kepada masyarakat untuk memilih mana ide bagus dan ide buruk berdasarkan kemampuan mereka. Nah, ini

kalau ini terjadi akan terjadi transisi yang jadinya pemilih karena hak. menjadi

pemilih karena mampu.

Apakah perlu seperti itu? Untuk hasil

yang kita harapkan bersama, standar kita harus naik. Ban suka enggak suka tetap

harus naik. Ban suka enggak suka tetap kepilih pemimpinnya tetap. Tapi apakah

outputnya oke? Nanti ada masalah lagi gini. Oke, yang terpilih pemimpin adalah

gini. Oke, yang terpilih pemimpin adalah bagus tapi pemimpinnya tidak mampu untuk mengkomunikasikan strateginya karena strateginya memang kompleks. Terus

kemudian masyarakat oh tidak percaya karena pandangannya buruk. Lagi-lagi ini

kegagalan kita untuk ini berhubungan juga dengan pendidikan, berhubungan juga dengan pendidikan formal maupun pendidikan politik atau maupun cara kita melatih generasi untuk mampu berpikir

kritis. Oke, masalahnya sekompleks itu.

kritis. Oke, masalahnya sekompleks itu.

Mohon maaf tapi monggo digambar sendiri.

Kalau yang ini tadi enak pakai cangkem, Noel sudah ampun-ampun gambar yang ini juga. Nah, ini gini sudah kita balik

juga. Nah, ini gini sudah kita balik lagi. Ini hierarki

lagi. Ini hierarki yang dibangun oleh manusia sendiri.

Kriterianya akan menghasilkan sebuah tatanan.

Problemnya adalah tatanan ini akan membentuk sebuah generasi yang punya perilaku tertentu dan ini akan balik ke

society lagi, balik ke manusianya lagi akan membentuk society.

Contohnya gini karena hierarkinya sudah berubah. Tolong lihat survei kalau

berubah. Tolong lihat survei kalau enggak salah tahun 2000 berapa gitu 2022 atau 2021. Cita-cita anak muda apa

atau 2021. Cita-cita anak muda apa sekarang? Karena anak kecil melihat

sekarang? Karena anak kecil melihat hierarki yang dia alami setiap hari adalah hierarki popularitas wakjar. Kalau kemudian cita-citanya

wakjar. Kalau kemudian cita-citanya pengin jadi influencer, pengin jadi contontre, saya enggak ngomong bahwa contonent kreator dan influencer itu buruk. Tapi kalau satu generasi

buruk. Tapi kalau satu generasi cita-citanya jadi itu semua, siapa yang kerja? Siapa yang jadi ekspert? Siapa

kerja? Siapa yang jadi ekspert? Siapa

yang jadi ahli? Gilang kita kepakaran karena kita melimit imajinasi dan mimpi generasi berikutnya. Itu ancaman luar

generasi berikutnya. Itu ancaman luar biasa. Itu dari survei itu hampir

biasa. Itu dari survei itu hampir seluruh dunia cita-cita nomor satu adalah menjadi populer kecuali sebuah negara. Saya enggak perlu nyebut namanya

negara. Saya enggak perlu nyebut namanya Cina. Kenapa? Karena sosial media yang

Cina. Kenapa? Karena sosial media yang paling populer yang namanya eh kalau di tempat yang lain namanya TikTok itu populer karena memang dopamin hack-nya luar biasa itu. Kamu bahkan untuk

melihat konten aja enggak perlu ngeklik.

Coba perhatikan, swipe aja langsung ngelihat konten. Saking mudahnya untuk

ngelihat konten. Saking mudahnya untuk mendapatkan dopamin itu diganti sama aplikasi internal mereka yang namanya duyin yang dikontrol oleh negara.

Seat-nya, FYP-nya diatur beda. Yang naik

hierarki adalah konten-konten saence.

Sehingga mimpi generasi mudanya pengin jadi scientist, pengin jadi astronaut, pengin jadi engineer dan seterusnya.

Generasi mudanya hanya diubah hanya karena bisa diubah mimpinya hanya karena algoritma yang berbeda.

Itu sudah terjadi dan kita sudah sudah merasakan grant-nya, kita sudah merasakan impact-nya kayak gini sudah

tidak mudah mencari ruang yang bisa ngobrol dan diskusi secara objektif.

Ingat, marah itu dinilai lima kali lipat lebih populer daripada hanya light. Jadi wajar

kalau mau naik hierarki marah-marah.

Oke, kita ngomong resiko. Kemudian

semoga gambarnya sudah cukup jelas polanya. Resikonya adalah arus informasi

polanya. Resikonya adalah arus informasi yang ada adalah bukan arus informasi yang fundamental. Arus informasinya

yang fundamental. Arus informasinya adalah arus informasi yang keluar dari kemarahan, yang keluar dari orang-orang yang pengin naik hierarki. bukan yang

pengin mencari kebenaran.

Mungkin saya akan dikritik, enggak kok kita pengin mencari kebenaran kok. Oke,

mencari kebenaran itu tidak hanya di sosial media, tapi melakukan riset beneran, mengumpulkan data, mencari kemungkinan cerita, dan seterusnya.

Karena konklusi itu berhubungan langsung dengan data. Kalau datamu hanya diambil

dengan data. Kalau datamu hanya diambil dari rumor, kamu bisa sangat mudah mendapatkan konklusi buruk walaupun informasi yang didapatkan hanyalah rumor dan tidak punya sumber primernya

misalnya gitu. Nah, karena kita tidak

misalnya gitu. Nah, karena kita tidak punya defense, tidak membangun defense, kita hadir pada sebuah generasi yang tidak peduli sumbernya dari mana, pokoknya itu bisa melegakan saya dan

kemudian itu bisa menjadi api besar, bisa menjadi platform dari saya menjadi hero. Masyarakat umum akan kesulitan

hero. Masyarakat umum akan kesulitan kemudian mencari mana yang benar, mana yang sumber primer. Karena kebanyakan

opini, saya enggak ngomong opini enggak boleh ya pada opini yang tidak grounded pada data.

Mungkin akan ada yang teriak, "Loh, saya berdasarkan data kok." Ya, tapi ada bedanya antara fenomena personal dan fenomena universal. Data yang kamu

fenomena universal. Data yang kamu dapatkan personal itu tidak bisa digunakan untuk memotret keadaan situasi nasional. Misalnya, kita perlu data

nasional. Misalnya, kita perlu data input dari sangat banyak untuk bisa melihat data yang universal. Itulah

gunanya survei dan seterusnya. Tapi kan

kita enggak percaya survei. Kemudian,

wah, survei dibuat, dibayar apa dan seterusnya. Walaupun sebenarnya dipakai

seterusnya. Walaupun sebenarnya dipakai juga, tapi teknologi sudah maju. Kita

lihat tadi urutannya. Logika itu kalau dipakai akan menghasilkan output yang sama jika data setnya sama. Karena

ketidakmampuan kita membedakan mana fenomena personal dan fenomena universal. Semua data personal dianggap

universal. Semua data personal dianggap sebagai data universal. Sehingga

perdebatan saya berani ngomong berdasarkan opini karena kita enggak punya grounded data. Jadi, problemnya di mana? Kemudian di sosial media. sosial

mana? Kemudian di sosial media. sosial

media kita kesulitan tidak punya sumber primer universal, enggak nyalain siapa-siapa. Jadi debat kita sangat

siapa-siapa. Jadi debat kita sangat susah menemukan mana data grounded nih.

Jadi kita ngambil dari data-data survei itu yang mau berpikir mayoritas lebih senang pada teriak-teriak pakai pengalaman personal. Sumbernya tadi data

pengalaman personal. Sumbernya tadi data universal yang yang objektif. Tapi itu

nanti efeknya adalah opini tidak akan menemukan titik temunya karena dua-duanya benar. Karena dua-duanya

dua-duanya benar. Karena dua-duanya diset digroundkan pada data yang masing-masing mereka alami di sosial media. Kemudian kesulitan kita adalah

media. Kemudian kesulitan kita adalah bisa menemukan titik tengah, menemukan ujung benar, ujung salah untuk bisa menemukan titik tengah. Karena semuanya

opini yang grounded pada opini personal, pada data personal, fenomena personal itu. Lagi-lagi saya tidak menafikan yang

itu. Lagi-lagi saya tidak menafikan yang mengambil dari data di survei. Tapi

jangan lupa ada lag di situ. Karena

survei itu bisa setengah tahun keluar terus kemudian kalau di sosial media kan cepat bangetning-nya, berganti isunya datanya itu aja, perkembangannya enggak

enggak ketangkap. Ya memang memang itu

enggak ketangkap. Ya memang memang itu apa kekurangan kita yang harus ditutupi untuk bisa menjawab masalah sosial media. Saya ulangi lagi, saya rangkum.

media. Saya ulangi lagi, saya rangkum.

Masalah di sosial media adalah manusia terdorong untuk naik hierarki dengan mempedulikan nomor satu adalah popularitasnya. Apa masalah dengan

popularitasnya. Apa masalah dengan popularitas? Tidak ada masalah dengan

popularitas? Tidak ada masalah dengan popularitas. Tapi kalau hanya satu

popularitas. Tapi kalau hanya satu hierarki popularitas digunakan untuk memecahkan semua masalah itu jadi problem. Kita tidak memberi kesempatan

problem. Kita tidak memberi kesempatan kepada orang-orang yang ahli untuk bisa berbicara di dalamnya. Main pointnya di sosial media kita kehilangan ground

terhadap informasi. Next.

terhadap informasi. Next.

Resiko berikutnya, fenomena personal tuh masih fenomena loh. Ketika saya ngomong pengalaman saya itu masih pengalaman real loh. Ketika saya ngelihat video,

real loh. Ketika saya ngelihat video, saya ngelihat benar loh videonya.

Walaupun fenomena personal itu masih digranded pada personal experience.

lumayan cuman susah menyatukannya menjadi sebuah konklusi karena ruang publik yang dibuat hierarkinya pakai hierarki kemarahan itu tadi lima kali lebih besar daripada like itu tadi.

Resiko berikutnya adalah gimana jika kamu tidak bisa lagi bahkan untuk punya personal fenomena kalau tidak bisa memastikan bahwa video yang kulihat itu

memang terjadi, bahwa gambar yang kulihat itu memang terjadi, berita yang lewat itu memang benar-benar terjadi.

Itu resiko berikutnya. Kok bisa resiko berikutnya? AI artificial intelligence

berikutnya? AI artificial intelligence sudah mampu membuat fake video yang seperti aslinya. Bahkan kita tidak bisa

seperti aslinya. Bahkan kita tidak bisa membedakan mana asli mana enggak. Ada

yang membantah masih bisa dilihat kok.

Tunggu setahun saya ngomongkan setahun.

Kenapa? Setahun yang lalu si Will Smith makan pizza kayak gitu busuknya.

Sekarang udah bagusnya kayak gitu.

Bayangin itu baru setahun loh. Setahun

kemudian kayak apa? kita regresi lagi nih yang tadinya tidak bisa menyatukan fenomena universal untuk bisa dibicarakan agar menjadi jalan keluar.

Kita tahunya fenomena personal yang dianggap sebagai vena universal.

Next-nya, kita bahkan enggak punya otentik fenomena personal. Apa yang akan terjadi? I don't know. Dan yang pasti

terjadi? I don't know. Dan yang pasti kalau Anda pemerintah nih yang nonton ini tidak bisa dipecahkan dengan undang-undang dan regulasi.

Ini masalah human. Ini masalah bagaimana sosial strategi untuk menata kita bersama. Kenapa pemerintah paling susah

bersama. Kenapa pemerintah paling susah berubah? Karena memang kapalnya besar.

berubah? Karena memang kapalnya besar.

Kapal besar itu kalau belok haluannya jauh lambat bergeraknya.

Karena di dalam kapal sendiri nakodanya mungkin satu, tapi pembantunya banyak dan rebutan jadi pembantu paling favorit. Itu kok kompleksitas yang lain

favorit. Itu kok kompleksitas yang lain untuk membelokkan sebuah kapal. Tapi

kalau Anda kemudian menyandarkan semuanya pada pemerintah dan menganggap diri tidak berdaya, itu lagi-lagi tanda kehancuran bahwa kita memang tidak mampu

dan tidak mau untuk menjadi manusia dan sudah mematerikan diri bahwa diri hanyalah objek pelengkap penderita.

Saya pengin ingatkan ketika saya ngomong kalimat bahwa semua politisi tergantung pada konstituen, semua komersial

bergantung pada konsumen. Itu kalimat

yang sama ketika saya ngomong bahwa yang menentukan kriteria adalah yang milih, yang pengin dipilih akan menyesuaikan diri pada kriteria tersebut. Sekarang

pertanyaannya adalah tadi kita ngomong negara dan pemerintahan, sekarang kita ngomong personal. Kita mau ngapa k kayak

ngomong personal. Kita mau ngapa k kayak gini nih? Resikonya di depan mata

gini nih? Resikonya di depan mata dipetakan sudah dengan baik. Semoga

dengan baik. Kok dengan baik kok saya ngalungin diri saya sendiri. Semoga

sudah diceritakan dengan baik end to end-nya. Jadi ini bukan masalah yang

end-nya. Jadi ini bukan masalah yang dibuat-buat. Ini masalah bagaimana

dibuat-buat. Ini masalah bagaimana naluri manusia berhubungan dengan lingkungannya. Apakah dia hanya reaktif

lingkungannya. Apakah dia hanya reaktif ataukah dia proaktif menjadi manusia yang mempengaruhi lingkungannya?

Pertanyaannya hanya dua yang perlu kamu jawab untuk dirimu sendiri bukan buat saya. Kalau kamu manusia, kamu jenis

saya. Kalau kamu manusia, kamu jenis manusia yang mana? Kamu jenis manusia yang dipengaruhi lingkungan atau kamu manusia yang mau mempengaruhi lingkungan? Enggak usah ngomong kecil,

lingkungan? Enggak usah ngomong kecil, enggak usah ngomong gede. Putuskan dulu

yang mana. Baru kita siap melangkah ke langkah berikutnya. Kalau itu aja belum

langkah berikutnya. Kalau itu aja belum bisa jawab, ya mungkin kamu bukan bagian dari yang mau berbuat. Lebih enak jadi pencacat. Tapi untuk teman-teman yang

pencacat. Tapi untuk teman-teman yang mau berbuat, yang pengin mengubah keadaan sekitarnya, asah taringmu, asah kukumu. Kamu berdaya

kukumu. Kamu berdaya dan kita perlu melakukan bersama-sama.

Monggo putuskan.

Loading...

Loading video analysis...